Never Not

Never Not
Ch. 26 : Kasus di Balik Kasus



Tuan Matsumoto tentu sangat senang mendengar keputusan yang dilayangkan Shohei. Seina adalah anak semata wayangnya. Istrinya telah lama meninggal, sementara dia sangat sibuk bekerja. Sehingga membuat gadis itu tumbuh dewasa tanpa kasih sayang yang cukup dari orangtua. Selama ini Seina hanya mendapat perhatian dari Kei—kakak sepupu dari keluarga ibunya. Sekarang, usia Tuan Matsumoto sudah sangat senja, dia harus memastikan anak kesayangannya itu jatuh kepada lelaki yang tepat.


"Kalau begitu kira-kira kapan kita akan mengadakan pesta pertunangan? Tenang saja, aku akan membuat pesta yang meriah untuk kalian," ucap Tuan Matsumoto yang terlihat gembira dan tak sabaran.


Shohei tak menjawab. Ia malah menoleh ke arah Seina yang tiba-tiba melepaskan genggaman tangannya.


"Ada apa? Apa kau tidak setuju?" tanya Shohei begitu melihat raut wajah Seina. Sekali lagi, sebagai penyidik, dia memiliki kemampuan menafsir bahasa tubuh seperti mimik wajah, dan tindakan spontan seseorang.


"Ti–tidak! Hanya saja ... aku merasa sangat tepat kalau kita bertunangan setelah aku menyelesaikan skripsiku." Seina berucap penuh kehati-hatian. Sebenarnya, penolakan yang ia lakukan saat ini timbul secara spontan. Ia juga tak tahu kenapa. Padahal dari awal perkenalan mereka, dia sudah sangat tertarik dengan lelaki yang duduk di sampingnya itu.


"Sokka (begitu, ya), aku mengerti. Sebaiknya memang seperti itu. Kalau begitu, aku akan menunggu kesiapan Seina, Tuan" saran Shohei pada Tuan Matsumoto seraya memamerkan senyumnya yang lembut.


"Seina-chan, kapan kira-kira kau bisa menyelesaikan skripsimu?" tanya tuan Matsumoto.


"Kemungkinan bulan depan," jawabnya dengan suara pelan.


"Kalau begitu acara pertunangan bisa di bulan berikutnya. Itu tidak terlalu lama. Kalian sudah bisa mempersiapkan dari sekarang," ucap Tuan Matsumoto sambil menyantap hidangan istimewa restoran tersebut.


"Kalau soal itu, jika Seina tak keberatan biar aku yang mempersiapkannya. Aku juga berencana mengambil kondominium yang bisa kami tinggali setelah bertunangan," ucap Shohei.


"Aku serahkan semuanya padamu," ucap Seina.


Ada apa denganku? Tidak seharusnya aku bimbang seperti ini, kan? Shohei-kun adalah pria tepat untukku. Aku tak ingin pria sebaik dirinya jatuh ke pelukan wanita lain, tetapi ....


Untuk ke sekian kalinya, Seina kembali mengingat sosok pria bertopeng yang terus mengusik pikirannya. Suara, senyuman, tatapan mata serta aroma tubuh pria itu terus melekat di benaknya. Seperti menghantui hari-harinya. Apakah karena ia begitu penasaran dengan sosok misterius itu? Entahlah!


Selepas makan siang bersama, Shohei berinisiatif mengantar Seina pulang ke rumahnya.


"Arigatou." Kata itu meluncur tiba-tiba dari mulut Shohei.


"Heh?" Seina menoleh ke arah Shohei dengan tatapan penuh tanda tanya.


"Tadinya kupikir kau akan menolak bertunangan denganku. Aku sudah was-was," ungkap Shohei seraya tertawa kecil.


"Mana mungkin seperti itu," tampik Seina. Sejujurnya, ia masih sangat merasa bersalah pada Shohei karena dua kali telah berciuman dengan pria asing di belakangnya. Ditambah lagi, pria itu malah menguasai pikirannya selama beberapa hari terakhir.


"Seina-chan, apakah kau mau ke akuarium bersamaku besok?" ajak Shohei sambil menyetir. Ini pertama kalinya ia memberanikan diri mengajak kencan lebih dulu.


"Boleh juga. Kebetulan sekali aku sudah lama tidak ke akuarium, terakhir kali saat masih sekolah," ucap Seina dengan mata yang berbinar cerah.


Kurasa, aku hanya sekadar penasaran dengan pria itu ....



Tak terasa, malam telah kembali menunjukkan wujudnya. Waktu menunjukkan pukul sepuluh, artinya ini sudah saatnya kepolisian Metro beraksi. Shohei, Seto, dan salah satu polisi melakukan patroli di sekitar kawasan Ikebukuro untuk agenda penangkapan pencurian mobil yang terorganisir. Sementara, polisi lainnya menyebar ke beberapa titik yang rawan untuk dijadikan target pelaku.


"402 Kepolisian Metro sedang berada di stasiun wilayah Nishi Musashino. Kami melihat komplotan pencuri sedang melancarkan aksinya," ucap salah satu polisi memberitahukan lewat handy talk.


"Lakukan seperti yang telah kita rencanakan. Jangan bertindak layaknya seorang polisi. Ingat, kita adalah target mereka," pinta Shohei memberi instruksi pada tiap unit mobil patroli. Sebenarnya, semenjak menjabat sebagai ketua penyidik, ia sudah tak pernah lagi turun ke lapangan seperti ini.


Tak lama kemudian, Shohei menepuk lengan Seto sembari mengedikkan dagunya ke depan. Tak jauh dari mereka, terlihat seorang perempuan berlari ketakutan karena dikejar pria yang memegang botol alkohol. Bahkan pria itu berani menarik tas si perempuan.


"Itu pasti mereka. Dari wajah pria memang tak terlihat seperti orang Jepang," duga Shohei.


"Aku tidak percaya kalau mereka benar-benar komplotan. Sungguh akting yang sangat natural." Seto berdecak kagum sembari menjalankan mobil dengan pelan.


"Ya, seharusnya mereka mengikuti casting bintang film saja daripada jadi pencuri dan menambah populasi penjahat di Jepang," imbuh seorang polisi yang ikut bersama mereka.


"Keluar sekarang, dan datangi mereka!"


"Bagaimana dengan Ketua?" tanya kedua polisi tersebut.


"Aku akan bersembunyi di belakang," jawab Shohei.


Seto dan temannya pun keluar dari mobil dan berpura-pura menolong wanita itu. Si pria berbadan besar yang memegang botol minuman segera berlari.


"Hei, jangan lari!" Seto bergegas berlari menyusul pria tersebut.


"Apa kau baik-baik saja, Nona?" tanya teman Seto berlagak peduli.


Wanita itu tak berkata apa pun, ia justru langsung menangis tersedu-sedu di bahu teman Seto. Namun, matanya mengerjap lembut seolah memberi sinyal pada kawanannya yang tengah bersembunyi.


"Arght! Siapa kau?" jerit si pencuri memakai bahasa asing sambil menengadahkan kepala. Ia berusaha melepaskan tangan Shohei yang mengalung di lehernya. Namun, usahanya itu justru memudahkan Shohei memborgol sebelah tangannya. Dengan begitu, pencuri itu tak bisa melarikan diri karena mata borgol yang satunya terpasang di pergelangan tangan pria bernama belakang Yamazaki itu.


"Kami dari kepolisian Metro, menyerahlah!" ucap Shohei menunjukkan lencana kepolisian miliknya.


Di sisi lain, aksi kejar-kejaran terjadi antara Seto dan salah satu komplotan pencuri. Tampaknya, pencuri itu benar-benar tak menyangka jika ia akan terus dikejar target mereka. Fisik Seto yang terbilang bagus ditunjang pernah meraih medali emas di bidang olahraga lari dalam kejuaraan olimpiade Tokyo, membuatnya mampu berlari cepat dan mengejar si komplotan pencuri.


Ketika pelaku pencurian itu berlari ke bawah jembatan, Seto lantas memotong arah lari dengan melakukan lompatan indah. Pria berbadan besar itu terkesiap ketika mendengar bunyi sirene. Saat hendak berbalik, Seto datang menghadang dan langsung meringkusnya.


Begitu juga dengan teman Seto, ketika wanita komplotan pencuri itu menangis untuk mengalihkan perhatian, justru wanita itulah yang masuk perangkap jebakannya. Bukan hal yang sulit bagi kepolisian Metropolitan untuk membekuk pelaku kejahatan yang meresahkan akhir-akhir ini. Terbukti, enam pelaku dari dua titik tempat kejadian berhasil diamankan dalam satu malam. Mereka langsung digiring ke Departemen Kepolisian Metropolitan untuk dimintai keterangan.


Keesokan harinya, enam pelaku langsung diinterogasi detektif Shu. Polisi kesulitan mengambil keterangan karena pencuri-pencuri itu tidak lancar berbahasa Jepang. Tiga di antaranya berasal dari Thailand, sementara lainnya berasal dari Vietnam, Filipina, dan Myanmar.


Shohei berjalan menuju ruang interogasi bersama Inspektur Heiji. Detektif Shu justru keluar dari ruangan itu dengan tergesa-gesa.


"Adakah di sini yang mengerti bahasa Thailand?" tanya detektif Shu.


Polisi-polisi itu menggeleng. Tiba-tiba, Shohei teringat Rai. Setahunya, pria lulusan Universitas Tokyo itu menguasai beberapa bahasa. Rai juga bercerita pernah menetap di Thailand selama enam bulan. Meskipun Shohei tak tahu alasan pria itu menetap di sana karena melakukan penipuan terhadap salah satu pengusaha.


"Apakah mereka sama sekali tak mengerti bahasa Jepang?" tanya inspektur Heiji sambil menggaruk-garuk kepalanya.


"Biar aku yang menginterogasi mereka. Aku akan meminta tolong pada kenalanku untuk menerjemahkan secara langsung," ucap Shohei sambil mengambil ponsel dan bergegas menghubungi Rai.


Sepuluh menit kemudian, Shohei dan inspektur Heiji masuk ke ruang interogasi. Ia menelepon Rai untuk membantu mereka berkomunikasi dengan pelaku. Rai memakai efek suara perempuan saat berbicara di telepon. Untungnya, Shohei telah lebih dulu menjelaskan padanya tentang kasus ini saat berada di luar ruangan tadi.


Rai mulai menerjemahkan secara lisan setiap kalimat yang keluar dari mulut pelaku. Mereka adalah buruh yang bekerja di perusahaan Hayase Grup. Perusahaan itu dimiliki oleh menteri sosial yang bernama Hayase Kento. Atas terjemahan Rai, diketahui para pelaku adalah tenaga kerja asing yang melarikan diri dari pabrik tempat mereka bekerja.


"Mengapa datang jauh-jauh untuk bekerja kemudian melarikan diri?" tanya Heiji mengerutkan dahi.


Rai menerjemahkan pertanyaan Heiji dalam bahasa Thailand. Salah satu pelaku langsung menjawab dengan raut wajah melemah.


"Kami bekerja di pabrik empat belas jam per hari. Kami digaji 80.000 Yen dalam sebulan dengan jam kerja enam hari per Minggu," ucap Rai kembali menerjemahkan pengakuan pelaku.


"80.000 Yen dalam sebulan dengan jam kerja seperti itu? Apakah mereka memperbudak manusia?" Heiji terlongong-longong begitu mengetahuinya.


"Ini sudah melanggar undang-undang. Negara hanya memperbolehkan perusahaan memberi jam kerja delapan jam per hari, tapi mereka bekerja empat belas jam per hari. Dan gaji mereka merupakan pelanggaran nyata pada upah minimum," ucap Shohei dengan sorot mata tajam.


Salah satu wanita yang merupakan kawanan perampok itu berkata dengan mata yang berapi-api. Namun, mimiknya mendadak sedih saat menjelaskan semuanya ke dalam bahasa Thailand.


"Kami sering mendapatkan intimidasi dan diskriminasi saat bekerja. Kami meninggalkan negara dan keluarga kami. Kami datang ke Jepang dengan membawa sejuta mimpi. Tapi kami tidak diperlakukan seperti manusia. Tenaga kami dikuras, bahkan tidak diizinkan mengambil cuti ataupun mengundurkan diri karena terikat kontrak. Karena sudah tak tahan, kami pun melarikan diri dan hidup sebagai gelandangan. Orang Jepang sangat jahat, merekalah yang membuat kami seperti ini." Wanita itu terisak saat menceritakan awal mula mereka menjadi pencuri.


Pada intinya, alasan mereka melakukan itu untuk bertahan hidup. Sebab, mobil-mobil yang berhasil mereka curi, dijual kembali dengan harga miring ke peminat barang gelap. Hasilnya dibagi rata ke rekan-rekan mereka yang berjumlah puluhan orang-orang.


Hayase Grup ... Hayase Kento ....


Mata Shohei memicing seketika, pasalnya pemilik perusahaan tempat para pencuri itu bekerja masuk dalam daftar pejabat hitam yang ia simpan.


.


.


.


Nemu foto Shohei pake seragam.



.


Catatan penulis ✍️✍️✍️


80.000 Yen itu kalau diRupiahkan sekitar sepuluh juta ya, dan itu sedkit bagi ukuran pekerja Jepang. karena upah minimum di sana tuh 20jutaan. wajar ya, biaya hidup di sana mahal.


Novel ini sama rumitnya dengan novel Gomen, Aishiteru. Rumitnya itu berasa sama aku sih, bukan sama kalian. Karena aku harus bikin masalah, dan harus menyelesaikan masalah itu juga.


Terus, beberapa pembaca bilang akhir-akhir ini chapter jadi sedikit. Masa? selama aku nulis empat novel di sini, tiap chapter selalu lebih dari 1000 kata, gak pernah di bawah 1000 deh. Bahkan sering nembus 2000 kata dan inti cerita selalu ada di tiap chapter. jadi bukan pembahasan kosong yang sengaja dibuat untuk manjang-manjangin bab/cerita, atau asal update aja biar viewer naik, gak gitu konsep novelku 😉.


Btw, aku asli ngakak, di novel ini kayaknya kalian baca serius banget ya, nemu kalimat aneh langsung disangka clue 🤣👍🏻 salut aku. Pasti karena efek baca Always Remember yang kena bom twist, ya? 🤣🤣


Apa pun itu, kalian adalah harta karunku karena kalian pembaca cerdas. Terima kasih karena tidak pernah menjadi Toxic Reader. I'm proud of u ❤️