Never Not

Never Not
Ch. 75 : Tak Sesuai Skenario



Shohei terus meneriaki nama kekasihnya. Entah bagaimana awalnya mereka bisa berpisah. Sialnya, ia tak dapat mengejar Seina. Tempat ini minim cahaya dan berasap sehingga membuat matanya tidak bisa melihat terlalu jauh. Apalagi saat ini ia tak membawa kacamata.


Hantu berpakaian suster datang mendekat seraya menakut-nakuti Shohei dengan wajahnya yang mengerikan.


Bukannya takut, Shohei malah memegang pundak hantu itu sambil bertanya, "Apa kau melihat gadis berpakaian pink dengan rambut yang dikepang samping?"


Hantu suster itu menunjuk tangga atas.


Shohei menoleh ke tempat yang ditunjuk. "Arigatou ... arigatou," ucapnya berkali-kali sambil merapikan baju suster yang compang-camping.


"Hi ... hi ... hi ...." Hantu suster itu terkikik melihat Shohei yang bergegas ke sana. Jelas, dia berbohong, tetapi Shohei malah memercayainya.


Di sisi lain, baik Rai maupun Seina sama-sama terperanjat. Mereka membeku dalam satu tatapan yang hanya berjarak sejengkal. Seina kembali memekik seraya menutup rapat-rapat matanya, tatkala suara lolongan menakutkan kembali terdengar.


"Aahh! Tolong aku, aku sangat takut!" jeritnya ketakutan dengan suara yang bergelombang. Seperti hendak menangis. Rai bisa melihat titik-titik peluh yang memenuhi sekitar dahi gadis itu. Kedua tangannya yang menutup telinga juga tampak bergetar hebat.


Tangan Rai mengulur dengan ragu-ragu, mencoba menenangkan kekasih sahabatnya itu. Namun, ketika ujung kukunya hampir menyentuh kulit tangan Seina, mendadak diurungkannya. Ia menurunkan tangannya, lalu mengepal dengan kuat seraya membuang pandangan. Jujur, ia merasa serba salah.


Rai memutuskan tak menghiraukan Seina. Namun, saat berdiri dan hendak beranjak, langkahnya malah tertahan karena kedua tangan Seina memegang kain celananya.


"Jangan tinggalkan aku! Aku ... takut ... sendiri! Aku terpisah dari pacarku dan tidak tahu cara menemukannya kembali." Suara pilu nan terbata-bata itu terdengar memohon.


Seina adalah gadis yang dimanjakan ayahnya dengan pengawalan yang ketat hingga usia dua puluh tahun. Ke tempat seperti ini adalah pengalaman pertamanya. Lagi pula, kencan di tempat ini merupakan ide Rai. Jika tahu gadis ini punya phobia tempat angker, tentu ia tak akan merekomendasikan kencan di sini.


Menatap Seina yang menangis ketakutan, Rai pun mengembuskan napas kasar. Detik berikutnya, ia memegang pergelangan tangan gadis itu dan menyeretnya agar berlari.


Seina terkesiap. Rai seakan memaksanya untuk menghadapi rintangan bersama. Mereka melewati lorong-lorong kecil dengan atmosfer menakutkan. Tentu saja terdapat penampakan hantu jadi-jadian yang berbeda-beda di sepanjang lorong.


"Aaaahhh!" Seina menyembunyikan wajahnya di punggung Rai saat melihat penampakan hantu dari jendela kaca. Tangannya mencengkram kuat lengan pria itu. Kadang kala memeluknya secara tak sadar.


Tiba-tiba sebuah tangan berdarah yang berasal dari balik dinding menangkap pergelangan kaki Seina. Suasana hatinya yang sempat tenang pun mendadak runtuh. Rai langsung menginjak tangan yang menahan kaki Seina, sehingga menimbulkan suara kesakitan yang teredam dari balik dinding. Secara reflek, tangan itu membuka cengkeramannya.


Selepas itu, Rai justru menarik Seina masuk ke dalam sisi kiri mantel panjang yang dipakainya. Sontak, posisi ini membuat Seina berada dalam kungkungan pria jangkung itu. Dengan ukuran tubuhnya yang kecil dan pendek, ia terlihat bagaikan seekor anak kanguru yang dikantongi induknya. Posisi ini membuatnya dapat mendengar suara detakan jantung Rai yang tenang.


Rai memilih berjalan mundur agar Seina tidak melihat hantu-hantu yang akan mengganggu mereka di depan sana. Gadis itu masih dilingkupi rasa ketakutan meskipun arah pandangnya telah tertutup dengan mantel. Meski begitu, ia berusaha mengikuti langkah Rai. Entah sudah berapa kali ia tak sengaja menginjak kaki pria itu.


Ketika suara horor kembali menusuk-nusuk pendengaran mereka, Rai langsung mengencangkan dekapan tangan kirinya di tubuh Seina untuk membuatnya tenang.


Adegan ini, posisi ini, suasana ini, dan semua yang terjadi saat ini tak ada dalam skenarionya. Seharusnya Shohei yang akan memerankan peran penyelamat ini, dan dia adalah sutradaranya. Namun, kenyataannya dia malah menjadi aktor dadakan yang menggantikan Shohei.


Seina memberanikan diri keluar dari kungkungan Rai. Mereka berada dalam ruangan yang didesain menyerupai gua sempit, di mana terdapat aliran air dan bebatuan sungguhan, bahkan bagian langit-langit pun dibuat serupa dengan gua asli. Suasana tempat itu begitu sepi, lembab, dan hanya sedikit cahaya. Benar-benar seperti gua alami.


Rai melompat ke batu besar, lalu mengulurkan tangannya pada gadis itu untuk membantunya melompat. Mereka melewati gua dengan berpindah dari satu batu ke batu lainnya agar tak menginjak air.


"Akh!" Seina memekik kala dirinya hampir terhuyung ke belakang. Untungnya, Rai sigap menangkapnya. Mereka sama-sama terdiam. Bertahan dalam posisi berpelukan selama beberapa detik sebelum akhirnya sadar dan saling melepaskan.


Seina menatap wajah Rai dari samping. Paras menawannya seakan tak tenggelam dengan kegelapan tempat itu. Namun, ia bukanlah gadis penggila fisik lawan jenis. Dalam hal ini, ia menatap Rai karena beberapa momen bersama pria itu terasa familiar baginya. Seperti saat Rai menarik tangannya dan mengajak berlari, mendekapnya tubuhnya, hingga saling berpelukan. Aneh, dari awal bertemu, Rai adalah orang asing yang tak asing lagi baginya.


Shohei masih sibuk mencari keberadaan Seina di setiap tempat. Ia terus bertanya pada hantu-hantu yang ditemuinya sambil sesekali menelepon Seina. Meski telepon tersambung, tetapi tak kunjung terjawab. Setiap mendengar jeritan pengunjung, ia bergegas lari menuju sumber suara tersebut. Berharap dapat menemukan jejak Seina. Sayangnya, nihil!


Shohei kembali bertemu dengan hantu Sadako yang membuat Seina lari terbirit-birit. Ia menyibakkan rambut panjang yang menutupi wajah putih hantu tersebut.


"Apa kau melihat gadis yang kau takuti saat kau berada dalam mobil tadi?"


"Sadako telah memakannya," ucap hantu itu sambil hendak menerkam Shohei dengan kuku hitam panjangnya.


"Aku tanya yang serius, Baka!" cetus Shohei kesal.


Shohei menjambak rambutnya dengan penuh frustrasi. Tiba-tiba ponselnya bergetar dan dia segera memeriksanya. Ia melebarkan matanya saat membaca pesan dari Rai yang mengatakan jika Seina berada bersamanya.


Shohei bernapas lega dan segera menemukan pintu keluar wahana itu.


Akhirnya, Shohei pun berhasil keluar dari wahana hantu seorang diri. Tak jauh dari sana, ia bisa melihat Seina duduk menunduk di kursi taman dengan sepasang tangan yang menyilang di dada. Ia juga melihat Rai yang tadinya berdiri di samping Seina, kini berjalan cepat ke arahnya.


"Maafkan aku atas kekacauan ini. Aku sungguh tidak tahu kalau bisa seperti ini," bisik Rai.


"Apakah dia baik-baik saja?" tanya Shohei penuh khawatir sambil menoleh ke arah Seina yang masih menunduk. Tampaknya gadis itu tengah menormalkan irama jantung.


"Dia masih belum bisa menghilangkan rasa ketakutannya. Temuilah dia!" pinta Rai.


Ketika Shohei hendak beranjak, Rai kembali menahan lengannya.


"Jangan bilang apa pun tentang diriku, apalagi menjelaskan kalau aku sengaja membuntuti kalian dan menjadi pemandu kencanmu. Jika dia tanya, katakan saja kau juga tidak tahu aku di sini."


"Baik. Aku mengerti. Arigatou, aku lega karena dia bersamamu. Kupikir dia tersesat."


Shohei bergegas lari karena tak sabar menemui Seina. Ia langsung membuka mantelnya untuk menutupi punggung gadis itu.


"Gomen, gomennasai," ucapnya membungkuk penuh dengan perasaan bersalah, "aku memang kekasih yang tidak berguna. Aku tak bisa menjagamu karena kesulitan melihat tempat yang redup. Aku juga sangat bodoh karena membawamu ke sini. Aku benar-benar tidak tahu kalau Seina-chan sangat takut hal-hal seperti itu." Shohei terus membungkuk sambil menyalahkan dirinya sendiri. Napasnya tampak tersengal-sengal dan keringat terus mengucur meskipun udara di luar sangat dingin.


"Shohei-kun, arigatou." Suara lembut Seina membuat tubuh Shohei tegap seketika. Gadis itu mengulas senyum hangat hingga menampilkan deretan gigi depan. "Kencan kita kali ini sungguh seru dan tak terlupakan. Ke tempat seperti ini adalah pengalaman pertamaku. Awalnya, kupikir hanya aku saja yang memiliki rasa takut berlebihan. Tetapi, saat keluar dari tempat ini, ternyata banyak juga pengunjung yang seperti diriku. Bahkan ada yang keluar dalam keadaan pingsan," ucapnya sambil tertawa kecil.


Shohei langsung berjongkok di hadapan Seina seraya memegang kedua tangannya yang masih berkeringat dingin.


"Masuk di wahana hantu juga pengalaman pertamaku," ucap Shohei dengan pandangan yang tertancap di netra gadis itu. Sayangnya, sesuatu yang menjadi pengalaman bersama itu, tidak mereka lewati beriringan.


Seina mengambil sapu tangan dari saku bajunya, untuk menyeka keringat yang berada di sekitar dahi, pipi hingga leher kekasihnya. Ya, mengelilingi wahana besar itu untuk mencarinya, tentu sangat menguras tenaga dan melelahkan.


Shohei menahan pergelangan tangan Seina hingga sapu tangan itu jatuh ke tanah. Pria itu malah menempelkan telapak tangan Seina yang dingin di pipinya. Butiran salju yang seperti kapas turun menerpa mereka. Keduanya kompak mendongakkan kepala ke atas sama-sama menengadahkan tangan seolah siap menampung buliran putih dari atas langit.


"Ternyata malam ini benar-benar turun salju," ucap Seina sambil tersenyum.


Rai tersenyum kecut menatap sepasang kekasih itu dari kejauhan. Ia mengantongi sepasang tangannya sambil berbalik.


"Apa Anda ingin diramal? Kakek ini bisa meramal hal-hal baik dan buruk yang akan menimpa seseorang hanya dengan sekali melihat." Seseorang datang mendekat ke arahnya, menawarkan jasa ramalan. Di sampingnya, seorang kakek tua yang memakai pakaian khas Cina tampak memejamkan mata seraya memegang tongkatnya.


"Tidak, terima kasih. Tapi, kalau gratis, aku ingin kau meramal pria yang berjongkok di depan sana!" Rai menunjuk Shohei.


Orang itu tak merespon, sebaliknya kakek tua di sampingnya membuka mata secara perlahan sambil memerhatikan Shohei.


Tak ada jawaban apa pun, Rai pun berkata, "Tidak bisa, ya? Ya, sudah! Aku juga cuma iseng!"


Rai berbalik sambil tertawa.


Namun, kakek itu tiba-tiba berkata, "Suram. Dia akan menghadapi masalah yang berat dalam hubungan asmara, pertemanan, dan juga karirnya. Peringatkan padanya untuk berhati-hati dalam bertindak!"


.


.


.


jangan lupa like + komen