Never Not

Never Not
Ch. 140 : Aku Akan Kembali



Rai, Yuriko, dan Kei tengah mempersiapkan makan malam mereka di halaman vila. Ketika menuju ke tempat ini, mereka memang membeli beberapa bahan makanan yang saat ini tengah di panggang.


Ryo turun dari mobil sambil membawa kantongan plastik berisi bir. "Maaf aku terlambat. Aku singgah ke kuil untuk mendoakan keselamatan Otaka Ai.


"Pastikan tidak ada yang mencurigaimu," ucap Kei.


"Tenang saja! Pemilik toko bahkan mengira aku anak SMA." Ryo tersenyum lebar seraya meletakkan jari telunjuk di pipinya.


Ditugaskan memanggang sosis, Rai justru sibuk mengawasi Yuriko yang tengah mengobrol dengan seseorang melalui telepon. Sudah sedari tadi gadis yang hobi menguncir rambutnya itu menepi dari mereka dan hanya sibuk berbicara di telepon.


"Hei, hei, lihat yuriko-chan, terlihat senang sekali! Kira-kira siapa yang meneleponnya, ya? Dia sampai tidak mau beranjak dari sana." Kei sengaja menyenggol bahu Rai seraya memanas-manasi pria itu.


Rai kembali menoleh ke arah Yuriko. Seperti kata Kei, gadis itu tampak bahagia selepas menerima telepon. Senyum semringah pun masih terukir di bibirnya.


"Apa Shohei yang baru saja meneleponmu?" duga Rai.


Yuriko menggeleng. "Bukan, tapi Okaa-san. Dia baru saja memberitahukan padaku bahwa operasi pemasangan kaki robot pada otou-san akan segera dilaksanakan."


"Oh, benarkah? Itu kabar baik!" Ryo menyahut dari belakang, "tapi ... setahuku biaya pemasangan kaki robot sangat mahal!"


"Otou-san mendapat donasi dari seseorang. Dialah yang menanggung segala biaya."


"Siapa orang itu?" tanya Ryo penasaran.


"Aku juga tidak tahu. Dia tidak menyebutkan namanya. Tapi ... siapapun orang itu, aku ingin berterima kasih padanya."


"Dia pasti orang yang sangat dermawan," imbuh Ryo sembari bersedekap.


Saat mengatakan itu, Yuriko menatap Rai yang langsung berbalik membelakanginya dan berpura-pura sibuk memanggang. Segaris senyum halus terbit di bibir pria tampan itu. Dari lubuk hatinya, ia turut senang dengan kebahagiaan yang dirasakan Yuriko saat ini. Namun, ia merasa tak pantas menerima ucapan terima kasih gadis itu.


"Mari makan!" Rai membawa makanan yang telah dipanggangnya.


Mereka semua berkumpul di meja kecil, menikmati makanan seadanya untuk mengisi kekosongan perut. Apalagi satu hari ini sungguh melelahkan bagi mereka. Mereka sampai berebutan lauk dan nasi panas.


"Kira-kira sampai kapan kita akan di sini, ya?" tanya Ryo yang tiba-tiba berhenti mengunyah.


Semua mendadak hening dan saling melirik.


"Ryo-chan, masa cutimu akan segera habis. Kembalilah bekerja! Tugasmu membantu kami sudah cukup," pinta Rai seketika, ia lalu melirik ke arah Kei, "Kei, kau juga sebaiknya kembali ke Tokyo. Kau termasuk tokoh publik berpengaruh saat ini, jangan sampai mereka menyadari kau bagian dari kami. Dan Yu-chan, kau bisa pulang kampung untuk mendampingi operasi ayahmu," lanjutnya lagi.


"Apa-apaan kau ini?! Jangan berlagak kau bisa mengatasi ini semua!" ketus Yuriko sambil meletakkan sumpitnya di atas meja.


"Aku hanya tak ingin akan ada korban lagi di antara kita setelah Otaka Ai." Rai menunjukkan ekspresi cemas.


Hingga kini, mereka belum membuat rencana selanjutnya untuk melawan Kazuya Toda. Shohei pun belum menghubungi mereka lagi untuk mengabari info selanjutnya. Namun yang pasti, seluruh personil keamanan negara telah digerakkan untuk mencari mereka berempat.


"Tenang saja, program acara yang kupandu masih dihentikan sejak peristiwa pembunuhan pamanku. Mereka hanya tahu aku sedang berlibur. Aku tidak akan meninggalkan kalian sampai Kazuya Toda benar-benar mendapatkan hukuman setimpal. Yang gelap seharusnya terlihat gelap, yang terang pun tetap akan menjadi terang. Jangan dibiarkan kabur. Itu prinsipku sebagai seorang jurnalis," tegas Kei tanpa keraguan.


"Aku juga! Aku tidak akan meninggalkan kalian," sambung Ryo


Ponsel Rai tiba-tiba berdering hingga mengejutkan mereka semua. Berpikir yang meneleponnya adalah Shohei, Rai pun segera merogoh sakunya. Matanya memicing saat melihat nomor asing di layar ponselnya. Jari jempolnya ragu-ragu menerima panggilan tersebut.


"Moshi-moshi ...."


"Ini aku. Tolong aku! Aku butuh bantuanmu!" Suara pria yang gemetar nan bergelombang terdengar dari balik saluran telepon.


"Ada apa dengan dirimu?"


"Di mana kau sekarang?" tanya Yuta dengan suara panik dan tak tenang.


"Aku tidak bisa mengatakan padamu. Maaf tidak menghubungimu lagi. Kita telah gagal membobol safe room itu. Aku hampir ditangkap jika tak segera melarikan diri," ucap Rai beralasan agar Yuta tak mencurigainya karena mereka putus komunikasi setelah kejadian di safe room.


"Aku ingin bertemu denganmu! Aku ingin ikut denganmu. Haru dan lainnya telah berhasil melarikan diri keluar negeri. Mereka meninggalkan aku sendiri!" pinta Yuta dengan suara gemetar.


Rai menghela napas sesaat. "Yuta-kun, yang mereka lakukan itu telah benar. Apa kau lupa dengan prinsip kita? Jika misi kita ketahuan, maka kita hanya perlu menyelamatkan diri masing-masing. Lagipula, polisi sempat melihatku waktu itu." Rai kembali beralasan.


"Tolong saja aku kali ini! Aku janji tidak akan menagih utang uang yang kuberikan padamu! Kau ingat, kan, kau berjanji membayarnya dengan keberhasilan misi, nyatanya misi ini gagal dan aku menjadi buronan mereka. Setidaknya tolonglah aku!" ucap Yuta memelas untuk yang kesekian kalinya.


Suara penuh permohonan itu sedikit memengaruhi Rai. Apalagi kali ini Yuta membawa-bawa uang pinjaman yang diberikan padanya kala itu. Rai menoleh sejenak ke arah Yuriko. Tak bisa ditampik, jika bukan karena Yuta yang memberinya pinjaman, maka mungkin hingga kini ia tak bisa mewujudkan impian Yuriko.


Kembali mengembuskan napas dalam-dalam, Rai pun berkata, "Baiklah. Tapi ... aku hanya bisa membantumu mendapatkan tempat yang aman untuk bersembunyi. Kita tidak bisa bersama seperti dulu lagi."


Rai kembali ke meja setelah selesai berbicara dengan Yuta.


"Besok pagi aku akan turun ke Tokyo!" ucapnya sambil kembali duduk.


Ketiga orang itu lantas terkejut.


"Apa kau sudah gila?! Bagaimana kalau orang-orang Kazuya menangkapmu!" tegur Yuriko menunjukkan sikap khawatir.


"Meski aku telah menjadi buronan nasional, tapi hingga kini profilku belum pernah dirilis ke publik. Artinya mereka belum mengetahui identitasku," balas Rai.


"Apa yang akan kau lakukan?" tanya Kei cepat.


Rai menggeleng. "Aku hanya ingin menemui teman lama. Aku tidak bisa mengabaikannya, karena dia juga telah membantu kita secara tak langsung dalam membuka gudang safe room."


Mata Ryo membesar seketika. "Oniichan, apa maksudmu ... orang yang ingin kau temui itu adalah Yuta?"


Rai mengangguk pelan. "Jangan khawatir! Aku akan baik-baik saja!"


Yuriko segera menyusul Rai yang berjalan memasuki kamar mereka. "Rai, apa kau tidak ingat perintah Shohei untuk tetap terus di sini? Di luar sana sedang tidak baik-baik saja! Kita tengah diincar pasukan Kazuya Toda, tapi kau malah—"


Ucapan Yuriko terhenti saat Rai berbalik dan mencapit bibir gadis itu dengan jari telunjuk dan jempol hingga membentuk mulut bebek.


"Aku akan segera kembali!" ucap pria itu seraya melengkungkan bibirnya.


Di sisi lain, Yuta menyimpan kembali ponselnya, setelah membuat kesepakatan bertemu dengan Rai besok pagi. Ia melirik ke samping, tepatnya ke seseorang yang tengah menodongkan pistol di kepalanya. Tanda jika pembicaraan antara dia dan Rai sedari tadi diawasi anak buah Kazuya Toda.


"Kau tahu kan apa yang harus kau lakukan padanya? Jika kau gagal membunuhnya, maka kami akan turun tangan membunuh kalian berdua."


.


.


.


Nantikan terus chapter2 detik-detik terakhir nopel ini. kalau mau gw update cepat, jangan lupa ninggalin jejak Komeng. kalau mau kasih vote hadiah, berikan di novel DOSA aja, ya. Arigatou gozaimasu 🙏