
..."Black Shadow adalah bayangan Shohei. Bukan Rai Matsui."...
...~Rai Matsui Ch. 64~...
...----------------...
Wajah tak percaya membayang di manik legam Shohei saat ini. Ia berusaha mencerna kembali semua ucapan Seina tadi. Tentang surat yang dikirim Black Shadow, tentang kenangan indah yang disebut-sebut Seina, dan tentang alasan Seina tiba-tiba menciumnya lalu mengatakan jika itu adalah ciuman terakhir mereka. Sungguh, ia tidak bisa memahami semua itu! Ini terasa sulit diterima oleh akal sehatnya. Ia berharap salah mengartikan seluruh kalimat yang terlontar dari mulut gadis itu.
Di saat ia menyamar sebagai Black Shadow dengan tujuan meluruskan kebenaran agar kekasihnya tak salah paham, tetapi yang ia dapati justru sebuah fakta pengkhianatan yang dilakukan dua orang itu. Bisakah terbayang bagaimana sakit yang ia alami saat ini?
Semakin ia mengingatnya, hatinya terasa sakit bagaikan terkoyak oleh sesuatu. Luka. Layaknya terkena ratusan sayatan di titik yang sama. Perih. Seperti menerima hantaman pukulan di wajahnya berkali-kali. Sakit. Semua itu memenuhi hatinya tanpa bisa ditahan. Bahkan tanpa ia sadari, setetes kristal kesedihan telah jatuh dari sudut-sudut matanya. Semua itu masih belum cukup untuk menggambarkan bagaimana hancurnya ia malam ini.
"Ini ciuman terakhir kita. Sayonara ...."
Terkilas kembali saat Seina berinisiatif menciumnya. Sesungguhnya, itu adalah ciuman pertama mereka. Sayangnya, ciuman romantis itu bukan diperuntukkan untuknya, melainkan untuk Black Shadow. Bahkan bukan hanya ciuman saja, tatapan, cinta, kepercayaan, hingga air mata yang ditunjukkan gadis itu bukan untuk dirinya. Sekali lagi, bukan untuk dirinya, tapi untuk seseorang yang menjadi bayangannya selama ini. Batinnya terus bertanya, bagaimana bisa? Bagaimana bisa semua itu terjadi?
Dia mulai menilik dari waktu-waktu sebelumnya. Dimulai saat ia sering mendapati Seina berada di tempat yang sama dengan saat Black Shadow sedang melakukan aksinya. Di suatu momen, Rai bahkan pernah memberitahukan kalau Seina sedang berada di lantai tembo galeri, yang mana itu adalah lantai favorit pria berkacamata itu untuk melihat bintang.
"Kenapa kau ada di sini?" tanyanya saat tak sengaja mendapati Seina berdiri mematung di sana.
"Aku ... aku merasa suntuk. Jadi, kupikir jalan-jalan ke sini akan membuatku rileks!" Kalimat itulah yang diberikan Seina padanya dan ia memercayai begitu saja. Namun setelahnya gadis itu malah menepis tangannya sambil berkata, "Shohei-kun, aku menyukai Black Shadow!"
Bodohnya, ia menganggap kalimat kejujuran itu dalam arti yang berbeda. Ia berpikir "menyukai" yang dimaksud Seina adalah rasa kagum berlebihan layaknya mengidolakan seseorang.
Gadis itu juga secara terang-terangan pernah berkata sering menemui Black Shadow di menara Tokyo sky tree.
"Aku ingin ke menara Tokyo Skytree!"
"Kenapa kau ingin ke sana?"
"Aku ingin bertemu Black Shadow di sana. Mungkin saja dia ada di sana sekarang. Aku ingin memohon padanya agar membebaskan papa! Tolong aku! Bawa aku ke sana untuk menemuinya!"
"Seina, Black Shadow tidak ada di menara Tokyo Skytree."
"Dia ada di sana. Dia selalu di sana selesai menjalankan misinya!"
Adegan per adegan itu kembali berputar di otaknya bagaikan sebuah rekaman film lawas. Setiap ingatan itu beriringan luka. Ironinya, Seina pernah menolak ciumannya tetapi menerima ciuman dari pria lain. Pasca meninggalnya menteri kehakiman, gadis itu juga tak mau menemuinya, tapi malah menerima kehadiran dirinya sebagai Black Shadow beberapa saat lalu.
Sekarang, apa yang harus dia lakukan? Bagaimana caranya ia mengambil sikap atas apa yang dilakukan Rai dan Seina di belakangnya?
Di waktu yang sama tapi tempat yang berbeda, Rai duduk termangu tanpa melakukan gerakan apa pun. Tampaknya, ia memiliki firasat yang tak mengenakkan. Bagaimana tidak, beberapa jam lalu, Shohei menelepon hanya untuk meminjam kostum Black Shadow miliknya.
"Aku butuh bantuanmu."
"Ada apa?"
"Temui aku di tempat latihan sekarang. Bawa kostum Black Shadowmu."
Itulah yang dikatakan Shohei saat meneleponnya. Tak disangka, Shohei mengatakan hendak menemui Seina dengan menggunakan kostum Black Shadow. Tampaknya Shohei salah mengira atas pernyataan kekasihnya di konferensi pers.
"Aku tidak bisa membiarkan Seina menganggap kau sebagai pelaku pembunuhan ayahnya. Aku tidak bisa membiarkan Kazuya Toda menggunakan Seina sebagai alat untuk menuntutmu," ucap Shohei penuh kekhawatiran.
"Tapi ...."
"Aku tidak bisa menjelaskan tentang Black Shadow padanya sebagai diriku sendiri. Itu akan membuatnya curiga. Hanya dengan berpura-pura menjadi Black Shadow, aku bisa memengaruhi pikirannya. Tenanglah! Aku akan berusaha membuatnya berpikir ada keganjalan atas kasus ini. Dengan begitu, dia tak akan menyalahkanmu."
Rai tentu tak bisa berkutik meski sebenarnya hati kecilnya tak mau Shohei menemui Seina sebagai Black Shadow. Namun, bukankah ia sungguh egois melarang Shohei menyamar sebagai Black Shadow jika alasannya karena takut rahasia yan terjadi antara dia dan Seina terbongkar?
Di saat pikirannya masih tenggelam, tiba-tiba Shohei datang dengan wajah sedingin es. Sudut bibirnya yang selalu mengembang menjadi khasnya setiap bertemu orang. Tapi tidak kali ini. Tak ada wajah ramah lagi yang terlihat. Hingga pria itu berada di hadapannya, Rai tetap duduk di posisi awal.
Untuk beberapa saat, Rai terdiam. Tetapi langsung merespon. "Baguslah! Aku berharap semua sesuai harapanmu."
"Benar. Semua sesuai harapanku. Dia memercayai Black Shadow lebih dari yang kukira," ucap Shohei dengan pandangan yang tertancap pada Rai. Pada titik ini, ucapan Seina kembali terngiang di benaknya.
"Yokkata (syukurlah)." Rai menarik napas panjang.
"Ayo kita latihan lagi," ucap Shohei yang langsung memakai seragam bela diri.
Rai tertegun sembari memerhatikan ekspresi pria itu. Melihat Shohei yang tampak biasa saja, dia pun berusaha terlihat santai.
Mereka memulai latihan bela diri seperti biasa. Namun, ada yang berbeda dengan Shohei malam ini. Ia terus menyerang Rai tanpa ampun. Tiba-tiba menjadi beringas dan tak berjeda sama sekali. Ekspresi pria itu begitu tajam, seolah benar-benar melihat musuh di hadapannya. Dengan memasang mata serigala, dia terus melakukan serangan beruntun hingga membuat Rai kewalahan menangkisnya, bahkan tak memiliki kesempatan untuk balik menyerang. Jelas, kemampuan bela diri Shohei jauh lebih baik daripada Rai.
Satu pukulan menghantam sudut bibirnya hingga darah segar tampak menetes. Shohei melakukan serangan manuver dadakan yang membuat Rai tak siap menangkis. Alhasil, jatuh terlempar dengan menahan sakit di bagian dada.
"Woi, ada apa denganmu?" tanya Rai setelah cukup kewalahan dengan sesi latihan yang tampak tak biasa.
"Apa kau bisa menebak, apa yang kuketahui setelah bertemu Seina malam ini?" tanya Shohei dengan nada suara kelam.
Mendengar pertanyaan itu, membuat Rai dapat menebak apa yang terjadi. Pria itu mengalihkan pandangannya ke langit-langit sambil berkata, "Aku berharap kau tidak mengetahui apa pun, karena aku tak siap menjawab pertanyaan apa pun darimu." Setiap kata dilontarkan dengan kaku.
Ucapan Rai sontak menyulut emosi Shohei. Pria itu menghampirinya, menarik kerah untuk memaksanya berdiri. "Apa yang kau lakukan dengannya di belakangku? Kenapa kau merebut cintanya dariku!" teriaknya dengan amarah terasa kental di tiap kalimat yang ia lontarkan.
"Gomen," ucap Rai pelan sambil menatap manik berapi pria itu.
"Tidakkah kau tahu aku sangat memercayaimu melebihi siapapun!" ucapnya dengan mata yang terasa panas.
"Gomen." Kalimat itu kembali meluncur di bibir Rai.
"Jelaskan padaku sekarang! Mungkin saja aku bisa mengerti!" ucap Shohei pelan dengan nada suara serak.
Bukannya memakai kesempatan yang diberikan Shohei untuknya, Rai malah membuang pandangannya. Meskipun pandangan Shohei masih terpaku padanya.
"Gomen," ucapnya kembali, "dia tidak bersalah. Semuanya salahku! Akulah yang menggodanya lebih dulu. Akulah yang sudah melakukan seenak yang aku mau."
Pada saat ini, Shohei melepaskan cengkramannya.
"Gomen," ucap Rai yang langsung membungkuk penuh.
"Kita akhiri sampai di sini saja!" ucap Shohei pelan.
Rai langsung mengangkat mukanya, menatap Shohei yang begitu serius dengan ucapannya.
"Arigatou, telah membantu misiku selama ini. Menjadi Black Shadow sesuai keinginanku. Hubungan kita berakhir sampai di sini. Kau tak perlu lanjut berjuang denganku lagi," ucap Shohei dengan mata yang memerah. Ia memilih memutar tubuhnya keluar dari ruangan itu.
Rai mematung tanpa bisa mengeluarkan satu kata pun. Sungguh, ia ingin menahan dan memintanya memberi kesempatan untuk menuntaskan misi. Namun, entah kenapa tubuhnya membatu dan kakinya seakan tertancap.
Pada akhirnya, ia hanya mampu menatap Shohei yang mulai berayun menjauh darinya. Setiap langkah kaki pria itu, membawanya ke dalam kenangan kebersamaan mereka selama setahun ini. Di mulai dari awal Shohei bertemu dengannya dalam keadaan terpuruk, saat pria berprofesi penyidik kepolisian itu melatihnya dengan keras agar bisa menjadi pria tangguh pemberani seperti tokoh yang diharapkan, saat awal ia memulai misi dan sukses merebut perhatian publik, perayaan-perayaan kecil yang mereka lakukan setiap misi berhasil. Semua kembali terkenang! Sayangnya, telah berakhir malam ini.
.
.
.
jangan lupa like dan komeng biar gak malas gais.