
Pagi hari telah datang tanpa mentari yang tersenyum. Cuaca begitu berkabut. Angin sepoi-sepoi berembus dan masuk melalui celah kamar, membuat tubuh terasa dingin.
Ryo memasang dasi dan jasnya bersiap untuk berangkat kerja. Dia melihat Rai yang masih terlelap dan bergelung dengan selimut bak seekor kepompong. Ya, untuk pertama kalinya ia diizinkan kakaknya menginap di apartemen yang kecil itu semalam.
Tak ingin membangunkan Rai, Ryo pergi tanpa mengeluarkan suara sedikit pun. Ketika keluar kamar, ia bertemu Yuriko yang juga bersiap-siap pergi ke apartemen Shohei.
"Bagaimana keadaan Rai? Dia tidak lupa ingatan, kan?" tanya Yuriko sambil mengunci pintu kamarnya.
"Tentu saja tidak! Seperti drama televisi saja!"
"Dia tidak geger otak, kan?"
"Kurasa pikiranmu lebih menakutkan dari keadaannya!" ketus Ryo.
"Yokatta! Aku lega."
Kedua orang itu sama-sama memasuki lift. Yuriko melebarkan matanya saat tak sengaja melihat tanda pengenal karyawan yang terpampang di dada Ryo.
"Sugoi! Jadi kau karyawan Yamada grup?"
Ryo mengangguk dengan bibir yang terkatup rapat.
"Otakmu pasti sangat encer dan latar belakang pendidikanmu juga pasti bagus makanya kau bisa kerja di perusahaan besar!" Yuriko tiba-tiba menjadi bersemangat.
"Begitulah!" jawab Ryo malu-malu bercampur rasa bangga.
"Omong-omong, kenapa nasib Rai tidak sepertimu, ya? Padahal dia fasih bahasa asing." Yuriko tampak berpikir.
Ryo tampak menahan napas, seraya membulatkan matanya.
Oniichan pasti tidak pernah cerita masa lalunya. Ya, lagi pula dia memiliki tetangga yang galak mengalahkan singa. Siapa juga yang mau berbicara banyak dengannya.
Tentu masih melekat di ingatan Ryo saat Yuri menyemburkan amarah karena ia membuat keributan di depan apartemen Rai.
"Oniichan telah melewati masa-masa suram selama setahun belakangan. Meski begitu, dia sangat kuat menghadapinya dan berhasil bangkit dari keterpurukan," ucap Ryo.
"Oh, begitu. Padahal dia terlihat seperti tidak memiliki beban apa pun. Aneh juga jika tiba-tiba dia seperti kemarin." Yuriko menggembungkan pipinya seraya berpikir, sejak lama dia ingin tahu tentang latar belakang Rai yang sebenarnya. Sejenak, ia melirik ke arah Ryo. "Hei, beritahu padaku masa-masa suram seperti apa yang telah Rai lewati!"
Ryo terdiam selama beberapa detik. "Itu sudah menjadi masa lalunya, tidak perlu diungkit lagi. Setiap orang memiliki sisi gelap, begitupun dengan kita. Oleh karena itu, kita tidak boleh merasa terang sendiri."
"Ya, sudah kalau tidak mau kasih tahu." Yuriko bergegas keluar dari lift saat pintunya terbuka.
Ryo menyusul Yuriko dengan cepat. "Hei, kau terlihat peduli pada kakakku. Apa jangan-jangan kau tertarik dengannya, ya? Kau suka padanya, kan?"
Yuriko tersentak seketika. "Hah? Suka? Maaf dia bukan seleraku," ucapnya sambil lanjut berjalan menuju halte.
"Asal kau tahu saja dulunya Oniichan sering diperebutkan. Ketampanannya mampu meluluhlantakkan para perempuan. Kalau sekarang dia memang kurang merawat dirinya. Aku tidak keberatan jika kau berpacaran dengannya," ucap Ryo yang gencar mempromosikan kakaknya.
Berpikir Rai telah putus dari lelaki yang selalu bersamanya, membuat Ryo ingin menjodohkannya dengan tetangganya. Apalagi, jika dilihat-lihat Yuriko sedikit masuk dalam tipe wanita idaman Rai, yang mana gadis itu memiliki tinggi badan ideal meski tak setinggi pacar Rai sebelumnya—Haru.
"Maaf, ya. Tapi standarku lebih tinggi darinya. Aku menginginkan pria yang memiliki banyak kelebihan, bukan hanya menang tampan saja." Saat mengatakan itu, Yuriko malah membayangkan wajah Shohei yang tersenyum lembut padanya.
"Oniichan juga punya banyak kelebihan!" ujar Ryo tak mau kalah.
"Tapi sayangnya dia tidak punya kelebihan uang! Kau mengerti maksudku, kan?" balas Yuriko menohok dan langsung pergi.
Ryo yang masih termegap-megap lantas hanya bisa bergumam, "Astaga, pesona Oniichan di hadapan perempuan menjadi luntur sejak dia jatuh miskin. Apakah semua perempuan sekarang melihat para pria dari ketebalan dompet? Mungkin itu sebabnya dia beralih mencintai sesama pria."
Turun dari bus, Yuriko berlari kencang agar bisa cepat sampai di kediaman Shohei. Setibanya di sana, ia membuka pintu terburu-buru sambil mengucapkan selamat pagi. Sayangnya, apartemen bernuansa putih itu tampak sepi, di mana terdapat gelas dan piring kotor yang berada di atas wastafel.
"Arght! Lagi-lagi dia pergi lebih dulu, padahal aku sudah berusaha datang lebih awal!" keluh Yuriko sambil bersandar di pintu dengan kaki yang terkulai lemas. Akhir-akhir ini Shohei berangkat kerja lebih awal sehingga mereka tidak bertemu.
Ternyata Shohei tengah berdiri tak jauh dari pintu apartemennya. Ia tertegun sembari kembali membayangkan kejadian beberapa Minggu lalu yang masih segar di ingatannya, tepat ketika Yuriko tertidur di rumahnya dan Rai datang membawanya pulang. Ya, waktu itu ia menangkap raut tak senang Rai kala dirinya memasangkan jaket di punggung Yuriko. Rai juga selalu tak rela jika gadis itu berduaan dengannya.
Bisa dikatakan, sejak saat itu Shohei membatasi dirinya untuk tidak selalu berduaan dengan Yuriko. Meskipun harus berangkat lebih awal dan pulang malam.
Melihat Yuriko yang telah masuk ke apartemen, Shohei pun tersenyum simpul lalu berbalik pelan dan pergi menuju kantornya.
Setibanya di kepolisian metropolitan, ia langsung menuju ruang devisi tingkat 1 penyidik kepolisian yang menjadi tanggung jawabnya. Di sana, ia menerima sejumlah laporan dan keluhan atas kasus-kasus yang ditangani para detektif devisi tingkat satu. Ada beberapa kasus besar yang ditangani mereka dan butuh saran dan masukan dari Shohei.
Saat hendak keluar dari ruangan itu, matanya tak sengaja memandang ke bawah. Sebuah sarung tangan yang tergeletak di lantai, sukses menarik perhatiannya. Ia mengambil sebuah sarung tangan berbahan kulit itu.
Para polisi itu saling menatap, lalu menggeleng seraya mengatakan kalau mereka tidak tahu.
Tiba-tiba Seto Tanaka berkata, "Sepertinya itu milik Otaka Ai. Aku pernah melihatnya memakai itu saat sedang investigasi. Dia memang sering menjatuhkan barang-barangnya sembarangan."
Shohei melihat meja Ai yang kosong. "Ke mana dia?"
"Dia sedang menyelidiki kasus yang dipegangnya. Kasus itu baru terjadi semalam. Tapi, dia memang jarang ada di ruangan ini," jawab salah satu polisi.
Shohei lalu meletakkan sarung tangan itu di meja Ai Otaka yang berdekatan dengan Seto Tanaka.
"Tanaka-san, bukankah kalian satu kamar saat sedang pendidikan?" tanya Shohei pada Seto yang tengah menyelidiki laporan investigasi.
"Ya, Ketua."
"Apa kalian sangat dekat?"
"Iya. Dulunya kami dekat. Tapi begitu menjadi polisi resmi, kami sudah jarang bertemu."
"Oh, memangnya dia asli mana?" tanya Shohei mulai menyelidik latar belakang Ai Otaka.
"Apa Ketua tidak tahu? Dia anak komisaris kepolisian nasional.
"Komisaris Otaka?" Shohei baru ingat jika marga mereka sama.
"Iya." Seto Tanaka langsung membenarkan. "Oh, iya, kemarin saat kita salah menggunakan lift, bukankah kita berpapasan dengan rombongan pejabat kepolisian? Ada Ayah Otaka Ai di antara rombongan itu."
Bola mata Shohei memicing seketika. Ia teringat kembali dengan peristiwa penusukan yang dialaminya tepat setelah pulang dari departemen kepolisian Ikeburoko, di mana sebelumnya Ai Otaka ditempatkan di sana. Masih teringat jelas di benaknya, sosok pria yang menusuknya itu memakai sepatu yang sama dengan kesatuannya. Polisi dari ahli forensik juga mengatakan jika sidik jari tak terdeteksi di lengan bajunya, tapi yang tertangkap alat pendeteksi adalah jaringan partikel kecil yang mengindentifikasi sarung tangan kulit. Sekarang, ia menemukan jenis sarung tangan kulit milik pria itu. Hal ini lantas memunculkan pertanyaan yang bersarang di otaknya.
Apakah ini cuma kebetulan?
"Saya pikir ayahnya mempersiapkan dia untuk promosi jabatan inspektur yang Anda pegang saat ini, Ketua," lanjut Seto Tanaka.
Kilat perak tersorot di bola mata pria berkacamata itu. Lagi-lagi ia dikejutkan dengan pernyataan Seto barusan. Ya, beberapa bulan ke depan akan ada pemilihan untuk menggantikan dirinya seiring ia akan dinaikkan ke Kepolisian Nasional. Biasanya, ada beberapa nama yang akan dipromosikan. Dari Shohei sendiri akan mempromosikan Seto Tanaka untuk menggantikan posisinya. Inspektur Heiji mempromosikan detektif Shu, dan satu nama yang masih kosong mungkin akan diisi oleh Ai Otaka.
"Tanaka-san, aku ingin kau pantau Otaka Ai. Beritahu padaku jika ada gerak-gerik mencurigakan darinya," pinta Shohei dengan tatapan yang mengarah ke meja Ai Otaka.
.
.
.
kita intip kembali visual para detektif kecce
Seto Tanaka
Ai Otaka
detektif Shu
inspektur Heiji
Megumi Jun
ke depannya para detektif ini bakal eksis gays ....
Oh, iya, Merry christmas for pembacaku yang merayakan....
jangan lupa like ya