Never Not

Never Not
Ch. 42 : Nama yang Tak Terdeteksi



Tak terasa, waktu telah menunjukkan pukul sepuluh malam. Shohei mengantar Seina pulang setelah mereka menghabiskan malam Minggu bersama dengan menonton film di bioskop.


"Arigatou gozaimasu untuk malam ini. Aku sangat senang bisa menonton bersama Shohei-kun," ucap Seina mengembangkan senyum.


"Hum." Shohei mengangguk malu-malu. "Aku juga sangat senang bisa menghabiskan waktu denganmu. Kalau begitu, aku pulang dulu. Oyasuminasai."


Ketika memutar badan, Shohei tertegun saat ujung bajunya ditahan Seina. Kepalanya pun menoleh pelan ke arah gadis itu diikuti dengan mata yang saling memandang. Hal ini tentu membuat pria dengan garis alis tebal itu bernapas gugup.


Apa maksud dari tatapan Seina saat ini? Apakah dia memintaku untuk melakukan hal-hal yang biasa dilakukan pasangan kekasih seperti ... menciumnya?


Sebaliknya, masih memandang Shohei dengan tatapan lurus, batin Seina pun turut bermonolog.


Aku memang berpacaran dengan Shohei-kun. Tapi sejauh ini hubungan kami baru sebatas berpegangan tangan. Sepertinya Shohei-kun sangat menjaga wibawanya sebagai anggota kepolisian. Apa mungkin aku perlu memulainya lebih dulu.


"Shohei-kun, apa kau bisa menemaniku malam ini?" tanya Seina pelan dengan wajah yang bersemu.


"Eh?" Mata Shohei membulat seketika.


"Ayahku sedang berada di Cina selama beberapa hari ini. Hanya aku dan para pelayan yang berada di rumah. Kupikir, jika kau bisa tinggal di sini sementara waktu mungkin bisa membuatku tenang," ucap Seina sedikit kaku.


"Ma–maksud Seina-chan ... aku akan tinggal di sini selama beberapa hari?" tanya Shohei tergagap.


Seina mengangguk. "Jika Shohei-kun tidak keberatan. Maaf kalau permintaanku ini mendadak. Habisnya, ini baru terpikir olehku."


"Boleh saja jika memang tersedia kamar tamu," balas Shohei pelan dan penuh kehati-hatian.


Seina menggeleng. "Kau bisa tidur di kamarku."


"Eh?" Shohei kembali membulatkan matanya. Kali ini diikuti dengan suara jantung yang berdetak liar.


Seina menundukkan pandangan sambil kembali berkata, "Bukankah kita adalah sepasang kekasih?"


Mendengar hal itu, Shohei langsung membuang pandangan. Terlihat jelas ia kesulitan meneguk ludahnya seolah ada batu besar yang menyumbat kerongkongannya


Apa ini? Apakah dia sedang memberi kode agar aku melakukan sesuatu lebih yang lebih dari ciuman, seperti ... melakukan serangan di atas ranjang?


Sementara Seina mengulum bibirnya sendiri, dan turut membatin.


Kupikir aku harus membiarkan Shohei sendiri yang menghilangkan jejak Black Shadow di tubuh dan pikiranku. Dengan begitu, aku tak akan mengingat pria itu lagi.


"Ba–baiklah kalau begitu, aku ... akan pulang mengambil beberapa potong pakaianku dulu," ucap Shohei setelah tertegun selama beberapa detik.


Yosh! Mungkin ini saatnya kami lebih dekat. Ganbatte!


Baru saja berbalik, sinar lampu dari sebuah motor menyorot ke arah mereka. Seina dan Shohei kompak memicing seraya meletakkan tangan mereka di depan mata untuk menghalau cahaya yang menyilaukan itu. Motor besar itu berhenti tepat di depan mereka, tak lama kemudian sang pengemudi melepas helm dan langsung menyapa keduanya.


"Apa aku mengganggu kalian berdua?" tanya pria tersebut yang ternyata adalah Kei.


"Kei-niichan, ada keperluan apa malam-malam begini?" tanya Seina dengan mata yang tertuju pada ransel di pundak Kei.


"Tadi siang paman meneleponku, katanya dia akan berangkat ke luar negeri selama beberapa hari jadi dia memintaku untuk tidur di sini agar bisa menjagamu." Kei turun dari atas motor dengan santai.


Seina mengembuskan napas besar. "Dia masih sering seperti itu?" ketusnya. Pasalnya, ayahnya memang selalu menitipkan dirinya pada Kei jika sedang di luar negeri.


Kei justru menoleh ke arah Shohei lalu berkata, "Yamazaki-san, jangan khawatir! Aku akan menjaga kekasihmu dengan baik."


Seina dan Shohei saling melirik dengan wajah yang masam.


"Kenapa kalian terlihat suram sekali?" tanya Kei polos.


Meski tak menjawab, tentu saja mereka kesal karena rencana untuk tinggal bersama selama beberapa hari gagal total!



Di sisi lain, Rai dan Yuriko berjalan santai setelah pulang dari kedai mie ramen. Yuriko bahkan sempat mengajak Rai minum-minum bersama untuk perayaan hari pertama kerja yang menurutnya sangat mengesankan.


"Untung saja kau tidak mabuk seperti waktu itu," ucap Rai berjalan sambil mengantongi kedua tangannya.


"Sepertinya aku hanya bisa minum sake¹. Aku tidak cocok minum alkohol bermerk." Yuriko menyengir.


"Sebaliknya, baru kali ini aku minum sake lagi." Rai menghitung jarinya. "Kira-kira sudah tujuh tahun aku tidak minum sake."


"Wow, apakah kau ingin bilang selama tujuh tahun tidak pernah minum-minum? Atau mungkin ... kau terlalu menghemat!"


Rai mengangkat sebelah bibirnya. "Maaf, ya. Selama ini yang kuminum semua merk berkelas. Sampanye kualitas super adalah minuman favoritku. Dulunya, aku selalu menghabiskan waktu di kelab malam Starlit di Shinjiku. Kau tahu sendiri, kan? Hanya pemilik Black Card yang bisa masuk di kelab itu."


Yuriko mengembuskan napas kasar hingga poni depannya terhempas ke atas. "Mulai lagi sesi khayalan tingkat tingginya!"


Rai meringis mendengar respon sepele dari Yuriko. "Kenapa kau selalu tak percaya dengan apa yang kuucapkan? Jika mengatakan dulunya aku adalah seorang penipu, pasti kau tetap tak percaya, 'kan?"


"Kalau itu sih aku percaya. Soalnya wajahmu sangat meyakinkan untuk menipu banyak orang."


Rai menyeringai. "Aku tidak tahu harus menganggap ini sebuah pujian atau hinaan!"


"Aku masih percaya kalau andaikan kau mengatakan pernah bekerja di perusahaan asing, melihat dari kemampuanmu menguasai bahasa asing. Masalahnya pengakuanmu selama ini sangat tidak masuk akal. Memiliki rumah dan mobil sport mewah, menyewa chef hotel setiap hari, pernah berpacaran dengan istri salah satu idola, keluar masuk kelab mewah, dan apalagi, ya? Saking banyaknya bualanmu aku sampa lupa! Dan lagi, itu semua berbanding terbalik dengan kehidupanmu yang sekarang."


Baru saja Rai hendak berkata, Yuriko kembali menyambung ucapannya, "Ah, jangan-jangan ... dulunya kau ini simpanan tante-tante, ya? Kemudian tante-tante kesayanganmu itu bangkrut sehingga tak bisa membiayai kehidupanmu. Jadi, kau pun turut jatuh miskin seperti ini."


"Ah, atau jangan-jangan dulunya kau itu selingkuhan bosmu, lalu kalian ketahuan selingkuh dan terpaksa hubungan kalian berakhir hingga membuatmu jatuh miskin seperti ini," tuduh Yuriko sambil mengacungkan telunjuk ke arah Rai.


Rai semakin termegap-megap dengan segala tuduhan Yuriko.


"Bukankah aku pernah bilang, aku dikhianati sahabat dan kekasihku," ujar Rai dengan suara serak dan wajah yang mendadak kelam. Namun, ia tak mungkin menceritakan segala yang pernah menimpanya, termasuk bagaimana dirinya di masa lalu.


Yuriko terdiam seketika. Sementara, Rai pun berjalan cepat meninggalkannya. Gadis itu lalu mengejarnya dengan berlari kecil.


"Ceritakan padaku!" pinta Yuriko.


"Apanya?"


"Tentang kau, sahabat dan kekasihmu. Bagaimana mereka mengkhianatimu? Lalu, bagaimana pula kau bisa berkawan baik dengan pak polisi," ucap Yuriko menggebu-gebu.


"Tidak mau!"


"Eh? Ayolah! Aku ini pendengar yang baik, loh!"


"Aku sedang tidak ingin didengarkan," ketus Rai sambil masuk lift.


"Ayolah! Sebenarnya selama ini aku cukup penasaran, kenapa kau dan Shohei-san sangat dekat. Bukankah kau pernah bilang hubungan kalian tidak sesederhana yang kupikirkan? Apa maksudnya itu? Kau juga menolak untuk menjenguknya. Lalu, dia sangat perhatian dan peduli padamu. Kalian tidak terlibat cinta terlarang, kan? Jangan membuat bulu kudukku meremang! Atau mungkin ... kalian adalah saudara yang terlahir dengan ayah dan ibu yang berbeda. Oh, Kamisama! Kau membuat pikiranku sedramatis ini!" Yuriko memegang kedua pipinya.


Dahi Rai membentuk lipatan kecil. "Saudara beda ayah dan ibu? Bagaimana bisa dikatakan saudara kalau seperti itu? Aku tahu bodoh itu gratis, tapi jangan memborong semuanya!" ketus Rai.


"Lidahku hanya terpeleset. Maksudku, mungkin saja kalian adalah saudara yang sudah lama terpisah."


"Saudaraku cuma satu dan kau sudah sering melihatnya."


"Benar juga, ya?" Yuriko mendekat ke arah Rai. "Lalu, apa yang membuat kau dan Shohei sangat dekat?"


"Ini sudah malam."


"Aku tahu ini malam. Apa hubungannya dengan pertanyaanku?"


Rai menoleh pelan ke arah Yuriko. "Sebelumnya, aku ingin bertanya lebih dulu padamu!"


"Apa itu?"


"Apa kau mau tidur di kamarku dan berbagi ranjang denganku lagi?" ujar Rai dengan senyum tipis di sudut bibirnya.


Yuriko terkesiap. Ia menoleh ke sekeliling tempat dan baru menyadari jika mereka sedari tadi telah berada di kamar Rai. Ia malah berteriak kecil sembari memalingkan wajah saat Rai dengan santainya membuka mantel dan kaus yang melekat di tubuhnya sehingga memamerkan badannya yang setengah polos.


"Baiklah! Baik ... aku pergi sekarang!" ketus Yuriko langsung keluar dari kamar Rai.


Rai tersenyum tipis sembari melihat pintu yang baru saja tertutup. "Dia ingin tahu apa yang terjadi denganku di masa lalu, padahal yang sebenarnya adalah dia ingin tahu bagaimana awal mula persahabatanku dan Shohei terbentuk. Intinya, dia hanya tertarik hal-hal yang berhubungan dengan Shohei."



Tak terasa, waktu kembali dipertemukan dengan pagi hari yang dingin. Shohei berjalan menuju devisi forensik kepolisian Metro. Di sana ia menemui polisi wanita bernama Araki Fumi.


"Araki-san, apa aku boleh minta tolong padamu?"


"Apa itu? Katakan saja! Omong-omong, aku sangat senang melihatmu kembali pulih," jawab polisi wanita tersebut. Ia berada di tahun kelulusan yang sama dengan Shohei saat masuk di akademi kepolisian. Ditambah lagi, Shohei sering meminta tolong padanya terkait dengan penyelidikan. Oleh karena itu, mereka sangat dekat.


Shohei menyodorkan sepotong kain yang ditaruh dalam plastik klip.


"Arigatou. Aku ingin mencari tahu sidik jari pertama yang melekat di kain ini. Ini sobekan mantel di bagian pergelangan tangan yang kupakai dihari kejadian. Saat itu, aku sempat menahan kaki pelaku. Dia berusaha menepis tanganku sebelum akhirnya menendang berkali-kali. Jadi, kupikir mungkin ada sidik jari yang tertinggal di sana," pinta Shohei seraya mengingat bagaimana pelaku mencoba melepaskan tangannya dengan cara menarik ujung lengan bajunya.


"Astaga, ternyata kau tak hanya mengalami penusukan, tapi juga penganiayaan!" Araki Fumi meletakkan kedua tangannya menutupi mulut. "Tapi, mungkin sedikit sulit jika ada beberapa tangan yang telah menyentuh ini. Apalagi tanggal kejadian telah lewat dari sepuluh hari," ucapnya seraya mengambil plastik klip berisi potongan kain itu.


"Ya, benar. Tapi, jejak yang tertinggal pertama itu sudah pasti sidik jari pelaku. Meskipun aku lupa apakah dia memakai kaus tangan atau tidak saat itu. Bukankah lebih baik dipastikan saja?"


"Baiklah. Aku akan mengeceknya."


"Jangan memberitahukan pada siapapun tentang ini," bisik Shohei.


Araki mengangguk. "Akan kuhubungi jika sudah keluar hasilnya."


Shohei kembali ke ruang kerjanya. Ia duduk tenang di kursi, memasang kacamata dan mengambil sebuah kertas yang tersimpan rapi dalam laci. Dari sepuluh nama, hanya tersisa tiga nama lagi yang belum disentuh oleh Black Shadow. Di mana dua di antaranya tinggal menunggu waktu yang tepat. Sementara, satu nama yang tersisa masih abu-abu alias belum juga terdeteksi. Namun, meski tak tahu dengan identitas dan juga kejahatannya, insting Shohei berkata jika pejabat tanpa nama itu pasti sebelumnya merupakan Dewa penolong kesembilan pejabat tersebut. Di mana berkat dirinya, kejahatan yang dilakukan para pejabat itu tak terendus hukum selama bertahun-tahun.


.


.


.


jejak kaki 🦶🦶



Sake: minuman beralkohol khas Jepang yang berasal dari fermentasi beras.