
"Bawa dia menghadapku!" perintah pria yang bersuara dalam telepon.
Orang-orang berpakaian hitam itu langsung membawanya ke suatu tempat. Mereka bergerak atas perintah Eita Kaze—sekretaris pribadi sekaligus orang kepercayaan Kazuya Toda.
Eita Kaze memasuki sebuah gudang tua yang lokasinya jauh dari hiruk pikuk perkotaan. Di sana, ada beberapa anggota pengawal yang memakai seragam khusus berwarna serba hitam. Pandangannya tertuju pada seorang pria yang diikat di tiang. Kepalanya dibungkus plastik hitam, sehingga tak menampakkan wajah.
Ingatannya pun mundur saat Kazuya Toda mengintruksikan untuk langsung melenyapkan Yuta, hacker yang disewa untuk meretas siaran langsung Black Shadow.
Kita sudah tidak memerlukan dia lagi karena itu ... sebaiknya bukankah dia harus dilenyapkan? Akan sangat menyusahkan jika suatu saat dia membongkar rahasia tentang konspirasi terhadap Black Shadow, bukan?"
Untuk lebih memastikan sebelum dibunuh, Eita Kaze membuka bungkusan yang menutupi kepala dan wajah orang yang baru saja mereka culik. Namun, ia justru tercengang saat seseorang yang terikat di tiang dan tak sadarkan diri itu bukanlah Yuta, melainkan orang lain.
"Apa yang kalian lakukan? Kalian salah menangkap orang!" geramnya dengan wajah berang.
Para pengawal itu tak kalah terkejut. "Kami mendatanginya alamat yang Tuan berikan dan mengamati pergerakannya. Ia bahkan baru saja pulang dari departemen store dan berbelanja barang mewah."
Ternyata mereka telah dikecohkan. Kartu identitas yang Yuta berikan padanya palsu alias milik orang lain yang diedit dengan menempelkan foto dan namanya yang terlihat seperti asli. Ya, sebagai salah satu anggota kelompok penipu ulung yang diketuai Rai, Yuta bukanlah orang bodoh yang dengan mudah memberi identitas aslinya. Apalagi saat masih bersama Rai, mereka sudah terbiasa berhadapan dengan para mafia dan pengusaha gelap yang menjadi target tipuan mereka.
Eita Kaze pun mencoba menghubungi Yuta. Sialnya, nomor telepon pria itu mendadak tidak bisa tersambung. Artinya, kemungkinan kontak teleponnya telah diblokir atau mungkin Yuta telah mengganti nomor ponsel.
Saat berada di ruang kerjanya, Eita Kaze buru-buru mengidentifikasi kembali salinan kartu identitas yang Yuta berikan padanya. Ternyata benar, pria itu hanya memanipulasi kartu identitas seseorang. Tak tinggal diam, ia mencoba menelusuri data asli pria bernama Inoo Yuta. Ya, sebagai polisi yang telah ditugaskan di Badan Intelejen Negara, sangat mudah baginya untuk mengambil data seseorang. Namun, sepertinya kali ini Dewa Fortuna tak memihaknya karena dalam data yang disimpan negara, Inoo Yuta dilaporkan sebagai orang hilang sejak enam tahun lalu. Artinya, negara tidak menyimpan identitasnya dalam enam tahun terakhir.
Ya, ini adalah strategi Rai saat masih menjadi pimpinan kelompok penipu. Karena sering menipu orang-orang kaya yang memiliki kekuasaan, Rai pun menyadari identitas mereka pasti akan mudah ditelusuri. Dia membuat laporan hilang di kepolisian dan memanipulasi kartu identitas orang lain untuk dipakai mereka saat menjalankan misi penipuan. Taktik ini rupanya masih dilestarikan Yuta hingga kini. Hebatnya lagi, data-data sebelumnya yang seharusnya masih disimpan negara, ternyata telah berhasil dihapus olehnya.
Dia menghilangkan data-data pribadinya, artinya dia berhasil meretas sistem data-data warga negara. Jangan-jangan dia juga ....
Sepasang mata Eita Kaze melebar seketika. Sepertinya, memperkerjakan Yuta merupakan kesalahan besar karena Yuta bisa memprediksi apa yang akan mereka lakukan terhadapnya setelah kerja sama itu terjadi.
Darah sekretaris pribadi kepala kepolisian nasional itu seakan menggelegak begitu menyadari ia telah tertipu. Tentu saja Kazuya Toda akan marah besar jika mengetahui hal ini. Sialnya lagi, dia tidak bisa melacak alamat IP Yuta, menandakan jika pria yang pernah menjadi sahabat Rai itu adalah seorang cracker yang mungkin akan menjadi ancaman ke depannya.
"Cari dia sampai ke lubang semut sekalipun! Bagaimanapun caranya, kalian harus membawanya entah keadaan hidup ataupun mati!" perintah sekretaris Kazuya Toda sambil menunjukkan foto Yuta pada anak buahnya.
"Siap!" Anak buahnya langsung bergerak cepat.
Baru saja memulai diskusi, Shohei kini mengisi gambar kotak kosong yang berada di tengah skema itu dengan sebuah foto yang menampilkan sosok pejabat nomor satu di kepolisian. Hal itu tentu saja membuat Rai, Kei, Yuriko dan juga Ryo tergemap.
"Target kesepuluh kita adalah jenderal Kazuya Toda?" tanya Kei tak percaya.
"Ya, Kazuya Toda!" Shohei membenarkan.
"Apakah dia dalang pembunuhan pamanku?" tanya Kei dengan raut wajah berang.
"Kemungkinan besar iya," jawab Shohei kembali.
"Bagaimana kau bisa mengetahui dia target kesepuluh?" tanya Rai kembali.
"Matsumoto-san sempat menyebut nama Kazuya Toda saat berbicara pada Kepala Kepolisian Metro sebelumnya. Matsumoto-san bahkan mengkhawatirkan kalau ada kemungkinan Perdana Menteri dikendalikan olehnya," jawab Shohei.
"Apa mungkin paman mengetahui rencana besar Jenderal Kazuya Toda?" tanya Kei.
"Mungkin. Kemungkinan Matsumoto-san memegang bukti kejahatan Kazuya Toda, makanya dia dibunuh." Shohei mulai mengasah pikirannya.
"Jika memang benar, bukankah akan sangat berbahaya jika dia mengetahui kau sebagai orang di balik Black Shadow?" Rai menunjukkan kekhawatiran pada partnernya itu.
"Aku sudah siap bertarung meski harus mempertaruhkan karirku di kepolisian." Sorot mata Shohei mengeras, seiring ia mengingat kembali permintaan calon mertuanya yang menginginkan kasus ini diungkap langsung olehnya.
"Jadi karena itu mereka menguasai media informasi dan mengerahkan akun robot untuk menggiring opini jelek tentangku?" Rai terlihat kesal atas pemberitaan tentang Black Shadow akhir-akhir ini. Bahkan tagar tangkap Black Shadow yang hanya retweet ribuan akun, bisa menduduki posisi puncak teratas.
"Aku tidak yakin dia menggunakan orang-orangnya sendiri untuk meretas sistem kita. Sebab, dari awal membuat siaran itu aku memasang pengaman yang tidak bisa ditembus oleh anggota intelejen sekalipun," duga Shohei sambil mengelus dagu.
"Berarti dia memakai jasa hacker profesional," sahut Ryo menyambung. Ia menoleh ke arah Rai lalu bertanya, "Oniichan, apakah karena itu kau menanyakan padaku apa aku bisa mengembalikan data yang diretas hacker profesional?"
"Ya ...." Rai mengangguk.
"Bagaimana dengan nasib akun sosial mediamu?" tanya Shohei pada Kei.
"Aku sudah membuat laporan untuk memulihkan kembali akun-akun itu. Tenang saja, akun yang terverifikasi tidak akan mudah dilenyapkan selamanya. Biasanya akan kembali lagi meski memakan waktu cukup lama bahkan tahunan," jawab Kei santai.
Shohei melanjutkan. "Selain Eita Kaze, ada beberapa jajaran petinggi kepolisian yang dekat dengan Kazuya Toda."
Shohei lalu mengambil tiga foto baru yang ditempelkan di bawah foto Kazuya Toda, yang mana itu adalah komisaris kepolisian. Saat menempelkan foto terakhir, secara refleks Shohei teringat akan Ai Otaka yang merupakan anak dari komisaris kepolisian.
"Rai, kau satu-satunya orang yang berhadapan langsung dengan Black Shadow palsu itu. Apa kau ingat ciri khas khusus yang dimiliki pria itu?" tanya Shohei.
Rai tampak berpikir beberapa saat sambil mencoba mengembalikan ingatan tentang pertarungan mereka saat itu. "Yang kuingat, dia memiliki bentuk bibir yang sama denganku. Gerakan pertarungannya mirip denganmu. Dia bisa menangkis segala seranganku dengan begitu mudah. Dan ...." Mata Rai benderang tiba-tiba seiring ingatannya membersit. "Larinya sangat cepat! Aku sampai kesulitan mengejarnya, kecuali saat dia sengaja berhenti."
"Larinya sangat cepat?" ulang Shohei sambil memicingkan mata.
"Wah kalau begitu dia bisa adu tanding lari dengan Yuriko-chan," imbuh Ryo sambil menepuk tangan sekali.
"Kau kenapa?" tanya Rai heran melihat Yuriko yang sedari tadi membatu dengan pandangan lurus tak berkedip pada foto Kazuya Toda yang baru saja ditempel Shohei.
"Sepertinya aku mengenal orang itu," ucap Yuriko pelan.
"Tentu saja kita mengenalnya! Dia kan Kepala Kepolisian negara kita. Hanya saja ... bedanya dia tidak mengenal kita," sambar Ryo menyengir.
"Tidak, aku ingat wajah orang ini. Dia ada di koleksi foto ayahku. Dia teman lama saat ayahku masih menjadi anggota kepolisian," sahut Yuriko dengan wajah penuh keyakinan.
.
.
.
Jejak kaki 🦶🦶🦶
Akun terverifikasi itu adalah akun yang bercentang biru. Biasanya ini untuk akun-akun yang dimiliki tokoh terkenal seperti selebritis, penyanyi, tokoh pejabat dll.
Gays, hacker itu banyak macam ya ada tingkatannya juga semacam sekelas teri dan sekelas suhu. Ada yang disebut white hat hacker dan ada juga yang disebut cracker. White hat hacker itu yang biasanya dipekerjakan pemerintah atau perusahaan dan dibayar mahal tentunya. Di Indonesia sendiri ada white hacker tekenal bernama Jim Geovedi. Dia pernah mematikan WiFi di seluruh Indonesia dan dia juga pernah menggeser satelit China atas permintaan pemerintahan China sendiri. Kalau hacker bisa diciduk kepolisian atau BIN itu artinya ilmunya masih sekelas teri.
Nah kalo jenis hacker kek Yuta ini bisa dibilang cracker kelas suhu karena dia membobol sistem untuk tujuan yang jahat. Seperti Ren di novel GA juga dia termasuk cracker karena tujuannya buat memuluskan aksi pencurian berlian. Ada juga tuh dulu cracker anonymous yang pernah meretas situs Polri.
Terus ada pertanyaan, kenapa Yuta lebih jago dibanding Rai? Padahal Rai dulu ketuanya. Gini, di kelompok Rai kan semua ada pembagian tugas masing-masing. Yuta bagiannya ya mencari informasi target dan meretas sistem sesuai latar belakang pendidikan dia yang kuasai IT. Lagian emang dulu yang paling kerja keras kan emang Yuta sama Ryo. Mereka berdua nyamar sana-sini. Lah, si Rai kerjanya cuma perintah sambil ongkang kaki. Giliran taklukkan cewek baru Rai turun tangan, kan. Bisa dibilang pencetus idenya dari Rai semua dan eksekusinya dari Yuta dan Ryo serta anak2 buah mereka. Itulah kenapa Rai ngajak Ryo bergabung.
Ok sekian ceramah unfaedah gua semoga menjawab rasa kebingungan kalian menjadi tambah bingung.
Btw, gua nulis ini tengah malam ambil hak jam tidur gua dan baru diedit pagi ini. Jadi jangan lupa like dan komeng. Yang mau ngasih gift, tunda dulu nanti tanggal 1 aja