
Shohei duduk tenang sembari membuka kotak bekal berisi sarapan bento yang dibuat oleh Yuriko. Ia tertawa kecil ketika melihat nasi tersebut dibentuk dengan ukiran wajah lelaki berkacamata. Alisnya mengernyit melihat bentuk bento yang tak begitu menarik seperti bento pada umumnya. Mengambil sumpit, ia pun mulai menyantapnya.
"Hhmm ... umay!" gumamnya seraya mengigit potongan tamagoyaki¹. Tampaknya cita rasa masakan Yuriko kali ini tidak seburuk masakan kemarin.
Sejenak, Shohei tertegun seraya mengingat saat Yuriko memperbaiki posisi kerah kamejanya. Ia malah membayangkan hal itu dilakukan oleh Seina di mana nantinya mereka akan tinggal bersama dan kekasihnya akan menggantikan Yuriko menyajikan sarapan dan bekalnya.
Tersenyum manis seraya mengkhayalkan kehidupannya bersama Seina, ia tiba-tiba berpikir, "Apakah Seina tahu memasak? Ah, aku tidak akan memaksanya jika dia tak bisa memasak."
Perhatiannya teralihkan pada siaran berita pagi ini yang mengabarkan tentang tertangkapnya beberapa panitia olimpiade atas tuduhan penggelapan dana. Melihat berita tersebut, membuat Shohei tersenyum masam. Pasalnya, polisi dan kejaksaan hanya berani memeriksa para panitia, tapi tidak dengan jajaran pejabatnya yang juga terkait dengan pelaksanaan Olimpiade Tokyo.
Kenapa orang-orang kecil selalu dikorbankan untuk menutupi kebusukan orang-orang besar?
Shohei menatap sebuah nama yang berada dalam daftar hitam para pejabat.
"Yoshuke Tsuno, sekarang adalah giliranmu. Bersiaplah!" ucap Shohei dengan sudut bibir yang sedikit tertarik ke samping.
Di sisi lain, Rai kini berjalan menghampiri gedung kantor pusat komite, Tokyo. Target Mr. White dan Black Shadow kali ini adalah politisi yang juga menjabat sebagai ketua Olimpiade Tokyo—Yoshuke Tsuno. Ia diduga kuat menjadi dalang penggelapan dana Olimpiade yang akan diselenggarakan tahun ini.
Untuk memuluskan aksi membongkar kedok pejabat tersebut, Shohei meminta Rai menyadap perangkat digital yang digunakan tuan Yoshuke Tsuno. Lewat penyadapan itu, nantinya Shohei dapat mengumpulkan bukti dari email, pesan teks, riwayat panggilan, sampai riwayat pencarian yang tersimpan di perangkat komputer dan telepon. Lebih canggihnya lagi, ia bisa mengambil screenshot, merekam audio dari ponsel dan juga membajak gambar atau mencari tahu lokasi pengguna melalui sistem GPS perangkat.
Sebagai seorang polisi hal ini tak bisa sembarangan Shohei lakukan tanpa perintah atasan karena dapat melanggar kode etik. Maka dari itu, hanya Black Shadow yang bisa melakukannya. Namun sebelumnya, tentu saja Rai harus bisa menyelinap masuk ke ruangan Yoshuke Tsuno yang terletak di gedung komite nasional.
Rai melompat dan memanjat dinding gedung. Sebuah tas ransel terpasang di pundaknya. Tentu saja isinya beberapa barang yang berguna untuk misi Black Shadow. Dengan tangan kosong dan bantuan otot lengannya, sosok jangkung itu memanjat setiap jendela di gedung komite nasional. Bergelantungan dari satu tempat ke tempat lain lalu melompat ke sebuah ruangan yang jendelanya terbuka dan tak ada siapapun di sana.
Rai menyelinap masuk ke gedung itu dengan langkah siaga dan mata yang penuh kewaspadaan untuk mengantisipasi jika ada CCTV.
Pria tampan dengan pahatan hidung yang sempurna itu bergegas menunduk dan bersembunyi di balik dinding saat satu petugas keamanan berjalan di sekitar koridor. Merasa aman, ia kembali melangkah melewati tempat-tempat yang tidak terpasang CCTV.
Lagi-lagi, Rai harus bersembunyi ketika seseorang tengah berjalan berlawanan arah dengannya. Ia memanjat dinding pembatas ruangan dan langsung turun ke bawah melakukan lompatan sempurna dengan satu kaki yang ditekuk dan sebelah tangan yang memegang lutut. Sialnya, saat berdiri, ia malah berhadapan langsung dengan seorang wanita berusia sekitar empat puluhan yang berdiri di hadapannya dengan gaya berkelas.
"Si–siapa kau?" tanya wanita itu.
Rai menengok ke sekeliling dan baru menyadari wanita itu adalah kepala devisi bagian di kantor komite nasional.
Rai membuka hoodie jaket yang menutupi kepala dan setengah muka, sengaja membiarkan wajahnya terlihat jelas lalu meletakkan jari telunjuk di tengah bibirnya sendiri.
"Sssttt ...." desisnya dengan melempar tatapan memesona dan gaya yang seksi.
Wanita itu secara tak sadar ikut meletakkan jari telunjuknya di bibir sendiri seperti yang Rai lakukan.
"Siapa kau? Ke–kenapa ada di ruanganku?" ucap wanita itu pelan dengan suara berbisik.
Rai melangkah pelan ke arah wanita itu sambil tetap meletakkan jari telunjuk di bibirnya agar tak menciptakan suara yang berisik.
"Gomennasai, saya seorang teknisi. Saya mencari-cari alat saya yang tertinggal di kantor ini. Saya pikir, saya meninggalkannya di ruangan ini. Ternyata saya salah ruangan," ucap Rai seraya melempar tatapan penuh ke arah wanita itu.
Wanita matang dengan warna bibir menyala itu tak berkedip sama sekali. Rupanya ia terpesona dengan paras dan senyum Rai yang mematikan.
Rai berbalik dan bergegas keluar dari ruangan tersebut, tetapi langkahnya terhenti saat wanita itu menahannya dan menuliskan deretan angka di tangannya.
"Wajahmu sangat tidak cocok untuk menjadi teknisi. Bagaimana jika kita lebih saling mengenal dekat? Aku memiliki jabatan penting di kantor ini, kau bisa kujadikan pengawalku. Hubungi aku ...." bisik wanita itu dengan suara yang sengaja dibuat sensual seraya menurunkan kembali lengan jaket Rai, untuk menutupi nomor ponsel miliknya yang tertulis di sana.
Tersenyum simpul, Rai berbalik perlahan kemudian meraih pinggul ramping di hadapannya dan menuntun badan wanita itu ke belakang hingga membuat posisinya hampir terbaring di meja kerja.
Setelah kepergian Rai, wanita itu segera memperbaiki roknya yang sempat terangkat, lalu bergumam senang, "Ya, ampun, dia pria yang hot! Aku ingin memilikinya!"
Sebaliknya, Rai yang baru saja keluar dari ruangan itu, langsung mengembuskan napas kasar.
"Merepotkan saja!" gerutunya seraya berkacak pinggang.
Sepuluh menit berlalu, seorang pria berpakaian teknisi dengan logo resmi masuk di gedung komite nasional. Ia menghampiri satpam kantor itu, dan berkata, "Permisi, saya seorang teknisi. Sejam yang lalu ada yang menelepon kantor kami dan meminta memperbaiki jaringan di ruangan kepala komite nasional."
"Baik. Silakan langsung ke ruangannya. Ada di lantai lima." Satpam gedung itu menunjuk ke arah lift.
Teknisi itu langsung menuju ruangan yang telah diberitahukan petugas keamanan. Sesampainya di lantai tersebut, ia bertemu langsung dengan sekretaris pribadi tuan Yoshuke Tsuno.
"Saya diminta memperbaiki jaringan di ruangan ini," ucap teknisi itu.
"Siapa yang memintamu?" tanya pria itu dengan sorot mata tajam.
"Kalau tidak salah namanya adalah Yoshuke Tsuno-san," ucap pria itu penuh kehati-hatian.
Pria yang menjadi sekretaris pribadi tuan Yoshuke Tsuno lantas memicing. Pasalnya sebelum pergi rapat untuk membahas perhelatan olimpiade, Yoshuke Tsuno tak meninggalkan pesan apa pun padanya, termasuk mengatakan jika dia sedang memanggil seorang teknisi. Namun, tentu tak mungkin menelepon tuannya sekarang untuk mengonfirmasi hal tersebut.
"Masuklah!" ucap sekretaris tuan Yoshuke Tsuno.
"Teknisi itu pun langsung masuk ke dalam ruangan. Lima belas menit berlalu, sang teknisi baru saja selesai memperbaiki jaringan internet dan telepon di ruangan tuan Yoshuke Tsuno. Meskipun sebenarnya jaringan di ruangan itu tampak normal-normal saja.
"Sudah selesai?" tanya sekretaris tuan Yoshuke.
"Iya. Tidak ada masalah. Saya pergi dulu, Tuan," ucap teknisi tersebut seraya mengangkat tas yang berisi perkakas.
Tak lama kemudian, ponsel sekretaris itu berbunyi. Rupanya berasal dari tuan Yoshuke Tsuno yang meminta agar segera menyusulnya di gedung atlet.
"Baik, Tuan. Kebetulan teknisi yang Anda panggil juga baru saja pulang," ucap sekretaris tersebut lewat saluran telepon.
"Teknisi? Apa maksudmu? Siapa yang memanggil teknisi?" tanya Tuan Yoshuke yang tampak tak paham.
Sektretaris pribadinya lantas terlonjak. Sadar jika kemungkinan pria tadi adalah penyusup, ia pun melakukan panggilan darurat kepada seluruh petugas keamanan gedung untuk menahan pria berpakaian teknisi yang baru saja keluar dari ruangan ketua komite nasional. Seluruh petugas keamanan lantas bergerak cepat menyusuri gedung untuk mencari keberadaan pria tersebut.
Sementara, pria berpakaian teknisi itu kini keluar dari lift yang membawanya ke lantai dasar. Ia berjalan terburu-buru seakan hendak bergegas meninggalkan gedung. Sayangnya, langkahnya harus terhenti ketika tiga petugas mendadak datang menghadangnya.
.
.
.
jejak kaki 🦶🦶
tamagoyaki¹. telur gulung