Never Not

Never Not
Ch. 152 : Akan Ada Masanya



Beberapa hari telah berlalu. Namun, pemberitaan tentang Black Shadow dan Kazuya Toda masih tetap menduduki peringkat teratas. Satu per satu orang-orang yang berada dalam lingkaran Kazuya Toda ikut diperiksa. Tentu saja kasus ini menyeret nama-nama baru.


Seina yang masih mengemas barang-barangnya, tiba-tiba menatap layar televisi yang menampilkan pemberitaan tentang penemuan jasad seorang pria yang mengapung di sungai Sumida, Tokyo. Penemuan jasad itu menjadi gempar karena dikait-kaitkan dengan keberadaan Black Shadow yang menghilang hingga kini. Banyak yang meyakini, pria yang tewas tenggelam itu adalah Black Shadow. Polisi kesulitan mengidentifikasi mayat tersebut dan belum mengeluarkan pernyataan resmi. Namun, masyarakat telah berbondong-bondong menabur kelopak bunga Camelia di sepanjang aliran sungai Sumida sebagai bentuk penghormatan. Meski begitu, banyak dari mereka yang berharap sang pahlawan penegak keadilan itu selamat dan tetap hidup.


Setelah menonton berita tersebut, Seina mengambil sebuah kotak berbentuk hati yang menyimpan puluhan helaian kelopak Camelia yang ia kumpulkan setiap bertemu Black Shadow.


Berdiri di ujung balkon, Seina pun membuka penutup kotak kecil itu. Membiarkan helaian kelopak Camelia yang menjadi saksi pertemuan mereka itu, terbang dibawa angin musim gugur.


Dulu aku percaya, akan ada saatnya mendengar namamu, hatiku biasa saja. Dan inilah yang kurasakan sekarang. Terima kasih telah memberiku pengalaman jatuh cinta pada sosok misterius yang tetap menjadi misteri hingga sekarang.


Seina tersenyum, menyaksikan kelopak Camelia itu menari-nari di udara. Dulu diakuinya, Black Shadow mampu mengaduk-aduk hatinya. Setelah memutuskan kembali pada Shohei, semua hal-hal terkait Black Shadow seakan lenyap dalam pikirannya. Tidak juga penasaran untuk mencari tahu wujud asli pria itu. Semua rasa penasarannya akan sosok bertopeng itu telah terkubur dalam-dalam.


Seina keluar dari kamarnya kemudian menuruni anak tangga. Di bawah sana, kepala asisten rumah tangga bersama para pelayan menundukkan kepala dengan raut sedih.


"Nona, izinkan saya mengutus salah satu pelayan dan pengawal untuk menemani, Nona," pinta kepala pelayan dengan penuh rasa cemas. Sebagai orang yang mendedikasikan hidupnya untuk keluarga Matsumoto, tentu ia tak rela membiarkan Seina keluar dari rumah itu dan hidup tanpa penjagaan.


"Tidak perlu. Aku telah memercayakan hidupku pada tunanganku. Aku yakin, dia bisa menjagaku lebih dari siapapun. Jangan khawatir, aku akan sering berkunjung menengok kalian. Ke depannya rumah ini akan dialihfungsikan sebagai Rumah Hukum. Tentunya aku tetap memercayakan kalian menjaga rumah ini."


"Kami doakan semoga cita-cita Nona menjadi pengacara segera terlaksana." Kepala pelayan bersama para pelayan membungkuk penuh mengiringi kepergian Seina yang memutuskan keluar dari rumah itu untuk tinggal bersama dengan Shohei. Di luar sana, ternyata pria berkacamata itu telah datang menjemputnya.


Di waktu yang sama, Ai Otaka berdiri tepat di depan gedung plaza di kawasan Shibuya. Ia datang membawa karangan bunga besar, kemudian meletakkannya di tempat Seto Tanaka terjatuh dan tewas.


"Kau tetap sahabatku meski kau tak menganggapku begitu," ucap Ai sambil menatap langit biru.


Ia telah pulih dan siap kembali ke kepolisian metropolitan. Begitu tiba di sana, semua tampak berbeda. Jika dulu masih banyak polisi-polisi yang bertegur sapa dengannya karena ia anak petinggi kepolisian, sekarang mereka tampak dingin dan malah menganggapnya seperti tak ada. Hal itu bisa dilihat, ketika ia ikut mengobrol dengan timnya, tapi mereka langsung bergegas keluar. Untungnya, Ai memiliki sifat masa bodoh.


Sejenak, ia melihat ke samping tepatnya di meja kerja Seto. Jika dipikir-pikir, selama ini hanya Seto yang dekat dengannya. Pria itu bahkan sering menasihatinya dan memperingati jika ada yang tak suka dengannya.


Dari meja kerjanya, Ai menuju ruangan kepala penyidik divisi satu untuk menyapa Shohei. Sayangnya, sesampainya di sana, ia malah mendapati tempat itu kosong.


"Hei, ke mana ketua kita?" tanyanya pada rekan sejawatnya yang kebetulan lewat.


"Yamazaki-san sudah keluar dari kepolisian metropolitan. Kudengar kau menjadi salah satu kandidat yang menggantikan dirinya," jawab polisi itu sambil berlalu.


Ai Otaka terperanjat seketika. Dadanya terasa sesak. Setelah merasa hampa karena ditinggal mati oleh sahabatnya, kini satu-satunya orang yang mengakui keahliannya di sini pun telah pergi.



Seina telah tiba di apartemen Shohei. Saat hendak mengatur barang-barangnya, pandangannya malah teralihkan pada kotak besar segiempat yang memuat peralatan kantor, atribut kepolisian lengkap dengan papan nama yang bertuliskan kekasihnya.


"Aku ... kembali dari nol lagi," ucap Shohei lirih, "tapi ... aku tidak menyesalinya."


Mulut Seina melengkung membentuk senyuman. "Kita akan sama-sama memulainya dari awal."


Shohei mengangguk seraya membalas senyuman Seina. "Omong-omong, bagaimana kalau kita bersantai sejenak. Apa kau mau menonton bersamaku? Bioskop ini tak pernah terpakai ...." Tiba-tiba Shohei teringat jika ia pernah menonton film bersama dengan Yuriko. "Maksudku ... baru sekali terpakai."


"Aku setuju. Apa kau punya rekomendasi film yang bagus?" tanya Seina seraya mengekor Shohei yang telah memasuki ruang bioskop mini mereka.


Shohei menunjukkan koleksi film-filmnya dengan penuh semangat. Mata Seina seakan hendak terantuk ketika melihat satu per satu koleksi film tunangannya itu. Pasalnya, film-film itu bergenre histori, peperangan, misteri, kriminal, thriller, suspense dan kolosal yang tentu saja tidak diminatinya.


"Sepertinya Seina-chan tidak cocok dengan film-film ini."


Seina mengangguk dengan wajah masam. "Aku suka film romantis yang mengharu-biru."


Shohei menggaruk-garuk kepalanya sambil menyengir. "Aku tidak punya koleksi film percintaan."


Mereka lalu bersama-sama menonton film bergenre romantis tersebut. Sepuluh menit berjalannya film, sepasang kekasih itu tampak larut dengan alur cerita. Terbukti, keduanya hanya fokus menonton tanpa bersuara.


Adegan romantis dalam film pun muncul. Layar bioskop itu kini menampilkan dua tokoh utama yang berpegangan tangan untuk pertama kali. Tangan Shohei pun secara spontan merambat ke punggung tangan Seina.


Seina menoleh pada Shohei sembari membalikkan tangannya untuk membalas genggaman tangan pria itu. Keduanya sama-sama tersenyum dan lanjut menonton.


Adegan selanjutnya memperlihatkan pemeran utama pria yang merangkul mesra pasangannya. Shohei pun melepaskan tautan tangan mereka, kemudian merangkul Seina seperti yang ada dalam adegan. Ini membuat tubuh mereka rapat dan tak berjarak. Lagi-lagi keduanya hanya saling memandang sambil melempar senyum.


Suasana romantis semakin terbangun, kala kedua pemeran utama dalam film itu saling berciuman. Mata Shohei terbuka lebar dan ia tampak meneguk ludah berkali-kali melihat adegan peraduan bibir yang cukup panas. Saat menggerakkan wajahnya ke samping dengan pelan, tak disangka Seina pun turut menoleh dan menatapnya.


Entah karena terbawa suasana, tiba-tiba saja bibir mereka sudah saling menempel. Hanya satu detik, sebelum akhirnya Shohei sadar dan langsung menarik diri.


"Gomen, Seina," ucapnya gugup.


"Kenapa minta maaf?" tanya Seina pelan seraya memajukan wajahnya.


Merasa mendapat lampu hijau, ia membuat gerakan spontan dengan mendorong Seina hingga membuat posisi gadis itu tersandar. Ia menundukkan kepalanya untuk membuat bibir mereka kembali bersentuhan.


Shohei menggerakkan bibirnya secara perlahan, menyapa bibir bibir atas dan bawah Seina secara bergantian. Memagut lembut nan berperasaan. Seina membuka diri dengan mulai membalas pagutan tak berpengalaman dari kekasihnya itu. Meski begitu, ada rasa cinta besar yang tertuang di setiap sesapan demi sesapan.


Napas hangat mereka berbaur satu sama lain. Ciuman mereka berubah menjadi sedikit agresif. Atmosfer ruangan meningkat seiring ciuman mereka semakin dalam.


"Aauuu!" Jeritan Seina keluar tiba-tiba hingga membuat ciuman mereka terlepas seketika.


"Kenapa? Apa aku menyakiti bibirmu? Maaf, aku terlalu bersemangat," ucap Shohei sambil memegang bibirnya.


Seina menggeleng sambil menahan sakit. "Bukan bibirku, tapi ... kakiku."


Shohei segera menunduk ke bawah. Matanya membeliak saat menyadari ternyata kakinya yang masih beralaskan sepatu tak sengaja menginjak kaki Seina yang polos. Ia buru-buru menggeser tubuhnya ke samping.


"Gomen, Seina-chan. Gomen ne ...." Kegugupan kembali menguasai pria itu. Ia hanya mengelus-elus tengkuk lehernya seraya menatap ke sembarang tempat.


"Tidak apa-apa." Seina menyentuh punggung tangan Shohei dan itu malah membuatnya bergidik.


Shohei mendadak rikuh. Saat bola matanya bergerak ke samping, secara tak sengaja pandangannya malah mengarah pada bibir Seina yang basah.


"Kalau begitu ... apa ... kita ... bisa ... mengulangnya?" Kalimat patah-patah keluar dari mulut Shohei dengan malu-malu.


Seina melempar senyum sebagai jawaban. Pada akhirnya, mereka mengabaikan film yang ditonton untuk membuat adegan romantis yang tak kalah indah.


Mulai malam ini, suasana apartemen itu berubah menjadi hangat. Ada sepasang sepatu pria dan wanita yang tersusun rapi di depan pintu masuk apartemen, ada dua handuk putih yang saling melambai-lambai di balkon kamar, juga sikat gigi berwarna biru muda dan merah muda dalam satu wadah yang sama. Dan sepasang insan yang berpelukan di atas ranjang dalam satu selimut. Semua pemandangan itu seolah menegaskan, akan ada masanya seseorang datang di kehidupan kita untuk menepis kesunyian.


.


.


.


catatan author ✍️✍️


Saat memulai menulis novel ini, aku dah nulis adegan di chapter negosiasi, yaitu pertemuan empat mata antara Shohei dan Kazuya Toda. Di mana Shohei bakal memilih antara Black Shadow dan Seina. Aku nulis chapter ini, setelah nulis chapter 1, dan sepanjang on going, aku lima kali ganti dialognya sampai fix dialog yang kalian baca itu. Ini scene terbaik versi aku di novel ini, karena menunjukkan karakter Shohei benar-benar konsisten terhadap kebenaran. Tidak gentar dengan ancaman dari musuh. Aku sering nonton adegan2 negosiasi antara musuh dan protagonis, di mana protagonis menuruti keinginan musuh hanya karena musuh membawa-bawa sosok yang dicintai protagonis sebagai ancaman. Dan itu bikin aku kecewa banget karena orang tercinta selalu menjadi senjata ampuh melemahkan protagonis.


Kalau kamu sendiri, apa chapter terbaik dan terfavorit di novel ini? Jangan lupa Komeng ya.