
Seina berlari kecil menyusul Rai yang telah lebih dulu berjalan. Rai terhenyak ketika gadis itu langsung berada di hadapannya dan menghadang langkahnya.
"Hajimemashite, namaku Matsumoto Seina. Bolehkah aku menjadi temanmu?" Seina kembali memperkenalkan dirinya setelah mengetahui nama asli sahabat kekasihnya.
Rai memandang tangan putih mulus yang mengarah padanya. Tangan pria itu bergerak ragu, tetapi bukan untuk menjabat tangan Seina melainkan mengulurkan jari telunjuknya. Mengernyit sesaat, Seina pun turut mengulurkan jari telunjuknya seperti yang Rai lakukan saat ini. Perlahan, kedua ujung telunjuk itu saling bertemu dan menempel satu sama lain, diiringi senyum tipis yang tersemat di bibir mereka masing-masing.
Hanya sebentar. Rai langsung menurunkan tangannya, kemudian menyelipkan ke dalam saku mantel yang dikenakannya sambil kembali melangkah. Seina pun mengekornya dari belakang sambil memandang punggungnya.
Shohei-kun benar-benar orang yang baik. Dia berteman dengan siapapun tanpa memandang kekurangan. Dengan segala kelebihan dan sifat baik yang dia miliki, bukankah seharusnya kadar cintaku padanya makin bertambah?
Tak ingin terlibat jauh dengan Seina, Rai mengirim pesan pada Shohei.
Rai. Apa kau belum bisa ke sini? Kurasa kekasihmu kurang nyaman bersamaku.
Tak kurang dari semenit, Shohei membalas pesannya.
Shohei. Mungkin karena kalian baru pertama kali bertemu dan harus berduaan seperti itu. Tenanglah, aku akan berusaha datang secepatnya!
Mereka mulai memasuki gedung dan duduk di barisan ketiga. Karena Seina telah memesan dua tiket sebelumnya, jadi Rai tak perlu lagi membeli tiket. Meski sebenarnya salah satu tiket itu dibeli untuk Shohei.
Keadaan teater itu cukup ramai di mana bangku-bangku terisi penuh. Ini karena seorang artis papan atas menjadi pemeran utama. Kedua orang itu duduk bersebelahan, tapi saling menjaga jarak. Di samping kiri Seina terdapat bangku kosong yang telah dipesankan untuk Shohei.
Lampu mulai meredup pertanda pentas telah dimulai. Seina menengok ke belakang sejenak. Shohei belum juga menunjukkan kedatangannya. Ia lalu melirik Rai yang menatap ke depan sambil menopang dagu.
Setengah jam berlalu, Seina kembali melirik ke arah Rai. Ia tertegun melihat pria itu duduk bersedekap dengan mata yang terpejam. Anehnya, ia malah memerhatikan setiap detail wajah pria itu.
Ternyata pria di sampingnya itu memiliki rupa yang tak kalah tampan dari Shohei. Rambut sehitam arang dengan poni depan yang berantakan, alis tebal yang terukir tegas, dan hidung lancip bak paruh burung.
Jantungku ....
Seina merasakan jantungnya yang tiba-tiba berdentam kencang.
Ada apa dengan jantungku? Ada apa dengan suasana ini?
Berada di samping pria itu, membuatnya merasakan sesuatu yang tak asing. Pahatan wajah pria itu seperti familiar baginya. Semakin ditatap lekat, semakin membawanya bernostalgia dengan seseorang. Tapi siapa?
Mata Seina turun ke bawah, tepatnya menatap bibir Rai yang terkatup rapat. Bersamaan dengan itu, kelopak mata Rai terbuka secara tiba-tiba dan itu membuat Seina kelabakan.
"Aku benar-benar merepotkanmu. Kau harus menggantikan Shohei untuk mengantar dan menemaniku menonton teater." Seina berucap gugup setelah hampir terpergok menatap wajah pria itu dengan saksama.
Rai tak merespon. Sejak seni pertunjukan itu dimulai, ia terus memasang wajah datar. Alih-alih menonton, pikirannya malah terus berkubang atas kesalahan yang telah ia lakukan pada Shohei. Ya, seperti kata Seina waktu itu, semua adalah salah Black Shadow karena telah membuat gadis itu jatuh cinta di saat ia telah memiliki kekasih.
Apakah ini sebuah pengkhianatan? Oh, tidak. Dia tidak bermaksud mengkhianati Shohei. Dia benar-benar tidak mengenal latar belakang gadis itu. Bahkan untuk namanya pun dia tak tahu. Pria seperti dirinya, sudah terbiasa bermain-main dengan wanita. Sedari dulu, ia tidak pernah menggunakan hatinya saat berhubungan dengan banyak wanita.
Rai pernah merasakan pedihnya dikhianati orang-orang kepercayaannya. Tetapi kenapa sekarang dia malah melakukan hal bodoh itu? Apakah dia harus mengatakan sejujurnya pada Shohei kalau dia dan Seina sering bertemu dan menceritakan apa yang telah terjadi?
Ada banyak sekali sekelumit pertanyaan yang menyerbu pikirannya.
Tak terasa pertunjukan telah ditutup dengan suara tepuk tangan yang riuh. Seina dan Rai pun meninggalkan bangku penonton. Saat hendak keluar gedung, terdengar suara seseorang yang memanggil nama Seina berulang kali. Seina menengok ke belakang dan melebarkan senyumnya. Rupanya dia adalah sahabatnya yang turut memerankan pentas panggung. Seina menghampiri temannya yang berada di ujung tangga atas. Sementara Rai menunggunya di tangga bawah.
"Seina-chan, arigatou, kau mau datang menonton penampilanku!" seru sahabatnya sambil memeluk.
"Penampilanmu sangat totalitas!" Seina balas memeluknya sekaligus mengucapkan selamat.
Pandangan sahabatnya itu beralih pada Rai yang terpaku di bawah sana.
"Seina-chan, siapa pria itu?" tanya sahabatnya yang sempat melihat pria itu berjalan beriringan dengan Seina.
Seina tak menjawab, matanya malah tertuju pada Rai yang masih mematung di bawah sana.
"Seina-chan, Jangan bilang kau menyelingkuhi pacarmu! Aku tahu kau ingin membatalkan pertunanganmu, tapi—"
Seina buru-buru menutup mulut sahabatnya agar tak terdengar oleh Rai.
"Dia sahabat pacarku," bisik Seina.
"Hah? Jadi kau berselingkuh dengan sahabat pacarmu?" Sahabatnya semakin kaget.
Di bawah sana, ternyata Rai telah mendengar semuanya, termasuk penuturan temannya yang sempat mengatakan keinginan Seina untuk membatalkan pertunangan. Hal itu tentu membuatnya semakin merasa bersalah. Ia menoleh sebentar ke arah Seina yang masih berbisik-bisik dengan temannya.
Puas berbicara dengan temannya, Seina tersentak ketika melihat ke depan. Pasalnya, Rai sudah tak ada lagi. Ia bergegas menuruni anak tangga dan mencari-cari keberadaan pria itu.
Ternyata pria itu telah berada di luar gedung dan tengah sibuk memegang ponselnya. Seina menghela napas, kemudian melangkah ke arah Rai berpijak saat ini.
"Seina-chan!" panggil seseorang yang suaranya sudah tak asing lagi.
Seina berbalik, wajah Shohei dengan senyum khas memasuki pandangannya. Pria itu menghampirinya lalu berbungkuk penuh.
"Aku minta maaf karena terlambat datang. Kupikir aku masih bisa ikut bergabung bersama kalian, ternyata semua telah bubar setelah aku datang."
"Tidak apa-apa. Seperti ini pun aku sudah senang. Arigatou ne, karena kau berusaha agar aku tetap bisa melihat penampilan temanku." Seina memegang tangan Shohei agar pria itu tak berbungkuk di hadapannya.
"Syukurlah. Aku ikut senang. Omong-omong, ke mana Rai?"
"Maksudmu ... Matsui-san?"
Shohei mengangguk dengan kepala yang memutar ke kiri dan kanan untuk mencari keberadaan Rai. Seina segera berpaling ke belakang. Matanya beradu pandang dengan Rai yang berada di antara kerumunan orang-orang.
Seina menunjuk ke arah Rai sembari hendak memberitahukan keberadaannya. Namun, baru saja mau mengatakan pada Shohei, ia justru melihat Rai meletakkan jari telunjuk di bibirnya sendiri. Seakan memberi isyarat agar Seina tak memberitahu keberadaannya pada Shohei.
Masih bertatapan jauh dengan Rai, Seina hanya bisa mengangguk bingung. Tanpa sadar, Seina turut meletakkan jari telunjuk di tengah bibirnya seperti apa yang sedang Rai lakukan sekarang. Sudut bibir Rai tertarik sedikit melihat Seina yang menurut seperti anak kecil yang patuh pada ayahnya. Pria dengan tubuh proposional itu memutar badannya pelan, kemudian melangkah pergi dengan masih membawa rasa bersalahnya.
Sebaliknya, Shohei bergegas merogoh saku ketika ponselnya berbunyi pemberitahuan pesan masuk.
"Dia baru saja mengirim pesan. Katanya dia tidak sengaja bertemu adiknya di sini dan mereka akan pulang bersama. Dia juga bilang kunci mobil sudah diselipkan dalam tasmu." Shohei mengangkat gawainya, menunjukkan pesan yang baru saja dikirim oleh Rai.
"Eh?" Seina terperanjat dan langsung memeriksa isi tasnya. Benar, ada kunci mobil Shohei di dalam. "Oh, sokka ...." Seina mengangguk-angguk kaku dengan ekor mata yang melirik ke arah Rai. (Sokka : oh begono)
"Kalau begitu, ayo kita ke mobil!" ajak Shohei sambil menggenggam tangan Seina.
"Hum," angguk Seina.
"Apa kau haus?" tanya Shohei menunjukkan perhatiannya.
"Tidak," jawab Seina menggeleng.
Seina memutar kepalanya pelan, kembali menoleh ke arah Rai. Rupanya, bayang pria itu telah berangsur-angsur hilang dari pelupuk matanya.
Satu hal yang membuat Seina heran, apa yang dilihatnya malah tak seperti yang dikatakan pada Shohei. Pria itu tampak sendiri saat pergi meninggalkan mereka.
"Aku baru tahu kalau ternyata sahabatmu ...." Seina menghentikan ucapannya.
"Kenapa dengan Rai?" tanya Shohei menoleh.
Seina menggeleng. "Maksudku aku senang bisa berkenalan dengan sahabatmu," ucapnya sambil tersenyum.
Sebenarnya, Seina ingin mengatakan kalau dia tak menyangka Rai seorang tunawicara. Namun, rasanya tak etis sehingga ia pun urung untuk mengatakannya. Ia dan Shohei kini mulai beranjak berlawanan arah dengan kepergian Rai.
.
.
.
Rai kalo lagi bertransformasi jadi Black Shadow
Rai di keseharian pas dah jatuh miskin 😆
gaya mana yang kalian suka? jangan lupa jempolnya ya