Never Not

Never Not
Chapter 13



"Fuuuhhhhh... "


Dhito tertawa sendiri melihat ekspresi Nada yang selesai menyantap ramennya dengan nikmat. Dia sendiri sudah selesai makan dari sekitar dua puluh menit lebih awal daripada Nada. Sisanya ia habiskan untuk ngobrol ngalor-ngidul bersama Nada.


Beberapa hal yang Dhito tangkap dari Nada adalah bahwa dia memang seorang gadis sederhana. Baik dari cara pandang maupun gaya hidupnya. Bukan dalam artian dia tidak berpengetahuan atau tidak mengikuti mode, namun lebih kepada Nada lebih mengutamakan kenyamanannya dan tidak mau menggunakan atau melakukan apapun yang membuatnya 'tidak nyaman'. Latar belakang keluarga Nada sendiri juga sederhana dalam artian sebenarnya. Tidak rumit, normal dan wajar. Ayahnya seorang PNS di Yogyakarta dan ibunya adalah guru di salah satu sekolah negeri. Dia punya dua adik yang masih sekolah dan kuliah di Yogyakarta. Keluarga mereka berkecukupan namun juga tidak berlebihan.


Dhito sesekali melihat ponselnya. Tidak ada balasan dari Natya setelah dia menyebutkan lokasi mereka. Antara Natya tidak peduli atau dia sedang menuju ke sini merupakan dua hal yang berbeda.


"Kemana ya kita habis ini?" tanya Nada dengan pelan.


"Ha mau kemana? Ini mall udah rame banget dengan suara jeritan cewek-cewek. Malah pusing gue kalau keluar."


Nada tertawa geli. "Frinta sama Terra pasti lagi jejeritan nih."


"Pasti lah. Terra aja kalau di rumah yang ngeliatnya dari layar doang udah ribut banget." Dhito geleng-geleng kepala mengingat kelakuan adik perempuannya tersebut. Dia yakin Terra sudah berada di puncak kehebohan di atrium mall ini.


"Halo, guys."


Dhito dan Nada sontak menoleh ke sumber suara yang ternyata adalah Natya. Dhito memberikan cengiran lebar karena pancingannya terhadap Natya berhasil. Natya lanjut menyapa dengan menaikkan alisnya kemudian duduk di samping Dhito. Nada tidak dapat menyembunyikan kekagetannya dengan kehadiran Natya yang sangat mendadak ini.


Sedangkan yang sedang ia tatap malah sibuk memberikan tanda kepada pramusaji untuk mengantarkan buku menu.


"Lagi laper, jadi gue ke sini deh."


Basiii... dengus Dhito dalam hati.


Nada hanya diam tidak menanggapi. Dia memilih untuk memainkan ponselnya sembari menunggu Natya memesan makanannya.


Natya masa mendadak ke sini sih, Taa???????


Nada yakin Frinta pasti hanya akan membaca ini setelah selesai berdesak-desakan untuk bertemu dengan oppa kesayangannya. Namun, Nada butuh pelampiasan atas kekagetannya ini. Dia melirik ke arah Dhito yang juga sedang sibuk dengan ponselnya.


"Jadi, kok bisa banget ngepas kalian berdua di sini?" Natya mencoba memecahkan keheningan.


Nada tidak menjawab sehingga Dhito berinisiatif mewakilkan. "Si Terra nonton artis Korea kesukaannya. Trus ternyata Nada nemenin temannya juga ke sini."


"Oh..." Natya mengangguk lalu menatap Nada dengan ramah. "Lo lebih suka band gitu ya, Nad?"


"Kalo yang lo maksud Coldplay, FYI aja, gue udah bilang lo bohong ya soal gue ngajak lo ke club, kambing," sambar Dhito cepat.


Nada mau tidak mau jadi tertawa sementara Natya mendelik sebal. Si Dhito ini memang kadang bisa mendukung bisa juga turut membuat temannya malu. Karena sudah kepergok kalau dia waktu di Bangkok dulu bohong soal itu, Natya jadi cuma bisa berdeham saja.


"Ya kan nebak aja. Lo kan suka mendadak ngajak gitu."


Ngeles aja si onta.. Dhito geli sendiri. Dia melirik jamnya. Dia menimbang apakah harus kabur sekarang atau tidak. Dia tidak mau berlama-lama jadi obat nyamuk.


Permohonan Dhito langsung dikabulkan saat itu juga. Dhito langsung terdiam melihat seseorang yang sedang berjalan mendekat ke mereka.


"Eh, Hai, Dhit! Nat!" seru Arinta riang saat melihat kedua pria tersebut ada di tempat makan yang sama dengannya. Arinta kali ini cukup menyembunyikan dirinya dengan memakai kacamata serta oversize sweater dan bucket hat berwarna beige.


Yang Dhito lakukan pertama kali adalah membalas sapaan itu. Sedangkan, Natya melirik gadis yang ada di depannya.


Nada sedang berdoa penuh supaya Arinta tidak ke tempat ini bersama Adrian.


Arinta menyadari ada satu sosok lagi yang belum dia siapa. Begitu dia mendekat, dia langsung teringat wajah wanita yang ia tatap ini. "Hmm... Maaf kemarin lupa namanya.. " Arinta terlihat bersalah.


"Nada.. " Nada mendongak dan memberikan senyum kecil kepada Arinta. Susah bagi Nada untuk membenci Arinta karena wanita ini pun tidak tahu apa-apa tentang kisahnya dengan Adrian. Ditambah, Arinta pada dasarnya orang yang baik dan ramah. Who would hate this pretty and kind girl? Memang dalam hidup pasti ada jenis-jenis ketidakadilan.


"Sendiri aja, Rin?" tanya Dhito basa-basi sekaligus mengecek suhu. Jangan-jangan cowok yang waktu itu juga ikut mengintil Arinta.


"Nggak. Gue nemenin, emm, Kay. Dia ikut fansign apa gitu di bawah." Arinta sedikit mencuri pandang ke Natya. Ingin melihat reaksi cowok tersebut. Sedangkan Natya hanya diam saja dan malah fokus melihat sosok yang ada di hadapannya.


Dhito benar-benar pengen kabur saja dengan suasana tipikal seperti ini. Kurang lengkap apa lagi ada Nada, Natya, Arinta, bahkan Kay. Dia tidak menyangka juga perkara fansign bisa bikin mereka di satu ruangan seperti ini.


"Aku boleh gabung kan ya?"


"Oh iya silakan." Nada mempersilakan Arinta untuk duduk di sebelahnya. Arinta mengucapkan terimakasih lalu melihat ke arah mereka bertiga.


"Ini yang lain pada diet atau gimana?" Tanyanya saat melihat hanya Natya yang sedang makan.


"Si Natya datangnya telat. Kita berdua sih udah kelar makan. Biasalah, sibuk."


Arinta tertawa kecil. Dia hapal sekali perilaku Natya yang weekend kadang masih bekerja. Namun, yang Arinta juga ingat, dulu ada masa dimana Natya ini akan muncul di lokasi pemotretan atau acara-nya Kay. Apa mungkin dia juga ke sini karena sebenarnya dia tahu Kay ada di sini? Bagaimanapun, Arinta yakin Natya tahu siapa artis yang digemari Kay. Dulu juga kalau dia tidak salah Natya juga yang bela-belain nemenin Kay untuk menonton konser ke sana - kemari.


"Pesen gih, Rin. Biar kita temenin lo. Bentar lagi soalnya gue sama Nada mau cabut bentar."


"Kemana?" Arinta dan Natya bertanya berbarengan. Nada juga kalau tidak mengontrol diri, hampir saja melontarkan pertanyaan yang sama.


"Nyari kado Kay."


Natya hampir tersedak mendengar jawaban Dhito. Arinta sendiri membelalak kaget.


"Nada juga kenal Kay?" Sekilas dia melirik ke arah Natya untuk meminta konfirmasi.


"Nggak lah. Gue doang. Harusnya bareng si Terra. Tapi dia sibuk nonton gitu. Kebetulan ketemu Nada, tadi gue emang mau minta temenin. Tapi, si Kay di sini ya? Nggak enak banget ntar gue ke-gap. Jangan cari di mall ini deh ya gue."


Nada masih berusaha mencerna segala perkataan Dhito. Sementara, Natya, dia pun masih bingung dengan aksi Dhito saat ini. Kalau Arinta, dia masih menebak-nebak keterkaitan satu sama lain di kejadian hari ini.


"Cabut sekarang deh, Nad. Ntar keburu kegap yang ultah besok." Dhito memberi instruksi dengan santai.


Nada sendiri masih kikuk untuk mengikuti alur cerita Dhito ini. Dhito sendiri sudah berdiri, menepuk bahu Natya singkat, lalu berjalan menuju ke kasir sebelum akhirnya keluar restoran. Nada pamit singkat kepada Natya dan Arinta lalu buru-buru keluar dari restoran.


"Itu pada kabur bukan karena takut Kay mergokin lo bareng cewek baru kan?" Tembak Frinta.


"Ya, enggaklah." Gara-gara elo sama pacar lo lagi! Sambung Natya dalam hati. Dia jadi tidak merasa enak di posisi saat ini. Dia tahu Dhito pasti ingin membantunya untuk keluar dari situasi aneh ini. Mungkin membantu Nada sekalian. Kalau Natya yang tadi sibuk membawa lari Nada, kesannya ke Arinta pasti dia benar-benar menghindar dari Kay.


Arinta memesan makanannya lalu kembali menatap Natya. Dia benar-benar penasaran dengan Natya dan Nada. "Lo mau ikutan cabut atau gimana? Ntar Kay keburu balik ke sini."


"Kalau gue sih kalau makanan gue kelar ya gue bakal cabut. Bukan masalah ada Kay." Natya menggerakkan mangkok ramennya sedikit untuk menandakan bahwa dia sebentar lagi akan selesai makan.


"Jadi, gebetan baru atau pacar baru, Nat?"


"Mau jadi informan lo?" canda Natya.


"Nggak lah. Males. Ancient story banget kalau ngadepin lo sama Kay. Justru gue kagum banget lo melangkah maju. Nggak semua orang kan lo bawa ke tempat Kala?"


Natya hanya mengedikkan bahu. Dia dan Arinta sendiri bisa dibilang bukan teman dekat. Kebetulan saja Arinta dan Kay sering satu project dan saat dia menemani Kay, jadinya dia juga berkenalan dengan Arinta. Bahwa gadis ini ternyata punya kisah uniknya sendiri, Natya juga baru tahu. Natya juga tidak tahu, sejauh mana Arinta tahu tentang kisahnya dan Kay. Dia tidak tahu apakah Kay menceritakan semuanya ke Arinta, seperti Natya yang menceritakan semuanya kepada Dhito. Kay bukan orang yang punya banyak teman. Apalagi sahabat. Bahkan bisa dibilang sahabat dekatnya memang cuma Natya. Tapi, jangan ditanya tentang kenalan yang Kay miliki. Daftarnya akan sangat banyak.


Natya mengangguk sekaligus menelan suapan terakhirnya. Baiklah, makanannya sudah habis, dia bisa terus bergegas pergi.


"That means a lot to her. At least that is what she said to me."


"Not a big deal. That is what friends are for."


Arinta diam. Dia mau melanjutkan namun dia tahu bukan kapasitasnya saat ini untuk menggali lebih jauh tentang Natya. Dia sendiri sebenarnya saat ini lebih sebagai pengamat. Kay tidak pernah terlalu menceritakan apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka.


"Nggak papa kalau lo makan sendiri, Rin?" Natya memastikan dulu kondisi Arinta. Dia juga tidak enak kalau harus meninggalkan Arinta sendiri.


"Aman. Cabut deh lo. Bingung juga sih gue kalau ntar Kay ke sini trus gue stuck dengan lo berdua."


Natya meringis. Dia tiba-tiba bisa merasakan kekikukan yang akan terjadi.


"Oke deh, gue duluan ya." Natya bangkit berdiri. Namun, tepat saat dia mau berjalan keluar, Arinta tiba-tiba bersuara lagi.


"Eh, lo berarti besok dateng kan di ulang, tahunnya Kay?"


"Iya, dateng."


"Bareng Nada juga?"


Untuk itu, Natya hanya bisa diam.


•••


Ta, info ya kalau sudah selesai. Gue nunggu di parkiran.


Nada diam saja di dalam mobil Dhito. Dia tadi sudah ingin ke mobilnya saja, tapi malah ditahan Dhito. Bahkan sejujurnya, Dhito juga tidak paham kenapa dia menahan Nada.


Nada akhirnya tidak tahan dan membuka suara juga. "Dhit, meski heran kenapa kita harus di sini, cuma... Hmm thanks deh udah nyelametin gue lagi dari Arinta."


Dhito langsung ngeh kalau Nada mereferensikan ke kejadian di River Cruise di Bangkok.


"Oh, selo lah. Lagian lo pucet mulu kalau ketemu mereka." Dhito berkata jujur sekaligus berusaha bercanda.


"Ha iya?" Nada segera memeriksa wajahnya di kaca dasbor. Dhito jadi geli melihatnya.


"Ya kalau sekarang sih lo udah lebih kayak wajah kekenyangan."


Nada langsung cemberut mendengar omongan Dhito. "Kan emang kenyang sih."


Dhito tertawa. "Ya udah, lo kalau ini masih mau liat-liat hal lain di dalam mall juga nggak apa-apa."


"Nggak enak lah. Kan lo tadi bilangnya kita pindah mall. Masa ntar muka gue nongol lagi."


Dhito menepuk setirnya tanda dia lupa dengan skenarionya sendiri. Nada langsung terkikik lucu. Si Dhito ini makanya nggak usah ribet banget bikin skenario. Pakai acara nyari kado lagi.


"Lagian, lo kan aslinya udah beli kadonya kan?"


"Kok lo tau?" Dhito bingung.


"Nggak sengaja ketemu Terra pas dia selesai belanja hadiahnya. Trus abis itu jadi ngobrol deh."


"Oh..."


"Kay itu... mantannya Natya ya?"


Duh, udah nge-ember apa aja nih si Terra?


"Enggak. Siapa tuh yang bilang kayak gitu. Si Terra? Suka sok tau tuh krucil kadang."


"Nggak sih. Nebak aja. Banyak yang ngarah ke sana."


Dhito jadi gemas dan menjitak pelan puncak kepala Nada. "Sok detektif lo."


Nada mengusap pelan bekas jitakan tersebut. "Gue kadang feelingnya kenceng yang soal begituan."


"No comment deh gue. Tapi, yang jelas jawabannya sih enggak."


"Mantan gebetan?"


"Tanya langsung lah sama orangnya."


"Ya kan preliminary dulu ke temennya," sanggah Nada.


"Ribet ah gue ditanya mulu. Gue mau nonton."


"Ke bioskop? Ntar kegep Arinta."


"Nggak, Madaammm. Nonton di sini."


"Kok di sini?" Nada bertanya polos.


"Hiishh... Lo bawel banget deh." Dhito menoleh ke Nada yang tengah menatapnya penasaran. Mata gadis itu menyipit sementara bibirnya ditarik hingga membentuk garis lurus. Dhito berada di persimpangan ingin mengacak-acak rambut gadis tersebut atau mencubit pipinya. Tapi, yang jelas tentu saja kedua-duanya pantang untuk dia lakukan.


Dhito menyalakan ponselnya dan berniat melanjutkan untuk menonton Peaky Blinders. Melihat hal itu, Nada jadi memutuskan untuk lebih baik juga menunggu di dalam mobilnya saja.


"Gue balik ke mobil gue aja deh ya."


Dhito mendongak, berpikir sejenak, lalu mengangguk. "Oke."


Nada sedikit mendengus. Ngapain juga lagi dia ke sini. Dari awal saja harusnya dia ke mobil. Selang beberapa detik, ponsel Nada berbunyi. Dia sibuk merogoh ke dalam tasnya lalu melihat layarnya menampilkan nama yang menghubunginya, "Mama".


" Halo, Bu?" Nada melambai singkat ke Dhito dan keluar membuka pintu. Dia berusaha mendengarkan kalimat yang sedang ibunya jelaskan dan di saat yang sama melihat Natya sedang tersenyum lebar dan berjalan mendekat ke arahnya.


Nada menghentikan langkahnya dan fokus terhadap ibunya. Sementara itu, Natya sudah berdiri tegak di sampingnya.


Natya terlihat sumringah namun perlahan ekspresinya meredup ketika melihat raut wajah Nada berubah menjadi panik.


"Nad?"


Nada menjawab. "Iya, Ma. Nada pulang." Dia menutup pembicaraannya di telepon lalu menatap Natya kosong.


Natya yakin, ada berita yang tidak menyenangkan yang akan didengarnya.