
Ya, pria yang duduk di depan komputer saat ini adalah Inoo Yuta, seseorang yang dulunya merupakan sahabat Rai sekaligus salah satu mantan anggota dari kelompok penipu ulung. Kelompok yang dulunya diketuai Rai itu, sering menipu orang-orang yang memiliki harta benda yang dihasilkan dengan cara ilegal.
Yuta adalah ahli peretas yang dulunya ditugaskan Rai mencari calon mangsa yang akan mereka tipu. Dengan keahliannya meretas sistem, ia bisa mendeteksi aset-aset berharga yang disembunyikan calon mangsa mereka. Tinggal seatap bersama selama tujuh tahun, tentu dia sangat mengetahui seluk beluk Rai. Terbukti, ia berhasil menggunakan kelemahan pria itu untuk menjebaknya. Ya, dialah sosok di balik penyebab Rai mendekam di penjara.
Masih mendengar suara asli Black Shadow sembari berpikir, pria itu bergegas mengambil earphone untuk lebih memastikan dugaannya. Begitu earphone terpasang di telinga, ia memperlambat kecepatan pemutaran suara hingga 0,5X.
"Apa cuma perasaanku saja, ya?" gumamnya sambil mematahkan leher ke kanan. Ia mendengus seraya menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi.
"Mana mungkin! Mana mungkin dia tiba-tiba menjadi superhero seperti ini!" Ia menertawakan firasatnya sendiri.
Jika didengar secara saksama, warna suara Black Shadow terdengar mirip dengan suara Rai. Namun, dialek keduanya jauh berbeda. Selain itu, Black Shadow menggunakan intonasi suara yang meledak-ledak, heboh dan berisik ditunjang dengan gayanya yang sedikit konyol saat sedang siaran langsung. Tentu saja berbeda jauh dengan kepribadian Rai yang dulunya terkenal tak banyak bicara dengan penampilan yang perfeksionis. Ya, karena pada dasarnya Black Shadow bukan Rai, tetapi bayangan Shohei. Dan Rai hanya memerankan tokoh tersebut sesuai keinginan Shohei.
Di sisi lain, Yuriko terkejut saat Rai mengajaknya tinggal bersama. Bahkan pria itu telah membawa masuk barang-barangnya ke kamar.
"Hei, hei, tunggu dulu! Siapa yang setuju tinggal denganmu. Lagi pula, aku akan menginap di rumah temanku!" Yuriko menahan lengan Rai, memaksa berputar ke arahnya.
Rai menunjukkan arloji yang terpasang di pergelangan tangannya. "Lihat, sudah jam berapa ini?"
Yuriko melebarkan matanya melihat jarum pendek dan jarum panjang mengarah tepat ke angka dua belas. Ia terlalu lama berkemas-kemas hingga menghabiskan waktu berjam-jam.
"Tinggallah di sini sehari, dua hari, atau sebanyak yang kau mau. Mau tinggal terus bersamaku juga tidak masalah!" ujar Rai sambil mengambil koper kecil yang ada di tangan Yuriko.
Yuriko yang salah tingkah lantas berkata dengan nada terbata-bata. "Aku akan menginap ... hanya ... untuk malam ini saja! Besok pagi aku akan keluar! Kalau bukan karena terpaksa, aku juga tidak mau menginap di sini!" ketus Yuriko berlagak menolak. Padahal, sebelumnya ia bingung akan pergi ke mana. Bahkan, untuk menghubungi kawan-kawannya pun terasa sungkan.
Rai tersenyum kecil, kemudian membuka kausnya secara tiba-tiba. Hal itu sontak membuat Yuriko menutup matanya dengan kedua tangan.
"Hei, kenapa kau membuka pakaianmu di sini?"
"Aku mau mandi. Tentu harus buka pakaian, kan?" jawab pria itu santai.
"Seharusnya kau membuka pakaianmu di kamar mandi, bukan di sini!" Yuriko berujar kesal seraya membelakangi pria itu.
Rai mengambil handuk, lalu menggantungnya di bahu. Saat berjalan menuju kamar mandi, ia malah tak sengaja menabrak barang-barang Yuriko yang masih tersusun. Koper kecil yang terletak paling atas langsung terjatuh dan membuat sebagian isinya keluar. Sialnya, isi dari tas tersebut adalah pakaian dalam Yuriko.
"Apa itu?" Yuriko yang enggan berbalik, lantas bertanya saat mendengar suara benda keras terjatuh.
"Oh, hanya sekelompok kelelawar yang keluar dari sarangnya," ucap Rai sambil memungut bra-bra Yuriko yang berserakan. Ia melihat label ukuran bra tersebut, sambil membaca dengan lantang, "32 B. Hampir rata, ya?"
Mata Yuriko terbelalak seketika. Ia berbalik cepat seraya merampas pakaian dalam miliknya yang dipegang Rai. Pipi Rai mengembung karena menahan tawa melihat wajah Yuriko yang memerah.
"Ya, sudah. Aku mandi dulu. Istirahat saja sana!"
"Ano ... aku tidur di mana, ya?" tanya Yuriko pelan.
"Tidurlah di ranjangku," teriak Rai yang telah masuk ke kamar mandi.
Pandangan Yuriko teralihkan pada ranjang sedang di ruangan itu. Ia pun merentangkan tangannya ke atas sambil menguap kemudian naik ke ranjang.
"Ternyata ranjangnya lebih empuk!" Yuriko memosisikan tidur menyamping dan mulai menutup matanya.
Beberapa menit kemudian, Rai keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambutnya yang basah. Usai memakai pakaiannya, pria itu langsung berbaring tepat di samping Yuriko.
Yuriko lantas membuka kedua matanya dan langsung berbalik. "Kenapa kau juga tidur di sini?" tanyanya dengan mata melotot.
"Apa ada yang salah? Ranjangnya, kan, hanya satu."
"Kupikir kau memintaku tidur di ranjang karena kau ingin tidur di tempat lain." Mata Yuriko mengarah ke bawah, seolah mengisyaratkan agar pria itu tidur di lantai.
"Kenapa aku harus tidur di lantai, kalau ranjangnya cukup untuk berdua?"
Yuriko mengerutkan bibirnya sambil hendak bangun. Namun, Rai segera menahannya.
"Kau mau tidur di mana?"
"Karena kau tidur di sini, maka aku akan tidur di bawah."
Rai membuang napas kasar. "Apa kau tidak percaya padaku? Bukankah kita pernah tidur seranjang?" Rai mencoba mengingatkan saat gadis itu tidur di kamarnya karena lupa membawa kunci kamar.
Yuriko mendengus kesal lalu segera berbalik membelakangi Rai. Posisinya yang hanya menumpang, membuatnya tak mungkin untuk terus menerus protes.
"Oyasumi (selamat tidur)," ucap Rai sambil menarik selimut untuk mereka.
Satu jam berlalu, Rai yang sedang tertidur pulas tiba-tiba terguling ke lantai saat Yuriko menendangnya tanpa sadar.
Rai bangun dan naik kembali ke ranjang. Ia mencoba merapikan kembali baju Yuriko yang tersingkap. Ia mengarahkan tangannya dengan hati-hati dan sangat pelan agar tak membangunkan gadis itu. Namun, baru saja memegang ujung baju tersebut, Yuriko mendadak terbangun.
Mata Rai dan Yuriko bersirobok selama beberapa detik. Tatapan Yuriko turun ke bawah, melihat kedua tangan Rai yang memegang ujung kausnya.
"Apa yang kau lakukan, hah?!" teriak Yuriko sambil menendang pria itu.
Alhasil, Rai kembali jatuh terjerambab ke lantai. Kali ini bukan hanya bokongnya yang sakit, tapi juga perut karena mendapat tendangan dari Yuriko.
"Dasar Buaya lapar! Berani-beraninya bertindak mesum saat aku sedang tidur!" umpat Yuriko.
"Woi, siapa yang mesum? Aku justru mau menurunkan bajumu yang tersingkap. Lagi pula, aku juga tidak berselera dengan gadis berdada rata," ketus Rai tak kalah kesal.
"Apa kau bilang?!" Yuriko tentu saja tak terima dikatakan seperti itu. Sedetik kemudian, ia menatap dadanya sendiri dan langsung menyilangkan kedua tangannya.
Rai kembali naik ke ranjang. Sama-sama melempar tatapan sinis, baik Rai maupun Yuriko kompak saling memunggungi.
Waktu terus mengikis malam, hingga tak terasa hari baru telah datang. Di apartemen kelas ekonomi itu, Yuriko tengah bersiap-siap berangkat ke apartemen Shohei. Ia melihat Rai yang masih terlelap, lalu mendekat untuk mencoba membangunkannya.
"Hei, hei, apa kau tidak bersiap-siap pergi kerja?" Yuriko menggoyang-goyangkan pundak Rai.
"Hhmm ... tidak!" jawab Rai dengan mata yang masih terpejam.
"Jangan bilang kau telah dipecat dan jadi pengangguran! Apalagi saat ini banyak perusahaan yang mengurangi karyawan mereka."
"Jam masuk di tempat kerjaku sesuka hati karyawannya," balas Rai bersuara mengantuk.
"Woah, apakah ada tempat kerja seperti itu? Itu tempat kerja impianku!" ujar Yuriko dengan mata berbinar-binar. Ia menatap kembali ke arah Rai, lalu berkata, "Ya, sudah, aku pergi kerja dulu, ya? Begitu pulang nanti, aku akan berkemas dan segera pergi dari sini."
Yuriko terpaku beberapa saat hanya untuk menanti balasan Rai. Sayangnya, pria itu malah kembali tenggelam dalam tidurnya.
Di sisi lain, para wartawan sedang mengabadikan momen Perdana Menteri dan ibu negara meresmikan sebuah bangunan baru. Tepuk tangan yang meriah mengiringi proses peresmian gunting pita. Usai acara tersebut, para kuli tinta langsung mewawancarai pejabat nomor satu di negara itu. Salah satu wartawan menanyakan kabar mengenai ajakan makan malam yang perdana menteri tujukan pada Black Shadow.
"Kalian lihat sendiri, sampai detik ini dia belum merespon ajakan saya. Tetapi, saya akan terus menunggu kesiapannya untuk bertemu."
"Apa yang Anda ingin bicarakan dengan Black Shadow jika dia menerima ajakan makan malam Anda?" tanya wartawan.
"Tentu banyak hal. Pertama-tama, ucapan terima kasih dan juga penghargaan karena telah menangkap para koruptor yang tidak terendus oleh kepolisian dan kejaksaan selama ini," jawab perdana menteri.
"Ada yang mengatakan undangan makan malam ini untuk membersihkan nama baik Anda dan pemerintahan yang Anda pimpin, karena sembilan pejabat yang tertangkap itu adalah orang-orang yang dekat dengan Anda," serang wartawan kembali.
"Korupsi itu bisa dilakukan siapapun di era kepemimpinan manapun. Jika pejabat melakukan korupsi dan tindak pidana lainnya, maka pejabat tersebut telah berkhianat pada negara dan rakyat dengan melanggar sumpah jabatannya," tegas Perdana Menteri yang langsung pergi bersama para pengawalnya.
Tak jauh dari kerumunan, seorang pejabat yang sedari tadi memantau hanya tersenyum sinis mendengar penuturan Perdana Menteri.
Pengawal sekaligus sekretarisnya datang mendekat seraya berkata, "Apakah Perdana Menteri akan kembali terpilih pada pemilu yang akan datang?"
"Apa pun yang terjadi, dia harus tetap terpilih. Karena itu akan menguntungkan kita," ujar pejabat itu dengan sepasang mata yang masih mengawal siluet Perdana Menteri.
"Omong-omong, Tuan, saya datang membawa informasi penting."
Pejabat itu langsung mengalihkan pandangan ke ajudannya.
"Orang itu telah bekerja sesuai perintah Anda. Dia mengatakan Black Shadow tidak bekerja sendiri. Ada seseorang yang menggerakkannya dari belakang."
Pejabat tersebut tersentak seketika.
"Apa itu artinya Black Shadow bekerja atas perintah seseorang?"
"Iya, Tuan. Ini seperti yang kita duga di awal-awal kemunculannya. Black Shadow kerap memanggilnya dengan sebutan Mr. White. Dia jugalah yang mengendalikan siaran Black Shadow selama ini."
"Mr. White?" Alis pejabat misterius itu terangkat sebelah mendengar nama yang asing baginya.
.
.
.
like+ Komeng, biar semangat Bray