
Nada mengelap peluh yang mulai membasahi pelipisnya. Dia sudah menggunakan topi, blouse warna salem kesayangannya, serta memegang kipas tangan, tapi terik matahari masih tidak bisa ia lawan. Ditambah, The Grand Palace ternyata tetap ramai dikunjungi meski masih jam sebelas siang. Nada sempat mengira orang akan banyak mengincar di sore hari, terutama karena ini adalah weekday.
Nada pun segera melarikan diri untuk menikmati es kelapa dan memutuskan untuk tidak melanjutkan perjalanannya. Banyak yang akan bilang "udah jauh-jauh kayak gitu, akhirnya mutusin pulang?". Tapi, begitulah Nada. Dia tidak peduli, kalau dia memang sudah merasa tidak nyaman maka ya jalan terbaik adalah ditinggalkan.
Nada menikmati es kelapanya sambil memainkan ponselnya. Tiba-tiba ada pesan masuk.
How is The Grand Palace?
Hot. And I give up.
Nada mengirim gambar ia sedang menikmati es kelapa.
Natya memberikan emot tertawa. "That fast?"
Yes.
So what are you planning to do then?
Eat.
😅😅😅
Nada tidak membalas lagi. Dia menimbang apakah akan makan di sekitar sini atau melanjutkan makan di daerah Khao San. Khao San sendiri terkenal dengan kehidupan dan jajanan malamnya. Namun, ada Mango Sticky Rice kesukaan Nada yang ia suka di sana. Nada memutuskan untuk ke sana saja, ditambah di sana ada tempat Tom Yam yang dia suka juga.
Nada memutuskan untuk ke sana sekitar tiga puluh menit lagi. Setelah agak bosan dengan social media dan artikel yang dibacanya, entah mengapa hatinya tergelitik untuk melihat akun seseorang - atau mungkin dua orang.
Dia mengetik akun @adriantama90 dan melihat tidak ada unggahan sama sekali. Ya apa juga yang ia harapkan. Terakhir kali Adrian mengunggah sesuatu adalah bulan Juli tahun lalu. Akhirnya, Nada memberanikan diri untuk mengetik akun lainnya @ArintaSaraswaty. Ada instastory terbaru. Tangan Nada terasa gatal untuk melihat hal tersebut. Kalau dia nekad melihat, siapa tau Arinta tidak tahu. Bagaimanapun cewek tersebut sudah punya hampir satu juta follower, jadi tidak akan mungkin sadar kalau strata biasa kayak Nada ini melihat story-nya kan?
Nada pun akhirnya membuka update-an tersebut. Tampak Arinta sedang menikmati hidangan Royal Osha, salah satu restoran terkenal di Thailand dengan hidangan lokalnya. Nada terus membuka story titik-titik tersebut untuk mencari sosok yang ia kenal. Namun, tetap saja tak terlihat sosok Adrian di foto tersebut. Namun, Nada yakin ada Adrian di sana.
Terkadang, Nada merenung mengapa Adrian bisa bertahan untuk menjadi bayangan dalam kehidupan Arinta. Apakah itu yang dinamakan jatuh cinta sejatuh-jatuhnya. Sebelum Adrian dekat dengan Nada, dia menjauh dari Arinta karena merasa tidak pernah dianggap sebagai teman. Meski mereka sudah mengenal sejak Sekolah Menengah Atas. Namun, mengapa sekarang Adrian kembali bersama gadis tersebut?
Bahkan, semenjak Valentine terkutuk tersebut, Adrian tidak pernah lagi menghubungi Nada. Benar-benar menghilang bagaikan ditelan bumi. Hati Nada kembali merasakan nyeri yang luar biasa. Dia berusaha menenangkan dirinya. Pengalaman di Valentine tersebut merupakan salah satu pengalaman terburuk di hidupnya yang jika diingat suka membuat Nada bergidik ngilu.
Rasa sakitnya begitu besar yang tidak bisa ia deskripsikan. Tipe jenis sakit yang kau harapkan benar-benar dicabut hilang dari tubuhmu..
Nada meletakkan ponselnya dan berusaha fokus ke minumannya. Begitu ini selesai, dia akan langsung saja cabut pergi, meninggalkan rasa sakit sementaranya ini.
••••
"Pulang jam berapa lo kemarin?"
"Jam sepuluh gue juga udah sampe hotel."
"Trus ngapain lo nguap mulu. Gue kira lo pulang subuh."
"Gue abis pulang kerja dulu."
"Lo pulang naik apaan kemarin?"
"Kapal sama BTS."
Dhito menggeleng tidak percaya. "Keinginan lo apa si cewek?"
"Intinya si Nada ini suka banget ngeliat lampu-lampu kota gitu."
"Akhirnya, lo bisa punya teman nge-date yang hemat ya."
Natya hanya mengerling sebal. Sebenarnya dia juga tidak menaksa. Nada juga tidak memaksa mereka harus naik kapal atau BTS. Hanya saja kalau melihat mata gadis itu yang berbinar setiap melihat deretan lampu, Natya jadi senang sendiri.
"Malam ini juga kita bakal jalan lagi."
"Seriusan? Gercep banget lo. Tiap hari jalan mulu."
"Ya gitulah."
"Mau diajak kemana lagi?"
"Gue mau ngajak dia ikutan River Tour-nya Chaopraya."
"Waah... Tapi kalau malem apa ga keramean tuh ntaran."
"Udah gue handle."
"Handle?" Dhito berusaha menebak kemudian matanya membelalak. "Wah, gila lo. Seriusan?" Dhito tersadar apa yang dilakukan temannya.
"Iya. Tapi, nggak semuanya. Curiga juga dia entar. Lagian... Ya belum sampai ke tahap kayak gitu juga sih."
Dhito menggeleng terpana. "Wah... Penasaran juga gue sama si Nada ini. Kapan-kapam gue ikut lo dah. Kalau nggak bisa di Bangkok, di Jakarta entar jangan lupain gue lo."
Natya tertawa. Saat dia mau membalas ucapan Dhito, ponselnya berbunyi. Melihat nama yang tertera di sana, membuat Natya mendadak pucat.
"Kay?"
Dhito menjadi terdiam mendengar nama yang Dhito sebut. Dia melihat raut wajah temannya terlihat gelisah mendengar perkataan dari sambungan tersebut. Dhito mau tidak mau jadi penasaran juga. Di saat Natya sudah berusaha melangkah sejauh ini, mengapa kadang ada hal-hal yang harus membuatnya tertahan.
Begitu Natya menutup telepon, ia menatap Dhito serius. "Gue harus ke Singapore sekarang."
"Ha? Ngapain?"
"Ayahnya Kay sakit. Bokap nyokap gue juga udah ke sana duluan."
"Terus rencana lo malam ini?"
"Untuk yang itu, gue minta tolong, Dhit."
•••
Dhito melihat sekelilingnya. Tidak terlalu banyak turis yang ada di kapal itu. Namun, dia sendiri tahu apa yang menyebabkan hal tersebut.
Dhito melihat gadis yang ada di hadapannya dengan kikuk. Dia ingat sekali ekspresi wajah Nada ketika melihat dia adalah orang yang datang. Natya bilang dia sudah menyampaikan permintaan maafnya ke Nada dan gadis itu terkesan tidak apa-apa. Tapi, Dhito masih dapat melihat semburat kekecewaan di wajahnya. Penampilan gadis itu bahkan mungkin sudah berusaha tampil cantik untuk Natya. Gaun satin erwarna hitam selutut dengan rambut yang digerai. Riasan wajahnya sederhana namun menonjolkan aura bersahabat dari gadis ini. Kalau sampai yang seperti ini, ujung-ujungnya hanya menjadi permainan sementara Natya, benar-benar tega sih temannya tersebut.
Dhito dan Nada sempat mengobrol beberapa saat sebelum mulai menyantap makanannya. Dhito dan Natya beralasan bahwa ayah dari sahabat Natya sedang kritis sehingga membuat pria tersebut untuk pergi menjenguknya. Dhito hanya tidak menambahkan saja bahwa itu adalah sahabat sekaligus mantan cinta matinya Natya.
"Jadi, udah kemana aja sama Natya?" Tanya Dhito basa-basi.
"Ke Asiatique aja kemarin." Nada memberi gestur ke kanan dengan kepalanya. Tampak bianglala Asiatique menyala terang di tengah malam hari itu.
"Hebat sih lo, bisa ngajak si Natya. Dia paling ogah kalau ke sana. Kalau orang kantor ke sana aja dia nolak dan milih makan di tempat lain."
Nada sebenarnya tidak mau terdengar kesal karena tiba-tiba ditinggal. Bagaimanapun, dia dan Natya juga baru mengenal dan bersama beberapa kali. Ditambah, ayah sahabatnya sedang sakit. Tentu saja wajar jika Natya memilih sahabatnya dibandingkan dia. Namun, Nada tidak bisa menyembunyikan bahwa rasa traumanya ketika ditinggal mendadak oleh Adrian, membuat dia menjadi khawatir berlebihan jika ada yang tiba-tiba menghindarinya.
"Lo balik kapan, Nad?" Dhito berusaha membuka percakapan lain.
"Hari Sabtu ini. Lo?"
"Rabu."
Iya, barengan Natya juga kan ya harusnya... Nada tiba-tiba jadi kepikiran sendiri.
"Besok lowong nggak, Nad. Ntar gue temenin deh lo mau ke mana," Tawar Dhito bersahabat. Dia kasihan juga kalau melihat si Nada ini harus sendirian ke mana-mana.
"Hmm... Nggak apa-apa, Dhit. Lo mendingan istirahat aja persiapan buat flight besoknya. Flight pagi kan?" Ujar Nada. Dia ingat karena Natya pernah bercerita tentang jadwal kepulangannya.
"Oh.. Iya, oke.. " Dhito tidak mau memaksa. Dia juga jadi canggung kalau memaksa terus.
Mereka berbicara hal-hal umum lainnya. Sesekali Dhito berusaha bercanda yang syukurnya ditanggapi Nada dengan hangat. Saat sudah sejam berlalu, Dhito mendadak merasakan bahwa ada seseorang dari seberang meja yang tampaknya melihat ke arah mereka terus. Awalnya, Dhito merasa bahwa mungkin itu hanya perasaannya saja. Namun, setelah berusaha pura-pura tidak melihat namun mencuri pandang, Dhito yakin bahwa orang tersebut sedang memperhatikan ke arah dirinya.
"Eh, ini gue nggak mau kegeeran sih. Tapi, ini serem juga. Gue ngerasa dari tadi ada cowok yang natap gue terus deh." Dhito mencodongkan tubuhnya ke Nada dan berbisik pelan.
"Ha? Masa? Hmm... Naksir kali sama lo," goda Nada.
"Apaan, nggak lucu ah."
"Yang mana sih tapi? Gue boleh noleh nggak?"
"Deket ujung belakang bagian kiri lo. Kalau lo noleh bakal keliatan banget sih ke dia. Nah kan, nah kan. Dia ngeliat ke arah sini lagi."
"Yang mana deh, penasaran gue. Gue pura-pura ambil buffet lagi deh."
"Nah, boleh juga tuh. Tuh cowok yang pake kemeja cokelat. Sama cewek juga sih itu."
" Udah sama cewek terus ngapain ngeliatin lo?" Kening Nada berkerut. "Oke deh, gue intai dulu." Nada berdiri kemudian berjalan ke buffet. Ketika dia mau mengambil makanan dari ujung pertama, dia mendongak perlahan untuk mencuri pandang ke sudut yang Dhito maksud. Di sanalah pandangannya langsung bertrubukan dengan sosok Adrian. Pria tersebut pun memang sedang memperhatikan Nada. Begitu mereka saling memandang, Nada langsung mengalihkan pandangannya. Sekarang mendadak dia merasakan mual yang luar biasa. Dia hanya mengambil satu sendok nasi dan buru-buru kembali ke tempatnya.
"Kenapa, Nad?" Dhito jadi kaget melihat wajah Nada yang mendadak menjadi pucat.
Dhito melirik ke ujung meja Adrian. Pria tersebut sudah tidak melihat ke arah mereka lagi.
"Gue kenal orang itu," terang Nada.
"Siapa?" Dhito melihat muka Nada yang berubah muram. "Hmm... Mantan?" Tanyanya hati-hati.
Nada menggeleng. "Lebih buruk dari itu." Nada mendadak panik. "Duh, ini nggak bisa ya berhenti dimana dulu?"
"Tinggal sejam lagi sih ini, Nad. Ntar kita langsung cabut aja."
"Duh... Males banget nih gue."
"Dia siapa sih sampe lo ketakutan begitu?"
Nada cuma terhenyak. Mata gadis itu jadi semakin meredup. Dhito jadi kaget sendiri. Kalau sampai ada wanita yang sampai sebegini sakitnya, biasanya sih udah keterlaluan banget perlakuan yang diberikan padanya.
Dhito tiba-tiba punya mendadak ide gila. Dia cuma berharap Natya tidak pernah tahu saja tentang kejadian hari ini.
"Nad, gue punya ide. Tapi, gue nggak mau lakuin kalau seandainya lo nggak setuju."
"Hm?"
Dhito memberi sinyal dengan tangannya agar Nada mendekat ke arahnya. Nada pun mencondongkan badannya ke arah Dhito. Jarak mereka menjadi sangat dekat hingga Dhito bisa melihat garis-garis wajah Nada, tulang pipinya, serta bibir mungilnya. Untuk sejenak, Dhito merasakan hal aneh di hatinya namun buru-buru dia usir perasaan tersebut.
Dhito berbisik di telinga Nada. Mata gadis tersebut membelalak namun kemudian merasa bahwa mungkin sudah saatnya dia tidak melulu kabur atau bersembunyi ketika melihat Adrian.
"Gimana?"
"Oke." Nada berkedip jahil. Dhito tertawa kemudian mendadak membelai lembut rambut Nada.
Nada sebenarnya kaget dengan tindakan Dhito tersebut. Namun, dia sudah menyetujui bahwa dia akan berpura-pura menjadi pacar pria tersebut malam ini. Setidaknya sampai dia tidak harus melihat Adrian lagi di hadapannya.
Dhito berusaha terus mengajak bicara Nada dan membuat gadis itu tertawa dengan segala leluconnya. Nada pun akhirnya tidak berpura-pura lagi, dia benar-benar merasa cerita-cerita Dhito lucu dan membuatnya tertawa.
Saat lagu yang dimainkan di dalam kapal tersebut berubah menjadi lagu slow dance, Dhito mengulurkan tangannya kepada Nada. Dia melihat bahwa pasangan-pasangan lain sudah mulai untuk berdansa. Nada awalnya ragu, namun dia mengingat prinsipnya untuk risk it all di Bangkok ini. Dia pun menyambut uluran tangan tersebut.
Dhito dan Nada mulai berdansa pelan. Dhito hanya memegang pinggang serta menggenggam tangan Nada. Nada dapat mencium aroma parfum Tom Ford menguat dari Dhito. Dia sendiri mendadak merasa jantungnya berdetak melihat kedekatan mereka ini.
"Udah nggak diliatin lagi tuh, Nad. Tadi sempet sih. Tapi, dia juga dansa tuh sama ceweknya. Siapa sih dia?"
"Cuma orang aneh yang sempet ada di hidup gue."
Dhito malah jadi tertawa mendengar pernyataan Nada tersebut.
"Seaneh mana sama Natya?" Pancing Dhito.
"Natya kan nggak aneh," bela Nada langsung.
Anehlah kalau mau ninggalin lo kayak gini.
"Iya, nggak aneh. Sahabat baik gue itu orangnya baik banget loh." Dhito memuji dengan nada bercanda. Dia menundukkan kepalanya untuk melihat reaksi Nada.
Di saat yang bersamaan, Nada juga mendongak dan membuat mereka berdua saling beradu pandang dengan jarak tubuh yang semakin mendekat.
Dhito tersenyum kecil dan kemudian mengalihkan pandangannya ke sekitar. Begitu lagu tersebut selesai, mereka berdua langsung buru-buru ke tempat duduk mereka.
Untuk sesaat, Dhito berharap bahwa perjalanan di kapal ini bisa sedikit lebih lama. Namun, di saat yang sama dia juga ingin agar ini bisa segera berakhir dan dia bisa kembali berpikir secara normal. Dhito dan Nada untungnya masih bisa kembali berbincang dengan normal. Bahkan Dhito jadi tahu lebih banyak lagi tentang Nada. Tidak hanya dari cerita singkat yang Natya ceritakan.
Saat perjalanan mereka selesai dan mereka tiba di Mandarin Oriental, Dhito menawarkan Nada untuk pulang. Awalnya Nada menolak, namun Dhito bersikeras mengingat ini sudah malam.
"Lagian, ini titah dari Natya. Memastikan lo sampai di hotel lo dengan selamat," Tambah Dhito dengan nada sok khidmat.
Nada menurut akhirnya dan ia pun naik mobil bersama Dhito. Dhito terlihat hapal dengan seluk beluk jalan di kota ini. Mereka tidak banyak berbicara di dalam mobil. Hanya sekedar nya dan membiarkan lagu di radio mengisi ruang saat itu.
"Thanks, Dhito. That was really a great night." Nada berterima kasih dengan tulus.
Dhito hanya mengacungkan jempol sebagai tanda dia juga merasakan hal yang sama.
Nada pamit kemudian berbalik. Dhito memperhatikan hingga gadis itu benar-benar tak tampak lagi. Dhito segera pergi dari situ dan membawa kenangan malam itu bersamanya. Dia harap memang yang terjadi hari ini cukup hari ini saja dan tidak akan terulang lagi.