
Setelah mengadakan konferensi pers, Kazuya Toda kini bertemu dengan Eita Kaze di ruangannya.
"Kita berhasil meredam gejolak publik tentang pro kontra kasus Black Shadow. Media bekerja sesuai pesanan, mereka terus-menerus mengangkat berita lain sebagai pengalihan isu. Sejak tayangan Black Shadow dicekal serta penjualan atribut Black Shadow dilarang, pria itu sudah tidak menampakkan dirinya," ucap Eita Kaze yang juga melaporkan hasil kerja anggota intelejen khusus yang dibentuk olehnya untuk menjadi buzzer media sosial, agar terus menggiring opini negatif tentang Black Shadow.
"Bagus! Kalau begitu, kita bisa menghentikan pencarian Black Shadow," ujar Kazuya Toda.
Eita Kaze terkejut. "Apakah Anda akan mencabut status burunon nasional Pria itu?"
Terkekeh, Kazuya pun menjawab, "Tentu saja tidak. Status itu akan terus tersemat padanya. Tapi, bukankah anggaran negara akan habis sia-sia jika digunakan untuk mencari Black Shadow? Lagi pula, kita harus lebih dulu mencari tahu sosok Mr. White. Dialah musuh kita sebenarnya."
Kazuya Toda kembali menunjukkan keculasannya. Awalnya, dia membuat skenario jahat menggunakan Black Shadow palsu. Tujuannya bukan untuk menangkap Black Shadow asli, melainkan hanya untuk menghentikan pergerakan pria itu. Konspirasi pembunuhan Menteri kehakiman, telah membuat pria bertopeng itu menjadi buronon nasional. Siaran Black Shadow pun mendapat pelarangan untuk tayang di seluruh Jepang. Dia juga berhasil melunturkan kepercayaan sebagian publik pada Black Shadow dengan terus menggiring opini di media sosial.
"Baiklah, Tuan." Eita Kaze menunduk lalu mundur diri.
"Tunggu, bagaimana hacker yang bekerja sama denganmu waktu itu? Apa kau sudah membereskannya?"
Eita Kaze yang melangkah hendak meninggalkan ruangan itu, kini membeku seketika. Ia teringat dua hari lalu anak buahnya melaporkan jika hacker itu kembali lepas karena ada seseorang yang menolongnya.
"Seperti apa yang Anda harapkan, Tuan. Tapi, kami tidak bisa menemukan kopernya kembali. Kemungkinan ia telah menghabiskan uangnya untuk berjudi," balas Eita Kaze membungkuk. Ia memilih membohongi Kazuya Toda dengan mengatakan Yuta telah dilenyapkan. Jika tidak, pria itu pasti akan marah besar padanya.
Kazuya Toda tersenyum kelam sambil menautkan jari-jarinya. "Manusia memang senang berfoya-foya tanpa takut bahaya yang sedang mengintainya. Kau sudah melaksanakan tugasmu dengan baik!"
Eita Kaze keluar dari ruangan Kazuya Toda. Ia mengambil ponselnya lalu menghubungi anak buahnya.
"Kalian harus segera menemukan pria itu! Pastikan dia benar-benar mati di tangan kalian."
Masih di kediaman Matsumoto. Shohei mengetuk pintu kamar Seina sambil berkata pelan, "Seina-chan, ini aku. Maaf aku baru menemuimu lagi. Ada yang ingin kukatakan padamu. Kau tidak perlu membuka pintu untukku. Tidak usah membalas, ataupun menjawab. Cukup dengarkan saja!"
Shohei terdiam sebentar di depan pintu, hanya untuk menetralkan suasana hatinya. Cukup lama, sambil termenung. "Seina-chan, tadinya ... aku selalu berpikir kalau hubungan kita baik-baik saja. Aku mencintaimu, begitu pun kau mencintaiku. Aku dan kau akan segera menjadi kita. Tapi sepertinya, itu hanya sebatas imajinasiku saja." Ia sengaja menjeda kalimat, hanya untuk menarik napas yang terasa sesak." Seina-chan, aku ingin mengetahui perasaanmu yang sebenarnya. Katakan saja yang sejujurnya apa yang kau inginkan dari hubungan kita! Apakah kau ingin lanjut, atau ...." Kalimatnya mengambang begitu saja.
Shohei masih berdiri di depan pintu kamar Seina yang tertutup. Bukan untuk menanti agar pintu tersebut terbuka untuknya, melainkan mendengar balasan Seina di dalam sana.
Beberapa detik berlalu dengan keheningan. Shohei menunduk, untuk menutupi matanya yang mulai berkabut. "Tolong katakan perasaanmu yang sesungguhnya. Agar aku bisa menakar dosis cintaku padamu. Jangan khawatir, aku sudah terbiasa menikam perasaanku sendiri!" ucapnya bernada lirih.
"Shohei-kun ...." Suara sapaan lembut seorang gadis terdengar dari arah belakang. Shohei segera berbalik, kemudian tersentak melihat Seina yang baru saja tiba di kediamannya. Itu berarti sedari tadi gadis itu tidak sedang berada di kamarnya seperti dugaan Shohei.
Seina mendekat, menatap Shohei penuh kekhawatiran. "Apa kau baik-baik saja?"
Menatap gamang wajah Seina yang cerah merona, Shohei berkata dengan nada suara yang lemah. "Ya ... aku baik-baik saja."
Tidak! Aku tidak baik-baik saja. Aku sedang hancur karenamu, Seina ....
"Maaf, aku tidak memberi kabar padamu," ucap Shohei lemah.
"Aku yang seharusnya minta maaf karena tidak menghiraukan kedatanganmu saat itu."
Seina membuka pintu kamarnya lalu mempersilakan Shohei masuk. Saat baru selangkah, tiba-tiba kakinya seakan terpaku di lantai. Tak bergerak. Bersamaan dengan arah pandangnya yang tertuju pada jendela kamar gadis itu. Jendela yang menjadi saksi bisu nestapa yang di alaminya malam itu.
Memaafkanmu ... adalah batas wajarku mencintaimu.
Ada beberapa detik kosong sampai terdengar suara pelan nan berat. "Seina-chan, apa ada yang ingin kau katakan padaku?" tanya Shohei dengan mata yang masih belum lepas memandang jendela bertirai putih tersebut, " maksudku ... apa ada sesuatu yang selama ini ingin kau jelaskan padaku?" Suara pria itu tampak lemah seakan tak bernyawa.
"Iya. Mengenai kematian papa, aku yakin baik papa maupun Black Shadow hanyalah korban di sini. Ada dalang besar di balik kasus ini, dalang yang mungkin menjadi target terakhir Black Shadow. Aku sangat yakin, Black Shadow hanyalah kambing hitam di sini! Dia tidak bersalah!" ucap Seina dengan raut serius.
Shohei bergeming. Bahkan Seina tampak mengetahui semuanya sebelum sempat ia menjelaskan apa pun padanya waktu itu. Bodohnya, saat itu ia malah mengkhawatirkan semua itu.
Meneguk ludah yang terasa pahit, Shohei kembali bertanya, "Apakah ada lagi yang ingin kau katakan?"
"Aku ingin kau mengungkap siapa di balik ini semua. Paling tidak, ini bisa membersihkan nama baik papa dan juga Black Shadow! Aku tidak ingin papa dituduh koruptor dan pria itu dikriminalisasi karena kematian papa," pinta Seina kemudian.
Shohei mengangguk-angguk sambil menipiskan bibir. Senyum paksa itu bertahan cukup lama di bibirnya. Dengan suara yang bergelombang, lagi-lagi dia bertanya, "Apa masih ada yang ingin kau katakan padaku?"
Sejujurnya, saat melayangkan pertanyaan-pertanyaan tadi, ia berharap Seina akan membicarakan nasib hubungan mereka. Paling tidak, gadis itu mau berkata langsung tentang hubungan diam-diam antara dirinya dan Black Shadow selama ini. Ia benar-benar ingin mendengar kejujuran dari gadis itu. Sayangnya, alih-alih mengatakan seperti yang ia harapkan, Seina hanya terus menyebut Black Shadow dan malah memohon padanya untuk membantu membersihkan nama baik Black Shadow. Bukankah ini sedikit miris?
Seina terdiam sebentar, lalu melebarkan matanya seiring ingatannya membersit pada flashdisk yang dititipkan mendiang ayahnya untuk Shohei. Ia pun buru-buru membuka laci nakas.
"Aku baru ingat, sebelum meninggal, papa menitipkan sebuah flashdisk," ucap Seina sambil membongkar isi laci nakasnya.
"Flashdisk?" Shohei memicingkan mata.
"Iya, papa berpesan kalau flashdisk itu hanya boleh diberikan padamu," ucap Seina sambil terus mencari barang tersebut di antara tumpukan barang-barangnya.
Mata Shohei melebar seketika. "Flashdisk itu mungkin saja berisi file penting yang berhubungan dengan kasus ini," ucapnya cepat sambil berpindah posisi di samping Seina yang sibuk mencari flashdisk.
"Aku menemukannya!" Seina menunjukkan flash disk dan langsung memberikannya pada Shohei.
.
.
.
like+Komeng ya