Never Not

Never Not
Chapter 12



Dhito mengabaikan suara bisik-bisik yang mengarah padanya dan Natya. Mereka berdua dengan setelan jas masing-masing berwarna abu-abu dan hitam, mau tidak mau menarik perhatian penghuni McDonald saat itu.


Dhito pernah mengalami masa penyesuaian dimana Natya dengan randomnya suka mengajak dia ke McD. Tapi, seiring berjalannya waktu, akhirnya Dhito sudah terbiasa kalau ada ajakan ke McD dari Natya. Malah biasanya, itu artinya pembicaraan yang terjadi akan serius. Usut punya usut, McD merupakan comfort food bagi seorang Chandra Dinatya. Bagi Natya, restoran fast food ini seperti penghubung rumahnya di Jakarta dan negara-negara yang ia tempati semasa kuliah dulu. Dhito geleng-geleng kepala waktu mendengarnya. Memang benar kalau orang kepinteran terus tajir kadang suka aneh-aneh seleranya.


Mereka pun sudah sejam duduk di sini dan Dhito sudah selesai mendengarkan curhatan Natya tentang kisah Nada yang tidak kalah rumit.


Dhito tidak menyangka yang dia temui di River Cruise kemarin di Bangkok adalah Arinta. Dia sendiri memang belum pernah bertemu Arinta secara langsung, namun nama gadis itu sering ia dengar tatkala Dhito bercerita tentang Kay. Ditambah Arinta merupakan seorang public figure. Beberapa kali Dhito melihat wajahnya di media sosial maupun ketika wajahnya menjadi BA produk tertentu yang terpampang besar di pusat perbelanjaan.


"Lo harusnya nggak bingung-bingung banget dong? Kan dia punya konfliknya berarti sama si Adrian sama Arinta. Ga ngefek lah ke elo."


Adrian memakan potongan MC nugget terakhir dari porsi ketiga hari itu. Dia kalau lagi bingung memang memiliki kecenderungan kalap sendiri. "


Iya sih. Tapi, gue tetep aja merasa janggal."


"Ngapain? Kecuali ntar ada kaitannya deh elo, Nada, sama Kay. Baru deh tuh ribet. Baru deh lo makan tuh McNugget sampe satu truk!" Dhito menepuk pelan tray di depan Adrian. Sahabatnya itu langsung mendongak dan memandang Dhito serius.


"Menurut lo gue bakal kejebak dengan kisah bertiga kayak gitu nggak?"


"Kok anjir gitu pertanyaan lo? Ya elo ini sebenarnya posisinya gimana? Sumpah ya mendadak lo agak sensitif nggak jelas gini. Kelamaan digantung lo sama Kay jadi agak korslet."


Dhito berdecak. "Kayaknya gue karena temanan sama lo deh jadi sering banget denger nama Kay disebut. Gue udah melangkah maju nih."


"Ya lo jangan keseringan lah dulu ngomong soal dia ke gue," sanggah Dhito. "Lo ulang tahunnya Kay bakal datang kan?"


"Datanglah. Lo aja diundang."


"Ngajak Nada nggak lo?"


Natya terhenyak. Dia sama sekali tidak memikirkan sampai sejauh itu untuk ulang tahunnya Kay nanti. Kay sendiri hanya mengadakan pesta ulang tahun kecil-kecilan. Dengan keluarga dan sahabat dekatnya. Dhito sendiri jadi turut diundang karena tidak dipungkiri, semasa Natya dan Kay berkonflik lalu baikan lalu konflik lagi tanpa status yang jelas, Dhito bisa dibilang berhasil jadi sahabat, penengah, serta bamper terbaik.


"Mikir lo? Masih berharap ke Kay?"


"Nggak gitu juga konsepnya woy."


"Ya abis apaan. Harusnya semangat dong ngenalin gebetan ke sahabat." Dhito akhirnya mulai lapar lagi dan mengunyah potongan-potongan terakhir french fries yang ia pesan.


Natya sama sekali tidak berkomentar. Dhito yakin pasti kepala temannya itu sudah makin ruwet dan bingung harus bagaimana. Lagian, jadi orang kebanyakan galau dan ragu bertindak. Dari zaman Kay sampai mau berbelok ke Nada, Natya masih saja tidak bisa decisive. Giliran buat pekerjaan aja, ampun-ampunan detail, risk assesment, dan keyakinan sama keputusannya. Siap menanggung segalanya lagi. Memang kalau urusan hati ya, otak encer juga bisa jadi keenceran.


"Ga usah sebengong itu lo. Pikirin aja. Masih beberapa hari lagi ini. Ya kalau nggak diajak nggak dosa juga. Belum jadian kan sama Nada?"


Natya menelan ludah pahit. Selama masa pendekatannya dengan Nada, Dhito memang bisa dibilang super frontal. Tapi, itu yang dibutuhkan Natya supaya tidak hilang akal atau salah gerak. Meski pada akhirnya segala keputusan memang harus dia tanggung akibatnya. Baik dan buruknya. Harus.


...•••...


"Duh gilaaaaak, pada rame gini pada kesambet apa sih kaliaaan???" Nada menutup kedua telinganya saat suara teriakan di mall semakin bergema.


Nada mendedikasikan waktunya di Sabtu ini untuk mengantar Frinta ikut acara fansign salah satu grup yang ia idolai. Frinta berhasil ikut setelah membeli seabrek skincare dan make-up yang berujung menjadi banting harga di kantor. Mereka sudah dari pagi mengantre tapi ternyata masih banyak yang lebih pagi lagi. Nada curiga apa emang pada bangun tenda di sekitaran mall ya?


"Oke, gue gabung sama teman-teman gue dulu ya." Frinta pamit sebelum menghampiri teman seperjuangannya dalam urusan perbucinan ini. Nada melambai sebentar ke arahnya sebelum memutuskan melipir untuk mencari tempat yang lebih nyaman untuk menunggu. Pilihannya jatuh ke restoran yang saat itu tampak sepi. Setidaknya tidak seramai restoran langganannya di mall tersebut.


Nada celingukan mencari tempat dan menemukan sosok yang tidak ia duga. Matanya dan mata Dhito saling bertubrukan. Nada melambai ragu sementara Dhito hanya mengangguk singkat. Dia menunjuk kursi di depannya sebagai tanda apakah Nada mau bergabung makan dengannya.


Berhubung memang cuma ada dia dan sudah ditawari seperti itu, Nada jadi tidak enak hati juga kalau mau menolak. Ia pun berjalan pelan ke meja Dhito.


"Sendiri aja, Dhit?"


"Natya lagi ada kerjaan hari ini."


"Eh?"


"Ngasih tau aja. Siapa tau kan lo nyariin," jawab Dhito santai. Nada yang malah jadi tidak santai dengan ucapannya tersebut.


"Si Terra sih lagi ikut fansign artis Korea apa gitu. Gue nganterin aja. Sama sebenernya mensponsori dia beli skincare seabrek." Nada Dhito terdengar sedikit kesal namun bercampur geli.


"Ih samaaaa. Gue nemenin temen gue, tapi nggak modalin dia sih."


Dhito tertawa. "Lo nggak ikutan fansign itu?"


"Duh, nggak paham gue. Terakhir ngefans sama artis Korea itu Wonbin. Kata si Frinta gue udah ketinggalan berabad-abad."


"Haha... Lo sukanya Coldplay, kan?" Tebak Dhito mengingat Nada dan Natya berjumpa lagi dj konser Coldplay tersebut.


"Nggak juga. Kemarin itu iseng aja nggak tau mau ngapain di Bangkok."


"Kayak si Natya lo. Gue tapi jadi korban digeret dia ke sana."


"Eh lo nonton juga ya?" Nada lalu teringat sesuatu. "Ya ampun, jangan-jangan lo ya yang ngajak Natya ke club selesai konser?"


"Ke club apaan. Ngeles aja tuh emang si kambing. Gue ngajakin dia pulang lah. Tapi dia milih pulang bareng elo. Gue mah ditinggal."


Semburat rasa malu mewarnai wajah Nada. Dia tidak menyangka juga Natya seniat itu untuk pulang bersamanya. Nada merasa sedikit bahagia mendengar rahasia kecil ini.


Dhito menangkap reaksi malu-malu Nada dan merasa lucu. Ditambah Nada ini punya kebiasaan kalau salah tingkah malah jadi suka benerin posisi rambutnya gitu. Dhito malah jadi pengen usil ngacak-ngacak rambutnya.


"Mau ditelpon orangnya ke sini nggak? Siapa tau kerjaannya juga bakal ditinggalin," goda Dhito.


"Eh, nggak usah. Nggak mau ganggu kerja orang." Nada berusaha mencerna perkataannya. Sejurus kemudian dia berusaha merevisinya. "Lagian belum tentu juga lagi dia mau ke sini."


Dhito mendengus geli. Emang nggak jelas ini duo NadNat. Mau ya mau, enggak ya enggak. Kayaknya mereka berdua ini suka ribet sendiri.


"Ya udah, nawarin aja sih gue. Betewe, pesan dulu, Nad. Gue temenin deh ronde kedua gue."


Nada tersenyum lebar seperti anak-anak yang kesenangan karena mendapatkan permen kesukaannya. Dhito cuma dia menatapnya sementara gadis itu langsung sibuk memilih menu. Saat Nada sedang menunduk melihat menu itulah Dhito diam-diam memotret dirinya dan mengirim kepada Natya.


Penasaran juga si Dhito hasil tes nya kali ini. Siapa tahu malah berbuah hasil yang baik kan?


...•••...


Look whom I ran into.


Natya terbelalak melihat pesan yang dikirimkan Dhito. Beserta foto Nada yang sedang menunduk melihat buku menu.


Kok bisa lo?


Zenbu. Kokas.


Dhito malah menyebut tempatnya berada. Natya terdiam sesaat. Pekerjaannya sebenarnya masih banyak. Kalau mau dibilang bisa ditunda, ya bisa ditunda juga sih. Sekaligus bisa jungkir balik juga. Dia juga berniat menyelesaikan semua hari ini karena besok akan ke ulang tahunnya Kay.


Sudah H-1 dan dia memang belum ngomong apa-apa ke Nada. Dia pengen banget juga ketemu Nada hari ini. Tapi, kalau tidak diajak ke acara besok, dia juga merasa aneh.


Belum pacaran kan? Nggak dosa-dosa amatlah.


Entah kenapa kalimat Dhito tersebut terngiang lagi.


But, is that a wise thing to do?


Ah, shit! Natya mengutuk dirinya sendiri.


Come on, Natya. Lo tempe banget sih kalau udah urusan kayak gini. Natya jadi benci dengan kepusingannya yang tak beralasan ini.


Dia melihat lagi foto yang dikirim oleh Dhito. Mungkin sudah saatnya dirinya tidak usah dikungkung masa lalu lagi.