Never Not

Never Not
Ch. 139 : Aishiteru



10 Chapter menuju akhir


.


.


.


..."Ketika kau mencintai seseorang, kau akan menganggap dirimu benar dan semua orang salah. Jangan cepat mengambil keputusan, apalagi meninggalkan orang yang mencintai kita demi orang yang belum tentu membalas perasaan kita."...


...~Kei Ayano~...


...----------------...


Shohei dan Seina tiba di kondominium yang sejak awal direncanakan untuk jadi tempat tinggal mereka. Saat kaki Seina melangkah masuk, suasana familiar dapat dirasakannya karena ini yang kedua kali ia mengunjungi apartemen itu. Tak ada yang berubah. Tata letak dan perabotan masih sama seperti saat ia menginjakkan kaki pertama kali. Termasuk lukisan pria yang memegang setangkai bunga Camelia dan sosok misterius di belakangnya yang menyerupai bayangan.


"Aku tidak punya anggur. Semua koleksi minumanku hanya sampanye," ucap Shohei dari meja bar mini.


"Tidak masalah," jawab Seina yang kemudian memilih duduk bersimpuh di bawah sofa.


Shohei berjalan ke arahnya sambil membawa sebotol sampanye dan dua gelas kristal bertangkai. Pria itu duduk di depan Seina sambil membuka tutup botol. Baru saja hendak menuang sampanye, Seina malah merebut botol tersebut lalu mengambil alih menuangkan minuman beralkohol itu ke dalam gelas.


"Aku baru tahu kalau shohei-kun pecinta sampanye."


"Bukan aku, tapi ... Black Shadow. Ini aku sediakan untuknya," balas Shohei tanpa berusaha menutupi jati dirinya sebagai pengendali Black Shadow.


Pada saat itu juga, botol sampanye yang dituang itu berhenti mengalir. Mendengar nama Black Shadow, perasaan bersalah sontak menyelimuti dirinya. Mengingat, ada banyak momen yang membawanya bertemu dengan pria bertopeng itu tanpa sepengetahuan Shohei. Parahnya, mereka selalu berciuman setiap kali bertemu.


"Arigatou," ucap Shohei seraya meneguk sampanye di gelas yang baru saja diisi Seina.


Shohei meletakkan gelasnya yang telah kosong dan Seina langsung kembali menuangkan sampanye. Ia juga menuangkan sampanye di gelasnya.


"Arigatou," ucap pria itu sambil kembali menyesap dengan perlahan. Pikirannya seakan tak menetap, malah bercabang ke mana-mana. Mengingat kematian Seto yang terlalu tiba-tiba, keadaan Ai yang masih kritis, dan nasib empat rekannya yang bersembunyi. Semua itu membuatnya tak bisa rileks.


Begitupun dengan Seina. Hari ini sungguh membuatnya syok, di mana ia mengalami penyekapan, hampir dihadapkan dengan kematian, hingga mengetahui sosok di belakang Black Shadow selama ini adalah kekasihnya sendiri.


Keheningan menerpa keduanya hingga beberapa menit terlewati begitu saja. Shohei melirik ke arah Seina yang hanya tertunduk diam. Bahkan minuman di gelasnya belum habis.


"Gomen, pasti ini sungguh membosankan untukmu," ucap Shohei dengan suara berat.


Seina menggeleng. "Sejak kematian ayahku, aku sudah terbiasa dengan suasana hening seperti ini."


"Gomen, aku belum bisa mengungkap kasus kematian ayahmu."


"Jangan terus mengucapkan maaf dan terima kasih. Kalimat itu terlalu bagus untukku," ucap Seina lirih.


"Wakatta (baiklah)," ucap Shohei singkat.


Seina kembali menuang sampanye di gelas Shohei yang kosong. Shohei menyesap cairan itu lagi sambil memerhatikan Seina yang tengah menatap ke sekeliling ruangan. Mata gadis itu kembali berlabuh pada satu-satunya lukisan dinding yang ada di apartemen itu.


"Tempat ini ... dipilihkan oleh Black Shadow. Bahkan interior ruangan ini juga dipilihkan olehnya. Dia juga memasang lukisan itu untuk mengenang awal kesepakatan kerjasama kami terbentuk. Letaknya di Tokyo Skytree. Aku menunggunya di puncak menara setiap misi kami berjalan lancar. Kami melakukan perayaan kecil dengan sebotol sampanye," tutur Shohei dengan suara yang lemah.


Ini terlalu mengejutkan untuk Seina. Mengetahui kenyataan bahwa kekasihnya adalah sosok yang berada di belakang Black Shadow selama ini—pria yang membuatnya tergila-gila. Bahkan, di saat ia sibuk mengejar pria bertopeng itu, ia tak menyadari ada perempuan lain yang begitu mengagumi kekasihnya.


"Shohei-kun," panggil Seina tiba-tiba.


Shohei langsung menatap Seina yang menunduk dengan kedua tangan yang mengepal di sisi pahanya.


"Ano ... begini ...." Seina memperbaiki posisi duduk sebagai pengalihan rasa gugup yang tiba-tiba menghampirinya. "Aku rasa ... aku perlu jujur padamu. Kau berhak mengetahui ini," ucapnya lambat-lambat sambil tetap menunduk.


"Jika itu sesuatu yang buruk untuk didengar, lebih baik kau simpan saja. Terkadang, ketidaktahuan itu adalah sebuah kebahagiaan," ucap pria itu.


Seina menggeleng. "Tidak. Aku tidak bisa. Menyimpan semua ini, karena ... hanya akan membuatku merasa bersalah padamu."


"Lalu ... apakah setelah kau memberitahukan itu padaku, kau yakin semua akan baik-baik saja? Kau ingin menghilangkan rasa bersalah dalam dirimu, tapi kau lupa apa yang kau ungkap bisa saja menyakitiku. Bukankah itu egois?" tanya Shohei seraya menatap nanar ke arah Seina.


Seina menaikkan pandangannya, membalas tatapan Shohei dengan mata berkaca-kaca. "Shohei-kun, apakah kau ... telah mengetahuinya?"


Shohei mengalihkan pandangannya, meneguk sisa sampanye di gelasnya. "Jika boleh memilih, aku tidak ingin mengetahui apa pun."


"Gomen, gomennasai ...." Suara perempuan itu terdengar lirih dan hampir hilang. Setitik air mata mulai jatuh di pipinya dan membasahi meja kaca.


"Yamette!"


(Yamette: hentikan)


Seina kembali menundukkan kepala hingga wajahnya tak terlihat. "Aku telah mengkhianatimu."


Shohei menengadahkan kepalanya, tak ingin membiarkan matanya yang berkaca terlihat oleh Seina. "Yamette!"


Pria itu meninggikan nada suaranya. "Sudah kubilang, aku tidak ingin mendengarnya lagi! Aku sudah melewati masa-masa patah hati. Jadi, tolong jangan ingatkan lagi!"


Keduanya sama-sama terdiam, hanya saling memandang pilu.


"Tentang hubungan kita selanjutnya, kuserahkan kau yang memutuskannya," ucap Seina sambil menyeka air mata.


"Sebaiknya kita putuskan bersama," tandas Shohei, "apa kau masih ingin bersamaku atau tidak?"


Seina tergugu. "Aku tidak punya hak," tolak Seina.


"Jawabanmu akan menjadi jawabanku juga," sambung Shohei pelan.


Seina membasahi bibirnya, lalu berkata, "aku sangat egois jika menginginkan kau dapat menerimaku kembali." Ia menjeda kalimatnya hanya untuk menarik napas, lalu kembali berkata, "Aku juga tidak berharap kau memberiku kesempatan lagi. Kau pantas mendapatkan lebih baik dariku. Ini ... adalah jawabanku."


Shohei memandang sayu netra Seina yang dipenuhi genangan air mata. Pria itu mengangguk pelan, lalu berkata dengan nada serak. "Wakatta. (Baiklah)"


Hanya satu kata itu. Tidak ada tambahan kata lainnya. Namun, cukup mengartikan bahwa ia menerima keputusan Seina.


Seina lalu mengambil ponselnya. Sengaja menggerakkan jari jempolnya di atas layar. "Aku akan meminta supir menjemputku. Terima kasih sudah menerimaku bertamu di sini. Aku akan selalu mendukungmu. Sayonara ...."


Shohei mengangguk pelan. Apalagi yang bisa ia katakan? Nyatanya semua sudah berakhir!


Hening seketika. Perempuan itu benar-benar pergi setelah mengucapkan kalimat perpisahan singkat. Sayonara!


Sementara, Shohei masih mematung dengan mulut yang terkatup rapat. Namun, otaknya seolah memutar kembali kenangan antara dirinya dan Seina. Sejenak, pandangannya tertuju pada tempat yang baru saja diduduki Seina. Lalu beralih menatap botol sampanye kosong yang tadinya gadis itu tuangkan untuknya. Tak hanya itu, ia juga menatap sekeliling kediamannya. Bukankah kondominium ini, ia persiapkan untuk hidup bersama Seina?


Menyadari tujuannya selama ini adalah Seina, ia pun berdiri lalu keluar dari apartemennya, meninggalkan botol sampanye kosong yang tergelinding ke lantai karena tersenggol tangannya. Pria itu lari tergesa-gesa keluar gedung agar bisa segera menyusul Seina. Sayangnya, gadis itu sudah tak ada di sana. Ia pun berlari ke jalanan, dengan kepala yang menengok ke kiri-kanan, dan mata yang berkeliling ke segala penjuru.


Tepat saat ia meluruskan pandangan, manik matanya menangkap sosok Seina yang berdiri mematung di seberang jalan.


"Seina-chan! Seina!" teriak pria itu. Sayangnya, perempuan itu sama sekali tak menoleh. Yang terlihat di matanya saat ini adalah gadis itu tak henti-hentinya mengusap air mata.


"Seina!" panggilnya sekali lagi sambil menyebrang, tak peduli padatnya kendaraan yang terus melintas dan hampir menabraknya.


Ketika jarak mereka hampir dekat, akhirnya Seina dapat mendengar suara familiar yang terus memanggilnya. Ia pun menoleh ke samping, diikuti mata yang melebar karena melihat Shohei berdiri di zebra cross.


"Shohei-kun." Seina segera menghampirinya. Ia terkesiap menatap peluh yang bercucuran di wajah pria itu.


Shohei menatap lamat-lamat netra hitam seina. Dengan napas yang terengah-engah, ia berkata, "Seina-chan, dengarkan aku! Sedari awal, aku katakan padamu kalau aku ini tidak romantis. Aku bodoh dalam hal percintaan dan aku selalu gugup berhadapan dengan wanita yang kusukai. Tapi, kali ini aku akan memberanikan diri mengungkapkannya padamu." Shohei menjeda ucapannya hanya untuk menarik napas dalam-dalam, "Aishiteru ... aishiteru ... aishiteru." Ia mengucapkan kalimat itu sebanyak tiga kali tanpa rasa gugup. "Aku ingin mengatakan kata yang lebih romantis dan kalimat yang lebih panjang, tapi sayangnya aku hanya bisa mengatakan itu. Gomen ...." Shohei menunduk.


Bibir Seina bergetar menahan tangis yang bercampur rasa haru. "Aku tidak layak menerima cintamu."


"Aishiteru."


"Berikan kata-kata itu pada perempuan yang pantas."


"Hanya kau yang pantas mendapatkannya."


"Perempuan bukan hanya aku saja!"


"Tapi hanya kau yang kucintai."


"Jangan bodoh seperti ini!"


Shohei langsung membungkusnya dengan sebuah pelukan. "Saat dayaku sudah diambang batas, aku tetap memilih untuk terus mencintaimu. Bahkan, jikalau aku harus mengulang hari-hari yang telah berlalu, aku tetap memilih untuk kembali jatuh cinta padamu."


"Shohei-kun ...." Seina tak mampu berkata-kata lagi.


Shohei semakin mengencangkan pelukannya. "Meski kau mungkin tak memiliki perasaan yang sama, setidaknya ingatlah ada lelaki seperti ini yang sangat payah mencintaimu."


Seina membalas pelukan Shohei, memejamkan mata dalam-dalam lalu berkata, "Shohei-kun, Aishiteru Yo."


Mereka berpandangan dengan kedua tangan yang saling menangkup wajah. Hidung keduanya yang bersenggolan, cukup menjadi bukti betapa dekatnya jarak wajah mereka saat ini. Entah siapa yang memulai duluan, mata mereka tiba-tiba terkulai seiring bibir keduanya akan bertemu. Sialnya, bunyi klakson mobil yang datang dari arah depan menggagalkan semua itu. Shohei dan Seina pun tersadar jika mereka sedang berada di tengah jalan, di mana lampu aba-aba untuk pejalan kaki yang hendak menyeberang telah beralih menjadi lampu untuk kendaraan melintas.


.


.


.


Catatan author.


FYI Gays, pas Jumat kemarin dunia Jepang dihebohkan dengan tewasnya mantan perdana menteri Shinzo Abe. Ia ditembak saat sedang melakukan orasi di jalanan. Shinzo Abe ini perdana menteri terlama di Jepang. Masih belum ditahu apa penyebab ia ditembak. Kemungkinan besar ini (baru asumsi) serangan dari lawan politiknya ya, mengingat beliau memiliki kekuatan dominan di Jepang.


Jadi gays, terlepas dari kasus mantan PM Jepang ini, politik sesungguhnya itu memang kejam ya, gays. Ada beberapa readers yang bertanya-tanya apakah sosok seperti Kazuya Toda sang antagonis utama ini ada di dunia nyata?


Jangan naif. Sejak jaman kerajaan, kekuasaan dan tahta itu direbut dengan mengorbankan darah banyak orang. Perpindahan kekuasaan dari orla ke orba juga memakan banyak nyawa tak bersalah. Come on, gays, mulai sekarang buka mata lebar-lebar. Jangan hanya lihat sekelilingmu, tapi edarkan juga pandangan ke seluruh dunia. Gua akan selalu mengajak kalian berpikir luas.