
Ryo yang baru saja pulang lembur kerja, kini menaiki kereta terakhir malam itu. Untuk mengisi kekosongan selama di perjalanan, ia mencoba membuka link berita yang menjadi trending malam ini. Sebab, sepanjang berada di stasiun, ia terus mendengar orang-orang membicarakan tentang Black Shadow dan kematian menteri kehakiman.
Ada banyak artikel muncul di layar pencarian, yang mana semuanya baru diterbitkan beberapa menit bahkan detik yang lalu. Artikel-artikel berita itu membahas tentang Black Shadow yang benar-benar mengeksekusi tuan Matsumoto sebagai pejabat hitam yang kesepuluh.
Ryo tertegun. Cukup lama. Entah kenapa, setiap melihat Black Shadow, ia malah mengingat kakaknya. Walaupun secara karakter, Black Shadow dan kakaknya tentu berbeda jauh. Ia lalu kembali mencari-cari berita terkait.
Kematian menteri kehakiman membuat semua yang terkait dengan kehidupannya mendadak dikupas media, termasuk anak semata wayangnya yang memacari ketua penyidik metropolitan. Hal itu sontak membuat mata Ryo terbelalak. Pasalnya, sosok yang muncul di layar gawainya saat ini adalah wajah Shohei lengkap dengan seragam kepolisian.
Penasaran, ia lalu mencari tahu lebih banyak profil Shohei yang ternyata seorang anak jendral dengan segudang prestasi di dunia penyelidikan. Ia lalu memerhatikan wajah gadis yang disebut anak satu-satunya menteri kehakiman. Jika ia tak salah mengingat, gadis itu yang ia dan Rai lihat bersama Shohei di arena bowling tempo hari.
Laki-laki yang sering bersama oniichan adalah seorang detektif yang menjabat sebagai ketua penyidik Metropolitan?
Mendadak, ingatannya mundur kembali di waktu Rai baru saja menghirup udara bebas dari sel yang membelenggunya.
"Oniichan, bagaimana kau bisa bebas dari segala tuntutan hukum?"
"Ini berkat seorang detektif hebat di metropolitan. Dia tertarik dengan kasusku dan berhasil mengungkap yang sebenarnya. Yuta dan Haru bahkan tidak berkutik dan harus membayar denda atas tuduhan palsu."
"Benarkah? Siapa detektif itu? Aku ingin mengucapkan terima kasih padanya secara langsung."
"Kau tidak perlu tahu. Yang penting aku sudah bebas."
Ryo langsung menutup link berita tersebut sambil menggeleng-gelengkan kepala, seakan hendak membuyarkan pikiran negatif yang mulai menggerogoti pikirannya. Ya, hingga detik ini, ia meyakini pria berseragam polisi itu memiliki hubungan istimewa dengan kakaknya. Ia juga merasa Rai memiliki perasaan romantis terhadap pria itu.
Sekitar jam sebelas malam, Ryo sampai di hunian apartemennya yang cukup mewah. Baru saja keluar dari lift, ia tersentak melihat Rai berdiri di samping pintu huniannya dengan wajah pucat.
"Oniichan, apa yang kau lakukan di sini?" tanya Ryo kaget karena selama ini Rai tak pernah mendatangi apartemennya.
"Aku baru pulang kerja dan mau bermalam di sini. Boleh, kan?" ucap Rai mencoba menyembunyikan apa yang terjadi sebenarnya. Melihat Kematian tuan Matsumoto di depan mata, membuatnya sangat terpukul. Pasalnya, secara otomatis dialah yang dituduh sebagai pembunuh pejabat menteri tersebut. Untuk pulang ke apartemennya sendiri pun, ia tak berani.
"Tentu saja boleh!" Ryo melebarkan senyum, menerima kedatangan kakaknya dengan senang hati. Pria itu menekan password pintu lalu mengajak Rai masuk.
"Ryo, apa ada sesuatu yang bisa kumakan?" tanya Rai sambil berjalan menuju dapur, kemudian membuka kulkas dan mengobok-obok isinya layaknya orang kelaparan.
"Oniichan tidak memberitahu kalau ingin bermalam di sini. Andaikan aku tahu, pasti aku pulang membawa makanan favoritmu."
Rai membuka setiap lemari kitchen set, kemudian menemukan mie cup instan. "Aku makan ini saja."
Di sisi lain, Yuriko berjalan mondar-mandir sambil mencoba menghubungi Rai. Sayangnya, sebanyak apa pun ia menelepon, tetapi tidak tersambung sama sekali. Pemberitaan di media benar-benar membuatnya mengkhawatirkan pria itu. Padahal, sebelum mengetahui Rai adalah Black Shadow, ia tak pernah memedulikan kehidupan pria itu.
Rai menyeruput mie dengan lahap, menunjukkan dirinya benar-benar lapar. Ryo yang duduk di hadapannya, tampak sangat bahagia melihat kehadiran kakaknya. Ia lalu teringat dengan kabar terkini yang sedang hangat diperbincangkan.
"Oniichan, apa kau mendengar berita tentang kematian menteri kehakiman? Aku baru tahu ternyata anaknya berpacaran dengan lelaki yang sering bersamamu. Kupikir ... selama ini kalian menjalin hubungan asmara dengan pria itu."
Rai tersedak seketika, bahkan menyemburkan makanannya. Ia meletakkan mie cup di meja lalu terburu-buru mengambil air.
"Mana mungkin aku berpacaran dengan laki-laki!" cetus Rai.
"Yokatta (syukurlah)! Aku benar-benar melihat Oniichan yang dulu! Sejak keluar dari penjara, kau tampak berbeda," ucap Ryo bernapas lega. Ia menatap Rai yang kembali menghabiskan mienya. "Ne, Oniichan, apakah pria itu yang membantumu bebas?"
Rai terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan.
"Apa karena itu kalian sering bersama?"
"Ya, dia sudah banyak membantuku."
"Kasihan sekali, ya. Ternyata calon mertuanya seorang pejabat hitam dan meninggal di tangan Black Shadow. Pasti sulit baginya saat ini, biar bagaimanapun namanya pasti ikut tercoreng."
Pria itu langsung ke kamar menaiki ranjang dan menyelimuti seluruh tubuhnya dalam posisi menyamping. Ryo memiringkan kepalanya sambil mengerucutkan bibirnya, menciptakan ekspresi kebingungan atas tingkah Rai yang sedikit aneh malam ini. Bahkan dia tidur sambil memeluk ranselnya.
Jarum jam terus bergerak maju dengan perlahan. Rai tampak gelisah dan kesulitan tidur. Tubuhnya menggeliat ke sana-kemari dengan wajah yang berkeringat dingin. Tuan Matsumoto yang tergeletak di lantai dengan darah yang berlumuran terus membayang di ingatannya. Seperti menghantuinya. Pasalnya, ini pertama kalinya ia melihat kematian seseorang yang begitu tragis di depan mata.
Rai bangun terduduk tiba-tiba dengan napas yang terengah-engah. Ia menoleh ke samping, menatap adiknya yang terlelap dengan penuh damai. Ia mengusap wajahnya dengan kasar, sambil mencoba menenangkan pikirannya.
Waktu terus berjalan mengikis malam, hingga tak terasa pagi yang cerah telah menyongsong. Denting alarm yang nyaring, memaksa Ryo membuka kelopak matanya dengan berat. Ia meraih jam weker di atas kepalanya, lalu segera mematikan alarm. Melirik ke samping, ia terkejut melihat Rai sudah tidak ada. Ia buru-buru keluar kamar, tetapi tak mendapati keberadaan kakaknya itu.
Pria itu telah pergi tanpa meninggalkan pesan apa pun. Dengan statusnya sebagai buronan nasional, tentu ia tak ingin membuat adiknya terlibat. Apalagi Ryo adalah seorang karyawan di perusahaan besar di mana tak semua orang bisa bekerja di sana. Ia tak ingin mencoreng nama adiknya jika sampai identitasnya sebagai Black Shadow terbongkar suatu saat nanti.
Sehari setelah Black Shadow ditetapkan sebagai buronan nasional, polisi dan militer melakukan penjagaan ketat di bandara Narita. Mereka menahan pria dengan tinggi badan dan gaya rambut yang sama seperti Black Shadow—belah samping dengan semiran yang kaku dan keras—untuk dimintai identitas.
Di kediaman tuan Matsumoto, para tamu terus berdatangan memberi penghormatan terakhir usai upacara pemakaman. Seina yang memakai gaun terusan berwarna hitam, duduk di samping guci yang berisi abu tuan Matsumoto. Mata gadis itu bengkak, dengan sisa-sisa buliran air yang masih menggenang di sudut mata.
Shohei dan ayahnya tiba dengan memakai setelan jas hitam. Kehadiran ayah dan anak itu mengundang perhatian para wartawan yang langsung mengabadikannya dalam kamera mereka. Keduanya memberi penghormatan terakhir di depan abu jasad mendiang Matsumoto lalu duduk bergabung di barisan para pelayat.
"Ottousan, kau bertemu dengannya terakhir di tempat golf, bukan? Apa ada sesuatu yang ia katakan padamu?" tanya Shohei pada ayahnya yang duduk di sampingnya.
Tuan Yamazaki berkata pelan, "Dia memintaku untuk menerima Seina di keluarga kita."
"Apa hanya itu?"
Tuan Yamazaki cukup lama terdiam, sebelum kembali berkata, "Ya, hanya itu. Selain itu, hanya obrolan santai."
Shohei melirik ke arah Seina yang duduk mematung sambil memeluk foto mendiang tuan Matsumoto. Di sampingnya, ada Kei dan juga orangtuanya yang turut hadir sebagai keluarga mendiang Matsumoto. Tatapan gadis itu kosong, berselimut air mata yang tak berhenti mengalir.
Sejenak, Shohei teringat dengan permintaan terakhir mendiang Matsumoto.
"Seina adalah anak semata wayangku. Aku hanya bisa memercayakan dia pada pria sepertimu. Tolong biarkan dia di sisimu dan bahagiakan dia!"
Satu per satu tamu mulai pulang, termasuk Shohei dan ayahnya. Sebelum pergi, Shohei melirik sekali lagi ke arah Seina yang masih duduk membatu. Jauh dari lubuk hatinya, ia ingin berada di sisi gadis itu untuk menemaninya.
Kepergian Shohei dan para pelayat lainnya, seketika membuat suasana kediaman Seina menjadi sepi. Apalagi Kei dan keluarga lainnya juga telah pergi. Tepat setelah itu, beberapa staf kementrian kehakiman dan anggota Badan Intelejen Negara datang berkunjung. Kehadiran mereka bukan untuk melayat, melainkan melakukan pengecekan di ruang kerja mendiang Matsumoto.
"Mendiang adalah pejabat negara, oleh karena itu kami harus memastikan komputer dan perangkat digital lainnya milik mendiang tidak menyimpan dokumen negara yang bersifat rahasia yang tidak boleh dilihat orang lain termasuk keluarga," ujar salah satu anggota Badan Intelejen saat meminta izin pengecekan di ruang kerja dan kamar mendiang Matsumoto.
Seina menoleh lemah pada kepala pelayan. Seakan mengerti, kepala pelayan bergegas menuntun mereka ke ruang kerja dan kamar tuan Matsumoto. Anggota badan intelejen mulai melakukan penggeledahan di meja kerja dan komputer milik tuan Matsumoto. Selang satu jam kemudian, mereka pamit dengan membawa sejumlah dokumen negara.
"Terima kasih atas izinnya. Kami mengucapkan bela sungkawa sedalam-dalamnya." Para anggota intelejen dan staf kementrian menunduk penuh di hadapan Seina sebelum mereka pergi.
Di halaman rumah Seina, salah satu anggota badan intelejen menelepon pejabat misterius dan menginfokan padanya jika mereka tak menemukan file atau dokumen mencurigakan yang ditinggalkan mendiang Matsumoto. Ya, anggota intelejen yang menelepon itu ternyata adalah sekretaris pribadi sekaligus kaki tangan pejabat misterius. Tujuan sebenarnya penggeledahan ini untuk memastikan mendiang Matsumoto tidak meninggalkan bukti yang membawa-bawa namanya.
"Baguslah!" ujar pejabat itu sambil tersenyum licik.
Seina memeluk guci yang berisi abu ayahnya lalu berjalan tertatih menuju kamarnya. Hatinya masih berdenyut sakit seperti disayat sembilu. Bagaimana tidak, ayahnya tewas dengan meninggalkan cap negatif dari masyarakat sebagai pejabat koruptor. Lebih mirisnya lagi, seseorang yang menjadi penyebab kematian ayahnya adalah pria yang telah membuatnya jatuh cinta.
Ia membuka laci nakas di samping tempat tidurnya, lalu mengambil sebuah flashdisk berwarna biru tua. Ia teringat dengan pesan ayahnya yang mengatakan untuk menjaga flashdisk itu dengan hati-hati.
.
.
.
jangan lupa like dan komeng, biar ga mogok update gais...