
Yamamoto Sasuke membuka pintu kamar adiknya dengan perlahan. Tepat saat kakinya masuk ke ruangan itu, Black Shadow yang bersembunyi di balik pintu, langsung menyerangnya dari arah belakang. Sialnya, Yamamoto Sasuke dapat menangkis serangan dadakan itu dengan balik menjegal hingga membuat Black Shadow terbanting ke lantai.
Hal itu tentu membuat Shohei bereaksi. Ia yang dapat melihat melalui kamera pengintai, lantas mengubah posisi duduknya lebih tegak.
"Pria itu ... judoka tingkat tinggi!" ucap Shohei sambil mengingat lebam yang terdapat di leher jenazah perawat magang. Ini membuktikan Yamamoto Sasuke sendiri yang menyerang adiknya sebelum terjatuh ke lantai.
Black Shadow melenguh. Wajah kesakitannya tersapu, berganti dengan senyum berbahaya yang mengeluarkan aura menakutkan. Ia segera berdiri dan langsung berkonfrontasi dengan pria itu. Tanpa aba-aba, kedua orang itu saling serang dan beradu kekuatan masing-masing. Black Shadow melindungi kepala dengan kedua tangannya, saat kepalan lima jari Yamamoto Sasuke mengarah padanya. Pada pukulan kedua, ia menunduk cepat sehingga tangan Yamamoto Sasuke malah bersalaman dengan tembok.
"Siapa kau? Apa tujuanmu ke sini?" Yamamoto Sasuke menyelipkan pertanyaan di sela-sela perkelahian mereka.
"Hah? Apa kau baru turun dari gua? Kau tidak mengenalku?" Black Shadow tampak kesal karena untuk orang seterkenal dirinya, ternyata masih ada yang tidak mengenali.
"Oh ... jadi kau yang disebut Black Shadow itu? Apa niatmu datang ke rumahku?"
"Kurasa kau telah mengetahui alasannya. Jika tidak, mana mungkin kau terus menyerangku seperti ini," ujar Black Shadow sambil terus menghalau pukulan pria itu.
"Jangan suka mencampuri urusan orang! Aku tak memintamu untuk mengusut kematian adikku," hardiknya sambil tak berhenti memukul.
"Woah, benarkah? Mencurigakan sekali, ya?" ledek Black Shadow.
Sebuah tendangan berteknik mengenai perut Black Shadow hingga membuatnya tersudut. Tak mau kalah, ia membalas dengan melayangkan pukulan tinju ke wajah Yamamoto Sasuke. Darah segar mengalir disudut bibir pria itu. Ia langsung menarik kerah jubah Black Shadow, sedikit mengangkat tubuhnya kemudian membanting kembali.
Black Shadow langsung terhempas keluar dari kamar itu. Tak puas, Yamamoto Sasuke mengangkat kursi besi lalu melemparnya ke arah Black Shadow. Untungnya, pria bertopeng itu segera berguling ke samping untuk menghindar.
Black Shadow berdiri, lalu memberikan serangan pukulan bertubi-tubi yang tentu saja dapat dihindari Yamamoto Sasuke dengan mudah. Pria itu membalasnya dengan satu tendangan yang membuatnya terhuyung ke dinding. Yamamoto Sasuke mendorong meja makan ke arah Black Shadow. Pria bertopeng itu bergegas meloncat menaiki meja, lalu memberi tendangan memutar tepat di rahang lawannya.
Yamamoto Sasuke terjerambab dekat wastafel. Ia berdiri lalu berjalan cepat ke arah dapur untuk mengambil pisau. Black Shadow tampak hati-hati saat pria di hadapannya itu maju mendekat dengan sebilah pisau di tangannya. Benda runcing yang mengkilap dan tajam seakan ikut menatapnya.
Yamamoto kembali menyerang dengan bantuan pisau. Black Shadow mencoba menghindari benda tajam yang terus mengejarnya ke segala arah. Ia mengunci tangan lawannya, berusaha menjatuhkan pisau yang berada dalam genggamannya. Namun, Yamamoto Sasuke dengan cepat memindahkan pisau itu ke sebelah tangan lalu menyayat lengan kiri Black Shadow.
Black Shadow mengeram perih sambil memegang lengannya yang telah mengeluarkan darah.
"Black, ada apa denganmu?" tanya Mr. White yang sedari tadi memantau perkelahian mereka. Sayangnya, ia tak melihat ketika Yamamoto menyayat lengan partnernya itu dari arah samping.
Black Shadow sengaja tak menjawab karena tak ingin membuat Mr. White khawatir. Sedikit lengah, pisau itu hampir saja tertusuk kembali ke tubuhnya. Beruntung, ia dapat menangkis kembali. Yamamoto Sasuke menendang perut Black Shadow hingga membuatnya terlempar keluar di jendela balkon. Suara kaca yang pecah memekik telinga beriringan dengan terjatuhnya pria itu.
Black Shadow berusaha berdiri di antara tumpukan serpihan kaca jendela yang pecah. Detik berikutnya, Yamamoto Sasuke berlari ke arah Black Shadow sambil menghunuskan pisau. Secara bersamaan, Black Shadow turut mengulurkan tangannya ke arah pria itu. Dalam hitungan detik, tubuh Yamamoto Sasuke melemas hingga terkapar di lantai. Ia tak sadarkan diri. Bibir Black Shadow meringkuk ke atas, menciptakan seringai jahat. Di tangannya, terdapat sebuah alat kejut setrum. Ya, alat itulah yang baru saja dipakai untuk melemahkan Yamamoto Sasuke.
Untuk seseorang yang baru mempelajari teknik-teknik beladiri selama beberapa bulan, tentu Black Shadow belum mampu menyamai kehebatan Yamamoto Sasuke. Namun, sekali lagi, pria yang merupakan mantan penipu ulung itu selalu memiliki cara cerdik melumpuhkan lawannya.
Black Shadow menyimpan kembali alat kejut setrum ke dalam sakunya.
"Kerja yang bagus, Black! Sekarang, kembali ke kamar mendiang gadis magang lalu coba kau cek apakah ada flash disk di laci samping meja kerjanya!" Suara Shohei kembali bergema pasca Black Shadow berhasil melumpuhkan Yamamoto Sasuke.
Black Shadow bergegas masuk kembali ke kamar tersebut, dan mengikuti instruksi Shohei. Ia tersentak ketika melihat sebuah flash disk benar-benar tersimpan di sana.
"Ambil flash disk itu! Kemungkinan file-nya tersimpan di sana."
"Bagaimana kau bisa mengetahuinya?" tanya Black Shadow sambil memegang lengannya yang terus meneteskan darah.
"Saat melihatmu di kamar adiknya, matanya langsung mengarah ke laci tersebut. Ketika seseorang berada di situasi genting, secara tak sadar ia akan melihat apa yang dianggapnya penting," ucap shohei dengan bibir yang merajut seutas senyum.
Usai menjalankan tugasnya, Rai pun kembali ke apartemennya. Saat baru saja hendak membuka mantel, secara tiba-tiba Yuriko masuk ke kamarnya.
"Hei, bisakah kau mengetuk pintu sebelum masuk?" komplain Rai.
Tak peduli dengan ocehan Rai, Yuriko malah memeriksa tubuh pria itu dari atas ke bawah. Ketika hendak memutar tubuhnya, Rai lantas merintih sembari memegang lengan.
"Ada apa dengan lenganmu? Apa yang terjadi padamu?" tanyanya sambil mengangkat lengan pria itu.
Rai bergeming.
"Aku melihat tanda tetesan darah sepanjang jalan koridor apartemen dan darah itu berhenti tepat di depan kamarmu," ucap Yuriko dengan tatapan serius.
"Aku ... dicopet."
"Aku juga heran, mereka lumayan nekad."
"Kenapa ada copet sebodoh itu? Seharusnya dia tahu tak ada yang bisa dirampas darimu."
"Dia tidak salah, karena dari wajahku saja aku terlihat seperti orang berada."
Yuriko memutar bola matanya ke atas sambil mengangkat ujung bibirnya.
"Dari pada menunjukkan wajah jelekmu itu, lebih baik bantu aku perban lukanya."
Yuriko mengangguk pelan lalu mengambil kotak medis. Rai kemudian membuka mantel dan kaus hingga menampilkan tubuh setengah telanjang yang terpahat sempurna itu.
Rai memosisikan duduk di samping Yuriko. Ia merintih kesakitan saat Yuriko mulai membersihkan luka sayatan di lengannya. Gadis itu mulai membalut luka dengan penuh hati-hati.
"Aaarrrgghhtttt ....."
"Diamlah! Jangan seperti anak kecil," ujar Yuriko, "lukanya cukup dalam. Sepertinya ini dilakukan dari jarak yang sangat dekat."
Rai terdiam. Ia memerhatikan ekspresi Yuriko yang tampak serius.
"Omong-omong, apa kau menonton tayangan Black Shadow hari ini?" tanya pria itu.
"Ya, dia menguasai semua media digital, bagaimana aku tidak menontonnya?!"
"Jadi menurutmu, kira-kira calon gubernur mana yang dimaksud Black Shadow?" Rai mencoba mencari tahu tebakan gadis itu.
"Entahlah! Aku tidak peduli! Siapapun yang memimpin, tidak akan memengaruhi kehidupan keluargaku," ketus gadis itu bersikap apatis. Usai mengobati luka, Yuriko pun berdiri sambil merapikan kembali alat medis.
"Arigatou, Yu-chan. Kurasa kau cocok jadi perawat, tapi khusus merawatku," cengir Rai.
Kali ini Yuriko hanya tersenyum masam atas celotehan pria itu.
"Lain kali lebih hati-hati!" ucapnya sambil hendak pergi.
"Ah, kudengar dari Shohei, Yu-chan terlihat pandai bela diri."
Langkah Yuriko mendadak terhenti. Dia kembali tersenyum. "Kebetulan aku pernah menjadi ketua kelab karate dan memanah," jawabnya singkat.
"Benarkah? Apa kau bisa mengajariku?" Rai berdiri penuh semangat. Ia menyadari belum banyak menguasai teknik-teknik bela diri. Sementara Shohei selalu memperingati bahwa lawan mereka semakin kuat.
"Maaf, tidak bisa!" tolaknya yang langsung pergi.
"Woah, cepat sekali jawabannya!" Rai menyeringai kesal. Sesaat, ia menoleh ke luka yang baru saja diobati Yuriko.
Keesokan harinya, Black Shadow kembali menduduki puncak teratas berita terhangat. Beberapa berita tentang dugaan keterlibatan salah satu calon gubernur Tokyo pun turut terbit pagi ini. Di media sosial, perang sesama pendukung masih terjadi. Beberapa buzzer yang dikerahkan pejabat misterius cukup efektif.
Sebuah akun anonim mengunggah foto salah satu calon kandidat gubernur bersama gadis-gadis muda. Hal ini tentu membuat publik menuding kandidat itulah yang dimaksud Black Shadow.
Melihat Black Shadow kembali menjadi perbincangan di mana-mana, membuat hati Seina kembali goyah. Pria itu selalu hadir saat ia berusaha melupakannya. Pengaruhnya begitu kuat, sehingga ia tak mampu menepis dalam hati dan pikirannya.
"Hei, Pria Perusak Jantung! Apakah kita akan dipertemukan kembali?" gumam gadis itu seraya menatap cuplikan siaran ulang Black Shadow yang tayang di berita utama Tokyo.
.
.
.'
like+komen