
..."Terkadang, ketidaktahuan itu adalah sebuah kebahagiaan."...
...~Shohei Yamazaki~...
...----------------...
Mendiang Matsumoto memang tidak melakukan tindak pidana korupsi, pencucian uang, maupun penggelapan pajak seperti yang dilakukan Kazuya Toda dan kesembilan pejabat. Namun, ia memiliki andil besar dalam menutupi kejahatan mereka semua. Dengan kata lain, ia melakukan abuse of power¹. Belum lagi, ia mendapatkan jabatan sebagai menteri kehakiman, dengan cara memanipulasi mandat Perdana Menteri terdahulu.
Shohei masih membeku dengan pandangan yang tertancap pada layar laptop. Secret file yang paling ingin ia ketahui isinya, kini telah terungkap. Mirisnya, rahasia besar yang disimpan mendiang Matsumoto selama ini, mendatangkan dilema besar baginya. Ia tertunduk dalam sambil mencengkram rambutnya sendiri.
Bagaimana caranya menjelaskan pada Seina kalau tuan Matsumoto bunuh diri? Haruskah menjelaskan kalau tuan Matsumoto adalah sekutu musuh utamanya selama ini? Dan haruskah ia menceritakan kalau calon mertuanya itu pernah berbuat curang pada ayahnya sendiri?
Tidak! Ia tak bisa melakukannya. Benar-benar tak bisa.
Lalu, bagaimana cara ia mengungkap kasus ini di publik? Mengungkap kejahatan Kazuya Toda dengan bukti yang ditinggalkan, sama seperti mengungkap keburukan mendiang Matsumoto di dunia politik. Haruskah ia melakukan itu pada orangtua kekasihnya yang telah meninggal? Apalagi, Seina telah memanen banyak hujatan akibat tuduhan korupsi yang dilakukan ayahnya saat penyekapan Black Shadow palsu. Apakah ia harus membuat kekasihnya kembali dihujat publik?
Shohei mengambil ponselnya, menekan panggilan telepon ke nomor Seina.
"Moshi-moshi ...." Suara feminin mengalun lembut di telinganya.
Menelan ludah secara kasar, Shohei berkata dengan suara serak, "Seina-chan, aku telah berhasil membuka secret_file yang disimpan ayahmu."
"Benarkah?" Seina bereaksi kaget sekaligus senang.
"Hum ... password-nya hari ini, tanggal yang ditetapkan ayahmu untuk pernikahan kita."
Seina makin terperanjat. Sungguh, ia tak mengetahui bahwa ayahnya pernah merencanakan pernikahan mereka di hari ini.
"Apakah isi dari file itu berguna untukmu dan juga timmu?"
Shohei menarik napas panjang-panjang. "Ya ...."
"Yokatta .... Cepatlah ungkap file itu di media!" Suara Seina terdengar lega. Sayangnya, semua tak semudah yang dipikirkan perempuan itu.
Shohei menggenggam erat ponselnya dengan genangan bening yang memenuhi matanya. "Seina-chan, aishiteru Yo."
Suara Shohei yang bergetar, sedikit menimbulkan tanda tanya pada perempuan itu.
"Aishiteru mo," jawab Seina dengan bibir yang membentuk lengkungan senyum.
"Seina-chan, aishiteru," ulangnya kembali dengan napas yang seakan tercekat, "apa pun yang telah berlalu ... tidak akan mengurangi perasaanku padamu. Orangtuaku ... juga menerimamu menjadi bagian dari keluarga mereka. Oleh karena itu ...."
"Shohei-kun, Aku tidak mengerti dengan apa yang kau bicarakan saat ini."
"Aku tidak menuntutmu untuk mengerti. Aku hanya ingin kau tahu saja."
"Tidak, maksudku ... kupikir kau sedang mengkhawatirkan sesuatu. Apakah itu ada hubungannya dengan isi flashdisk yang dititipkan ayahku?"
Shohei mengangguk tanpa mengeluarkan suara. Jelas, ia mengkhawatirkan perasaan perempuan itu jika mengetahui fakta sebenarnya. Bukankah tidak mengetahui apa pun lebih baik dibanding mengetahui kenyataan pahit seperti ini?
"Aku ini seorang polisi. Aku tidak bisa menyembunyikan kebenaran sekecil apa pun." Suara Shohei semakin lemah bahkan hampir tak terdengar.
Kebisuan merajai keduanya. Untuk beberapa saat, tak ada suara apa pun.
"Shohei-kun, aku sudah bilang akan selalu mendukungmu. Jangan khawatirkan aku! Aku justru merasa bersalah jika aku menjadi penghambatmu."
"Arigatou ...." Shohei tersenyum getir disertai kelegaan yang mengalir dari dalam dirinya. "tetaplah memilih bersamaku apa pun yang akan terjadi ke depannya!"
Sheina menggigit bibir bawahnya. "Kenapa aku bisa seberuntung ini?" ucapnya tertawa, tapi dengan mata yang berkaca-kaca.
"Setelah misi ini selesai, mari rencanakan pernikahan kita!" ajak Shohei.
Seina terkesiap seketika. "Apa ini sebuah lamaran?"
"Eh?" Shohei ikut terkejut. Namun, detik berikutnya, sepasang kekasih itu sama-sama tertawa getir.
Shohei mengakhiri telepon. Ia tertegun begitu memikirkan nasib timnya. Rai dan kawan-kawan tengah bersembunyi dengan status mereka sebagai buronan kelompok radikall. Sementara, Ai masih koma di Rumah Sakit. Hanya dirinya yang bisa bebas tanpa harus menghadapi kejaran maupun taruhan nyawa seperti yang dialami timnya saat ini.
Sudah saatnya mengakhiri misi ini. Demi amanat yang Matsumoto-san berikan padaku, demi orang-orang yang kusayangi, demi nyawa-nyawa yang telah hilang, demi rakyat yang telah mereka tipu habis-habisan, demi Rai dan lainnya yang sudah mau meluangkan waktu dan tenaga mereka untuk membantu misi ini, dan ... demi kebenaran yang harus diketahui banyak orang! Aku akan mempertaruhkan segalanya.
Shohei lalu mengetik sebuah surat resmi yang ditujukan pada institusi kepolisian. Tampaknya, itu menjadi sebuah keputusan terbesar yang diambilnya dan tentunya telah dipertimbangkan sejak lama.
Seina berjalan menuju kuil. Ia melempar koin ke dalam kotak, membungkuk dua kali lalu menepuk tangan sekali sebelum memanjatkan doa.
Kami-sama, tolong bantulah Shohei dan mereka semua yang memperjuangkan keadilan di negeri ini!
Di sisi lain, jenderal Otaka bersama para pengawalnya berjalan cepat memasuki Rumah Sakit, setelah mendapat kabar bahwa putranya telah siuman pasca operasi pengeluaran peluru berhasil dilakukan.
Jenderal Otaka memasuki kamar rawat dan menghampiri Ai yang telah sadar sejak tiga jam lalu.
"Bagaimana keadaanmu sekarang?" tanya jenderal menampakkan raut penuh perhatian.
"Aku tidak apa-apa," jawab Ai dengan suara lemah.
Mengabaikan emosi ayahnya saat ini, Ai malah bertanya pelan. "Bagaimana ... dengan Seto-kun?"
Jenderal Otaka terdiam sejenak. "Abunya telah disimpan di pemakaman umum. Kau bisa bersambang ke sana ketika keadaanmu telah pulih."
Mata Ai tampak berkaca-kaca. Jantungnya mendadak berdenyut sakit. Bahkan lebih sakit dari bekas operasinya. Kabar pertama yang didengarnya setelah koma adalah kematian Seto Tanaka. Padahal, ia berharap penuh pria itu bisa selamat.
"Ba–bagaimana dengan orang-orang bertopeng yang berada di distrik Shibuya?"
"Mereka masih dalam pencarian. Kepala keamanan nasional mengerahkan seluruh pasukan Jepang untuk mencari mereka."
"Ottousan, apa kau tahu kenapa Seto menembakku?"
"Dia salah orang. Dia berpikir kau salah satu kelompok radikall Black Shadow." Balasan jenderal Otaka tentu sesuai dengan apa yang beredar di kepolisian. Sehingga polisi-polisi muda berasumsi tindakan bunuh diri yang dilakukan Seto Tanaka sebagai bentuk penyesalannya.
"Bagaimana kalau aku memang bagian dari mereka?" Gaya bicara Ai terdengar serius dari biasanya.
"Apa yang kau katakan itu!" Nada tegas kembali keluar dari mulut pria itu.
"Seto tidak salah. Aku memang ada di kubu Black Shadow. Jadi, sebenarnya aku memang pantas mati, bukan?"
"Ai-kun, jangan berbicara yang tidak-tidak! Istirahatlah! Aku juga akan segera pergi!" Jenderal Otaka berbalik cepat, sengaja menghindari topik tersebut.
"Kenapa?" cegat Ai seketika, "mulai sekarang kita telah berseberang, Ottousan!"
"Black Shadow pasti telah mencuci otakmu! Itulah kenapa mereka disebut radikall! Mereka memengaruhi orang-orang untuk membenci pemerintah!"
"Sebaliknya, Ottousan-lah yang telah dicuci otak oleh Toda-san. Entah dicuci, atau memang Ottousan sebenarnya sama saja dengan Toda-san! Apakah kalian masih pantas dikatakan sebagai penegak hukum sedang kalian sendiri telah mempermainkan hukum."
Jenderal Otaka terbungkam. Lidahnya mendadak kelu. Tak ada lagi pembelaan yang keluar dari mulutnya.
Ai berusaha menggapai tangan ayahnya, lalu kembali berkata, "Ottousan, masih belum terlambat untuk mengakui kesalahan. Aku mohon, akuilah perbuatanmu selama ini! Jangan khawatir, kau masih tetap menjadi Hero di mataku!"
Jenderal Otaka keluar dari kamar rawat anaknya sambil menghela napas. Ia tampak merenungi kembali apa yang dikatakan Ai. Ia pun pergi bersama para pengawalnya.
"Apa saja jadwalku besok?" tanyanya pada sekretaris pribadinya.
Sekretaris pribadinya itu lalu melihat jadwal sang kepala kepolisian nasional. "Anda tidak punya kesibukan apa pun. Tapi, Anda akan menghadiri acara perayaan kelulusan putri jenderal Toda Kazuya.
Wajah jenderal Otaka menggelap seketika. "Kau saja yang wakilkan. Aku tidak akan datang ke acaranya!"
Di waktu yang sama, Rai dan lainnya baru saja membuka folder yang berada di dalam laptop. Mereka tercengang melihat data-data kepolisian nasional yang berhasil diretas Yuta.
"Jadi mereka memanipulasi laporan data yang sebenarnya?" ucap Kei setelah mengecek satu per satu data-data itu.
Ryo justru fokus menatap laptop peninggalan Yuta. Yang mana, laptop itu selalu mereka bawa ke mana pun saat sedang menjalankan misi penipuan.
"Yuta-kun, aku masih tak menyangka kau sudah tidak ada. Suara geramanmu yang selalu menegur kesalahanku masih terngiang-ngiang hingga kini," gumam Ryo dengan ekspresi sedih yang mengikutinya.
"Apakah kita akan terus seperti ini? Bersembunyi ketakutan seperti orang bersalah? Jika kita terus berdiam di tempat, mungkin saja akan ada lagi orang yang menjadi korban!" cetus Rai berapi-api.
"Benar! Terus berada di sini seperti sedang menunggu mereka mendatangi kita!" sambung Yuriko.
"Lalu kita harus bagaimana?" tanya Ryo putus asa.
"Aku ... tidak akan bersembunyi lagi! Aku ... akan mendatangi perdana menteri dan mengungkap semua kebusukan Kazuya Toda. Aku akan membuat Kazuya Toda membayar kejahatannya selama ini! Tidak peduli meskipun aku harus mati!" Dengan mata yang memercik api, Rai seolah sedang mendeklarasikan perang.
.
.
.
jejak kaki 🦶🦶
abuse of power; tindakan penyalahgunaan wewenang yang dilakukan seorang pejabat untuk kepentingan tertentu, baik untuk kepentingan diri sendiri atau orang lain.
catatan author ✍️✍️✍️
maafin aku gays, sebenarnya mau updatenya empat hari yang lalu, tapi naskah chapter ini terhapus.... dan itu bikin aku ngeblank, bad mood sampe mau nelan hp 🤣. So, aku mesti nulis ulang dari awal dan mikirin kata-kata yang sama biar bisa dapat feel-nya lagi. dan itu butuh konsentrasi beberapa hari karena aku nulis di sela-sela kerjaan.
jangan kalian pikir selama ini aku nulis ke enam novelku ini dengan gaya keren ala-ala penulis profesional, kek duduk berjam-jam di depan laptop gitu. Enggak, ya. Jadi kak Yu punya cara nulis yang cukup aneh tapi nyata.
Aku cuma nulis pake hp Samson, dengan layar yang retak di beberapa bagian. Jam nulis aku gak beraturan. kapan sempat aja. kek lagi nyetor di wc, tiba-tiba teringat pada Rai langsung nulis, lagi ngupil, ingat Shohei langsung nulis lagi. nulisnya pun enggak dari paragraf awal sampe akhir. Kebanyakan, aku malah sering nulis paragraf akhirnya dulu, gays. itu tuh, paragraf yang selalu gantungin kalian 🤣. kadang-kadang nulis paragraf pertengahannya dulu. Kadang-kadang bikin dialognya dulu baru narasinya. cara nulis ini berlaku untuk semua novel aku.
soal ide atau jalan cerita selanjutnya, aku gak perlu mikir lagi gays, karena itu dah aku rencanakan matang-matang. Jadi mau njelimet bagaimanapun konfliknya, aku udah tau penyelesaian sekaligus endingnya. Makanya aku bisa ngasih spoiler di GC untuk chapter2 yang masih lama tayang. seperti spoilerr kalau ada yang bakal meninggal, itu kan dah aku spill di GC dari chapter 90an. dan baru terealisasi di chapter 130an.
Nah, kekurangan gua saat menulis adalah kalau semangat gua lagi berapi-api buat nuangin ide di kepala, tulisan gua bakal amburadul, kek penuh dengan tipo, kalimat berulang, kalimat terbolak-balik, pemborosan kata dll. Nah, makanya butuh waktu juga buat edit naskah biar kelihatan cakep. soalnya penulis online itu editornya diri sendiri. itu pun kadang-kadang masih luput dari mata aku. untuk itu, aku ngucapin makasih sama kalian yang udah jadi tiposetter novel ini.
oke, sekian curhatan unfaedah ini. makasih banyak yang masih setia menunggu. jangan lupa like dan komeng, ya.