
"Siapa sosok Mr. White itu? Apakah dia ada di lingkungan pemerintahan?" pikirnya.
Pejabat misterius itu lantas memerhatikan deretan para pejabat yang berada di sekitar tempat. Sibuk menerka-nerka pejabat mana kira-kira yang berada di belakang layar dan mengendalikan Black Shadow selama ini. Atau mungkin orang itu berada di luar koalisi pemerintahan yang artinya tidak memiliki jabatan apa pun.
"Apa yang akan Tuan lakukan?" tanya ajudan melihat atasannya itu larut dalam pikirannya.
Tersenyum halus sambil mengelus dagu, ia pun berkata, "Ada yang bilang, untuk menumbangkan pohon tak cukup hanya dengan memotongnya saja, tapi juga harus dicabut sampai ke akar-akarnya. Cari tahu secepatnya siapa itu Mr. White!"
"Siap. Lalu, apakah Anda akan tetap menjalankan rencana sebelumnya?"
"Tentu saja," jawab pejabat itu singkat.
Di sisi lain, Yuriko baru saja meninggalkan apartemen Rai. Tepat setelah itu, ponsel Rai berdering menampilkan nomor telepon tak dikenal. Rai mencoba menggapai ponselnya, lalu menjawab panggilan itu dengan mata yang masih terpejam.
"Moshi-moshi ...."
Sedetik kemudian matanya melebar kala mendengar pemberitahuan panggilan wawancara kedua di perusahaan tempatnya melamar pekerjaan. Tak pelak, ia pun segera bangun dan mempersiapkan diri.
Memakai setelan jas hitam dengan kameja putih sebagai dalaman, Rai pun menuju salah satu perusahaan ternama. Ya, seminggu lalu, dia telah melakukan tes wawancara bersama ribuan peserta lainnya. Kini, ia mendapat panggilan kedua, yaitu wawancara terakhir yang menjadi penentu apakah dirinya diterima atau tidak.
Yuriko tiba di apartemen Shohei dan mendapati pria itu tengah memakai dasinya.
"Ohayou!" sapa Yuriko yang langsung bergegas ke dapur.
"Ohayou gozaimasu!" balas Shohei ramah seperti biasa.
"Gomennasai, aku terlambat."
"Tidak masalah! Aku juga tidak buru-buru."
Yuriko memerhatikan Shohei yang kini merapikan rambutnya. "Ano ...."
Di waktu yang sama, Shohei berbalik ke arahnya sambil berkata, "Yuriko-san, ada yang ingin kubicarakan padamu."
"Apa itu?" tanya Yuri cepat.
"Eng ... bagaimana, ya?" Shohei mengelus punggung lehernya, "Aku berencana mengajak kekasihku pindah ke sini secepatnya. Tapi, aku belum tahu apakah dia butuh pelayan atau tidak."
Yuriko yang tahu arah pembicaraan Shohei, lantas langsung memotong. "Ah, soal itu, ya! Kebetulan sekali, aku juga ingin bilang kalau aku diajak teman bekerja di kedai kopi milik keluarganya. Jadi, mungkin aku tidak bisa meneruskan kerja di sini," ucapnya sambil mengayun-ayunkan kedua tangannya.
"Benarkah?" Shohei terlihat ikut senang.
"Hum." Yuriko mengangguk sambil menipiskan bibirnya.
"Yokatta (syukurlah)! Padahal aku memikirkan ini berhari-hari. Aku khawatir jika pasanganku lebih memilih membangun keluarga mandiri tanpa asisten dan aku terpaksa harus memberhentikan dirimu. Semoga di tempat kerjamu yang baru, kau akan lebih sukses!"
Membangun keluarga mandiri? Apakah ... itu artinya mereka akan segera menikah?
Yuriko berbalik cepat memunggungi Shohei. Mata terangnya mendadak diselimuti kabut. Sebenarnya, ia berniat meminta gajinya bulan ini dibayarkan lebih dulu agar bisa digunakan untuk menyewa kos-kosan baru. Namun, kabar yang baru saja disampaikan pria itu membuatnya kaget hingga sulit mengutarakan hal yang ingin ia sampaikan. Sedang rencana kerja di kedai kopi itu hanya bualan semata. Meski pasangan Shohei nantinya tetap membutuhkan asisten, tentu sangat menyakitkan melihat orang yang ia sukai itu bersama wanita lain setiap hari.
Perasaan sedih ini ... aku tidak tahu pasti. Apakah karena aku tidak bekerja dengannya lagi, atau karena dia akan segera tinggal bersama kekasihnya.
Saat ini, Rai duduk di hadapan empat petinggi perusahaan yang hendak mengujinya.
"Matsui-san, jujur, kami terkesan dengan wawancara pertama Anda. Anda memiliki kemampuan komunikasi dan bahasa yang baik, percaya diri, dan juga merupakan lulusan terbaik dari Universitas Today. Belum lagi, Anda unggul dari segi penampilan dan fisik. Tapi, ada satu yang ingin kami pastikan. Saat mengecek nama Anda, ternyata Anda pernah mendapat hukuman penjara karena kasus kepemilikan dan pemakaian narkoba."
"Itu hanya jebakan! Pengadilan sudah membuktikan saya tidak bersalah dan membebaskan dari segala tuntutan!" jawab Rai cepat.
"Jebakan?" Para penguji kompak bersuara.
"Ya, benar. Saya dijebak. Narkotika itu bukan milikku dan saya juga bukan pengguna narkoba," jawab Rai.
"Bisa Anda jelaskan kronologis yang terjadi saat Anda dijebak hingga sempat mendekam di tahanan?" Pria yang berada di tengah bertanya.
Rai terdiam kaku. Wajahnya mendadak menegang. Jari-jari tangannya mengepal kuat. Matanya tak mengerjap, menatap kosong satu arah. Pikirannya pun terbang pada kejadian memilukan yang pernah terjadi di hidupnya. Di mana satu per satu orang terdekatnya berkhianat dan meninggalkannya. Adiknya, sahabatnya, wanita yang sempat tergila-gila dengannya, dan wanita yang ia cintai. Semua berkhianat di belakangnya.
"Matsui-san?" panggil salah satu penguji setelah beberapa detik terbuang tanpa ada satu kata pun dari Rai.
Rai tersadar dari lamunannya. Ia menunduk dalam sambil berkata, "Sumimasen (maaf), saya tidak bisa menjelaskan kejadian itu."
Entah kenapa ia tak ingin mengingat lagi masa-masa itu, meskipun adegan per adegan masih tertancap jelas di ingatannya. Terlalu sakit!
Para penguji yang merupakan orang-orang penting di perusahaan itu saling bertatapan. Mereka berbisik-bisik, melakukan musyawarah ringan di hadapan Rai yang masih termenung.
Pria berkacamata yang berada di ujung kiri lantas berkata, "Begini, kami tidak mempermasalahkan tentang Anda yang pernah mendekam dalam penjara. Namun, kami mempertimbangkan penjelasan Anda yang mengatakan kalau Anda dijebak. Hal itu mengurangi penilaian karena menurut kami, Anda terlalu gegabah dan kurang kewaspadaan hingga begitu mudah dijebak. Menjaga diri Anda sendiri saja belum bisa, apalagi harus menjaga nama baik perusahaan nantinya."
"Melihat usia Anda saat ini, itu juga menjadi bahan pertimbangan kami. Tahun depan Anda akan berusia tiga puluh tahun di mana usia itu dianggap bukan usia produktif di perusahaan kami. Anda mungkin akan segera menikah dan berkeluarga sehingga membuat Anda akan sering mengambil cuti," sambung penguji lainnya.
Rai mengangguk-angguk, menerima alasan penolakan perusahaan itu terhadapnya.
Sepulang membereskan rumah Shohei, Yuriko bersandar di tiang halte sambil menghubungi salah satu kawannya. Rencananya, ia hendak meminta tumpangan tempat tinggal. Sayangnya, teman yang dihubunginya itu tak kunjung menerima panggilan teleponnya. Ia pun menelepon kawannya yang lain.
"Apa aku boleh tinggal di apartemenmu selama sebulan? Soalnya apartemenku sedang direnovasi." Yuriko beralasan.
"Gomen, Yuri-chan, aku telah pindah ke apartemen pacarku. Kenapa kau tidak menyewa apartemen lain untuk sementara saja? Atau kau bisa menginap di hotel," ucap temannya.
"Ah, benar juga, ya! Kenapa aku tidak berpikir ke situ!" Yuriko menyengir bodoh.
Gadis itu mendengus, lalu mencoba menghubungi temannya yang lain. Ia mencoba menjelaskan kembali apa yang dialaminya pada temannya itu.
"Gomen, Yuri-chan, aku sekarang sedang liburan di Bali," ucap temannya yang baru saja ia hubungi.
"Oh, sokka."
Yuriko menghubungi temannya yang terakhir dan kembali meminta tumpangan tempat tinggal.
"Em ... begini Yuri-chan, kalau kau hanya menginap sehari aku tidak keberatan. Tapi kalau untuk sebulan, sepertinya tidak bisa karena pacarku menginap setiap seminggu sekali. Belum lagi, ibuku kadang-kadang datang berkunjung. Maaf, ya?"
Lagi-lagi, ia ditolak oleh temannya. Tak ada satu pun dari mereka yang mau membantunya. Padahal, mereka semua adalah teman terdekatnya.
Siang hari, Yuriko memutuskan balik ke apartemen Rai. Ya, mau bagaimana lagi, hanya Rai yang bersedia memberi tumpangan untuknya. Apalagi ia baru saja melihat kamarnya telah terisi oleh penghuni baru.
"Okaeri! (Selamat datang kembali)." Rai menyapa dengan hangat begitu Yuriko membuka pintu.
"Tadaima (aku pulang)," ucap Yuriko lemah. Ia melihat Rai yang tengah berkecimpung di dapur dengan apron yang membalut badannya. "Kau tidak pergi kerja, ya?" tanyanya heran. Meskipun sebelumnya mereka bertetangga, ia tidak pernah memerhatikan kehidupan pria itu. Termasuk aktivitasnya sehari-hari karena memang ia sungguh tak peduli dengan kehidupan orang lain.
"Sudah kubilang tempat kerjaku fleksibel. Aku hanya perlu menunggu panggilannya, dan bekerja sesuai perintah dan instruksinya!" ucap Rai santai.
"Pekerjaan apa itu. Jangan-jangan kau jadi pembunuh bayaran!" ketus Yuriko dengan nada bercanda.
"Enak saja! Ini pekerjaan yang berhubungan dengan keadilan."
"Hah? Keadilan? Apa kau seorang hakim?" Yuriko tergelak, lalu berkata dengan raut sinis. "Keadilan itu seperti mitos yang dipercaya banyak orang, tapi belum tentu benar-benar ada."
Rai memilih tak melanjutkan pembahasan agar Yuriko tak curiga. Pria itu menyaring mie udon yang baru dimasak lalu menyajikan di atas meja makan.
"Woah, makan siang mie udon di penghujung musim dingin enak sekali!" Yuriko langsung mendekat meja dengan wajah tampak antusias.
"Sayang sekali tidak ada bir!" Rai berkacak pinggang.
"Kalau begitu aku akan beli bir!"
Rai menarik lengan Yuriko. "Biar aku saja yang beli. Kau tunggu di sini! Oh, iya, aku telah mengosongkan rak di sebelah kiri. Kau bisa meletakkan barang-barangmu di sana," ujar Rai menunjuk lemari khas Jepang dengan pintu yang digeser.
"Tapi aku hanya menumpang sebentar di sini!" Lagi-lagi, Yuriko berlagak menolak. Namun, pria itu mengabaikan balasannya.
Rai langsung keluar dari apartemen menuju ke minimarket terdekat. Sementara, Yuriko mulai mengatur barang-barangnya dan memasukkan pakaiannya ke dalam rak. Lemari yang cukup besar itu, kini diisi pakaian mereka berdua. Matanya berkeliling, memerhatikan ruangan dengan saksama. Ternyata kamar itu sangat rapi dan bersih berbeda dengan kamarnya yang sedikit berantakan.
Yuriko menutup pintu lemari setelah selesai meletakkan barang-barangnya. Tiba-tiba matanya tertuju pada pintu lemari sebelahnya yang terisi oleh pakaian milik Rai. Pintu yang tak tertutup rapat itu, sedikit memperlihatkan tas ransel bermerek yang pernah ia impikan.
Yuriko menggeser pintu lemari untuk melihat ransel itu lebih jelas.
Dia punya ransel sebagus ini? Apakah dulunya dia seorang pendaki?
Ketika Yuriko menarik ransel itu, sebuah benda mendadak jatuh ke lantai.
"Eh, apa itu?" Yuriko menatap ke bawah dan menunduk untuk mengambil benda tersebut. "Topeng? Keren sekali topengnya!"
Yuriko memerhatikan detail topeng itu, lalu mencoba memasang ke wajahnya. Hanya sebentar, ia langsung membukanya dan mengalihkan pandangan ke ransel tadi. Tampaknya, topeng itu terjatuh dari dalam ransel yang terbuka.
Ketika hendak menaruh kembali topeng itu dalam tas, perhatiannya justru teralihkan oleh isi tas tersebut. Ia mendapati beberapa alat seperti tali tambang dan pengaitnya, earpiece, kamera vlog beserta tripod tangan, alat penyadap, serta jam tangan digital canggih yang dilengkapi fitur GPS, perekam suara, akses menelepon dan mengirim pesan.
"Subarashii! dia memiliki barang-barang canggih seperti ini! Sudah seperti agen rahasia saja!"
(Subarashi\=luar biasa, hebat, spektakuler)
Yuriko mengambil kembali topeng tadi. "Topeng ini seperti tidak asing. Di mana aku pernah lihat orang yang menggunakan topeng seperti ini, ya?" Alisnya mendadak mengeriting karena mencoba mengingat-ingat.
Detik selanjutnya, mata gadis itu membesar kala mengingat sosok Black Shadow yang selalu tampil dengan topeng serupa. Ia langsung mengambil ponselnya, mencari gambar Black Shadow di internet untuk mencocokkan topeng tersebut. Benar-benar sama persis!
.
.
.
like + Komeng neh