
Setelah memasangkan syal ke leher Seina, Shohei pun menawarkan diri untuk mengantarnya pulang. Mereka berjalan sambil saling menggenggam tangan menuju tempat mobil pria itu diparkir. Ketika berada di luar gedung, teman-teman Seina datang mengerumuni keduanya. Mereka terkejut melihat keberadaan Shohei dan memuji keduanya sebagai pasangan yang serasi. Bahkan salah satu di antara mereka, berbisik pada Seina kalau dia sangat beruntung bisa mendapatkan pria elit yang tampan dan berprofesi sebagai polisi.
Seina terus terdiam hingga masuk ke dalam mobil. Gadis itu mulai menyadari kekhilafannya atas yang terjadi beberapa saat lalu. Ia langsung menunduk dan sedikit menghindar saat tubuh dan wajah Shohei mendekat ke arahnya. Ternyata yang pria itu lakukan adalah memasangkan sabuk pengaman di tubuhnya. Hanya itu! Tapi, malah membuatnya melakukan reaksi berlebihan.
"Kau pasti sangat lelah," ucap pria itu dengan tatapan lembut.
Seina tak berkata apa pun. Tak mampu membuat kalimat karena rasa bersalah yang menguasai dirinya, untuk apa yang telah ia lakukan bersama pria asing di bawah tangga.
Shohei-kun, gomennasai, aku tidak tahu apa yang sedang terjadi dalam diriku. Sesuatu bergejolak dalam hatiku. Bahkan tak pernah kurasa sebelumnya. Terasa menyenangkan sekaligus membahagiakan dan itu bukan saat bersamamu. Apa ini yang disebut perselingkuhan?
"Em ... bukankah besok lusa adalah jadwal kencan kita?" Shohei berusaha mencairkan suasana yang menghening sepanjang perjalanan.
"Eh?" Seina terhenyak dari lamunannya, tetapi buru-buru tersenyum sambil berkata, "Iya, tidak terasa kita akan berkencan lagi."
"Em ... Apakah Seina-chan punya tempat yang ingin dikunjungi?" tanya Shohei sambil menyetir.
"Akan kupikirkan," jawab Seina seraya mengukir senyum di wajahnya. Ia mengembuskan napas pelan sembari memalingkan wajah ke jendela mobil.
Setelah mengantar Seina pulang, Shohei pun bertolak ke menara Tokyo Skytree. Rupanya, Rai telah menunggunya sedari tadi. Ia bahkan sampai menghabiskan beberapa batang rokok.
"Gomen, aku baru saja mengantar pacarku pulang." Shohei duduk di samping Rai, kemudian tak sengaja memerhatikan punggung tangan Rai. "Hei ada apa dengan punggung tanganmu itu?" tanyanya.
Rai melirik tangannya dan tersentak ketika menyadari ada bekas gigitan gadis yang berciuman dengannya tadi.
"Ah, hanya bekas gigitan kucing nakal semalam," ucapnya seraya menaikkan alisnya sebanyak dua kali.
"Aku tidak bisa membayangkan bagaimana kuatnya kucing itu menggigitmu sampai bekasnya masih terlihat siang ini."
Rai menahan tawa. Shohei tentu paham "Kucing Nakal" yang dimaksud Rai hanya sebagai istilah. Namun, pria berprofesi sebagai polisi itu pasti akan memarahinya jika tahu ia melakukan tindakan pelecehan terhadap wanita saat sedang bertransformasi sebagai Black Shadow. Ya, mau bagaimana lagi, dia justru menganggap dirinya tak bersalah karena gadis itu yang terus-terusan mengusik bahkan saat ia tak ingin meladeninya. Ia yakin alasan gadis itu terus menghampirinya karena telah terjerat pesonanya. Buktinya, dia pun menyambutnya, kan? Tentu hal ini menjadi sebuah kesenangannya saat bertugas.
Sementara, begitu tiba di kediamannya, Seina justru bergegas membuka laptopnya untuk memburu artikel yang membahas tentang Black Shadow. Ketika ia mengetik nama tersebut di mesin pencarian, artikel teratas yang muncul adalah aksinya siang tadi di universitas Keio. Beberapa artikel memuji aksi Black Shadow yang membuka kedok buruk hukum di negara itu. Hal itu dia lakukan demi mencari keadilan pada keluarga korban.
"Ini bukannya ...." Seina terhenyak. Pasalnya, ia baru tahu lelaki yang disandera oleh Black Shadow adalah pelaku peristiwa tabrak lari yang terjadi di jalan utama Sumida, di mana saat itu ia dan Shohei melihat kejadian secara langsung.
Seina mengingat kembali saat ia berprasangka buruk atas tindakan yang dilakukan pria itu. Ternyata itu adalah cara unik yang dilakukan Black Shadow agar hukum bisa ditegakkan seadil-adilnya meskipun menyenggol para pejabat negara. Bahkan kekasihnya yang seorang polisi dan merupakan saksi mata kejadian, tak berani melakukan hal itu.
Seina semakin penasaran dengan sosok misterius yang telah merenggut ciumannya. Ia terus mencari berita apa pun yang berhubungan dengan Black Shadow. Termasuk rupa di balik topeng itu. Dari forum-forum netter yang membahasnya, banyak yang berusaha menebak-nebak wajah pria itu lalu mengaitkan dengan wajah beberapa aktor dan penyanyi Jepang ternama. Mereka yakin Black Shadow pasti memiliki tampang yang rupawan dilihat dari garis rahang dan bentuk bibir yang ia miliki.
Rupanya, Seina masih tak puas jika hanya mencari tahu identitas Black Shadow lewat internet. Tiba-tiba ia mengingat Kei yang pernah bercerita jika dia memburu Black Shadow dan mengumpulkan informasi tentangnya. Ia pun segera menghubungi kakak sepupunya itu.
"Ada apa?" tanya Kei begitu telepon tersambung.
"Apa saja yang kau ketahui tentang Black Shadow?"
"Hei ... ada apa ini? Datang-datang langsung memburuku dengan pertanyaan itu?"
"Aku tertarik mencari tahu tentang pria itu setelah menonton aksinya di kampus tadi," sergahnya beralasan.
"Aku tidak terlalu banyak mengetahuinya. Dia sangat misterius."
"Huft, kupikir kau sudah banyak mengumpulkan info tentangnya," desah Seina mengembuskan napas.
"Itulah kenapa aku berusaha memburunya. Aku ingin mewawancarainya secara langsung. Bayangkan jika itu berhasil, program acaraku akan mencetak rating tertinggi!" seru Kei bersemangat, "sialnya, aku tidak pernah berhasil bertemu dengannya langsung," sambung Kei dengan nada suara menurun.
Seandainya Kei-niichan tahu aku telah tiga kali bertemu dengan Black Shadow, apakah dia akan percaya?
"Apa pendapatmu tentang Black Shadow?" tanya Seina membersit.
"Hmm ... menurutku, Black Shadow itu sangat hebat! Bahkan lebih hebat dari pacarmu dan para detektif lainnya. Dalam mengungkap kasus, dia tak langsung mengatakan apa yang sebenarnya terjadi, tetapi menggiring kita untuk menebaknya sendiri setelah bukti nyata ditampilkan di siarannya. Dia juga sangat berani dan terlihat tidak memiliki kepentingan apa pun. Aku malah khawatir, suatu saat keberaniannya akan menjadi bumerang untuk dirinya sendiri."
"Kenapa seperti itu?" tanya Seina dengan nada khawatir.
"Karena orang-orang yang dia hadapi selama ini adalah penguasa. Bisa saja apa yang dia lakukan mengancam nyawanya. Kau tahu sendiri, 'kan? Dunia politik itu sangat kejam. Ada zona abu-abu yang tak dapat kita lihat jelas," jelas Kei menunjukkan sisi seorang jurnalis yang memiliki daya pikir tajam.
Seina menutup telepon dengan perasaan aneh yang bergemuruh di dadanya. Yang dikatakan Kei ada benarnya. Sebab, ayahnya pun dulu sering mendapatkan teror dari saingan politiknya. Jika yang dikhawatirkan Kei menjadi kenyataan, itu artinya Black Shadow sedang mempertaruhkan nyawanya sendiri.
Sejenak, Seina teringat kembali dengan ucapan terakhir pria bertopeng itu sebelum pergi meninggalkannya.
"Kau bisa temukan aku di Tokyo Skytree setelah siaran langsungku berakhir. Aku selalu berada di sana setelah menyelesaikan misi."
Seina merasakan kebimbangan, apakah dia harus kembali bertemu Black Shadow, ataukah melupakannya begitu saja? Ia butuh memastikan pria itu baik-baik saja setelah menjalankan misi, tetapi di sisi lain ia takut pertemuan mereka akan membuatnya jatuh hati padanya. Meskipun tanpa ia sadari, kekhawatirannya saat ini terjadi karena mulai terjerat dengan pria itu.
Tak terasa, langit Tokyo yang berkabut telah berubah warna menjadi hitam pekat tanda malam telah menghampiri. Rai turun dari stasiun lalu berjalan pulang ke apartemennya seperti biasa. Sebenarnya, ia sengaja pulang malam karena tahu betul Yuriko akan pulang di jam begini. Benar, gadis itu turun dari mobil temannya tepat di depan rumah yang pernah diakui sebagai kediamannya.
"Yuri-yuri!" panggil Rai sambil berjalan cepat menghampirinya.
"Kenapa kau selalu pulang malam?"
"Karena di rumahku tidak ada apa pun yang bisa dimakan, sementara kalau bersama teman aku bisa numpang makan di apartemen mereka. Aku juga bekerja paruh waktu setiap sore di sebuah kafe," jawab Yuriko terus terang sambil tertawa kecil.
Rai mengangguk-angguk kecil. "Aku senang kau mengatakan itu padaku. Kupikir kau hanya mau menceritakan kisah hidupmu yang sebenarnya pada Shohei," ucap pria itu sambil senyam-senyum.
"Ah, apa kabar dengan Pak Polisi?" tanya Yuriko sambil menepuk keras pundak Rai.
Astaga! Aku malah membuatnya mengingat Shohei dan membicarakannya.
"Dia baik-baik saja dan sedang sibuk," jawab Rai seadanya. Ia langsung menarik tangan gadis itu lalu memasukkannya dalam saku jaket sembari memaksanya berjalan.
"Apa yang kau lakukan." Yuriko berusaha menarik tangannya dari saku jaket Rai, tetapi pria itu justru menahannya.
"Sudah kubilang, pakailah kaus tangan jika pulang malam. Tanganmu sangat dingin." Rai menunjukkan perhatian tulus.
"Aku sudah terbiasa seperti ini. Kau saja yang berlebihan," ketus Yuriko dengan wajah cemberut.
Tak jauh dari mereka, Ryo dan seorang wanita dewasa bersembunyi di belakang pohon depan apartemen yang dihuni Rai dan Yuriko. Sudah cukup lama mereka berada di sana hanya untuk menunggu kedatangan Rai.
"Apakah benar itu Rai? Kenapa dia jadi tak terawat seperti itu? Mana Rai-ku yang selalu tampil perfeksionis," kata wanita yang berada di samping Ryo. Dia adalah salah satu mantan kekasih Rai. Dulunya dia sangat tergila-gila hingga rela menghadiahkan mobil dan motor mewah pada pria itu.
"Tapi, kau masih menyukainya, 'kan?" tanya Ryo ragu-ragu.
"Tentu saja. Meskipun penampilannya tak sekeren dulu, tetapi wajah tampannya masih membiusku," ucap wanita itu sambil terus melihat Rai.
"Baguslah! Kalau begitu saatnya kau dekati dia lagi. Sudah setahun lebih dia tidak menjalin hubungan dengan wanita manapun," ucap Ryo memprovokasi.
Ryo sengaja membawa mantan kekasih kakaknya itu, untuk membuktikan apakah kakaknya masih tertarik terhadap lawan jenis. Jujur, kehadiran pria di apartemen Rai kala itu mengganggu pikirannya selama beberapa hari ini. Ia masih tak percaya jika kakaknya mengalami perubahan orientasi sekksual hanya karena dikhianati sahabat dan mantan kekasihnya.
"Tapi, siapa gadis bertopi yang ada di sampingnya?"
Ryo memerhatikan gadis yang dimaksud, lalu berkata, "ah, itu hanya tetangganya. Mereka memang sedekat itu, tapi tak memiliki hubungan apa pun."
"Baiklah. Kalau begitu aku akan menemuinya sekarang!" Wanita yang memakai sepatu hak tinggi berwarna merah terang itu berjalan menuju ke arah Rai dan Yuriko.
Rai terperanjat ketika seorang wanita memanggilnya dengan lembut. Matanya makin terbelalak saat melihat mantan kekasihnya dua tahun yang lalu datang mendekat. Saking kagetnya, tangannya secara refleks melepas pergelangan tangan Yuriko.
"Apa kau masih mengingatku?" tanya wanita itu dengan nada suara sensual yang dibuat-buat.
Tentu saja aku tidak lupa! Kau adalah salah satu mesin cetak uangku waktu itu.
"Haruka-san," sebut Rai.
"Yokatta (syukurlah)." Wanita itu langsung merangkul tangan Rai, bahkan sengaja menggeser Yuriko yang berada di samping. "Rai, kudengar kau tinggal di apartemen jelek ini, ya? Bagaimana kalau malam ini kau ke apartemenku saja. Kita bisa melepas rindu di sana," ajak wanita bernama Haruka itu sembari menyandarkan kepalanya di pundak Rai.
Tatapan Rai justru teralihkan pada Yuriko yang tampak tak acuh dan justru meninggalkannya. Dengan segera, ia langsung melepaskan tangan Haruka.
"Gomen ne, Haruka-san. Aku tidak bisa. Aku tidak tertarik padamu," ucap Rai sengaja bersuara kencang agar Yuriko dapat mendengar perkataannya.
"Apa katamu?!"
"A, maksudku ... seleraku sudah tak seperti dulu lagi. Aku sudah tak lagi menyukai yang berdada besar dan berbokong montok. Semoga kau sehat selalu, dan sampai jumpa!" ucap Rai yang bergegas menghindar dan segera menyusul Yuriko yang lebih dulu masuk ke gedung apartemen mereka.
Dalam persembunyiannya, Ryo tercengang mendengar pernyataan Rai barusan.
"Berganti selera? Tidak lagi menyukai yang berdada besar dan berbokong montok?" gumam Ryo mengulang ucapan kakaknya. Matanya membulat sempurna seakan meronta-ronta hendak keluar dari rongganya.
"Apakah ... itu ... artinya ... seleranya yang sekarang adalah ... dada bidang dan perut kotak-kotak?"
Bola mata Ryo seolah-olah sedang berputar-putar. Mulutnya terbuka lebar seakan kekurangan pasokan oksigen. Dalam hitungan detik, pria itu terhuyung dan hampir terjatuh jika saja tak segera bersandar di pohon.
.
.
.
Visual Ryo Matsui now