Never Not

Never Not
Ch. 98 : Black Shadow vs Black Shadow Palsu



Memasuki hari ketiga, perdana menteri memutuskan untuk mengundur pelantikan sejumlah pejabat yang sebenarnya akan dijadwalkan hari ini. Detektif Metropolitan mulai bekerja sama dengan provider untuk melacak nomor-nomor telepon yang sempat menghubungi atau dihubungi tuan Matsumoto sebelum insiden penculikan itu terjadi. Sedangkan polisi yang tergabung dalam divisi keamanan publik telah siaga dengan perlengkapan mereka.


Di Rumah Sakit, Shohei membantu Seina mengemasi barang-barangnya. Ya, hari ini gadis itu diizinkan untuk kembali ke rumahnya. Shohei membukakan pintu mobil untuk Seina. Namun, bukannya segera masuk, gadis itu malah berhenti dan mematung.


"Aku ingin ke menara Tokyo Skytree!" ucap gadis itu tiba-tiba.


Alis Shohei menurun sebelah. "Kenapa kau ingin ke sana?"


"Aku ingin bertemu Black Shadow di sana. Mungkin saja dia ada di sana sekarang. Aku ingin memohon padanya agar membebaskan papa! Tolong aku! Bawa aku ke sana untuk menemuinya!" desak Seina sambil memegang bahu kekasihnya.


Shohei terhenyak mendengar permintaan Seina. Sambil memegang kedua tangan gadis itu, Shohei berkata, "Seina, Black Shadow tidak ada di menara Tokyo Skytree."


"Dia ada di sana. Dia selalu di sana selesai menjalankan misinya!" tampik Seina dengan nada yang menuntut.


Shohei makin terperanjat dengan pernyataan kekasihnya. "Dari mana kau mengetahuinya? tanyanya tenang sambil menancapkan pandangannya di kedua bola mata gadis itu.


Masih memasang ekspresi kacau, Seina menjawab, "Aku ... aku ... aku melihatnya sendiri. Bukan hanya sekali, berkali-kali aku melihatnya di sana. Bahkan, aku ....."


Shohei langsung mendekap Seina dalam pelukannya, sehingga membuat Seina tak melanjutkan kalimatnya. "Tenanglah! Tenangkan dirimu. Tentang ayahmu, serahkan padaku. Aku pasti akan membawanya pulang dengan selamat malam ini," ucap Shohei sambil mengeratkan pelukannya.


"Sungguh?" tanya Seina dengan mata yang berlinang.


Shohei mengangguk sambil mengusap air mata kekasihnya. "Aku berjanji ...."


Usai mengantar Seina ke kediamannya, Shohei mengambil kotak hitam berisi cincin yang sebenarnya akan ia berikan di hari lamarannya kemarin. Naas, semua yang telah ia persiapkan dengan matang terpaksa dibatalkan karena menghilangnya tuan Matsumoto.


"Matsumoto-san, Anda harus bertahan! Apa pun yang terjadi, Anda harus tetap mengungkapkan kebenaran yang Anda ketahui," gumam Shohei sambil mencengkram setir dengan kuat.


Ketika langit semakin bernuansa hitam pekat, orang-orang mulai menunggu siaran Black Shadow tak terkecuali untuk Kei, Yuriko, Seina dan Shohei yang berada di tempat masing-masing. Tak lama kemudian, seluruh siaran televisi dan layanan streaming teracak. Orang-orang lantas berkumpul cepat di beberapa titik jalanan di mana terdapat Videotron.


Layar menggelap, diikuti dengan tulisan "Black Shadow come back". Shohei sendiri segera mengambil earphone lalu memasang cepat di telinganya. Black Shadow gadungan itu bukan hanya membajak siaran, tapi juga mencontek gaya streaming yang asli. Ia menyapa penonton memakai jargon andalan yang sering dikumandangkan Black Shadow asli. Di sampingnya, tuan Matsumoto duduk terikat dengan wajah pucat dan rambut yang tak terurus. Ia bahkan masih mengenakan setelan jas tiga hari yang lalu.


"Mina-san, malam ini adalah waktunya mengumumkan hasil referendum kalian yang akan menentukan nasib menteri kehakiman!" ujar Black Shadow gadungan.


Tak lama kemudian, muncul hasil poling yang telah diikuti jutaan penonton. Sebanyak 60 persen yang menyetujui hukuman mati dilakukan menggunakan pisau belati. Black Shadow tiruan itu lalu mengambil pisau belati yang ujungnya runcing dan bengkok.


"Sebelum mengeksekusinya, aku akan memintanya terlebih dahulu untuk menulis permohonan maaf kepada seluruh masyarakat, dan juga surat wasiat pada keluarga yang akan ditinggal. Baiklah, aku akan kembali dalam satu jam ke depan!" ucap pria bertopeng itu mengakhiri siarannya.


Seina yang melihat ayahnya dalam tayangan singkat itu hanya bisa menutup mulutnya sambil menangis, sedangkan Kei menggeram penuh amarah seraya mengepalkan jari-jarinya.


Shohei berusaha memperlambat kecepatan pemutaran suara Black Shadow barusan, untuk mengetahui suara asli yang bersembunyi dalam chipmunk. Sayangnya, suara itu telah diedit berlapis-lapis sehingga sulit untuk mengenali suara aslinya.


"Sial! Dia mempersiapkan segalanya dengan matang!" Shohei memukul meja dengan kesal. Ia lalu melacak lokasi di aplikasi buatannya. Tak lama kemudian, aplikasi itu mendeteksi sebuah titik tempat suatu peta. Shohei langsung memperbesar peta tersebut dan menemukan lokasi keberadaan siaran langsung.


Shohei memasang earpiece dengan cepat dan langsung menghubungkannya pada Rai. "Black, bersiaplah sekarang juga!"


Rai yang tengah latihan pull up, segera turun dari tiang besi yang digunakan untuk menggantung. Ia mengelap peluh yang menetes di sekujur dada bidangnya, lalu segera memakai kostum Black Shadow lengkap dengan atributnya.


Kini, Mr. White dan Black Shadow berada di suatu distrik yang berada di kawasan Kobe, tepatnya di sebuah bangunan rumah susun yang terbengkalai. Keadaan bangunan bertingkat itu tampak usang, di mana terdapat banyak coretan dinding, dan pecahan botol yang berserakan di mana-mana.


"Jadi di sini Black Shadow gadungan itu bersembunyi!" Black Shadow berkacak pinggang sambil menatap lurus bangunan tua itu.


"Tugasmu mencari pria itu dan membekuknya. Selagi kau mengalihkan perhatiannya aku akan mencari keberadaan tuan Matsumoto," ucap Mr. White sembari menundukkan topi kasual yang ia gunakan serta memasang masker di wajahnya.


"Baiklah!" Black Shadow mematahkan jari-jarinya, "Akan kutangkap dia dengan tanganku sendiri!" ucapnya sambil mengambil alat kejut setrum andalannya.


"Tunggu, Black!" Mr. White menepuk pundak Black Shadow, membuat pria itu menoleh. "Apa pun yang akan kau hadapi, jangan melukai siapa pun! Kau harus berhati-hati dalam bertindak, jangan gegabah!"


"Hum." Black Shadow mengangguk kemudian berjalan masuk ke pintu utama gedung itu.


Sementara, Mr. White mengambil jalan pintas dengan masuk ke arah samping. Ia mulai menyusuri ruangan di lantai dasar dengan penuh kewaspadaan. Gedung ini berlantai lima yang memiliki lebih dari tiga ratus kamar. Itu artinya, Mr. White harus membuka tiap-tiap kamar di gedung ini guna menemukan tuan Matsumoto yang disekap di salah satu ruangan. Sialnya, ia dan Black Shadow hanya memiliki waktu empat puluh menit dari sekarang, sebelum siaran itu tayang kembali ke publik.


Di sisi lain, Black Shadow berjalan masuk dengan langkah hati-hati. Aroma debu yang tebal mengepul indera penciumannya, membuat ia langsung terbatuk-batuk tanpa bisa ditahan. Di ujung tangga sana, ada sesosok pria yang berdiri menyamping sambil menatapnya dengan senyum mengejek yang penuh provokasi. Pria itu memakai kostum yang sama dengannya dan juga topeng yang serupa.


Bukannya merespon ucapan Black Shadow, pria itu malah berlari ke lantai atas. Black Shadow pun segera mengejarnya. Tak ayal, aksi kejar-kejaran terjadi antara Black Shadow asli dengan yang palsu.


Black Shadow palsu itu menjatuhkan lemari tua untuk menghalangi jalan Black Shadow asli. Meski begitu, Black Shadow dengan mudah melangkahi lemari yang terbentang dengan lompatan yang indah. Kini, Black Shadow palsu itu mengambil jalan pintas dengan memanjat balkon lantai tiga. Tak mau kalah, Black Shadow pun melakukan hal yang sama. Sial, begitu tiba di lantai tiga, dia malah kehilangan jejak pria itu.


"Pria itu berlari ke lantai tiga. Aku kehilangan jejaknya karena larinya sungguh cepat, seperti kilat yang menyambar!" Black Shadow menginfokan pada Mr. White sambil berjalan dengan mata yang berkeliling.


"Aku juga belum menemukan tempat penyekapan tuan Matsumoto," ujar Mr. White sambil bergantung di terali, kemudian memanjat balkon lantai berikutnya dan melompat dengan pendaratan yang sempurna.


Masih mengedarkan pandangannya, Black Shadow menyusuri koridor yang sepi. Tiba-tiba, Black Shadow tiruan itu datang menyerangnya dari arah belakang dengan sebuah balok besi. Untungnya, ia cepat menghindar dengan langsung membungkuk.


Selanjutnya, kedua pria berkostum sama itu saling berkonfrontasi. Sama-sama menghunuskan tatapan tajam, kedua tangan mereka kini membentuk kepalan tinju dengan sebelah kaki yang kompak bergeser ke samping, seolah mereka sedang beradu di atas ring. Lalu, tanpa ada aba-aba dari wasit mereka pun sama-sama maju, saling menyerang, memukul tanpa ampun.


Keduanya saling adu kekuatan dan ketangkasan dalam bela diri. Black Shadow memberi tendangan memutar, tetapi pria itu menangkap pergelangan kakinya dengan mudah, kemudian menjatuhkan tubuhnya ke lantai. Black Shadow berguling ke samping saat pria itu hendak kembali menyerangnya dengan balok besi.


Black Shadow membalasnya dengan memberi serangan sapuan yang lagi-lagi mudah ditangkis oleh lawannya. Baru saja mengambil alat kejut setrum dari sakunya, sebuah tendangan kaki yang panjang mengarah ke dadanya sehingga membuat alat itu terjatuh ke tanah.


Dilihat dari kemampuannya, sudah sangat jelas pria yang menyerupai Black Shadow itu bukan dari golongan orang biasa. Setiap gerakan fisik, kekuatan dan juga aksi serangannya tampak sangat terlatih. Ia bahkan menguasai semua teknik yang Shohei ajarkan pada Rai.


Wajah Black Shadow yang bersembunyi dalam topeng telah dirambah keringat. Napasnya pun terdengar tak beraturan. Sebaliknya, napas lawannya masih sangat stabil dengan hampir tak ada peluh yang terlihat.


Pria itu memblokir serangan Black Shadow dengan lengannya yang kekar. Pada saat yang sama, Black Shadow mencetak tendangan di bawah dagu pria itu. Namun, lagi-lagi serangan Black Shadow menjadi bumerang untuknya sendiri. Menangkap sebelah kaki, lawannya itu malah memutar tubuh Black Shadow seperti baling-baling lalu melemparnya.


Black Shadow terlempar keluar balkon. Untungnya, ia tak langsung jatuh karena berpegangan di terali besi dan hanya bergelayut di bawah sana. Dengan mengandalkan kekuatan tangan, ia memanjat naik ke atas dan kembali mengejar Black Shadow tiruan yang kini berlari menuju lantai berikutnya.


Mr. White masih terus menyusuri tiap-tiap kamar di lantai dua dengan bantuan senter. Hanya ini satu-satunya cara karena ia tak bisa menebak kamar mana yang dijadikan tempat penyekapan. Waktu tinggal sepuluh menit, tetapi masih ada tiga lantai lagi dengan ratusan kamar yang harus ia periksa.


"Mr. White, pria itu melarikan diri lagi! Sepertinya tuan Matsumoto ada di lantai lima karena dia menuju lantai paling atas." Black Shadow kembali memberi informasi.


Mr. White memicingkan mata. "Tidak! Dia tidak mungkin membawamu ke ruangan penyekapan tuan Matsumoto!"


"Apa pun itu, aku tetap akan mengejarnya! Aku tak akan membiarkannya!"


Mr. White tampak berpikir keras, berusaha menebak-nebak jalan pikiran lawan mereka.


Kenapa dia terus ke lantai atas. Apa yang ia rencanakan? Apakah dia hanya sengaja membuat Black Shadow terus mengejarnya?


Sedetik kemudian, mata pria itu melebar tajam.


Jangan-jangan dia memang sengaja menuntun Rai ke suatu ruangan!


"Black, dengarkan aku! Berhenti mengejarnya sekarang juga!" Mr. White memberi instruksi dengan cepat sambil terus mengecek tiap ruangan.


"Apa?! Kau ingin membiarkannya lolos begitu saja dan kembali memanfaatkan siaran kita?!" Black Shadow tampak tak terima dengan perintah Mr. White kali ini. Ia terus berlari mengejar Black Shadow gadungan yang telah tertangkap oleh matanya.


"Kubilang berhenti mengejarnya! Cepatlah turun dan bantu aku mencari ruangan penyekapan, waktu kita tidak banyak!" Suara tegas Mr. White kembali menggaung di telinganya.


Black Shadow berhenti melangkah tepat saat ia melihat Black Shadow palsu itu berdiri sekitar sepuluh langkah darinya. Pria itu tersenyum jahat, lalu melempar sebuah pisau belati ke arahnya.


Black Shadow menangkap pisau belati yang hampir mengenai wajahnya. Ia tersenyum miring ke arah pria itu sambil memutar pisau belati yang kini berada di tangannya. Namun, senyumnya tak bertahan lama saat menyadari pisau yang dipegangnya itu berlumuran darah. Ketika ia memusatkan pandangannya pada darah yang menempel dan menetes, di saat itu juga Black Shadow tiruan menendangnya dari arah samping hingga membuat ia jatuh terjerembab.


Black Shadow mengendus lantai. Secara bersamaan, bunyi pintu yang terkunci mengejutkan dirinya. Genangan cairan darah di lantai langsung memasuki iris mata pria itu. Saat mengangkat kepala dengan perlahan, sesuatu yang mencengangkan terlihat di depan matanya. Tuan Matsumoto berada tepat di hadapannya dengan tubuh bersimbah darah.


Di waktu yang sama, Mr. White terperanjat ketika mendengar sirene polisi yang saling bersahutan. Dari tempatnya berpijak, ia bisa melihat mobil-mobil polisi, dan juga pasukan bela diri Jepang memasuki gerbang gedung ini.


.


.


.


Ini puanjaaaangg, like + Komeng ya bray