
Nada melihat ponselnya berkali-kali. Dia sudah berdandan maksimal untuk hari ini. Bahkan dia rela untuk ke salon terlebih dahulu hanya agar dia bisa terlihat spesial. Gaun putih selutut yang dia gunakan sudah sangat sesuai dengan buket bunga dan dekorasi malam itu – di restoran fine dining yang telah sangat ia impikan ini. Ia tidak menyangka hari yang sudah lama ia impikan akan segera tiba.
Hari dimana dia bisa merasakan seperti seorang putri. Candle light dinner bisa saja terasa biasa maupun tidak bermakna bagi orang lain, tapi tidak dengan Nada. Dia sudah lama menantikan saat-saat seperti ini.
Menghabiskan waktu spesial ini dengan orang yang dia sayangi.
Namun, putri mana yang harus menunggu pangerannya datang selama ini?
Sudah hampir sejam berlalu, namun tidak ada tanda-tanda hadirnya orang yang menyiapkan ini untuknya. Biasanya, di adegan-adegan romantis, kalau bukan berjalan bersama sang kekasih menuju meja yang telah
dipesan, setidaknya dia berjalan sendiri dengan sang pria menunggu di meja dengan seikat bunga. Tapi, Nada berangkat sendiri ke tempat ini, ke meja kosong yang telah dihias sedemikian rupa. Ini seperti setelah dibawa terbang tinggi kemudian dihempaskan lagi.
Nada sebenarnya mulai gelisah. Dia juga merasa sedikit malu. Jangan-jangan orang-orang di sekitarnya ini sudah dari tadi sibuk melihat dirinya. Ditambah hari ini memang Hari Valentine, jadi rata-rata isi restoran
ini adalah pasangan yang menghabiskan malam bersama. Nada sudah menolak pramusaji yang datang kepadanya. Mungkin mereka juga tidak enak mau mulai mengantarkan appetizer untuk wanita yang duduk sendirian. Lagipula, jangan-jangan Adrian memang tidak memesan apa-apa untuknya. Tapi, tidak mungkin kan? Karena sudah dipesankan dekorasi semanis ini.
Nada sudah memberikan pesan dan berusaha menghubungi Adrian, tapi tidak diangkat. Hingga akhirnya nada sambungnya berubah menjadi tanda bahwa dia mematikan ponselnya, di saat itulah Nada merasa bahwa hari ini merupakan salah satu hari terburuknya. Gadis itu menatap layar ponselnya dengan mata nanar.
Jangan nangis Bianca Karina Nada.
Nada berusaha menenangkan dirinya meski air mata telah menumpuk di pelupuk matanya.
Ini bukan kejadian pertama dia merasa dicampakkan begitu saja. Tapi, dia tidak menyangka bahwa momen tercampakkannya juga akan terjadi di hari Valentine seperti ini; sebuah momen yang dia sudah nantikan. Yang
paling menyakitkan, dia tidak menyangka bahwa Adrian akan melakukannya. Pria itu sudah tahu bagaimana susahnya Nada untuk membuka hati.
Shit! Nada merutuki air mata yang mulai turun di wajahnya. Dia buru-buru berusaha mengelap dengan tisu. Dia tidak mau banjir air mata. Dia tidak mau terlihat menyedihkan di hari ini. Nada mengangkat tangannya pelan untuk memberikan tanda agar pramusaji mendekat ke arahnya.
“Sudah mau sampai ya, Mbak, Masnya?” Pramusaji tersebut menyapa dengan ramah; bersiap-siap untuk menyiapkan makanannya.
Nada Cuma tersenyum. “Bill-nya ya, Mbak.”
Senyum pramusaji tersebut langsung berubah menjadi kikuk namun dia berusaha tetap ramah. “Untuk pemesanan hari ini, semuanya sudah settled, Mbak.”
Nada mengangguk pelan. Dia berusaha menguatkan dirinya untuk berdiri, tersenyum ramah ke pramusaji tersebut lalu berjalan keluar restoran tersebut sambil menahan air matanya. Namun, semuanya langsung tumpah begitu ia sampai di dekat mobilnya. Bahkan Nada tidak menunggu ia masuk ke dalam mobil dulu, dia sudah keburu nangis sesenggukan dengan bersandar pada pintu depan kemudi. Setelah itu dia langsung membuka kunci mobil dan masuk ke dalam mobilnya.
Tidak ada yang lebih menyakitkan daripada mendengarkan bahwa seorang Nada pada akhirnya harus kembali patah hati.
***
Berapa lama patah hati bisa sembuh bagi seseorang?
Sebulan? Setahun? Selamanya?
Bagi Nada, patah hatinya terhadap Adrian mungkin bisa lebih lama dari itu. Nada yang sebelumnya harus mengalami gagal nikah, membutuhkan waktu yang lama hingga tiga tahun hingga akhirnya dia bisa membuka diri kepada Adrian. Hubungan mereka sebenarnya juga tidak bisa dibilang sudah bersatus (oke memang Nada mengakui dirinya sudah sangat bodoh), namun yang ia jalani dengan Adrian juga bukan pendekatan yang biasa. Bagaimana Adrian berusaha mengobati luka hati Nada selama dua tahun mereka saling mengenal, tidak disangka akan berakhir seperti ini saja. Tanpa ada kejelasan yang jelas. Satu minggu setelah kejadian Valentine yang terkutuk itu, Adrian hanya mengirimkan satu pesan singkat, “I’m really sorry, Nad.”
Sorry untuk apa juga tidak dijelaskan. Nada juga sudah berada di tahap muak untuk bertanya kenapa ke Adrian. Mungkin memang benar, kadang bertemu dengan orang yang tengah hancur di momen terendah hidup kita hanya berakibat pada kisah yang tak selesai. Yang berujung dengan kisah bahagia hanya seujung jari. Sisanya ya buat gigit jari.
“Matcha Latte with Soy Milk Grande dua untuk Kak Nada!” seru barista tersebut dengan ramah dan bersemangat. Sangat bertentangan dengan raut wajah Nada yang super kusut. Gadis itu sedang terdampar sendirian di Starbucks. Biasanya dulu juga dia sendiri, tapi pernah ada masa di mana dia dan Adrian setiap hari menghabiskan waktu di Starbucks di apartemennya Adrian.
Duh, ngapain sih diinget-inget lagi.
Nada membalikkan badannya, berjalan menunduk sebentar, dan ....
Yak! Jackpot sekali gadis tersebut harus bertubrukan badan dengans seseorang. Matcha Latte di tangan kanannya tumpah membasahi bajunya serta orang di depannya dan juga akhirnya jatuh dari tangannya. Sementara Matcha Latte di tangan kirinya masih dapat diselamatkan. Minuman milik orang di depannya ini pun sebenarnya juga tidak jauh beda nasibnya. Baju mereka berdua pun sudah sama-sama basah akibat
“Aduh, maaf ya, Mas.” Nada membungkukkan badannya dan meminta maaf dengan wajah sangat miris. Ekspresinya sudah bercampur antara sedih dan meratapi nasibnya yang ditambah harus minta maaf ke orang lain.
Pria di depannya tersebut hanya menatap Nada diam tanpa bereaksi apapun. Dia menatap wajah Nada seperkian detik hingga akhirnya berkata dengan santai, “Iya, nggak apa-apa, Mbak.”
“Nad!” Tepat saat itu ada seseorang yang sepertinya memanggil dirinya. Nada segera mencari sumber suara tersebut yang ternyata adalah seorang pria berkemeja biru yang berjalan ke arah mereka.
“Wah, gimana nih baju lo basah begitu.” Ternyata dia adalah teman dari orang yang sudah habis menjadi Matcha Latte berjalan ini.
“Udahlah santai,” respon pria tersebut singkat. “Mbak nggak apa-apa kan?”
Ditanya seperti itu, sebenarnya Nada jadi mau nangis sesenggukan. Ujung-ujungnya dia hanya mengangguk pelan dan tiba-tiba menyodorkan Matcha Latte-nya ke pria tersebut. Matcha Latte itu pun sebenernya isinya tinggal tiga perempatnya, tapi Nada tetap percaya diri saja.
Pria tersebut menatap Nada dengan bingung.
“Duh maaf mas, ngga suka ya?” Nada melirik tumpahan yang jatuh. Sepertinya yang pria ini minum adalah Americano. Typical.
Nada langsung berjalan ke counter dan memesan satu Iced Americano.
“Oke, untuk Mba Nada ya.” Sang barista sudah percaya diri menulis itu di cup yang dipesan.
“Yah, mas, bukan.” Nada berusaha meralat tapi kebetulan namanya yang cuma empat huruf itu bukan nama yang lama untuk ditulis. Tapi, ya sudahlah, cuma nama ini. “Mas nanti dikasih ke mas yang itu ya.” Nada menunjuk ke dua pria yang sekarang memilih untuk duduk di sudut coffee shop itu. Setelah itu gadis itu langsung berjalan pergi meninggalkan tempat itu. Nada tidak mau menambah keriuhan tidak jelas di sana.
Ditambah saat ini yang hanya memang mau dia lakukan ya cuma nangis!
“Iced Americano Grande dengan Mbak Nada!” panggil barista bernama Indra tersebut. Namun, sekejap kemudian dia sadar bahwa pelanggannya yang satu itu tadi sudah berjalan lunglai meninggalkan tempat ini dan menitipkan pesan agar ini diberikan untuk mas-mas yang sedang duduk di pojok kanan ruangan ini.
Indra menghampiri kedua pria tersebut dan menyapa sopan. “Permisi mas, ini pesanan penggantinya.”
Wajah kedua pria tersebut terlihat bingung. Di atas meja mereka memang hanya tersisa frapuccino yang tentu saja milik pria yang bajunya masih bersih dan rapi.
“Pengganti apa ya mas?”
“Pengganti kopi mas yang tadi jatuh.”
“Wah, nggak usah repot-repot mas,” ujar pria tersebut tidak enak.
“Ini dari mbak yang nabrak kok mas.”
Pria tersebut diam sejenak kemudian mengambil gelas tersebut. Dia memperhatikan nama “Nada” yang tertulis di kopi tersebut.
“Nada ... “ ujarnya pelan.
“Iya, mas. Ini dari Mbak Nada.”
“Oke, makasih ya mas!” tiba-tiba wajah pria tersebut terdengar bersemangat. Indra tersenyum sekali lagi sebelum kembali ke konter barista.
“Lo kenal, Nat, sama cewek yang tadi?”
“Menurut lo?”
“Nggak sih.. Bukan tipe lo juga sih tuh cewek.”
Natya hanya diam mendengar komentar dari temannya tersebut. Mungkin si Gadis Kopi ini bukan seperti cewek yang biasanya ia dekati, tapi ini sudah kedua kalinya Natya menyaksikan dia dalam kondisi yang tidak karuan. Aneh, tapi itu membuat seorang Natya akan mengingat Nada.