
"Ai-kun, kenapa kau datang ke kepolisian Metropolitan?"
"Untuk apa bertanya jika kau sudah menyimpan jawabannya!"
"Selain itu, aku ingin tahu alasanmu ke sini!"
"Kenapa, ya? Ah, mungkin karena aku rindu padamu. Aku rindu masa-masa kita bersaing menjadi siswa terbaik."
"Benarkah?"
"Kau satu-satunya temanku dari sejak kita berada asrama sampai aku pindah ke sini, Seto-kun."
"Ai-kun, sepertinya Ketua curiga padamu. Dia memintaku untuk memantau pergerakanmu."
"Apa kubilang, kau memang sahabatku! Bahkan untuk hal yang tak seharusnya kuketahui, kau katakan padaku! Tapi ... kenapa Ketua curiga padaku? Aku merasa tak melakukan hal-hal aneh!"
"Aku juga tidak tahu. Mungkin beberapa teman-teman banyak yang mengeluhkan dirimu padanya."
"Ya ... aku tahu orang-orang itu tak menyukai kehadiranku."
"Mereka hanya sinis padamu karena bisa dengan mudah masuk di divisi kami. Divisi kami adalah divisi istimewa di metropolitan. Untuk masuk, setidaknya harus mencetak prestasi dengan mengungkap kasus besar. Dan divisi ini juga sering dijadikan batu loncatan para kepolisian untuk mengejar jabatan."
"Astaga ... jadi mereka menyepelekan aku!" Lihat saja nanti, akan kubuktikan jika aku memang pantas berada di divisi satu penyidik Metropolitan!"
"Sebagai teman aku hanya ingin mengingatkan padamu untuk menjaga sikap dan tidak tampil mencolok."
Potongan obrolan antara dirinya dan Seto, mendadak terkilas di ingatannya. Yang mana itu terjadi saat ia baru saja dipindahkan ke kepolisian Metropolitan.
Ai menjerit, merasakan panasnya peluru yang bersarang di anggota tubuhnya. Earpiece di telinganya terjatuh dan sudah dimatikan sebelumnya. Masih dalam posisi terbaring, ia menekan luka tempat peluru itu bersarang untuk berusaha menghambat laju darah.
"Dasar pengkhianat! Jadi kau bekerja sama dengan Black Shadow." Seto menatap mata tajam dengan tangan yang masih menodongkan pistol ke arah Ai.
"Bagaimana dengan kau sendiri? Bukankah kau juga pengkhianat?" tandas Ai sambil tersenyum remeh.
"Pengkhianat? Yang kulakukan saat ini adalah bagian dari tugasku melindungi negara. Aku bekerja di bawah perintah kepala keamanan nasional. Dalam memenuhi tugas dan perintah, aku harus mengesampingkan pertemanan kita."
Ai terkikik meski menahan sakit. "Apakah melakukan percobaan pembunuhan terhadap atasan yang menjadi panutanmu adalah bagian dari melindungi negara? Atau bagian dari perintah kepala keamanan nasional yang saat itu masih menjabat sebagai kepala kepolisian nasional?"
Detik itu juga wajah Seto Tanaka menggelap seketika. Bagaimana tidak, secara tak langsung Ai seperti menyinggung tentang kasus penusukan yang dialami Shohei, di mana kasus tersebut belum terkuak hingga kini.
Baik dirinya maupun Ai sama-sama mengilas balik perbincangan mereka saat itu.
"Seto-kun, apakah sejak menjadi detektif kau pernah menggunakan senjatamu?"
"Kenapa kau bertanya itu?"
"Aku pernah di posisi tengah melihat terjadinya sebuah kejahatan, tetapi aku ragu menggunakan pistol untuk menghentikan pelaku dan memilih untuk mencari tahu motifnya. Aku termakan dengan kata-kata instruktur kita dulu yang mengatakan seorang detektif jarang menggunakan pistolnya, dia bekerja dengan otaknya bukan dengan senjatanya."
"Apakah setelah itu kau berhasil menangkap pelakunya dah mencari tahu motifnya?"
"Tidak keduanya."
"Jangan ragu menembak jika itu untuk keselamatan korban. Bahkan Ketua pernah melakukannya saat tak ingin aksi pencuri itu dilakukan."
"Kau terlihat sekali dekat dengan Ketua Yamazaki-san, ya?"
"Dia panutanku."
Pada saat itu, Seto sama sekali tak tahu bahwa perkataan Ai itu tertuju untuk dirinya. Ya, beberapa bulan lalu, Ai sedang melakukan patroli hingga ke gang-gang pertokoan yang tak berpenghuni. Ia lalu tak sengaja melihat seseorang yang memakai topeng wajah berlari kencang setelah melakukan penusukan. Sambil memegang pistol, ia pun mengintai diam-diam bermaksud hendak menangkap basah orang tersebut. Namun, itu tak jadi ia lakukan ketika melihat wajah pelaku yang baru membuka topengnya. Tubuhnya terlanjur kaku dan tak bisa digerakkan begitu mengetahui pelaku tersebut adalah teman seprofesinya sendiri, Seto Tanaka. Betapa ia sangat menjaga persahabatan yang terjalin di antara mereka dengan meloloskan pria itu begitu saja. Namun sekarang, Seto malah tega menembaknya.
"Ada alasan yang membuatku melakukan itu! Setidaknya aku tidak sampai membuatnya mati!" teriak Seto membela diri.
"Kau benar, seharusnya aku langsung menembakmu waktu itu," ucap Ai terbata-bata sambil berusaha berdiri. Sayangnya, usahanya gagal.
Seto masih mengarahkan pistolnya pada Ai. Sambil tersenyum dingin, ia berkata, "Benar, bukankah kau ikut menyembunyikan kejahatanku? Sejujurnya, aku tidak pernah menganggapmu teman. Aku mendekatimu hanya karena kau anak seorang pejabat. Ah, tapi nyatanya karir awalku lebih maju dari dirimu. Terbukti, aku lebih duluan masuk di kepolisian Metropolitan. Atas kerja kerasku, aku bisa bergabung ke dalam divisi elit dan bekerja langsung di bawah perintah Yamazaki-senpai, senior yang dulunya kita idolakan bersama. Aku lalu mendekatinya dan ikut membantunya dalam memecahkan banyak kasus. Karena itulah dia hendak membantuku dalam promosi jabatan menggantikan dirinya. Kau tahu, aku akan mendekati siapapun yang bisa mendongkrak karirku di kepolisian. Tapi, tiba-tiba kau datang ke metropolitan dan merusak kerja kerasku selama ini! Hanya karena kau anak seorang pejabat, kau dengan mudahnya melenggang di sana meski tanpa prestasi! Dan sekarang, kupikir ini saatnya untuk melenyapkanmu. Akan sangat merepotkan membiarkan orang yang mengetahui rahasia besar kita tetap dibiarkan hidup, bukan? Lagipula, bukankah kau bekerja sama dengan Black Shadow? Bukankah tidak akan jadi masalah jika aku melenyapkanmu?"
Pria itu menarik pelatuk pistol. Namun, secara tiba-tiba Shohei datang mendorongnya dari belakang dan mengangkat tangannya ke atas. Kedua pria itu sampai terguling bersama. Seto terkesiap ketika mengetahui yang menggagalkan aksinya adalah Shohei.
Dengan sedikit panik, ia langsung berkata, "Ketua, Ai telah mengkhianati kita semua. Dia bekerja sama dengan Black Shadow yang telah membunuh menteri kehakiman. Dia juga adalah pelaku penusukan ketua!"
"Aku telah mendengar semuanya!" ucap Shohei dengan suara bergelombang karena menahan amarah, "tapi ... jauh sebelumnya, aku sudah menduga kau adalah pelakunya. Apa kau lupa, aku sempat menahan kakimu? Saat itu, aku mengingat jelas jika sepatu yang dipakai pelaku mirip dengan sepatu polisi. Aku juga mengingat nomor sepatu pelaku. Lalu, sarung tangan kulit yang kutemukan saat itu sebenarnya milikmu, kan? Kau menuduh itu milik Ai untuk membuat aku mencurigainya, karena aku sempat menceritakan padamu bahwa tim forensik hanya mendeteksi sarung tangan kulit yang menempel di lengan bajuku. Tapi kau lupa, aku tahu kau selalu memakai jenis sarung tangan kulit saat mengendarai motor," tutur Shohei sambil mengingat kembali ketika ia menemukan sarung tangan tersebut.
"Sarung tangan ini ... milik siapa?"
Di saat para polisi hanya saling menatap sambil menggelengkan kepala, Seto malah langsung berkata, "Sepertinya itu milik Otaka Ai. Aku pernah melihatnya memakai itu saat sedang investigasi. Dia memang sering menjatuhkan barang-barangnya sembarangan."
Sarung tangan yang ia gunakan saat penusukan tentu telah dilenyapkan. Namun, ia memiliki sarung tangan berjenis serupa. Sebagai seorang detektif, ia tahu cara menghindari kecurigaan Shohei dengan menuduh itu milik Ai yang kebetulan sedang tak berada di ruangan itu.
Sambil menatap penuh pada Seto terbungkam, Shohei lanjut berkata, "Salah seorang tim forensik mengatakan, jejak sepatu yang ditemukan di lokasi penusukan, sama dengan jejak sepatu yang kutemukan di sekitar halaman gedung tempat penyekapan menteri kehakiman. Bukankah itu artinya ... kau juga yang membunuh menteri kehakiman? Itulah kenapa, kau berada di halaman belakang gedung waktu itu di saat semua polisi masih menyisir ke dalam gedung."
Shohei berkata lambat-lambat sambil mengilas balik peristiwa naas yang telah melenyapkan menteri kehakiman. Saat itu, ia dan Rai melarikan diri ke belakang gedung begitu mendengar suara sirene datang secara beruntun. Dia meminta Rai agar segera melarikan diri meninggalkan gedung itu. Tak berselang lama kemudian, ia melihat salah seorang polisi berada tak jauh darinya. Ia pun keluar dari persembunyian untuk mengalihkan perhatian polisi tersebut. Namun, tampaknya ia dan polisi itu sama-sama terkejut begitu saling mengetahui satu sama lain.
"Ketua? Anda ada di sini juga?" tanya Seto kaget.
"Bahkan sebelum kalian datang." Shohei lanjut berjalan, tapi sesaat kemudian langkahnya terhenti sejenak saat pandangannya turun ke bawah.
"Ketua, apa itu artinya kau melihat Black Shadow?" tanya Seto kembali.
Shohei menutup ingatan, lalu berkata lagi, "Bukankah pertanyaanmu waktu itu seakan hendak memastikan keamanan dirimu sendiri? Aku memang tidak mengetahui apa yang telah kau lakukan, tapi pada saat itu juga aku melihat ada serbuk pasir yang menempel di salah satu sepatunya. Padahal tidak ada tanah berpasir di halaman belakang gedung. Bukankah itu pasir yang kau bawa dari tumpukan pasir di sudut halaman depan gedung yang berhadapan langsung dengan ruang penyekapan? Lalu, keesokan harinya, kau sibuk menyisir halaman sekitar gedung seolah sedang mencari sesuatu. Bukankah karena kau menyadari ada sesuatu yang telah ditinggalkan oleh Black Shadow asli malam itu?"
Ya, benar, sehari setelah kejadian tepatnya setelah upacara kematian mendiang Matsumoto dilaksanankan, Shohei meminta Seto dan Ai menemaninya ke lokasi penyekapan bergabung bersama tim investigasi yang lebih dulu berada di sana guna melakukan penyelidikan. Ketika itu, Shohei tak sengaja mendengar perbincangan antara Ai dan Seto.
"Oi, apa yang kau lakukan? Tempat kejadian perkara bukan urusan kita. Kita ke sini hanya menemani ketua," tanya Ai datang mendekati Seto yang terlihat sibuk mencari sesuatu.
"Aku hanya penasaran apakah pria itu meninggalkan sebuah barang bukti," balas Seto.
Seto merasa yakin, saat berkonfrontasi dengan Black Shadow, ia sengaja menendang alat kejut listrik hingga jatuh ke tempat itu agar bisa digunakan sebagai alat bukti.
"Ah, benar juga, ya! Biasanya Black Shadow selalu meninggalkan kelopak bunga Camelia di setiap aksinya, tapi kali ini tidak!" ucap Ai yang justru tersadar dengan ciri khas yang selalu ditinggalkan Black Shadow.
Melihat itu, Shohei sedikit bernapas lega. Sebab, saat konfrontasi dengan Black Shadow palsu, tanpa sengaja Rai menjatuhkan alat kejut listrik. Untungnya, Shohei lebih dulu menemukan benda tersebut.
Kemudian dugaannya pada Seto semakin kuat, kala Rai mengatakan Black Shadow palsu memiliki kemampuan berlari sangat cepat.
"Rai, kau satu-satunya orang yang berhadapan langsung dengan Black Shadow palsu itu. Apa kau ingat ciri khas khusus yang dimiliki pria itu?"
"Yang kuingat, dia memiliki bentuk bibir yang sama denganku. Gerakan pertarungannya mirip denganmu. Dia bisa menangkis segala seranganku dengan begitu mudah. Dan ... larinya sangat cepat! Aku sampai kesulitan mengejarnya, kecuali saat dia sengaja berhenti."
"Larinya sangat cepat?"
Sekali lagi, ini membuat kecurigaannya pada Seto bertambah besar. Sebab, seingatnya pria itu seorang mantan atlet lari yang telah banyak kali memenangkan kejuaraan olimpiade nasional.
Setelah mengingat adegan-adegan yang menguatkan tuduhannya pada Seto, Shohei pun berkata, "Tanaka-san, kenapa kau melakukan semua ini? Bahkan meskipun setiap bukti itu mengarah padamu, aku masih berusaha memercayaimu dan menganggap itu semua hanya kebetulan! Jelaskan padaku apa yang membuatmu melakukan itu!"
.
.
.
catatan author:
sebagian dialog di atas adalah ptongan beberapa dialog yang ada di beberapa chapter yang telah lewat.
btw, buat yang merasa tebak black Shadow asli dengan benar, selamat, kalian mendapat hadiah pulsa 50ribu. silakan ke konter terdekat, tulis nomor kalian, terus bayar masing-masing pakai uang sendiri
🎊🎊🎊
Kemarin kan aku dah bilang ya, kalau aku dah pernah spill keahlian Seto Tanaka yang sebenarnya adalah clue dari misteri ini. Ini dia:
Ini ada di chapter dengan judul kasus di balik kasus. Masih ada lagi kejutan-kejutan di next chapter menjelang ending, mohon sabar menanti, ya!
nulis gini berat, jangan lupa like dan komeng neh