
Hari berlalu dan berganti seperti biasa. Pagi ini sedikit cerah, meski begitu orang-orang tetap menggunakan mantel tebal dan syal di lehernya. Yuriko berlari terburu-buru memasuki gedung apartemen mewah. Lift di apartemen ini tak sembarangan bisa dinaiki orang. Harus menunggu kesediaan dari pemilik lantai lebih dulu demi menjaga keamanannya. Untungnya, Yuriko telah memiliki kunci cadangan hunian Shohei. Jadi, dia tak perlu menunggu konfirmasi lagi.
Yuriko masuk ke kondominium Shohei dengan langkah tergesa-gesa. Ya, dia terlambat datang karena bus pertama yang hendak ditumpanginya telah penuh.
"Ohayou!" sapa Shohei begitu gadis itu masuk.
"Ohayou!" balas Yuriko sambil menutup pintu kembali. "Gomen, aku terlambat datang ...." Ia tak melanjutkan kalimatnya karena tertegun melihat Shohei yang sedang sibuk bergelung dengan alat masak di dapurnya.
"Shohei-san, kenapa kau melakukan ini." Yuriko berjalan cepat ke dapur.
"Tidak apa. Aku bangun lebih awal dan melihat bahan makanan penuh di kulkas. Tiba-tiba timbul keisengan untuk membuat sarapan. Oh, iya, aku harus ke kantor sekarang. Jadi, ini akan kujadikan bekal. Aku juga membuatkan satu untukmu. Makanlah saat di kampus," ujar Shohei menyerahkan sekotak bekal pada Yuriko. Sebenarnya, Yuriko memang sudah sangat terlambat datang sehingga mau tak mau ia harus mempersiapkan sendiri bekalnya.
Yuriko menatap Shohei dengan mata yang berbinar. Bukannya mengambil kotak yang diberikan untuknya, ia malah memegang kedua tangan pria itu dengan pandangan yang masih tertancap pada pria itu. Hal itu tentu saja membuat Shohei menjadi bingung hingga salah tingkah.
Ah, kenapa ada pria sebaik dan seperhatian ini padaku. Padahal statusku hanyalah seorang asisten rumah. Kalau seperti ini, tidak ada alasan untuk berhenti menyukainya.
"Yuriko-san, sepertinya ... kau salah pegang. Yang kau pegang itu tanganku, bukan kotak bekal," ucap Shohei dengan nada terbata-bata. Terus dipandangi Yuriko tentu saja membuatnya gugup.
Tersadar, Yuriko buru-buru melepas genggaman tangannya di kedua tangan Shohei.
"Gomen ...."
Shohei meletakkan kotak bekal untuk Yuriko di atas meja lalu berkata, "aku pergi dulu."
Yuriko mengangguk. Dengan begitu, tugasnya hanya tinggal membereskan rumah.
Butuh waktu sekitar empat puluh menit untuk sampai ke gedung kepolisian metropolitan. Shohei yang kini telah duduk di meja kerjanya, sedang fokus memeriksa setiap pesan dan rekaman suara yang disadap dari perangkat digital tuan Yoshuke. Napasnya berembus kasar ketika tak satu pun bukti yang didapatkan untuk membeberkan kasus korupsi dan pencucian uang yang dilakukan tuan Yoshuke. Sepertinya, pria yang menjabat sebagai ketua komite nasional itu sangat berhati-hati. Jangan pun itu, untuk mencari tahu penyebab Furukawa Rika digantikan oleh Nakamura Aya, tidak ada.
Padahal, kemarin ia mengunjungi Furukawa Rika di Rumah sakit, dan ternyata wanita itu tidak mengalami cedera parah seperti yang diberitakan. Furukawa Rika mengaku tak mengerti kenapa tiba-tiba ia diminta untuk beristirahat.
Shohei memijat dahi seraya berkonsentrasi dengan otak dan pikirannya.
Tidak ada tanda-tanda hubungan istimewa antara tuan Yoshuke dan Nakamura Aya. Dia bukan papakatsu¹ seperti yang diduga Rai. Tapi, kenapa tuan Yoshuke berani menggantikan Furukawa Rika dengan atlet di bawahnya? Apa tujuannya?
Di waktu yang sama, Nakamura Aya terus berlatih keras untuk persiapan olimpiade Tokyo beberapa bulan yang akan datang. Ia menyentuh garis finis dan segera menengok ke papan waktu.
"Arght!" Gadis itu memukul air saat lagi-lagi perolehan waktunya tidak secepat beberapa hari lalu di mana para wartawan mengabadikan momen tersebut dan langsung viral di media sosial.
"Aya-san, apa yang kau lakukan akhir-akhir ini! Angka kecepatan renangmu akhir-akhir ini tidak mengalami kemajuan, bahkan tidak menyentuh angka yang diperoleh Rika," ujar pelatih yang tampak kecewa.
Aya naik ke atas sambil membuka kacamata renangnya. Ia membungkuk penuh di hadapan pelatih. "Saya akan berusaha lebih keras lagi," ucapnya dengan wajah tertekan.
Ia lalu memakai handuk piyama di tubuhnya. Karena dia adalah atlet kelas A pengganti Furukawa Rika, maka pelatih lebih memprioritaskan dirinya dibanding atlet renang lainnya. Ia memutuskan untuk beristirahat sejenak di kursi malas sambil mengeringkan tubuhnya. Latihan yang begitu keras ditambah tekanan dari pelatih membuatnya stress. Apalagi media terus menggembor-gemborkan berita tentang perolehan skor waktu yang berhasil diraihnya tempo hari.
Seketika, matanya teralihkan pada sebuah tabloid olahraga yang terletak di kursi kecil samping tempat duduknya. Ia mengambil tabloid itu di mana wajah atlet renang pria asal Thailand menghias sampul tersebut.
"Seorang atlet renang pendatang baru asal Thailand, sukses menjadi atlet pengganti seniornya." Aya membaca judul besar berita yang tertulis di sampul majalah. Ia merasa tertarik dan langsung membuka tabloid itu untuk mencari halaman yang memuat berita tersebut.
Dari berita wawancara yang dibacanya, diketahui atlet renang pria asal Thailand itu sedang berada di Tokyo untuk latihan bersama dengan atlet renang pria Jepang. Penasaran, Aya pun buru-buru mengganti baju renangnya dengan pakaian olahraga lalu pergi menuju arena latihan atlet renang pria. Ketika hendak memasuki tempat itu, ia tak sengaja bertabrakan dengan seorang pria berambut perak dengan mata yang berwarna cokelat terang.
"Sorry." Aya membungkuk di depan pria itu.
"No problem," jawab pria itu sambil berlalu.
Aya berpikir sejenak. Ia teringat kalau wajah pria itu sama persis dengan atlet renang Thailand yang menjadi model sampul tabloid olahraga.
"Excuse me ...." Aya memanggil pria itu dengan ragu-ragu.
Aya tersentak seketika. "Kau bisa berbahasa Jepang?"
"Hum ... ibu saya berasal dari Hokkaido."
Aya menghampirinya. "Perkenalkan aku Nakamura Aya, atlet renang wanita."
"Oh, kalau soal itu saya sudah mengetahuinya. Senang bertemu denganmu, Nakamura-san." Pria itu mengulurkan tangannya seraya menunjukkan senyum terbaiknya.
Menatap mata jernih pria itu, membuat Aya terbius beberapa saat. Ia lalu menunjukkan sampul majalah yang dipegangnya. "Aku baru saja membaca wawancaramu di sini. Aku sangat terkesan dengan semangat dan kerja kerasmu hingga kau bisa memenangkan Sea games beberapa bulan lalu. Kurang lebih kita memiliki kisah yang sama, aku juga hanya seorang atlet pengganti. Aku ingin menjadi atlet sukses sepertimu."
"Kalau begitu, kenapa tidak minum-minum sambil mengobrol santai malam ini?" ajak pria itu tiba-tiba, seraya menunduk untuk mensejajarkan tinggi badan mereka, menatap mata Aya dengan tatapan seksi, lalu berkata, "Sekalian, tolong rekomendasikan bar yang menyenangkan di Tokyo."
Masih menatap pria itu tanpa berkedip, Aya pun menyodorkan ponselnya. "Maukah kau kita bertukar kontak denganku?"
Pria itu tersenyum lalu menuliskan nomornya di kontak Aya. "Aku menunggu teleponmu malam ini," ucapnya yang kemudian berbalik. Ketika melangkah pergi, lengkungan bulan sabit langsung tercipta jelas di bibir pria itu diikuti kilauan perak di matanya.
Pria yang ternyata adalah Rai itu kembali mengingat obrolannya dengan Shohei semalam.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Shohei yang heran melihatnya sibuk membongkar setiap laci di kamarnya.
Ia mengambil sebuah flashdisk, mencolokkan ke laptop kemudian membuka sebuah file yang berisi kumpulan foto-fotonya dengan gaya berbeda. Ia memilih salah satu foto yang menunjukkan dirinya dengan semiran rambut perak dan lensa mata kecokelatan. Ya, sebagai seorang mantan penipu, dia memiliki koleksi foto pribadi dengan wajah berbeda demi kebutuhan untuk menjerat calon korban.
"Aku akan mengganti sampul majalah ini dengan fotoku," jelasnya sambil tersenyum penuh arti. Ia merobek sampul tabloid olahraga yang sempat dibelinya. Juga sebuah halaman yang memuat wawancara seorang atlet renang pria.
Shohei memicingkan mata karena tak paham. Namun, dia bukanlah pria bodoh yang perlu dijelaskan. "Apakah kau ingin berpura-pura menjadi atlet lalu mendekati Nakamura Aya untuk menarik informasi?" tanya Shohei.
"Betul sekali!" Ia memetik jari.
"Bagaimana cara kau melakukannya? Ingat, jangan melakukan hal yang melanggar hukum."
"Tentu saja tidak. Tenang, aku hanya akan mengganti judul berita ini lalu mengganti isi wawancara yang akan menarik perhatian gadis itu. Bukankah polisi juga kadang memakai taktik ini?" Sebagai seorang mantan penipu, tidak susah baginya melakukan sosial engineering.
"Ya, itu disebut dengan investigasi penyamaran."
"Anggaplah aku sedang melakukan itu! Kita akan menarik informasi sebanyak-banyaknya dari Nakamura Aya untuk membongkar kedok Yoshuke sebagai papakastsu!" ucapnya dengan penuh percaya diri.
Di sisi lain, Seina mendatangi sebuah kafe yang hanya berjarak beberapa meter dari kampusnya. Matanya berkeliling, mencari seseorang yang telah membuat janji bertemu dengannya di sini. Ia tersenyum lebar ketika orang yang dicarinya melambaikan tangan ke arahnya. Segera ia menghampiri pria yang tengah duduk di pojok ruangan.
"Kenapa Kei-niichan tiba-tiba menghubungiku dan mengajak bertemu," tanya Seina sesaat setelah duduk.
"Aku ingin mengonfirmasi sesuatu. Ini tentang calon tunanganmu," ucap Kei dengan tenang.
Seina memiringkan sedikit kepalanya. "Memangnya kenapa dengan Shohei-kun?"
.
.
.
Jejak kaki 🦶🦶
Papakatsu itu kaya sugardaddy gitu gays.
Tebak-tebakan lagi yok. Menurut kalian, Kei itu tokoh pendukung protagonis atau antagonis?
yang jawabannya benar dapat mobil Fortuner dalam bentuk brosur 🥳🥳