
Beberapa saat yang lalu, bertepatan dengan waktu dimulainya diskusi antara Shohei dan tim yang baru saja dibentuknya, seorang pria justru tengah asyik berjoget ria sambil memegang botol sampanye di atas panggung kelab malam. Dikelilingi banyak gadis cantik nan seksi, ia laksana bintang malam ini.
"Semuanya, mari kita berpesta malam ini! Aku akan membayarkan minuman kalian sepuasnya!" seru pria itu pada seluruh orang yang hadir.
Suara sorakan dan tepukan tangan langsung menggema dilanjut dengan alunan musik hip hop yang memekakkan telinga. Ditambah lagi, sinar lampu warna-warni yang menerangi ruangan itu, membuat orang-orang semakin larut dalam goyangan mereka.
Puas berjoget sembari bersenang-senang dengan beberapa wanita, pria itu turun dari lantai tarian menuju meja bar. Ia menghampiri seorang wanita blasteran Inggris yang sedari tadi duduk menepi di sana dengan bertemankan sebotol anggur putih.
"Haru-chan," panggil pria bernama Yuta itu sambil merangkul wanita itu dari belakang.
Wanita itu menepis kasar tangan Yuta. "Apa maksudmu menghambur-hamburkan seluruh uang? Kau memberikan bagianku hanya sedikit, tapi kau malah menyenangkan pacarmu dan orang-orang yang ada di sini!" gerutunya menahan kesal.
"Eittss, kenapa kau marah-marah padaku? Uang yang kudapatkan kali ini adalah hasil kerja kerasku seorang diri, bukan kerja sama denganmu maupun tim. Jadi, aku bebas menggunakan uang itu semauku, termasuk menghabiskannya sekaligus," tekan Yuta sinis sambil meminum sisa anggur di gelas Haru.
"Hei, apa kau lupa siapa yang promosikan dirimu ke pejabat itu? Kalau bukan aku yang menyamar menjadi hostest dan memperkenalkan kau sebagai hacker pada pria itu, mana mungkin keahlianmu akan digunakan mereka!" Haru mengingatkan kembali saat ia berpura-pura menjadi teman minum Eita Kaze. Ya, dari sanalah semua berawal. Sekretaris Kazuya Toda itu mengatakan padanya tengah mencari hacker profesional. Haru lalu memperkenalkan Yuta pada Kazuya Toda sehingga kerja sama pun terjalin antara mereka.
Yuta kembali merangkul Haru, berusaha membujuk partnernya itu sambil kembali berkata, "Tenanglah, Haru-chan sayang! Kita akan mendapatkan uang yang lebih banyak lagi. Aku berhasil menemukan situs harta karun yang tersimpan rapi selama ini. Aku akan mengumpulkan tim lama kita untuk melakukan misi besar ini. Kita akan menjadi kaya seperti dulu lagi!"
"Percuma saja berbicara dengan orang mabuk!" Haru makin kesal karena menganggap Yuta mengatakan hal yang tidak masuk akal.
"Hei, aku tidak mabuk! Aku serius dengan apa yang kukatakan. Kali ini kita benar-benar akan mendapatkan hasil pancingan yang besar! Dapat kupastikan kita akan berhasil dengan misi ini!" Yuta mencoba meyakinkan Haru.
Sempat kesal, kini sudut bibir wanita cantik bak model internasional itu tampak tertarik tipis meski belum percaya sepenuhnya. "Apakah kita bisa melakukannya? Sejak tim kita pecah, bukankah kau hanya bisa melakukan penipuan-penipuan dengan nilai yang kecil? Kau tidak mampu membuat strategi sehebat Rai," sindirnya dengan bernada skeptis.
"Makanya sudah kukatakan akan mengumpulkan orang-orang lama yang menjadi bagian dari tim kita dulu. Termasuk mantan kesayanganmu, Rai Matsui."
Haru mendekih seketika seraya mengapit sebuah rokok di bibirnya yang seksi. "Apa kau yakin Rai masih ingin bertemu denganmu? Melihat wajahmu saja mungkin dia akan segera meludah."
"Kurasa itu hanya berlaku untukmu. Karena di matanya, kau adalah mantan kekasih yang tega mengkhianatinya." Yuta balik mengejek.
"Jangan lupa, di matanya kau juga sahabat pengkhianat!" sambar Haru.
"Yang pasti ... aku tetap akan membuatnya kembali pada kita!" balas Yuta penuh percaya diri sambil memberi seringai miring.
Pria itu langsung pergi, keluar dari kelab malam lalu menaiki mobil sport yang baru saja ia beli, kemudian melaju menuju ke sebuah lokasi yang belum pernah didatanginya. Memarkirkan mobil di depan apartemen ekonomis, ia mengernyit ragu dengan alamat yang diberikan padanya.
"Apa dia benar-benar tinggal di sini?" gumam Yuta sambil melihat bangunan apartemen yang diduga menjadi tempat tinggal Rai sekarang. Ya, sebulan lalu dia telah meminta anak buahnya untuk mencari tahu tempat tinggal Rai sekarang. Karena keberadaan Rai sulit diselidiki, anak buahnya pun mengawasi Ryo dan berhasil menemukan kediaman sang mantan ketua mereka.
Masih menatap keadaan sekitar lewat kaca mobil, tiba-tiba pandangannya terarah pada sosok pria bertubuh proporsional yang tengah berjalan bersama seorang gadis muda. Hanya sekali lihat, ia langsung mengenali kalau pria itu adalah Rai. Apalagi wajah pria lulusan Todai itu masih belum berubah sama sekali meskipun penampilannya tidak separlente dulu. Kini ia merasa yakin kalau apartemen ini benar-benar menjadi tempat hunian Rai.
"Yang benar saja, dia sungguh tinggal di tempat seperti ini!" gumamnya sambil tertawa ringkih. Meski begitu, masa-masa saat mereka masih bersama sebagai sepasang sahabat yang selalu kompak menjalankan misi penipuan, mendadak terbesit di benaknya.
Yuta pun bergegas turun dari mobil kemudian berjalan dengan tak sabar menghampiri Rai. Sayangnya, kehadirannya disambut dingin oleh pria itu.
"Yo, apa kabar Rai-kun!" sapa pria itu sambil mengulas senyum lebar.
Raut wajah Rai masih tak berubah. Dingin dan datar.
"Yu-chan, masuklah lebih dulu!" pinta Rai dengan mata yang terus tertancap pada pria di hadapannya.
"Eh?" Alis Yuriko mengerut samar, tetapi melihat sosok yang baru saja menegur Rai, ia langsung menuruti pria itu dan bergegas masuk di gedung apartemen mereka.
Kini, hanya tersisa mereka berdua yang berdiri saling berhadapan. Seketika atmosfer malam itu terasa panas kala dua orang yang dulunya sangat dekat itu kini bertemu kembali.
"Apa dia pacarmu?" tanya Yuta sambil memandang Yuriko yang baru saja lenyap dari pandangannya. Melihat Rai yang hanya bergeming, ia lantas terkekeh. "Rai, selera wanitamu jadi menurun! Tapi ... dengan keadaanmu seperti sekarang, dia tak terlalu buruk untukmu," lanjutnya seraya memamerkan senyum provokatif.
"Kenapa kau ke sini?" tanya Rai datar dengan wajah yang mendingin.
"Ayolah, kita ini adalah sahabat, bukan? Wajar jika aku mengunjungi sahabatku!" jawab Yuta seolah lupa dengan pengkhianatan yang pernah ia lakukan pada Rai.
"Benar, kita berdua adalah sahabat. Tapi ... itu dulu, sekarang aku tidak punya sahabat sepertimu. Kusarankan kau segera pergi sebelum—"
"Jadi, kau masih marah padaku?" potong Yuta, "bagaimana dengan Ryo? Bukankah awal perpecahan kita gara-gara Ryo? Jika Ryo tidak mengkhianati kita, semua ini tidak akan terjadi!" tukasnya dengan nada yang sengit.
"Apa yang dilakukan Ryo berbeda dengan apa yang kalian lakukan!" tegas Rai meninggikan suaranya.
Yuta membuang muka. "Hah ... aku lupa, Ryo adalah adikmu tercinta." Dia mengangguk-angguk sambil mengulum bibirnya sendiri. "Rai, aku sadar, aku telah melakukan kesalahan besar. Untuk itu, mari lupakan kekhilafan yang pernah terjadi! Aku ingin kita seperti dulu lagi. Akhir-akhir ini aku kembali mengumpulkan anggota kita. Aku juga mendapatkan target besar dengan nilai yang fantastis. Cukup berisiko, tapi walaupun gagal kita tidak akan tertangkap. Kami semua hanya tinggal menunggumu untuk memulai aksi ini."
"Aku rasa kita tidak memiliki urusan apa pun lagi. Sejak kejadian itu, jalan kita telah berbeda. Jadi, tidak ada lagi alasanku untuk berbicara denganmu apalagi bekerja sama," tegas Rai sambil berbalik hendak beranjak.
Yuta menyelipkan kedua tangannya dalam saku celana sambil berkata dengan nada santai, "Omong-omong ... bukankah perusahan Yamada grup tidak mengetahui latar belakang Ryo yang sebenarnya? Apa yang akan terjadi kira-kira ya ... kalau mereka tahu telah memperkerjakan mantan seorang penipu? Bukankah itu akan merusak citra perusahaan mereka? Aku memiliki bukti keterlibatan Ryo dalam sejumlah aksi penipuan yang pernah kita lakukan! Pasti ini akan menjadi skandal besar di perusahaannya jika aku membocorkan ke media."
Seketika, pupil mata Rai membesar bersamaan dengan langkah kakinya yang mendadak terhenti. Ia langsung menghampiri Yuta, kemudian menarik kerah tuksedo pria itu dengan kasar.
"Jangan coba-coba mengusik kehidupan Ryo yang sekarang!" erang Rai dengan mata yang terbakar.
Yuta menatap manik Rai yang berapi sambil tersenyum tipis. Ia malah menyelipkan sebuah kartu nama di saku baju Rai. "Rasanya tidak adil, ya ... kita semua hidup terlontang-lanting, berbeda dengan Ryo yang memiliki karir bagus. Aku juga tak akan menyenggolnya jika kau kembali bergabung bersama kami. Aku butuh kau dalam misi besar ini. Temui aku di tempat yang tertera di kartu nama itu. Aku beri kau sampai batas waktu lima hari."
Rai bergeming seketika. Bibirnya seakan terkunci sehingga membuatnya tak bisa berkata-kata lagi. Ia menjatuhkan tangannya yang sempat mencengkram kerah tuksedo Yuta. Mana mungkin dia akan kembali terjerembab ke lembah hitam. Lebihnya lagi, ini akan membuatnya berkhianat pada Shohei dan tim yang baru saja dibentuk mereka.
.
.
.
Kak Yu mengucapkan selamat menyongsong bulan suci Ramadhan bagi yang menjalankan, mohon maap jika gua tidak punya salah selama ini.
Mohon maap juga jika Never Not belum tamat dari yang ditargetkan, karena kesibukan gua yang ga bisa up tiap hari. Satu kerangka cerita di novel ini, bisa menghabiskan 4-6 chapter, dan setting waktu satu hari dalam novel ini itu butuh beberapa chapter untuk dijabarkan. Jadi, kalau ada karakter yang tidak dimunculkan dalam beberapa part, itu bukan karena dilupakan begitu saja, tapi karena belum dapat aja bagian dia.
jangan lupa untuk selalu tinggalkan like dan komeng