
Setiap orang yang berada jauh dari rumah, terkadang salah satu hal yang paling menakutkan adalah menerima panggilan yang berujung kabar yang tak pernah diharapkan.
Sudah hampir lima tahun berada jauh dari rumah, Nada tidak pernah sekalut ini. Beberapa kali dia mendengar kabar ayahnya sakit. Namun, baru kali ini ayahnya hingga harus dirawat di ICCU. Bahkan suara ibunya pun bergetar ketika memberi kabar tersebut.
Tujuan Nada pertama kali ketika menginjakkan kaki di Yogyakarta adalah rumah sakit. Dia bahkan hanya membawa pakaian ala kadarnya. Nada ke Yogyakarta dengan penerbangan terakhir. Dia bersyukur saat itu Natya ada dan segera mengantarnya. Kunci mobilnya ia titipkan kepada Dhito agar bisa diberikan kepada Frinta. Beruntung Nada masih terkejar untuk itu.
Di ruang tunggu lantai tersebut, Nada melihat sosok ibunya dan kedua adiknya. Nada langsung berlari memeluk ibunya. Tidak ada tangis yang keluar dari dirinya meski sang ibu sudah mulai memeluknya erat sambil menangis.
Kedua mata adiknya pun sudah sembab.
"Maaf ya, Mama baru bilang sekarang... " ujar ibunya dengan terisak pelan.
Nada melepas pelukannya perlahan. "Tapi, Papa udah nggak apa-apa kan, Ma?"
Ibunya pun mengangguk pelan. Rasa lega merasuki diri Nada. Dia sudah sangat takut jika mendengar kabar yang tidak ingin dia dengar. Ini sudah hari ketiga ayahnya dirawat. Operasinya sendiri sudah dilalui kemarin. Ayahnya sudah beberapa kali mengalami masalah jantung dan ini yang paling parah. Nada masih bersyukur ini tidak termasuk serangan jantung. Namun, apapun itu, tetap saja membuat dirinya khawatir.
"Hari ini kakak aja yang jaga Papa, Ma."
"Nggak usah, Kak. Kan baru sampai di sini. Istirahat saja... " Ibunya mengusap pelan lengan Nada. Nada menolak karena dia yakin ibunya jauh lebih butuh istirahat.
"Gapapa, Ma.. Mama istirahat aja sama Nira. Aku sama Nauva aja yang jaga, Papa." Nada menoleh ke Nauva, adik keduanya. Nauva mengacungkan jempolnya tanda siap menemani kakak tertuanya ini.
Setelah melalui beberapa proses membujuk, akhirnya ibunya setuju untuk pulang bersama Nira.
Nada dan Nauva duduk di ruang tunggu tersebut bersampingan. Waktu sudah masuk jam sembilan malam. Orang-orang yang harus menunggu keluarga dan orang terdekatnya berkumpul di ruangan tersebut.
"Udah makan, Va?" tanya Nada lembut.
"Udah kak, aman. Kakak udah?"
Nada mengangguk. Dia tadi sempat makan di pesawat.
"Takut banget, Kak. Untung udah selesai..."
Nada menggenggam jemari Nauva. Dia meremas lembut sebagai tanda bahwa dia bangga dengan adiknya yang tetap bertahan dengan kondisi mereka ini. Nada dan Nauva pun mengobrol singkat sebelum akhirnya Nauva tertidur duluan. Nada memandang lekat wajah adik laki-lakinya tersebut dalam diam sebelum akhirnya merebahkan dirinya dan menghela napas panjang.
Ini adalah salah satu Sabtu terberat yang ia lalui. Begitu banyak hal yang terjadi di hari ini. Padahal pagi tadi dia masih tertawa riang bersama Frinta ketika mengantarnya ke mall. Dia tidak menyangka bahwa beberapa jam setelahnya dia akan pulang kembali ke kotanya ini karena kabar yang mengejutkan.
Nada mengecek ponselnya dan ada beberapa pesan yang masuk. Dari atasannya, Frinta, dan juga ada pesan dari Natya.
Udah sampai, Nad?
Kalimat sederhana yang entah kenapa membuat Nada tiba-tiba ingin menangis kencang. Dia sudah terbiasa untuk menjadi sosok yang paling kuat dan tegar di keluarganya. Sosok yang akan mengatakan 'tidak apa-apa', 'jangan khwatir', serta kalimat penguat dan penghibur lainnya. Saat ini ketika membaca kalimat Natya juga membayangkan betapa Natya sudah sangat baik hati untuk benar-benar menemaninya hingga hari keberangkatan, membuatnya tiba-tiba merasa bahwa seperti ada tempat baginya untuk setidaknya merasa tidak apa-apa untuk tidak sekuat dan setegar biasanya.
Nada menghapus air mata yang mendadak turun ke wajahnya.
Dia harus kuat. Harus.
••••••
Perayaan ulang tahun Kay hari ini tidak membuat Natya turut merasakan luapan kegembiraan. Pikirannya masih tertuju pada Nada serta kondisinya saat ini. Siang tadi Nada sudah memberi kabar bahwa kondisi ayahnya semakin membaik.
Natya terbayang bagaimana wajah kalut Nada saat itu. Tapi, bahkan gadis itu tidak menangis. Seperti menahan tapi Natya tahu bahwa Nada seperti tidak menginjak bumi saat itu. Dia sempat linglung ketika mereka baru turun di pintu keberangkatan bandara. Ingin rasanya Natya saat itu memeluk Nada untuk berbagi kesedihannya saat itu.
"Melamun terus lo."
"Gilirannya anak muda kan ini?" Natya mendengar ibunya sudah tersenyum-senyum penuh arti.
Natya tidak bisa berkilah. Kay memang sudah sangat diterima oleh keluarganya. Bahkan ibunya sepertinya memang sudah menganggap Kay seperti anak sendiri. Ditambah kedua orang tua mereka memang akrab karena ayah mereka berdua merupakan satu alumni dan bersahabat.
"Kabar Nada gimana, Nat?" tanya Dhito.
"Baik... Kondisi ayahnya juga udah membaik... "
"Syukurlah..." Dhito melirik temannya sejenak. "Dan gue juga mau bilang, lo mukanya jadi kusut banget. Si Kay sampe tadi nanya ke gue lo kenapa."
"Hm?" Natya hanya setengah mendengarkan.
"Lo kalau khawatir kayak gitu, susullah. Si Kay aja sampe lo susul ke Singapore dari Bangkok. Jakarta sama Jogja doang, susullah." Dhito mengusulkan ide yang mendadak muncul di benaknya. Dia sendiri sebenarnya kaget dengan pemikirannya tersebut.
Natya hening sebelum akhirnya menoleh ke Dhito. Dia membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu namun akhirnya tertahan. Alis Dhito terangkat tanda heran. Otak Natya mau tidak mau sedang mencerna dan menimbang perkataan Dhito.
Benar juga, apa jauhnya Jakarta dan Yogyakarta dibanding Bangkok dan Singapore?
Tapi, apa karena Kay adalah orang terdekatnya? Bagaimana pun Kay adalah seseorang yang memang tidak bisa dipungkiri memiliki arti tersendiri dan spesial di hidup Natya.
Sedangkan Nada...
Raut wajah gadis tersebut kembali terbayang di benak Natya. Nada dengan tangis tertahannya memiliki kesedihan yang berbeda dengan Nada yang meringkuk di tengah ratusan orang di stadium hari itu.
"Dhit."
"Ya?" Dhito menunggu lanjutan kalimat Natya. Dan dia sudah bisa menebak itu apa.
••••
"Sop ayam pisahnya Pak Min ya." Nada berbicara dengan Nauva di telepon. Nira punya kelas pagi hari ini dan Nada mengusulkan ibunya nanti saja baru ke Rumah Sakit. Ditambah ayahnya juga belum bisa dijenguk. Nauva akan ke Rumah Sakit sebelum kelas siangnya.
Pagi tadi Nada sudah mengisi perutnya dengan roti dan tiba-tiba dia ingin merasakan sop ayam Pak Min favoritnya.
Nada meregangkan otot-otot tubuhnya. Pegal juga tidur di kursi untuk tiga hari ini. Dia menepuk-nepuk pundaknya agar setidaknya rasa pegal tersebut berkurang.
Nada memutuskan untuk berkeliling dulu saja sembari menunggu Nauva datang. Sepertinya berjalan di dekat taman Rumah Sakit ini bisa sedikit menyegarkan dirinya. Nada berjalan menuruni tangga sembari bersedekap di balik hoodie hitamnya. Wajahnya saat ini pasti sudah tidak karuan.
Drrrtt... Drrrtt...
Ponselnya bergetar terus menerus yang menandakan ada panggilan masuk. Begitu sampai di lobby rumah sakit, Nada merogoh saku celananya dan melihat nama Natya tertera di layar ponselnya.
"Halo, Nat?"
"Nad, di Panti Rapih kan?" Tanpa basa-basi Natya langsung bertanya.
"Iya, Nat. Kena... pa?" Suara Nada langsung tertelan bumi ketika melihat sosok Natya sudah berdiri tak jauh dari . Pria tersebut tersenyum dan menurunkan ponselnya dari kupingnya.
"Halo, Nada."
Untuk pertama kalinya di minggu tersebut, tangisan Nada pecah.