
...Tugas jurnalis adalah menyuarakan mereka yang tak berani bersuara...
...~Kei Ayano~...
...----------------...
Dalam sekejap, video yang dikirim akun anonymous itu beredar ke seluruh pelosok masyarakat Jepang. Ada banyak orang yang membagikan serta mengunggah kembali video tersebut di berbagai media sosial dan aplikasi chat. Bahkan video itu menjadi trending satu Twitter dan retweet terbanyak sepanjang sejarah per-twitter-an Jepang. Teka-teki sosok pejabat itu juga langsung menjadi tema topik forum-forum diskusi online terbesar di Jepang. Para kuli tinta pun berbondong-bondong menerbitkan artikel terkait dan berita-berita di televisi juga menayangkan ulang video tersebut.
Tampaknya, gara-gara video tersebut, banyak pengguna sosial yang menyuarakan agar siaran Black Shadow comeback seperti biasa. Bahkan mereka meminta kepolisian untuk mencabut status buronon pria bertopeng itu. Hal ini tentu saja membuat Kazuya Toda geram. Seakan masyarakat lupa akan konspirasi yang dibuatnya terkait kematian menteri kehakiman.
Salah seorang reporter dari televisi swasta melaporkan langsung dari gudang yang diduga menjadi tempat penyimpanan harta pejabat.
"Pemirsa, Anda bisa melihat di belakang saya saat ini adalah gudang tua yang terletak di belakang bea cukai pelabuhan Tokyo. Gudang ini disinyalir menjadi lokasi beredarnya video viral beberapa jam yang lalu," ucap reporter sambil menunjukkan gudang yang telah dikelilingi garis polisi.
Tampaknya, gudang tersebut langsung diamankan pihak kepolisian dan kejaksaan untuk diperiksa secara langsung terkait kebenaran video. Hanya saja, saat mereka menelusuri ruang bawah tanah sesuai petunjuk video, mereka terhalang oleh pintu masuk yang menggunakan teknologi canggih. Hal ini tentu menguatkan bukti, bahwa kemungkinan video yang beredar luas di masyarakat itu benar adanya.
Setelah sukses menjalankan misi awal, Rai duduk berjongkok di salah satu dermaga kapal. Pria itu menyalakan sebatang rokok, lalu menghirupnya dalam-dalam seraya menciptakan kepulan asap yang membumbung ke atas.
"Rai-kun!"
Rai berbalik saat seseorang berteriak memanggil namanya. Seorang perempuan yang memakai kostum sama dengannya berlari kecil ke arahnya. Rai mengulas senyum, lalu berdiri tetapi langsung menatap laut laut malam yang tenang.
Yuriko yang datang, langsung melompat ke punggung Rai. Untungnya, Rai dengan sigap menahan kaki Yuriko yang melingkar di pinggulnya. Ia sampai harus menjatuhkan rokok yang baru saja dinyalakan. Gadis itu lalu memukul kepala Rai hingga terdengar bunyi yang cukup kuat.
"Ittai!" keluh Rai dengan sebelah tangan yang memegang kepalanya.
(Ittai\=sakit/aduh)
Yuriko yang masih memanjat punggung Rai, lantas kembali memukul kepala pria itu berkali-kali. "Baka, kenapa kau pergi tanpa mengatakan apa pun padaku!" ketus Yuriko kesal.
"Apa itu penting bagimu?" tanya Rai sambil menoleh.
"Setidaknya kalau ingin pergi, tinggalkan banyak bahan makanan di rumah!" ucap Yuriko dengan wajah berpaling. Ia lalu turun dari punggung pria itu, dan berlari ke tepi dermaga. "Haaah ... aku tidak sabar melihat tua bangka itu di penjara! Meski apa yang didapatkan ayahku karena perbuatannya lebih dari itu, tapi melihatnya mendekam dalam sel sudah cukup bagiku," ucap gadis itu sambil berkacak pinggang.
"Apa yang akan kau lakukan setelah misi ini selesai?" tanya Rai sambil berjalan lalu ikut berdiri di samping Yuriko.
"Tentu saja kembali ke kampus, melanjutkan kuliahku hingga selesai dan mencari pekerjaan yang layak. Bagaimana denganmu?" Yuriko balik bertanya.
"Aku masih belum tahu," balas Rai sambil menyisipkan kedua tangannya dalam saku celana.
"Kau akan balik ke apartemen itu, kan?" tanya Yuriko.
Terdiam sejenak sambil membuang pandangan, Rai menjawab, "Aku juga masih belum tahu."
"Sokka (oh, begitu)." Yuriko mengangguk-angguk seolah ia paham.
"Yuri-yuri," panggil Rai lembut.
Yuriko menoleh, menatap Rai yang juga menatapnya.
"Ada yang ingin kukatakan padamu."
"Eh? Apa itu?"
"Aku juga tidak tahu ini apa." Rai tertawa kecil sambil menggaruk-garuk belakang kepalanya. Ia yang dulunya sangat lihai memainkan kata di hadapan perempuan, kini mendadak bodoh. "Kurasa, aku ...."
"Oniichan! Oniichan!" Suara teriakan Ryo membuat Rai dan Yuriko langsung menoleh ke arahnya.
Rai lalu berlari menuju ke arah Ryo. Adiknya langsung memeluknya seolah melepas kerinduan.
Tak jauh dari mereka, Shohei dan Kei berdiri dengan memijakkan kaki pada tanggul yang tersusun di sisi timur dermaga.
Mata Shohei memandang jauh lokasi gudang yang kini disegel kejaksaan, di mana ada banyak polisi, jaksa, dan juga wartawan di sana.
"Menurutmu, apakah misi ini akan berhasil?" tanya Shohei dengan pandangan kaku.
"Kita akan lihat hasilnya besok. Yang pasti saat ini Kazuya Toda sedang memikirkan 1001 cara untuk menutupi keterlibatan dirinya. Tapi itu tidak dapat dia lakukan lagi karena kita memegang bukti foto Eita Kaze melakukan transaksi ilegal. Kurasa itu cukup membuat publik yakin dan percaya keterlibatan Kazuya pada kasus ini, mengingat Eita Kaze adalah orang kepercayaannya. Dengan begitu, akan ikut terkuak juga siapa dalang dan motif pembunuhan paman," ucap Kei optimis.
"Selain itu, kasus ini juga akan menyeret nama jenderal Otaka, karena salah satu orang yang memiliki akses masuk di ruang safe room selain Eita Kaze dan Kazuya Toda adalah Jenderal Otaka," sambung Shohei dengan nada suara lemah.
Shohei lalu kembali menapaki bebatuan di dermaga kapal. Sekitar lima meter dari jarak sebelumnya, langkahnya mendadak berhenti saat seseorang dengan seragam kepolisian berdiri di hadapannya.
Shohei mengulas senyum tipis di hadapan pria yang ternyata juga bagian dari tim mereka. "Arigatou, atas bantuanmu."
Setelah kembali ke apartemennya, Shohei memosisikan duduk di meja kerja. Sejenak, tatapannya tertuju pada flashdisk peninggalan mendiang Matsumoto yang isinya masih menjadi misteri.
Hingga tak terasa, malam yang pekat telah ditenggelamkan oleh sang pagi. Berita hari ini masih dikuasai dengan video viral yang beredar semalam. Kabar itu semakin dihebohkan dengan munculnya artikel tentang sosok jendral Rusia dan dugaan jual beli persenjataan ilegal yang dilakukan salah seorang pejabat dalam foto. Artikel itu ditulis Kei dan kembali disebarkan oleh Ryo. Mereka sengaja melakukan ini untuk membuat pihak Kazuya Toda semakin ketar-ketir dan terpancing melakukan tindakan yang bisa membuat mereka tertangkap basah.
Koran-koran yang telah tercetak dan diantar ke tiap-tiap rumah, menjadikan berita tersebut di halaman utama mereka. Tentu hal ini membuat pemerintahan Jepang kembali terguncang dan mendapat rundungan dari publik.
Shohei dan timnya kembali berkumpul di markas mereka untuk menyusun rencana berikutnya. Kei yang datang terlambat, tiba-tiba menunjukkan raut tegang.
"Eita Kaze sedang melakukan siaran langsung sekarang!" ucapnya sambil menyalakan televisi.
Semua fokus pada layar televisi yang menyiarkan konferensi pers pejabat badan intelejen negara itu.
"Saya Kaze Eita mengungkapkan sejujurnya terkait video beredar yang membuat gaduh masyarakat. Mengenai sosok pejabat dalam video yang beredar itu adalah diri saya sendiri. Saya melakukan bisnis jual beli persenjataan ke negara-negara yang berkonflik sejak menjabat sebagai komandan pasukan penembak jitu kepolisian. Kemudian melakukan pencucian uang untuk bisnis ilegal yang saya lakukan. Atas perbuatan tercela yang saya lakukan, saya bersedia mundur dari jabatan dan menjalani prosedur hukum. Demikian pengakuan saya sejujur-jujurnya tanpa ada intimidasi dari pihak siapapun."
Pengakuan Eita Kaze tentu mengejutkan semua orang, tak terkecuali untuk Shohei, Rai, Kei, Yuriko, dan juga Ryo.
"A–apa ini?" Rai ternganga sampai-sampai tak bisa berkata apa pun.
"Dia mengakui kalau orang yang difoto itu adalah dirinya. Tapi dia tak menyebut nama Kazuya Toda sebagai pelaku utama, seolah hanya dirinya yang melakukan ini," ucap Kei dengan tatapan tak percaya.
"Artinya, Kazuya Toda sengaja menumbalkan Eita Kaze demi mengamankan dirinya!" ucap Shohei dengan mata yang masih tertancap di layar televisi. Kedua tangannya refleks mengepal, hingga menampakkan urat-uratnya.
.
.
.
catatan author ✍️
Tahu enggak gays, menteri perdagangan Jepang mundur dari jabatannya karena ketahuan memberikan buah melon mahal pada pemilihnya. Menteri kehakiman mundur setelah diterpa isu memberi kentang dan jagung yang banyak di kantor istrinya. Dan paling menghebohkan, juru bicara perdana menteri mundur setelah ketahuan ditraktir makan malam mewah sama putra bos tempatnya bekerja.
Jadi gays, di Jepang sono, udah biasa ya kalau ada isu korupsi atau tuduhan seperti itu, pejabat yang bersangkutan langsung mengaku, meminta maaf di hadapan publik, plus mengundurkan diri dari jabatan mereka.
Kalau dipikir-pikir ini bukan kejahatan besar seperti korupsi. ini cuma masuk kategori penyalahgunaan kekuasaan, tapi sikap yang mereka ambil langsung memilih mundur dari jabatan. Mereka benar-benar bertanggung jawab dan punya malu.
Itu aja gays, sekilas info. Oh, iya, tentang chapter ini sangat related banget dengan kehidupan politikus sebenarnya, ya. Anak buah dijadikan tumbal agar bos besarnya tetap aman. Sudah banyak juga contohnya di Indonesia.
Jangan lupa like dan komen, ya.