Never Not

Never Not
Ch. 54 : Menonton Bersama



Kei menyadari dirinya terlalu bersemangat dan terburu-buru menanyakan tentang Shohei pada Seina. Jika seperti ini, Seina pasti akan curiga.


"Ah, bagaimana hubungan kalian?"


"Baik-baik saja," jawab Seina dengan kening berkerut, "memangnya kenapa?"


"Tiba-tiba aku teringat curahan hatimu tempo hari yang bimbang dengan pertunangan kalian." Kei beralasan.


"Aku memutuskan tetap menjalin hubungan dengannya. Meskipun aku masih belum yakin dengan perasaanku sendiri." Seina mengembangkan senyum tipis.


"Bagus! Dia memang laki-laki yang tepat untukmu. Omong-omong, sudah sedekat apa hubungan kalian?" Kei memulai pertanyaan menyelidik.


"Eh?"


"Maksudku ... kalian kan pasangan, apa kau sudah banyak mengetahui tentangnya? Seperti ... kesibukannya selama ini," tanya Kei dengan nada hati-hati. "Aku adalah kakakmu, tidak masalah kan jika aku menanyakan ini."


"Kalau itu ... aku tidak banyak mengetahuinya dan tidak ingin tahu. Karena kesibukannya pasti berkaitan dengan pekerjaan, sementara dia seorang polisi pasti ada hal-hal yang tidak boleh kuketahui."


"Sokka." Kei mengangguk-angguk. "Lalu ... bagaimana dengan orang-orang terdekatnya, apa kau tahu?"


Seina menggeleng. "Dia mengaku hanya punya satu teman yang sangat dekat dengannya dan bahkan sudah dianggap seperti adik sendiri."


"Siapa dia? Apa kau pernah bertemu dengannya?" tanya Kei cepat.


Seina teringat dengan rencana kencan mereka di malam Minggu nanti, yang mana Shohei mengatakan akan mengenalkannya dengan sahabatnya itu. Namun, ia memilih untuk tak mengatakannya pada Kei.


"Oniichan, kenapa kau tiba-tiba tertarik membicarakan Shohei-kun?" tanya Seina dengan tatapan curiga.


"Aku berencana mengundangnya menjadi narasumber tunggal dalam program acaraku. Jadi, aku harus tahu banyak tentangnya," jawab Kei santai.


"Oh, begitu. Tapi, bukankah Oniichan bilang dia pernah menolak menjadi narasumbermu?"


"Itu saat aku membahas topik Black Shadow dan mengundang beberapa narasumber lainnya. Kupikir saat itu dia kurang percaya diri karena harus bertatap muka dengan para politisi kawakan." Lagi-lagi Kei mengeluarkan kemampuannya dalam berkelit. "Oh, iya. Apakah kalian pernah membahas tentang fenomena Black Shadow? Aku penasaran apa pendapat Yamazaki-san tentang pria itu," tanya Kei bersemangat karena Seina sendiri yang membuka obrolan untuk memudahkan ia bertanya tentang hubungan antara Shohei dan Black Shadow.


Mendengar nama Black Shadow membuat Seina terdiam.


Kenapa setiap mendengar namanya, jantungku selalu berdetak lain dari biasanya ....


Melihat Seina tak merespon, Kei pun kembali berucap, "Kudengar banyak detektif dari kepolisian yang merasa kesal dengan kehadiran Black Shadow yang mencuri perhatian masyarakat, aku penasaran apa Yamazaki-san juga seperti itu."


"Menurutku, dia malah terkesan dengan sosok Black Shadow," ucap Seina pelan. Ia menceritakan pada Kei respon Shohei saat ayahnya menanyakan kehadiran Black Shadow.


"Ya, kupikir Yamazaki-san dan Black Shadow itu sama."


"Apa maksud Oniichan? Shohei jelas berbeda dari Black Shadow," bantah Seina. Ia berpacaran dengan Shohei, dan beberapa kali berhubungan intens dengan Black Shadow, tentu ia paham jika kedua pria itu tidak sama.


"Maksudku, berbeda dengan polisi lain, Yamazaki-san terkesan dengan Black Shadow pasti karena merasa dia dan Black Shadow satu idealis. Bukankah sebelumnya Yamazaki juga sempat menguak kasus-kasus yang menyeret pejabat?


Sepertinya Seina tak tahu apa-apa mengenai hubungan antara Shohei dan Black Shadow. Jadi begitu, dia sangat berhati-hati agar hubungan antara dia dan Black Shadow tak ketahuan siapapun.


Usai bertemu Kei di kafe, Seina kembali ke kampusnya dengan berjalan kaki. Sepanjang jalan, ia melewati beberapa kafe yang menjadi tempat peristirahatan para mahasiswa. Beberapa dari mereka malah tengah sibuk berpacaran. Seina memerhatikan beberapa pasangan yang tak sungkan menunjukkan kemesraan mereka di depan umum. Ini sangat berbeda dengan gaya pacarannya bersama Shohei yang terkesan kaku dan monoton.


Hubungannya bersama Shohei tak seromantis pasangan-pasangan itu. Bahkan tidak pernah foto bersama dan tidak memiliki benda kembar layaknya pasangan kekasih pada umumnya. Ia mulai merasakan tak ada perbedaan antara dirinya yang dulu tak memiliki kekasih dengan dirinya yang sekarang telah memacari seorang polisi. Namun, ia memaklumi ini semua karena yang dipacarinya adalah pria dewasa dengan aktivitas yang padat.


Perhatian Seina teralihkan pada videotron. Layar itu sedang menayangkan berita tentang tuan Yoshuke yang masih menuntut permintaan maaf dari Black Shadow terhadap atlet Nakamura Aya. Pejabat itu bahkan sesumbar jika hingga kini Black Shadow enggan muncul karena terlanjur malu.


Seina tersenyum ringkih seraya mengingat pertemuan terakhir mereka saat ia meminta pria itu untuk membuka topengnya. Sayangnya, pria misterius itu malah memilih pergi meninggalkannya.


Hei, pria perusak jantung. Bukankah kita sudah lama tak bertemu? Bagaimana rasanya mendapatkan pembelaan banyak orang meskipun kau bersalah? Bodohnya, aku ada dibarisan orang yang membela dan percaya apa yang kau lakukan selalu benar. Semoga kita tidak bertemu lagi ....



Shohei kembali ke apartemen saat Yuriko menghubunginya karena seluruh perabotan rumah tangga yang dipesan Rai telah datang. Pria itu tampak gembira karena kini kediamannya telah terisi dan tertata indah. Apalagi furniture yang dipilihkan Rai sangat modern dan kekinian.


Apakah Seina akan senang melihat ini? Apakah Seina akan betah tinggal bersamaku?


Shohei mendapati Yuriko tengah membersihkan furniture yang berdebu karena lama di perjalanan.


"Yuriko-chan, bagaimana menurutmu dengan perabotan yang baru datang? Apa kau suka dengan semua ini?" tanya Shohei seraya menghampiri gadis itu.


Yuriko tersentak dan berkali-kali mengedipkan matanya.


Yuriko mengangguk cepat. "Rumah ini sebelumnya sudah sangat artistik, ditambah dengan sentuhan beberapa barang antik dan perabotan modern membuat siapapun pasti akan betah tinggal di sini."


"Hontou ni?" Shohei melebarkan mata dengan raut senang.


(Hontou ni: benarkah?/ Masa?)


Ah, mendengar pendapat Yuriko membuatku lega. Semoga reaksi Seina juga akan sama seperti Yuriko. Aku sudah tak sabar membawa Seina ke sini dan melihat responnya. Kira-kira kapan waktu yang tepat untuk mengajaknya melihat rumah ini, ya? Malam Minggu ini aku sudah janji akan kenalkan Rai padanya.


"Sepertinya selera shohei-san sangat berkelas. Kau juga penggemar keindahan," puji Yuriko dengan mata yang berkeliling.


"Bukan aku, tapi Rai," tampik Shohei seketika.


"Eh?" Yuriko terkejut. Perlahan, ia mulai memercayai jika Rai memang pernah menjadi orang kaya. Terbukti dari banyaknya menu kalangan atas yang ia ketahui dan juga pemilihan perabotan yang berkelas.


"Semua ini dipilihkan olehnya. Dia memang punya selera yang sangat baik. Sayang, dia tidak bisa ke sini."


"Memangnya ke mana Rai?" tanya Yuriko.


"Dia sedang mengurus sesuatu," jawab Shohei seadanya. Ia tak mungkin mengatakan jika Rai sedang menjalankan misi yang ditugaskan olehnya.


Shohei beranjak ke salah satu ruangan yang dijadikan sebagai bioskop mini. Terdapat sebuah layar proyektor besar dengan spesifikasi 3D, sofa empuk dan nyaman yang bisa menjadi tempat tidur, juga speaker yang dilengkapi peredam suara untuk menciptakan efek suara dramatis.


Ini akan menjadi tempatku bersantai dengan Seina ....


Sedang asyik membereskan perabotan, Yuriko tersadar jika waktu telah memasuki malam hari.


"Astaga, aku lupa menyiapkan makan malam!" Gadis itu memegang kepalanya lalu berjalan menuju dapur.


"Yuriko-chan, aku sudah kenyang," tolak Shohei lembut. Ia terdiam sesaat lalu berkata, "daripada memasak, apa kau mau menemaniku menonton film sekarang? Kebetulan aku baru membeli audio dan ingin mencoba kualitas suaranya," ajak Shohei secara tiba-tiba.


"Eh?" Yuriko terlonjak seketika. "Tentu saja aku mau!" jawabnya girang.


"Kalau begitu, akan kupilih dulu film yang akan kita tonton." Shohei berjalan masuk ke kamarnya untuk mencari koleksi filmnya.


Sementara, Yuriko bergegas mengambil parfum dalam tasnya lalu bergerak cepat ke kamar mandi untuk menyemprotkan seluruh wewangian itu ke tubuhnya. Ia merasa ini kesempatan langka baginya di mana mereka akan terlihat seperti pasangan sedang berkencan.


Biasanya tipe pria seperti Shohei pasti akan memilih genre aksi seperti peperangan dan pembunuhan. Bisa juga kriminal dan detektif karena dia seorang polisi. Atau mungkin saja genre horor karena kebanyakan para pria akan memilih genre film itu jika berkencan dengan pacarnya untuk menunjukkan kejantanan mereka. Ah, aku sudah tidak sabar ....


Yuriko membayangkan dirinya berekspresi ketakutan ketika sedang menonton, dan Shohei berusaha menenangkannya.


Ah, romantisnya ....


Tak sabar, Yuriko pun keluar dari kamar kecil dan bergegas menghampiri Shohei yang tengah memutar film. Mereka duduk bersebelahan di sofa empuk bersiap untuk menonton.


Pembukaan film pun berlangsung. Namun, mata Yuriko justru terbelalak dengan wajah yang melongo. Alih-alih memutar film bergenre horor atau kriminal seperti yang diharapkan Yuriko, Shohei malah memutar film musikal di mana pemerannya berakting di atas panggung dengan menggunakan pakaian tradisional sambil menyanyikan lagu-lagu lama di era enam puluhan. Jika seperti ini, bukankah tak ada alasan baginya untuk berekspresi ketakutan agar mendapat respon romantis dari Shohei?


Yuriko memajukan bibirnya. Wajahnya sudah seperti kertas kusut menonton jenis film yang tak pernah ditontonnya.


Padahal usianya baru tiga puluhan, kenapa selera filmnya seperti menunjukkan kalau dia hidup di zaman perang dunia kedua.


Satu jam berlalu, Yuriko terus menggaruk-garuk kepalanya seraya memerhatikan ekspresi Shohei yang sedang serius menonton. Di saat ia berkali-kali menguap dan menahan kantuk, pria di sampingnya itu justru terlihat antusias dan begitu menikmati alur cerita.


Yuriko memangku dagunya dengan matanya yang layu menahan kantuk. Entah sudah berapa kali wajahnya jatuh terantuk karena hampir ketiduran.


Kupikir selama ini ujian terberat yang kuhadapi adalah sama sekali tidak memiliki uang di dompet, ternyata bertahan menonton film yang tidak kusuka jauh lebih berat dari tidak memiliki uang.


Masih serius menonton, Shohei pun membuka suara setelah sekian lama terdiam. "Yuriko-chan, apa pendapatmu tentang audio ini? Bukankah suaranya sangat jernih dan powerful? Bahkan ketika aku menutup mata dan hanya mendengar dialog, aku sudah bisa mengerti alur cerita berkat kekuatan dari audio visual. Tidak salah jika aku memilih audio ini. Bukankah kau juga sepemikiran dengan—"


Kalimat Shohei terhenti begitu saja ketika secara tiba-tiba kepala Yuriko terjatuh di pundaknya. Ia melebarkan matanya seraya menoleh ke samping melihat Yuriko yang memejamkan mata dengan mulut setengah terbuka.


Seketika, pria itu meluruskan pandangan dengan mata yang terbuka lebar dan napas tertahan.


.


.


.