Never Not

Never Not
Ch. 68 : Sulit Untuk Dimaafkan



Shohei kembali ke ruangannya setelah dari ruang penyidik devisi satu. Pria bernama belakang Yamazaki itu melepas kacamatanya sambil kembali mengingat sarung tangan kulit yang ia dapati di ruangan tadi. Ia juga teringat dengan isi pesan tuan Yoshuke bersama pria tanpa nama. Yang mana dalam pesan itu dikatakan bahwa apa pun yang terjadi, Tuan Matsumoto pasti akan melindungi mereka.


Shohei buru-buru membuyarkan lamunannya, lalu mengambil daftar hitam pejabat yang digenggamnya. Dari sepuluh nama, tersisa dua lagi yang belum tersentuh Black Shadow. Alisnya nyaris menyatu menatap nama terakhir yang masih diisi tanda tanya.


Entah kenapa, semakin di penghujung misi, ia malah merasa khawatir bercampur was-was. Khawatir jika misi ini mungkin akan membuatnya harus berlawanan dengan calon mertuanya—tuan Matsumoto. Was-was jika pelaku penusukan dirinya ternyata orang-orang kepolisian itu sendiri yang mungkin berada dalam naungannya. Ia yang gencar menguak setiap kebenaran, kini menjadi takut untuk mengetahui kebenaran itu sendiri.


Di sisi lain, Ai Otaka baru saja tiba di kantor. Bersiul sambil melenggang santai, ia pun berpapasan dengan Seto Tanaka yang baru keluar dari ruangan.


"Otsukaresama desu¹" sapa Ai pada Seto sambil berlalu.


"Ai-kun!" panggil Seto tiba-tiba.


Ai berbalik pelan. Kedua polisi yang berjalan dari arah berlawanan itu kini saling berhadapan.


"Ketua tadi mencarimu," ucap Seto dengan wajah datar.


"Eh? Ada apa?" tanyanya sedikit kaget.


"Mungkin hanya kau satu-satunya yang tidak ada di ruangan."


"Oh. Kukira ada hal penting."


Melihat Ai yang hendak memutar tubuhnya, Seto langsung berkata, "Ai-kun, kenapa kau datang ke kepolisian Metropolitan?"


Langkah Ai terhenti seketika. "Untuk apa bertanya jika kau sudah menyimpan jawabannya!"


"Selain itu, aku ingin tahu alasanmu ke sini!"


Ai menggaruk kecil kepalanya. "Kenapa, ya? Ah, mungkin karena aku rindu padamu. Aku rindu masa-masa kita bersaing menjadi siswa terbaik," ucapnya sambil menyengir.


"Benarkah?"


"Kau satu-satunya temanku dari sejak di asrama sampai aku pindah di sini," balas Ai dengan nada suara melemah.


Seto terdiam sejenak, lalu berkata, "Ai-kun, sepertinya Ketua curiga padamu. Dia memintaku untuk memantau pergerakanmu."


"Apa kubilang, kau memang sahabatku! Bahkan untuk hal yang tak seharusnya kuketahui, kau katakan padaku," seru Ai membentuk senyum yang lebar. "Tapi ... kenapa Ketua curiga padaku? Aku merasa tak melakukan hal-hal aneh," lanjutnya dengan bibir yang melengkung ke bawah.


"Aku juga tidak tahu. Mungkin beberapa teman-teman banyak yang mengeluhkan dirimu padanya."


"Ya ... aku tahu orang-orang itu tak menyukai kehadiranku."


"Mereka hanya sinis padamu karena bisa dengan mudah masuk di devisi kami. Devisi kami adalah devisi istimewa di metropolitan. Untuk masuk, setidaknya harus mencetak prestasi dengan mengungkap kasus besar. Dan devisi ini juga sering dijadikan batu loncatan para kepolisian untuk mengejar jabatan."


"Astaga ... jadi mereka menyepelekan aku!" Ai tertawa sambil mendongakkan kepala. "Lihat saja nanti, akan kubuktikan jika aku memang pantas berada di devisi satu penyidik Metropolitan!"


"Sebagai teman aku hanya ingin mengingatkan padamu untuk menjaga sikap dan tidak tampil mencolok," ucap Seto. Ya, ia sering mendengar teman-temannya secara gamblang mengutarakan rasa ketidaksukaan mereka pada Ai Otaka. Apalagi sahabatnya itu sering bersikap seenaknya dan tidak mau bekerja sama dengan tim.


Ketika Seto hendak pergi, kini giliran Ai yang menahannya dengan lekas bersuara.


"Seto-kun, apakah sejak menjadi detektif kau pernah menggunakan senjatamu?"


"Kenapa kau bertanya itu?"


"Aku pernah di posisi tengah melihat terjadinya sebuah kejahatan, tetapi aku ragu menggunakan pistol untuk menghentikan pelaku dan memilih mencari tahu motifnya terlebih dahulu. Aku termakan dengan kata-kata instruktur kita dulu yang mengatakan seorang detektif jarang menggunakan pistolnya, dia bekerja dengan otaknya bukan dengan senjatanya," jelas Ai dengan wajah penuh sesal.


"Apakah setelah itu kau berhasil menangkap pelakunya dah mencari tahu motifnya?"


"Tidak keduanya."


"Jangan ragu menembak jika untuk keselamatan korban. Bahkan Ketua pernah melakukannya saat hendak menghentikan aksi pencuri heroik."


"Kau terlihat sekali dekat dengan Ketua Yamazaki-san, ya?"


"Dia panutanku," balas Seto yang langsung pergi.


Mata Ai mengikuti Seto yang berangsur-angsur pergi.


"Panutan? Jangan terlalu mencolok?" Ai mengulang apa yang dikatakan Seto sambil tertawa sinis.



"Seina-chan, pria yang bersamamu waktu itu tampan sekali," celetuk temannya yang saat itu menjadi pemeran teater.


Wajah Rai spontan terlintas di benak gadis bermata indah itu.


"Matamu selalu terang kalau melihat pria tampan," tandas Seina tertawa kecil.


"Dia teman pacarmu, kan? Tolong kenalkan aku padanya?" Temannya itu tiba-tiba memohon padanya.


"Eh? Aku saja tidak begitu akrab dengannya. Itu pertama kalinya kami bertemu." Seina kembali mengingat saat Rai mengulurkan jari telunjuk sebagai pengganti jabat tangan.


"Tapi kau bisa meminta bantuan pacarmu, kan?" rayu teman Seina yang bernama Haruka.


Seina mengerutkan dahi karena tak tahu maksud Haruka.


Temannya langsung merangkulnya sambil berkata, "Kau bisa cetuskan ide kencan ganda padanya. Kau mengajak aku, dan pacarmu mengajak temannya. Bukankah ini seru?"


Seina tampak berpikir. Apakah ini ide yang bagus?


"Ayolah! Jujur, dia membuatku terpesona hanya dengan sekali tatapan. Aku sampai heran bagaimana bisa pacarmu membiarkan kau jalan dengan pria tampan seperti itu? Ah, itu pasti dia sangat percaya pada perasaanmu padanya, Seina!"


Ucapan Haruka lantas membuat Seina tercenung. "Akan kukatakan nanti padanya. Semoga dia dan temannya tertarik dengan ide kencan ganda. Tapi, kuharap kau tidak kaget begitu mengenal dekat dengan pria itu," ucap Seina yang baru teringat jika sahabat kekasihnya itu seorang tunawicara.


Di sisi lain, suara peraduan dua tongkat terdengar nyaring di ruang doujo². Keringat bercucuran meluncur di dahi dua pria dewasa itu. Shohei terus menyerang, sementara Rai hanya dapat menangkis. Meskipun memiliki celah untuk menyerang balik, itu tak ia lakukan karena tak fokus.


"Kenapa kekuatan dan kecepatanmu malah menurun?" komplain Shohei sambil terus melayangkan tongkatnya dengan gerakan-gerakan tak tertebak. Sebagai seorang profiler, ia tentu dapat menangkap hal aneh pada diri Rai sore ini.


Ya, benar. Sepanjang latihan pria itu malah sibuk menyelami pikirannya. Rasa Bersalah masih menderanya. Rai terus memikirkan apa yang sudah ia lakukan terhadap calon tunangan Shohei.


Masih saling menyilang tongkat, Rai berkata, "Aku hanya tiba-tiba mengingat sesuatu."


"Apa itu?"


"Adikku bercerita tentang temannya yang tidak sengaja bermain api dengan pacar sahabatnya. Mereka selalu berciuman saat bertemu. Tapi sebenarnya teman adikku ini benar-benar tidak tahu kalau gadis itu adalah kekasih sahabatnya sendiri. Dia hanya bermaksud bermain-main dengan gadis itu, tanpa menggunakan hati," ucap Rai yang sebenarnya sedang menceritakan tentang dirinya sendiri.


"Tahu maupun tidak tahu, bukankah itu tetap sebuah perselingkuhan? Tidak akan mengubah fakta kalau mereka telah berkhianat. Yang lebih fatal, bukankah gadis itu sadar telah memiliki kekasih? Kenapa tetap bermain api dengan pria lain? Lalu, kenapa pria itu dengan mudah mempermainkan seorang gadis jika tak memiliki perasaan padanya?" tandas Shohei santai sambil menyerang dari arah samping.


Rai terdiam. Ia tersentak dan segera menghindar ketika Shohei melompat sambil mengacungkan tongkatnya.


"Ya, itu benar! Aku juga mengatakan itu pada Ryo. Tapi, Ryo-chan sepertinya tetap membela temannya. Jika kau berada di posisi pacar gadis itu, apakah kau akan memaafkan kekhilafan mereka?"


"Selingkuh itu bukan sebuah kekhilafan tapi sikap sengaja yang kejam dan tega dilakukan. Jadi, bagiku itu sulit untuk dimaafkan dan diterima kembali," jawab Shohei dengan tegas sambil mengarahkan ujung tongkat ke leher Rai.


.


.


.


catatan author 🦶🦶🦶




Otsukaresama desu: ungkapan umum sesama karyawan. artinya terima kasih atas kerja kerasnya.




doujo ruangan yg sering dipakai latihan bela diri.




aku nulis ini saat sedang di perjalanan keluar kota. kalau ada tipo, kalimat rancu, atau kata berulang silakan komen di paragrafnya entar aku edit.


jangan lupa like ya...