Never Not

Never Not
Ch. 73 : Pemandu Kencan



Shohei mendatangi ruang mayat dan melihat langsung kondisi jasad korban. Di sana, ada Seto Tanaka yang sedari tadi mendampinginya. Shohei memicingkan mata seraya menatap jenazah gadis perawat itu secara saksama.


"Ada memar di bagian lehernya. Sepertinya ada yang menyerang korban sebelum terjatuh," tutur Seto Tanaka menunjukkan memar tersebut.


Shohei memerhatikan memar berwarna biru keabuan di leher korban. "Pelaku pasti memiliki keahlian bela diri. Dilihat dari memar korban, ini adalah kejahatan yang memanfaatkan kelemahan fisik."


"Saya pikir juga seperti itu."


"Pinta tim investigasi mencari tahu siapa orang-orang di sekitarnya, termasuk pegawai Rumah Sakit yang pandai ilmu bela diri!"


"Siap!" Seto Tanaka menunduk.


Shohei keluar dari ruang jenazah. Ia mengambil ponselnya lalu menghubungi Rai untuk mengajaknya latihan bela diri sore nanti.


Sore ini, Birunya langit mulai tenggelam karena dijemput petang. Selepas Shohei dan Rai latihan seperti biasa, mereka kembali membicarakan rencana untuk misi target ke sembilan dan juga kaitannya dengan kasus kematian perawat Rumah Sakit Metropolitan Hiroo.


"Dari hasil penyelidikan polisi, tidak ada nyonya Akabane Ayumi dalam daftar keluarga maupun kenalan korban. Catatan telepon terakhir juga tidak ada hubungannya," ucap Shohei sambil meneguk minuman.


"Apa mungkin yang kulihat sore itu bukan orang yang sama?" pikir Rai seraya mengelap keringatnya.


"Di lihat dari tahi lalat yang terletak di kiri bawah bibir, dan juga bentuk rambut yang bergelombang, itu adalah orang yang sama."


"Jadi bagaimana? Apa kau ingin aku menyelidikinya?"


"Masalah gadis perawat itu aku bisa mengambil informasi dari tim kepolisian. Lebih baik kau tetap fokus dengan rencana kita!"


"Baiklah kalau begitu!"


Shohei langsung mengalihkan topik pembicaraan. "Omong-omong, aku butuh bantuanmu lagi. Minggu ini jadwal kencan aku dan Seina. Dia memintaku untuk menentukan tempat kencan. Apa kau punya saran? Aku tidak ingin mengecewakannya lagi seperti waktu itu."


Rai terdiam sejenak. Ia tampak meneguk ludahnya sendiri. Ya, tentu rasa bersalah itu masih melekat di hatinya.


Mungkin sekarang waktunya aku memperbaiki hubungan mereka, dan mengembalikan cinta gadis itu ke tempat yang seharusnya.


"Kalau begitu ... biar aku yang akan jadi pemandu kencan!" ucap Rai secara pasti.


"Eh? Pemandu kencan?"


"Ya, aku juga akan menjadi Dewa cinta untuk kalian berdua! Serahkan padaku! Kencan kalian akan berwarna jika kau mengikuti panduanku!" Rai merangkul pundak Shohei penuh semangat.



Hari kencan yang ditunggu-tunggu pun tiba. Shohei dan Seina sepakat bertemu di taman kota. Tak jauh dari sana, Rai telah lebih dulu tiba dan bersembunyi di balik pohon sambil memantau keduanya. Di tangannya terdapat sebuah teropong kecil. Ia menggunakan benda tersebut untuk memantau mereka.


Baik Rai maupun Shohei sama-sama memasang earpiece berukuran mini yang berguna sebagai alat komunikasi mereka.


"Dia sudah datang, kira-kira ke mana aku harus mengajaknya?" tanya Shohei yang melihat Seina melambai ke arahnya seraya melempar senyum terindah.


"Jangan terburu-buru! Bawalah dia jalan-jalan santai di sekitar taman sambil mengobrol kecil." Rai mulai memandu kencan mereka. Ia kembali menggunakan teropongnya.


Sepuluh menit berlalu. Melihat keduanya yang sama-sama diam tanpa ada obrolan, membuat wajah Rai mengerut seketika.


"Sebenarnya mereka ini sedang berkencan atau melayat ke kuburan? Kenapa hening dan suram sekali?" Rai menggaruk-garuk kepalanya sambil tetap memantau sepasang kekasih itu lewat teropongnya.


Ya, gaya pacaran Rai dan Shohei tentu sangat berbeda jauh. Tak seperti Shohei yang berkencan di taman hiburan, tempat wisata, atau makan di restoran, Rai lebih senang menghabiskan waktu bersenang-senang di atas ranjang dengan teman kencannya.


"Hei, bicaralah untuk mencairkan suasana," ucap Rai memberi instruksi lewat earpiece.


Shohei yang mendengar lantas berdeham untuk menetralkan suaranya.


"Pemandangannya indah sekali, ya!" Shohei mulai membuka obrolan untuk menghempaskan keheningan yang membelenggu mereka.


Rai menyeringai dengan sebelah mata menyipit. "Mana yang kau sebut pemandangan? Yang kalian pijak saat ini hanya lapangan terbuka tanpa ada apa pun."


"Eh, ah, maksudku ... pemandangan langit!" Shohei langsung menunjuk ke atas.


Baik Seina dan Rai sama-sama menengadah ke atas.


"Apanya yang indah?" Rai menampakkan wajah masam melihat langit yang ditutupi awan tebal.


"Sepertinya malam ini salju akan turun!" ucap Seina setelah melihat ke atas.


"Ya, kau benar!" sambung Shohei.


Shohei dan Seina kembali berjalan-jalan di sekitar danau kecil, yang mana banyak terdapat pepohonan mapel di sekitarnya. Sementara, Rai masih terus membuntuti mereka secara diam-diam. Sejenak, Shohei menengok ke belakang hanya untuk mencari tahu keberadaan partnernya itu.


Rai mengacungkan simbol cincin ke arahnya sambil berkata, "Ayo genggam tangannya dengan mesra!"


Baru saja hendak menyentuh tangan Seina, gadis itu malah menggesek-gesekkan kedua telapak tangannya. "Dingin-dingin seperti ini, sepertinya sangat pas untuk makan yang hangat-hangat."


"Benar juga," jawab Shohei singkat.


"Eh, respon seperti apa itu? Apa kau tidak bisa menafsirkan kalimatnya?" Rai kembali berkata lewat sambungan earpiece, "artinya dia berharap kau mengajaknya makan di suatu tempat. Cepat ajak dia makan bersama! Tanyakan juga restoran pilihannya agar dia merasa kau selalu mengutamakan keinginannya."


Mendengar hal tersebut, Shohei mengangguk kecil lalu menoleh ke arah Seina. "Bagaimana kalau sekarang kita makan?"


Seina menatap senang ke arah Shohei sambil mengangguk. "Boleh juga!"


"Kau mau makan di restoran mana?"


"Bagaimana kalau ke restoran China?"


Shohei tampak berpikir. "Maaf, tapi aku sedang menghindari makanan berlemak."


"Kalau begitu, bagaimana dengan restoran Italia?"


Mata Shohei mendelik sebentar, lalu menunduk sopan sambil berkata, "Akhir-akhir ini aku sedang menyelesaikan kasus, jadi aku menghindari makanan berat yang membuat otakku sulit bekerja."


"Ah, aku baru ingat! Di sekitar sini ada restoran sushi yang enak!" seru Seina sambil mengacungkan jari telunjuknya ke atas.


Shohei mematahkan lehernya ke samping. "Hhmm ... tapi ... aku sudah makan sushi selama dua hari berturut-turut. Jadi, aku ingin mencoba makan yang lain. Maaf," tolak Shohei dengan penuh kesopanan.


Rai tertawa kecut dengan kedua alis nyaris menyambung. "Apakah dia sedang melakukan tes kesabaran wanita?" Rai berdecak lidah. Entah kenapa justru dia yang kesal dengan segala jawaban Shohei.


"Hum." Shohei mengangguk.


Rai menepuk kuat dahinya. "Kalau seperti ini untuk apa meminta pendapatnya? Kenapa tidak langsung membawanya ke sana dan malah membuang waktu untuk tanya jawab seperti orang yang sedang ikut cerdas cermat.


Shohei langsung mengajak Seina ke kafe rekomendasinya. Ya, ia mencari tahu tentang kafe ini lewat promosi di media sosial beberapa hari lalu. Beberapa pelanggan merupakan anak muda yang sebaya dengan Seina.


Rai turut duduk di meja yang tak jauh dari Shohei dan Seina tempati. Ia sengaja mengambil posisi duduk di mana Seina membelakanginya.


"Ingat, selama kalian menyantap hidangan, kau harus membuka obrolan lebih dulu. Seperti, membahas hobi dan kesukaannya atau bisa juga tentang masa depan hubungan kalian," terang Rai.


Shohei mengangguk paham.


Rai masih memantau sepasang kekasih itu. Ia tampak tak tertarik untuk memesan sesuatu.


"Yuriko-chan, kita duduk di sini saja!" Suara beberapa gadis terdengar dari arah belakang.


Rai memutar tubuhnya dengan cepat ketika mendengar nama Yuriko disebut. Sontak, ia terperanjat dengan bola mata yang membesar saat melihat Yuriko bersama kawan-kawannya baru saja tiba di restoran itu.


Ya, ampun, di kehidupanku yang sekarang Tokyo menjadi benar-benar sempit!


Rai menoleh kembali ke arah Shohei yang duduk dengan jarak tiga meja darinya. Ia sampai membayangkan Yuriko melabrak Seina hingga menjambak rambut gadis itu karena dianggap telah merebut pria pujaan hatinya. Apalagi selama ini ia tahu Yuriko sangat tergila-gila dengan Shohei. Jujur, ia juga tak ingin mematahkan perasaan gadis itu pada sahabatnya.


Tak ingin Yuriko melihat Shohei sedang kencan dengan kekasihnya, Rai pun buru-buru menghampirinya.


"Yuri-yuri!" panggil Rai sambil mendekat.


Yuriko lantas terkesiap melihat kehadiran Rai di tempat itu.


"Eh? Yuri-chan, siapa dia? Tampan sekali?" bisik teman-temannya sambil menatap Rai dengan tatapan terpesona.


Rai menyapa teman-teman Yuriko dengan hangat.


"Yuri-chan, apa dia pria yang sering kau ceritakan pada kami?" tanya salah satu temannya.


"Yuri-chan, apakah dia pria yang sedang dekat denganmu?" sambung temannya yang lain.


"Yuri-chan, dia pria baik hati yang kau taksir itu, kan?" imbuh lainnya lagi.


Bisikan teman-teman Yuriko terdengar cukup jelas di telinga Rai. Pria itu mengulas senyum seraya menoleh ke belakang untuk melihat ke arah Shohei. Ya, posisi dia berdiri saat ini sengaja untuk menutupi Shohei dari pandangan Yuriko.


Salah satu sahabat Yuriko langsung memperkenalkan diri di hadapan Rai.


Rai segera merangkul Yuriko, sengaja memutar tubuh gadis itu agar tak melihat Shohei.


"Aku tetangga Yuri."


"Hah? Tetangganya?" Keempat teman Yuriko tampak kaget.


"Ah, maksud dia tetangga apartemen. Kalian tahu sendiri kan aku sudah pindah ke apartemen mewah sekarang," ucap Yuriko sambil menyengir.


Astaga! Dia masih berlagak jadi orang kaya rupanya!


"Wah, benarkah? Pasti kau ini karyawan perusahaan, ya?" tebak salah satu kawan Yuriko sambil memerhatikan penampilan Rai dari atas ke bawah.


"I–iya ... dia memang bekerja di perusahaan Yamada Grup! Meski begitu dia orang yang sangat sederhana," ucap Yuriko terbata-bata.


"Wah, Sugoi!" puji teman-teman Yuriko.


Rai bergidik kaget. Namun, Yuriko langsung menginjak kakinya.


"Hei, kenapa kau mengatakan seperti itu? Yang kerja di perusahaan Yamada grup itu adikku!" bisik Rai di telinga Yuriko.


"Aku hanya tidak ingin kau dipandang remeh teman-temanku." Yuriko balas berbisik sambil kembali menginjak kaki pria di sampingnya itu.


Rai menahan kesakitan untuk kedua kali.


"Aku Matsui Rai. Aku dan Yuriko sangat dekat seperti adik kakak. Saking dekatnya aku tahu tentang kebiasaan buruk Yuriko yang tidak diketahui banyak orang. Bukankah begitu?" Rai melempar senyum lebar ke arah Yuriko.


Mendengar pernyataan Rai, mata Yuriko melotot tajam hingga seperti ingin keluar dari rongganya diikuti dengan bibir yang berkerut.


"Benarkah kalian sangat dekat? Wah, Yuriko kalau dengan kami sangat tertutup, dia jarang menceritakan kehidupannya pada kami," ujar salah satu temannya.


"Kenapa kita tidak mengobrol sambil makan bersama saja?" Teman lainnya tiba-tiba mengajak Rai bergabung.


"Ah, jangan!" tolak Yuriko dengan cepat sambil melepaskan rangkulan Rai. "ayo kita cari kafe lainnya. Kudengar makanan di sini kurang enak!" ucap Yuriko pada kawan-kawannya sambil berjalan ke arah pintu.


Yosh! Itu memang yang kuharapkan! Cepatlah kau pergi agar tidak mengganggu Shohei yang sedang berkencan!


Sesuatu di luar dugaan terjadi tatkala dua sahabat Yuriko menarik paksa Rai, sedangkan duanya lagi menarik tangan Yuriko. Mereka lantas didudukkan secara paksa.


"Karena kita sudah di sini, kenapa kita harus pergi? Lagi pula, kami ingin mengetahui seperti apa hubungan kalian yang sebenarnya!" ucap keempat teman Yuriko sambil duduk di hadapan mereka berdua.


Rai dan Yuriko saling menatap dengan mata terbelalak dan napas yang tertahan. Belum habis masa kaget mereka, salah seorang teman Yuriko mengambil buku menu dan menulis sejumlah makanan pesanan mereka.


"Matsui-san, sebagai salam perkenalanmu, bagaimana kalau kau mentraktir kami?" cetus sahabat Yuriko.


"Kalau begitu aku akan memesan menu termahal," sambung yang lainnya seraya merebut buku menu.


Rai langsung meneguk ludah secara kasar dengan mata yang tak berkedip. Seketika, ia menjadi cegukan. Sedangkan Yuriko tampak memejamkan matanya sambil menggigit bibir bawahnya.


.


.


.


.


like dan komen