Never Not

Never Not
Ch. 85 : Cecaran Kei



Siang ini, masing-masing kandidat gubernur mengadakan konferensi pers untuk menjawab tudingan yang beredar di media sosial. Termasuk Akabane Ayumi sendiri. Meski pejabat misterius yang membantunya telah meminta untuk tenang, tetapi para tim sukses dan pendukungnya meminta ia untuk ikut melakukan konferensi pers. Ia memilih salah satu hotel mewah sebagai tempat mengadakan tanya-jawab wartawan.


Kei Ayano turut menghadiri konferensi pers yang diadakan satu-satunya kandidat gubernur wanita itu. Ia bersama puluhan jurnalis telah duduk rapi sembari menunggu kedatangan Akabane Ayumi.


Akabane Ayumi pun tiba dan langsung menaiki mimbar. Di hadapan puluhan wartawan, ia mengonfirmasi bahwa dirinya tidak terkait dengan isu apa pun yang sedang beredar luas di masyarakat. Meski begitu, ia tetap mendapat cecaran dari para wartawan.


Akabane Ayumi menjawab pertanyaan para wartawan dengan tegas dan lugas. Sambil tersenyum elegan, ia memaparkan kembali visi misinya untuk kota Tokyo di masa yang akan datang.


"Ya, apakah masih ada pertanyaan?" tanya seseorang yang mendampingi Akabane Ayumi.


Kei Ayano lantas mengangkat tangannya.


"Douzo (silakan)!" Pria itu mempersilakan Kei berbicara.


Kei pun mulai menggunakan hak bicaranya. "Ayano dari J-news TV. Ini terkait proyek Tokyo yang diselenggarakan tahun lalu, tapi menjadi mangkrak karena Kensei Abe-san selaku pemenang tender waktu itu tertangkap Black Shadow sedang menyuap seorang jaksa."


"Mohon persingkat pertanyaan Anda!" pinta lelaki pendamping Akabane Ayumi.


"Baik. Dari data yang saya dapat, Anda adalah kuasa hukum Kensei Abe saat memenangkan tender dan mengelola proyek."


Akabane Ayumi langsung memotong pertanyaan Kei. "Saya hanya menjadi kuasa hukum sementara. Apakah itu lantas membuat saya ikut terlibat dengan kasusnya?"


"Bahkan saya belum mengatakan apakah saya menduga Anda terlibat atau tidak," tangkas Kei dengan pandangan lurus ke arah Akabane Ayumi.


Merasa tertohok, Akabane Ayumi kembali memperlihatkan senyum menawannya. "Lalu, apa yang ingin Anda tanyakan?"


"Dalam laporan resmi kejaksaan, nama Anda dihilangkan sebagai orang-orang yang ikut bertanggung jawab atas proyek itu. Itu terjadi setelah Kensei Abe tertangkap basah sebagai target kelima Black Shadow. Bahkan jika Anda tidak terlibat, tidak perlu sampai mencoret nama sebagai orang yang pernah bekerja sama dengan Kensei Abe, bukan?Bagaimana Anda menjelaskan hal ini?"


Pertanyaan tajam yang dilayangkan Kei, sukses membuat wajah politikus wanita itu berangsur-angsur menjadi suram. Sementara ruang konferensi pers menjadi heboh karena informasi yang baru saja dikuak Kei.


Terdiam sebentar, Akabane Ayumi tersenyum tipis sambil berkata, "Tentang penghapusan nama saya sebagai kuasa hukum beliau, saya tidak tahu-menahu."


"Benarkah? Benar Anda tidak tahu-menahu?" selidik Kei, "dalam latar belakang Anda yang beredar luas, disebutkan beberapa tokoh pejabat publik yang memakai jasa Anda sebagai kuasa hukum mereka. Namun, lagi-lagi, tidak ada catatan Kensei Abe di sana." Kei kembali membantainya.


"Sekali lagi saya pertegas, saya tidak tahu tentang hal itu!" ucap Akabane Ayumi yang mencoba tetap santai.


"Oh, lalu apakah ada yang sengaja menghilangkan fakta bahwa Anda pernah ikut dalam proyek mangkrak itu?"


"Anda bisa mencari tahu langsung melalui Badan Keuangan Negara," jawab Akabane Ayumi.


"Maaf, saya rasa yang Anda tanyakan tidak ada kaitannya dengan tema konferensi pers siang ini." Pria yang mendampingi Akabane Ayumi ikut berbicara.


"Tentu ada! Ini bisa menjadi tolak ukur ketidaktransparanan calon pemimpin masa depan."


Setelah terdiam beberapa saat, dan hampir tidak bisa tersenyum, Akabane Ayumi kembali bersuara, "Karena bisa terlibat secara kriminal, saya tidak akan menjawab pertanyaan ini."


"Hah, sanggahan seperti apa itu! Itu artinya dia menolak menjelaskan!" Suara-suara gaduh para wartawan mengisi gedung itu.


"Silakan lanjut ke pertanyaan berikutnya," potong seseorang yang berdiri di samping Akabane.


Kei mengangkat kembali tangannya. "Saya masih punya pertanyaan."


"Silakan yang lain bertanya!" ucap pendamping Akabane Ayumi tanpa menghiraukan Kei.


Tak menyerah, Kei tetap mengangkat tangan kanannya.


"Douzo (silakan)," ucap Akabane Ayumi dengan tangan yang mengarah pada Kei.


"Arigatou. Ayano dari J-news TV. Anda menjadi kuasa hukum Kensei Abe selama proyek itu berlangsung, Apakah Anda yakin benar-benar tidak mengetahui kasus korupsi dan penggelapan dana yang dilakukan Kensei Abe bersama anggotanya?"


"Saya tidak mengetahuinya," ucap Akabane Ayumi dengan wajah yang kelam.


Orang-orang yang menonton konferensi pers secara langsung, kini turut beropini. Pro dan kontra lantas terjadi di sosial media. Beberapa yang pro, menyalahkan Kei sebagai jurnalis yang sengaja mencari-cari kesalahan politikus wanita itu. Sedangkan yang kontra menilai jawaban Akabane Ayumi terkesan seperti ada yang ditutup-tutupi.


"Sekian taklimat pers hari ini." Akabane langsung turun dari mimbar setelah menjawab pertanyaan-pertanyaan para wartawan.


"Wartawan sialan itu keponakan dari Menteri Kehakiman," bisik pria yang mendampinginya.


"Dia dari J-news TV, kan? Kalau tidak salah, pemilik saham terbesar channel itu merupakan pendukung kita. Hubungi dia sekarang, dan mintalah dia menyaring informasi yang akan keluar dari siaran itu!" pinta Akabane Ayumi.


"Baik."


Di ruangannya, Shohei melepas kacamata setelah menonton siaran langsung konferensi pers Akabane Ayumi. Sejenak, wajah pria itu tenggelam pada keseriusan saat mengingat apa yang diucapkan Kei padanya tempo hari.


Tugas jurnalis adalah menyuarakan suara orang-orang yang tidak bisa bersuara di publik.


Kemarin, saat Kei sibuk mencari tahu siapa kandidat gubernur yang memiliki keterkaitan dengan pejabat yang telah disergap Black Shadow, secara tiba-tiba sebuah pesan anonim masuk di e-mailnya. Pesan itu berisi data yang membuktikan jika Akabane Ayumi pernah menjadi kuasa hukum Kensei Abe. Pesan anonim itu sengaja dikirim oleh Shohei dengan tujuan agar Kei mengangkat informasi tersebut ke hadapan publik.


Ponsel Shohei mendadak berdering. Terdapat nama Kei di layar pemanggil, membuat Shohei segera menjawabnya.


"Teka-teki Black Shadow, aku ingin menjawabnya langsung padamu," ucap Kei dari balik saluran telepon, "dia Akabane Ayumi, kan? Tapi, apa kaitannya dengan kematian perawat magang itu?"


Shohei tersenyum kecil. "Aku sangat terkagum melihat kau membantainya tadi."


"Respon netizen di media sosial sangat cepat."


"Itu sudah terjadi." Kei mengembuskan napas kasar, lalu membersit secara tiba-tiba, "aku punya ide. Ini bisa kugunakan untuk membujuk paman tampil di program acaraku."


"Coba saja, semoga berhasil!"


Kei menemui petinggi saluran televisi untuk mengusulkan topik yang akan ia angkat terkait dengan skandal proyek Tokyo yang ikut menyeret nama Akabane Ayumi.


"Bayangkan jika kita duluan mengangkat topik tersebut lalu mengundang menteri kehakiman dan ketua penyidik kepolisian Metropolitan, penonton pasti akan sangat antusias," ucap Kei menggebu-gebu.


Berwajah masam, petinggi saluran televisi itu lalu berkata, "Ayano-san, kita tidak bisa melakukan itu!"


"Kenapa?"


"Mengertilah!"


Kei terdiam. Gigi-giginya saling bergemeretak. Tentu ia paham jika pihak Akabane Ayumi tengah menekan pers agar kasus itu kembali tenggelam.


Sehari setelah konferensi pers tersebut, survei menunjukkan jika elektabilitas Akabane Ayumi sebagai calon gubernur mengalami penurunan tujuh persen.


Tak tinggal diam, Akabane Ayumi bersama tim suksesnya tengah berpikir keras untuk menaikkan kembali elektabilitasnya. Tiba-tiba wanita itu mengingat seorang host utama yang pernah menemaninya minum di kelab malam Starlit. Saat itu, host tampan itu memberi saran agar ia melakukan kampanye terselubung di beberapa universitas untuk mengambil suara para mahasiswa.


"Hubungi rektor universitas Tokyo, Waseda, dan Keio. Katakan pada mereka aku akan mengisi kuliah umum di fakultas hukum mereka!" perintah wanita itu.


Sesuai rencana, tiga hari kemudian, Akabane Ayumi mendatangi universitas Keio untuk memberi mata kuliah umum. Beberapa mahasiswa hukum, termasuk Seina dan kawan-kawannya telah berkumpul di ruang aula besar. Meskipun sebagai mahasiswa tingkat akhir, mereka tetap ingin mengikuti mata kuliah umum tersebut.


"Ah, aku benar-benar tidak menyangka akan bertatap muka dengan Akabane Ayumi. Aku janji tidak akan tidur saat mata kuliah berlangsung," ujar sahabat Seina yang begitu mengidolakan Akabane Ayumi.


"Omong-omong, apa kalian sudah menjawab teka-teki Black Shadow?" tanya salah seorang dari mereka.


"Sudah. Kira-kira kapan Black Shadow muncul lagi, ya?" Salah seorang temannya menatap ponsel lalu bertanya pada Seina, "menurutmu, siapa kandidat yang dimaksud Black Shadow?"


"Aku kurang yakin, tapi entah kenapa aku curiga pada Akabane Ayumi," jawab Seina.


Teman-temannya terperanjat dengan dugaan gadis itu. Di waktu yang sama, Akabane Ayumi memasuki ruangan itu. Seluruh mahasiswa memperbaiki posisi duduk mereka, bersiap untuk menerima mata kuliah dari wanita yang juga berprofesi sebagai pengacara.


Akabane Ayumi mulai memperkenalkan diri serta pencapaian yang telah ia peroleh selama berkarir. Gaya bicaranya yang anggun, membuat para mahasiswa terkesima dengannya. Bagi mahasiswa hukum, Akabane Ayumi tentu sangat menginspirasi mereka. Apalagi, wanita itu mulai dikenal publik saat menjadi pengacara tanpa bayaran bagi kasus-kasus yang butuh keadilan.


Satu jam berlalu, ruangan itu begitu hening, yang mana hanya ada suara Akabane Ayumi sebagai pemateri. Seluruh pandangan mahasiswa fokus ke layar depan.


"Sikap utama yang harus dimiliki seorang pengacara adalah memiliki keberanian," ucap Akabane Ayumi di sela-sela materi yang ia bawakan.


Pintu ruangan mendadak terbuka diiringi dua bodyguard Akabane Ayumi yang jatuh tersungkur dalam ruangan. Sontak, para mahasiswa pun terkejut melihat dua orang berjas hitam itu tampak merintih dengan luka lebam di beberapa bagian wajah mereka.


"Ada apa ini?" tanya Akabane Ayumi.


Berikutnya, sesosok pria bertopeng muncul di depan pintu sambil berkata, "Gomennasai, saya datang terlambat, Sensei."


.


.


.


visual pemeran inti



Rai Matsui



Shohei Yamazaki



Yuriko Aizawa



Seina Matsumoto



Ryo Matsui



Kei Ayano


catatan penulis ✍️✍️


kasus yang dikuak Kei, itu ada kaitannya dengan target kelima Black Shadow gays. ingat ga, chapter pembuka novel ini pas BS mergokin Abe lagi nyogok jaksa?


nah, di AR aku pernah bilang, Rai adalah tokoh favoritku. tapi di sini bukan dia lagi. Ada yang bisa nebak, siapa tokoh favoritku? kalian sendiri, siapa tokoh yang kalian favoritkan di novel ini? tulis di kolom komen ya.