Never Not

Never Not
Kei Ayano : Sang Jurnalis Part 2



Kami kembali ke markas yang berdekatan dengan Kedubes Jepang. Kami meletakkan wanita itu di atas ranjang tempat tidur Aoba. Dia masih tak sadarkan diri. Aku meminta mereka mengambil perawatan medis yang kami miliki, lalu mulai melakukan pengobatan terhadap luka bakar di kaki dan bekas tusukan benda tajam di lengannya.


"Wah, Ayano-san, tidak kusangka kau bisa menangani hal semacam ini!" ucap Aoba sambil melihatku melilit luka dengan perban.


"Dulunya aku Pasukan Bela-diri, hal semacam ini harus kami kuasai untuk menjaga diri. Selain itu ... pacarku seorang dokter. Dia sedang kuliah untuk mengambil spesialis bedah." Saat membicarakan kekasihku, bibir ini terus menyunggingkan senyum.


"Hebat! Pacarmu yang waktu itu datang mengantar ke bandara, kan?" tanya So.


Aku mengangguk tanpa suara. Membicarakan tentangnya, hanya membuatku semakin merindukannya.


Aoba menyenggol lenganku dengan sengaja. "Kudengar dia anak panglima angkatan darat bela-diri. Pantas saja sebelumnya kau menjadi anggota Pasukan Bela-diri Jepang."


"Itu berarti kalian sudah lama berpacaran, ya?" tanya So sambil memajukan wajahnya ke wajahku.


"Sejak kami sekolah menengah atas," jawabku singkat.


Rekan-rekanku berdecak kagum mengetahui hubungan yang kujalani dengannya sudah menginjak delapan tahun. Mereka lalu keluar dari kamar hingga menyisakan aku dan wanita itu. Setelah selesai mengobati lukanya, kuputuskan juga untuk segera keluar dari kamar itu. Namun, baru saja hendak membuka pintu, aku malah mendengar rekan-rekan kerjaku bergosip tentang diriku.


"Eh, eh, kalian tahu, Ayano-san ditugaskan di negara ini atas pesanan dari panglima angkatan darat." Suara Aoba yang terdengar berbisik-bisik itu menembus telingaku dan melunturkan senyumku seketika.


"Iya. Kurasa dia ingin menekan Ayano-san untuk tidak menjadi jurnalis hukum dan politik yang mungkin akan menjadi bumerang baginya. Kita tahu sendiri, Ayano-san sangat idealis. Selain itu, mungkin dia juga ingin menjauhkan Ayano-san dari putrinya."


"Jangan berasumsi yang tidak-tidak! Apa maksudmu panglima tidak menyetujui hubungan Ayano-san dengan putrinya?" Kali ini suara Eiji yang terdengar di telingaku.


"Coba kalian pikirkan, sebelumnya Ayano-san adalah anggota Pasukan Bela-diri angkatan darat di bawah naungannya. Tapi saat itu Ayano-san malah membongkar aib dan skandal yang terjadi di tubuh Pasukan Bela-diri lewat artikel yang dia tulis dengan memakai nama pena. Apa dia masih ingin merestui hubungan anaknya dengan Ayano-san? Bukankah ini juga menjadi ancaman baginya jika maju dalam dunia politik? Apalagi Ayano-san telah terlihat vokal bahkan sebelum menjadi jurnalis."


Mataku melebar. Benarkah? Benarkah begitu? Benarkah ayah kekasihku yang merencanakan ini semua agar aku dikirim di negara ini? Benarkah tujuannya agar aku bisa meninggalkan putrinya?


Ya, dulunya aku adalah mantan Pasukan Bela-diri Jepang. Harus jujur mengakui bahwa satu-satunya alasan aku masuk ke angkatan bersenjata itu untuk memenangkan hati ayahnya. Namun, selama mengikuti pelatihan, aku malah mendapatkan sisi kelam dunia kemiliteran yang tentu saja tidak diketahui orang-orang luar sana. Perundungan, penyiksaan, perbudakan, penyalahgunaan jabatan, hingga pelecehan sekksual menjadi pemandangan kelam yang terlihat selama aku berada di sana. Aku tidak menyangka, tempat ini tak berbeda dengan sebuah mimpi buruk.


Aku tidak tahan! Aku tidak tahan untuk membiarkan ini terus terjadi! Jika aku tidak melakukan sesuatu, kefasikan ini akan terus terulang dan bertahan. Aku mulai membuat artikel yang memuat kebusukan di tempat itu. Meski selama ini mataku seolah tertutup dan bibir ini seakan terkunci, tapi setidaknya tangan ini harus bergerak.


bab ini udah di potong alias dipangkas ya, baca full dan selanjutnya di sini yaa buka aja profilku,



buka profilku