
Mr. White teringat saat ia mencoba menahan kaki orang yang menusuknya. Ia mengenal sepatu yang dikenakan pelaku sama seperti sepatu salah satu institut pemerintahan yang berada satu naungan dengannya. Apakah itu benar-benar orang suruhan Kento Hayase? Tetapi, kenapa dalam pengakuannya, Kento Hayase sama sekali tak menyinggung soal penusukan yang Shohei alami? Mungkin saja ada pihak tertentu yang ingin mencegatnya untuk mengungkap kasus Kento Hayase. Lalu siapakah pihak itu? Mengapa dia melakukan itu? Dan apa tujuannya?
"Sayang sekali aku tidak bisa mengunjungimu sekarang." Black Shadow membuang napas kasar.
"Pulanglah, Black. Tugasmu sudah selesai!"
"Ya, kalau begini kita tidak bisa bersantai-santai menikmati kemenangan kita di atas menara seperti biasa," keluh Black Shadow menyayangkan.
"Tenanglah! Aku akan segera sembuh dan mengajakmu minum bersama."
Siaran Black Shadow kembali tayang. Kali ini hanya untuk mengumumkan hasil poling penonton. Ternyata, hampir dari setengah penonton menjawab Ya dari dua pertanyaan yang diberikan Black Shadow. Untuk pertanyaan pertama tentang gadis hostest telah terjawab malam ini. Gadis hostest itu tidak membawa lari uang pemilik kasino, melainkan dijadikan kambing hitam atas pencucian uang yang dilakukan Hayase Kento. Namun, untuk pertanyaan kedua masih abu-abu di mata masyarakat. Hingga kini, penusukan yang dialami Shohei masih dilaporkan sebagai kasus perampokan.
Mr. White menutup siaran Black Shadow sambil tersenyum lega. Ia memegang perutnya yang terdapat bekas operasi. Sekali lagi, baik Shohei sebagai Mr. White maupun Rai sebagai Black Shadow tak bisa terpisahkan. Mereka adalah dua orang yang saling mengisi untuk satu tujuan, yaitu mencari kebenaran yang bersembunyi dalam zona abu-abu.
Sementara, usai menjalankan tugasnya, Black Shadow pun memutuskan kembali menjadi dirinya sendiri dan pulang ke apartemen. Padahal, biasanya dia langsung pergi ke menara Tokyo Skytree untuk menemui Mr. White. Namun, tampaknya itu tak ia lakukan mengingat Mr. White tengah berada di Rumah Sakit.
Baru saja hendak membuka topeng, ia teringat seorang gadis yang selalu menguntitnya. Seingatnya, gadis itu mengatakan akan menunggunya malam ini jika ia selesai mengungkap kasus. Bahkan akan bersedia mengabulkan apa pun permintaannya. Gadis itu juga mengatakan akan tetap menunggu, sampai dirinya datang.
Black Shadow mencoba mengabaikan gadis itu dalam pikirannya. Berjalan beberapa langkah, salju tipis mulai menerpanya seiring suara si gadis yang memohon padanya untuk kembali bertemu malam ini kembali mengusik pikirannya. Bagaimana jika gadis itu benar-benar menunggunya sampai sekarang?
Terdiam sebentar, Black Shadow berkacak sebelah pinggang sambil bergumam. "Huft, gadis bodoh itu!"
Di menara Tokyo Skytree, Seina masih berada di Tembo galeri menyaksikan salju yang mulai turun. Ini sudah hampir jam satu dini hari, tetapi sosok yang ditunggunya belum juga datang. Ia mengingat kembali saat pria itu terlihat berhadapan dengan lima algojo sekaligus.
Apa dia baik-baik saja?
Aneh, dia terlalu mengkhawatirkan pria misterius itu sampai-sampai enggan meninggalkan tempat ini sebelum bertemu dengannya. Saat berbalik, sepasang bola matanya menangkap Black Shadow yang tengah berdiri di hadapannya dengan kedua tangan yang disembunyikan dalam saku celana. Sontak, senyum lebar langsung tersungging di bibir gadis itu. Jantungnya pun mendadak berdegup lebih dari biasanya.
"Kenapa sudah semalam ini masih di sini?" tanya Black Shadow sambil mengambil posisi berdiri di samping Seina. Pria itu menghadap ke tembok kaca melihat salju yang mulai menyelimuti sebagian kota Tokyo.
Seina menatap wajah Black Shadow dari samping. Entah kenapa, tiba-tiba ia merasa canggung.
"Arigatou gozaimasu." Ia membungkuk penuh di hadapan pria misterius itu.
Black Shadow hanya terus memandang lurus, tanpa merespon ucapan terima kasih dari Seina.
"Karena kau sudah mengabulkan permintaanku, kau boleh meminta apa pun padaku," ucap Seina sambil memandang pria yang berada di sampingnya itu.
"Meminta apa pun?" Black Shadow mulai merespon dengan intonasi bertanya.
"Hum." Seina mengangguk cepat. "Silakan minta padaku sesuatu yang kau butuhkan. Uang, motor, mobil atau apa pun yang kau butuh. Akan kuusahakan berikan padamu," ucap Seina dengan penuh antusias. Biar bagaimanapun dia telah berjanji pada pria itu dan berkatnya, kasus itu tuntas sehingga Shohei tak perlu turun tangan lagi.
Black Shadow menatap dalam mata Seina. Ia maju melangkah pelan ke arah Seina, lalu bergerak cepat merapatkan punggung gadis itu ke dinding. Seina terhenyak ketika tubuhnya terhimpit oleh pria itu. Sebelah tangan pria itu bahkan disandarkan di samping kepalanya.
"Bagaimana kalau aku meminta tubuhmu," ucap Black Shadow samping menyampingkan senyum.
"A–apa maksudmu?" Seina mendadak gugup.
Mata Seina melebar seketika. Sontak, lima jari tangannya melayang dan mendarat sempurna di pipi Black Shadow. Bunyi tamparan terdengar cukup keras.
"Kuso!(brengsek)" umpat Seina.
Bukannya marah, Black Shadow hanya tersenyum tipis seraya mengelus lembut pipinya yang baru ditampar.
"Hei, apa ini?" ujar Black Shadow santai.
"Kau pikir aku perempuan murahan?" teriak Seina dengan wajah berang.
"Lalu, bagaimana denganku sendiri? Kau pikir hal yang kulakukan malam ini demi dirimu? Demi mendapatkan imbalanmu?" Black Shadow membuang pandangan sambil tertawa tanpa suara. "Kau terlalu percaya diri, Nona Cantik!" tekannya sinis, "Lagi pula, apa yang kau miliki selain tubuhmu? Usiamu masih sangat muda. Uang, motor, mobil atau apa pun yang akan kau hadiahkan padaku itu hanyalah milik orangtuamu," lanjutnya kembali menyindir Seina.
Kata-kata yang dilontarkan Black Shadow seakan menusuk hati Seina. Gadis itu bergeming tanpa bisa berkata apa pun. Black Shadow menjauh darinya secara perlahan, lalu memalingkan badannya.
"Pulanglah!" ucapnya dingin.
Ketika Black Shadow berbalik, Seina berkata dengan nada suara yang nyaris hilang. "Benar, semua itu milik orangtuaku. Tapi, aku juga masih memiliki hati dan perasaan. Maaf, jika kau tersinggung dengan perkataanku sebelumnya. Tapi, aku hanya ingin mengapresiasi apa yang telah kau lakukan."
Black Shadow kembali menghadap ke arah Seina dan langsung mendekap tubuhnya. Mata mereka bersirobok dalam jarak yang sangat dekat.
"Kau ... menyukaiku, kan?" ucap Black Shadow menyematkan lengkungan asimetris di bibirnya.
Pupil mata Seina sontak melebar. Ia lantas memalingkan wajahnya, menolak untuk bertatapan dengan pria dengan sejuta pesona itu.
"Ternyata benar!" Black Shadow membuat kesimpulan sendiri dari respon diam Seina. Meski gadis itu tak mampu menariknya secara emosi, tetapi cukup menjadi hiburannya, bukan?
Seina langsung menampik. "Tidak seperti i—"
Perkataannya tidak berlanjut ketika bibir dingin pria itu menekan bibirnya dengan lembut. Memberi sebuah kecupan kilat yang membuatnya terkesiap.
"Matamu tak bisa berbohong. Kau menyukaiku, 'kan?" tanya Black Shadow yang sengaja menggodanya.
Seina terdiam tanpa bisa mengeluarkan sepatah kata apa pun. Benarkah dia menyukai lelaki di hadapannya saat ini?
Black Shadow mengangkat dagu Seina agar bisa bertatapan satu sama lain. Saat mata mereka berada dalam satu tatapan, tangan Black Shadow mulai bergerak perlahan menyusuri leher jenjang Seina, kemudian naik ke rahang dan pipinya. Kini, jempolnya merambat ke bibir gadis itu, mengusapnya dengan gerakan lembut yang menggoda. Pelan, ibu jarinya turun ke dagu, dan sedikit menariknya dengan lembut sehingga bibir gadis itu sedikit terbuka. Sedetik kemudian, bibir panasnya menyelip masuk di antara bibir Seina.
Mata Seina terbuka lebar menerima sapuan bibir lembab pria itu. Meski ini bukan yang pertama kalinya mendapatkan ciuman lelaki itu, tapi sanggup membuat tubuhnya membeku bagai bongkahan es.
Terus memagut bibir Seina, Black Shadow menyelipkan kedua tangannya di leher gadis itu untuk memperdalam ciuman mereka. Sesekali, memberi gigitan-gigitan kecil yang menggoda. Tak lupa menjejalkan lidah hangatnya di rongga mulut gadis itu.
Seina hanya mampu meremas lengan kekar Black Shadow, kala ciuman itu makin liar dan memanas. Matanya terpejam, menikmati setiap pagutan pria itu.
Kenapa selalu begini? Dia seakan menjebakku dengan cara yang paling menyenangkan ....