
"Ryo-chan, apa kau sudah lama menungguku?" tanya Rai santai seolah tak peduli dengan keterkejutan yang dialami adiknya.
Ryo tak menjawab. Ia tercenung dengan tatapan lurus ke arah Shohei yang masih meletakkan telapak tangannya di samping leher Rai.
Mereka berhubungan terang-terangan di depan umum dan tidak canggung sama sekali? Oh, Kamisama (Dewa), kembalikan Oniichan yang dulu. Aku janji tak akan menceramahinya lagi jika dia main perempuan. Asal jangan main pisang-pisangan seperti ini.
Sadar ditatap oleh adik Rai, Shohei buru-buru menurunkan tangannya lalu menghadap ke depan.
"Hajimemashite, namaku Yamazaki Shohei, aku teman Rai," ucap Shohei memperkenalkan diri di depan Ryo dengan ramah tapi tetap tegas.
Teman Oniichan? Mereka tidak mungkin hanya sekadar teman, kan? Apakah yang dia maksud teman itu ... teman dekat? Teman kencan? Teman tapi mesra? Teman tidur? Atau semuanya?
Ryo menahan napas dengan mata yang masih membeliak tajam.
Jangan-jangan yang dia maksud malah teman hidup.
Wajah Ryo makin mencekam. Shohei menaikkan sebelah alisnya saat Ryo terus menatapnya dengan tatapan penuh curiga dan kepala yang bergeleng-geleng cepat.
"Ano ...." Shohei berusaha menegur Ryo yang terus menatapnya.
Lagi-lagi, Ryo hanya melongo tanpa berkata sepatah apa pun. Ia menatap Shohei dari ujung kaki hingga ujung rambut seraya sibuk membatin.
Jika dilihat dari sepatu, jam tangan, dan mantel yang dipakai pria ini, sangat jelas jika dia pria yang berada. Apakah ini yang membuat Oniichan menyukainya?
Ya, sama seperti Rai, Ryo juga pernah berkecimpung di dunia penipuan. Oleh karena itu, matanya sangat jeli melihat barang-barang bermerk dan berkelas yang dipakai seseorang.
"Ayo kita masuk ke kamar," ajak Rai berjalan keluar dari lift dan diikuti langsung oleh shohei, "Ryo-chan, pulanglah! Ada hal yang harus kami lakukan berdua," ucap Rai mengusir Ryo secara halus agar tak mengganggu mereka membuat strategi untuk aksi yang akan datang.
Apa? O–oniichan ... memintaku pulang?
Ryo melototkan mata seketika.
Tidak akan kubiarkan mereka bersenang-senang malam ini! Aku harus mengembalikan Oniichan yang dulu!
Ryo pun mendadak berbalik dan menghadap Shohei. "Hajimemashite, namaku Matsui Ryo. Douzo yoroshiku onegai shimasu," ucapnya membungkuk penuh di hadapan Shohei. (Douzo yoroshiku onegai shimasu\= senang bertemu dengan Anda)
Shohei tersenyum ramah. "Yoroshiku onegai shimasu."
"Aku membawa beberapa bahan makanan seperti pasta dan daging siap masak."
"Arigatou, Ryo. Kau tahu sekali kalau kakakmu sedang kehabisan bahan makanan dan belum sempat berbelanja." Rai mengambil kantongan plastik yang dibawa Ryo.
Ryo langsung menepis tangan Rai seraya menyembunyikan barang belanjaannya itu ke belakang.
"Kalau begitu, biarkan aku memasak untuk makan malam kalian," ucap Ryo tersenyum lebar.
"Lain kali saja. Kami sedang sibuk," tolak Rai.
"Onegaishimasu!" Ryo membungkuk penuh di hadapan Shohei dan Rai.
(Onegaishimasu: aku mohon)
Shohei dan Rai saling menatap. Rai menghela napas, lalu berkata, "Baiklah, tapi .... tidak sekarang! Silakan datang besok. Jaa!" Rai mengambil barang bawaan Ryo untuknya, lalu mendorong paksa tubuh adiknya itu masuk ke dalam lift. Ia juga memencet tombol angka satu, sehingga lift menutup perlahan dan siap membawa adiknya ke lantai dasar.
"Oniichan!" teriak Ryo kesal lalu bersandar dengan kedua tangan bersedekap.
"Adikmu sangat perhatian padamu," ungkap Shohei setelah baru pertama kali berhadapan langsung dengan Ryo.
"Ya, dia selalu membujukku agar bisa tinggal bersama di apartemennya." Rai berjalan ke arah kamarnya, saat melewati kamar Yuriko, langkahnya mendadak terhenti. Ia melihat pintu kamar gadis itu tidak terkunci. Artinya, Yuriko berada di dalam kamar.
Shohei dan Rai masuk ke kamar apartemen sambil membuka mantel masing-masing. Rai membuka barang bawaan Ryo lalu menyimpannya dalam kulkas. Baru saja hendak mulai membahas strategi, mereka dikejutkan dengan suara ketukan beruntun dari luar pintu.
"Oniichan, tolong buka pintunya! Aku ingin menumpang kamar kecil! Aku sudah tidak tahan ingin buang air kecil," teriak Ryo dari luar yang sebenarnya hanya ingin berusaha masuk. Ia hendak mengetahui apa yang sedang mereka lakukan di dalam sana.
Rai mengembuskan napas kasar, mencoba mengabaikan teriakan adiknya karena ia tahu itu hanya sebuah siasat saja.
"Apa tidak sebaiknya kau buka?" tanya Shohei yang tak nyaman mendengar suara teriakan Ryo.
"Sudah tak usah acuh!"
"Oniichan, aku sudah tidak tahan! Rasanya sudah di ujung. Apa kau tega biarkan aku kencing di celana?" teriak Ryo kembali diikuti suara ketukan yang amat berisik.
"Buka saja! Mungkin memang benar!" pinta Shohei.
Rai mendengus kesal, lalu berdiri dan berjalan ke arah pintu. Di luar sana, Ryo tak henti-hentinya berteriak sambil mengetuk pintu. Ia bertekad tak akan menghentikan aksinya sebelum kakaknya membuka pintu untuknya.
Baru saja hendak membuka pintu, tiba-tiba terdengar suara Yuriko dari luar sana.
"Oi, kau ini benar-benar adiknya Rai atau penagih utang? Teriakanmu sungguh-sungguh membuatku terganggu! Kau punya otak, kan? Kenapa tidak meneleponnya saja dari pada terus berteriak seperti penjual di pinggir jalan," geram Yuriko dengan suara yang meledak-ledak. Wajar saja karena ia sedang sibuk mengerjakan tugas dan konsentrasinya terganggu akibat mendengar suara teriakan Ryo.
"Gomennasai, aku tak bermaksud mengganggumu." Ryo buru-buru membungkuk dengan perasaan bersalah.
Yuriko yang masih kesal, langsung menutup kembali pintunya.
"Gomennasai, hontou ni gomennasai," ulang Ryo sekali lagi di depan pintu Yuriko yang telah tertutup, "ada apa dengan kehidupan Oniichan? Dia berkencan dengan pria maskulin, kemudian memiliki tetangga yang lebih galak dari ibu tiri dan ibu kos," gumam pria berusia dua puluh enam tahun itu, sebelum akhirnya memutuskan untuk pergi.
Keesokan harinya, Kei menemui seorang polisi yang merupakan mantan partner kerja Shohei tujuh tahun yang lalu. Kebetulan polisi itu juga adalah teman sekolahnya dulu, jadi tidak sulit membujuknya untuk memberi tahu informasi yang ia butuhkan. Ya, terlihatnya Shohei bersama Black Shadow tentu menggali keingintahuannya tentang keterkaitan mereka.
"Dua tahun lalu dia satu-satunya penyidik kepolisian Metro yang dipindahtugaskan Megumi Jun ke departemen khusus pidana. Departemen itu bersifat rahasia dan berisi kumpulan jaksa terbaik di bidang investigasi yang bertugas melakukan identifikasi dan mencari tanda-tanda mencurigakan para pejabat yang diduga korupsi. Mereka memiliki hak dan izin akses dari bank aliran dana yang masuk ke setiap rekening pejabat. Tapi, entah kenapa tiba-tiba menteri kehakiman membuat peraturan kalau departemen itu hanya boleh diisi dari orang-orang kejaksaan. Yamazaki-san pun dipindahkan ke Badan Kepolisian Nasional untuk menggantikan Megumi Jun-sama yang bersiap cuti karena mengambil gelar profesor hukum. Hanya saja, Yamazaki-san memilih kembali ke Kepolisian Metro untuk mengurus kasus seperti biasa."
"Oh, jadi sebelumnya Yamazaki-san tergabung dalam departemen khusus itu? Apakah departemen itu dibentuk untuk pemberantasan korupsi?" tanya Kei penasaran.
"Ya, apa kau masih ingat kasus korupsi pertama yang terbongkar di era kepemimpinan saat ini?" tanya polisi itu lagi.
"Tentu saja. Itu dilakukan oleh salah satu tim sukses perdana menteri yang juga menjabat sebagai juru bicaranya. Aku sempat mengundang tersangkanya di program acaraku. Dia mati-matian membantah, tetapi akhirnya terbukti juga."
Polisi itu menggeser sedikit tubuhnya, lalu berbisik ke telinga Kei, "kasus itu dibongkar pertama kali oleh Yamazaki Shohei. Keahliannya di bidang IT dan telematika, membuatnya mudah untuk mengusut dana haram yang masuk di rekening pejabat."
"Apakah hanya kasus itu?"
"Iya. Seperti yang kukatakan tadi, setelah itu menteri kehakiman mengeluarkan peraturan yang membuat seluruh polisi ditarik kembali. Padahal Yamazaki-san sedang sibuk menyelidiki beberapa pejabat yang diduga melakukan tindak pidana korupsi, suap, dan penggelapan dana. Seluruh tugasnya dilimpahkan kepada jaksa yang berwenang," tutur polisi itu menjelaskan seluruhnya pada Kei.
"Omong-omong, kenapa menteri kehakiman mengeluarkan peraturan seperti itu?" tanya Kei lagi ketika nama pamannya disebut.
"Yang kudengar beberapa jaksa tak mau bekerja sama dengan kepolisian. Sepertinya mereka takut kalah pamor jika polisi ikut bergabung, karena setelah Yamazaki-san menyerahkan seluruh hasil penelusurannya, mereka malah berkata akan mengusut sendiri. Tapi, ini cuma gosip yang berembus saja," ucap polisi itu dengan nada hati-hati.
Kei tertegun dengan pandangan satu arah.
Jika seperti yang dijelaskan, maka ada alasan yang menjadikan Yamazaki Shohei bekerja sama dengan Black Shadow. Atau ... bisa jadi, justru dia yang menyetir Black Shadow selama ini. Yang pasti, dia satu-satunya orang yang mengetahui identitas Black Shadow sebenarnya.
Sudah sejak lama, Kei sangat penasaran dari mana Black Shadow mengetahui nama-nama pejabat yang tersandung kasus. Uniknya, tuduhan pria itu tak pernah meleset karena selalu ada bukti nyata terpampang di setiap aksi yang ia lakukan. Meskipun banyak politisi berasumsi pria bertopeng itu adalah alat yang digunakan lawan politik untuk membuka kedok pemerintah, tetapi Kei tak berpikir seperti itu.
Sejak kehadiran Black Shadow, ia sudah tertarik dengan motif dan sumber informasi pria bertopeng itu. Hanya saja, tak pernah sedikit pun ia berpikir sumber info pria bertopeng itu kemungkinan berasal dari anggota kepolisian.
Kei yang telah berada di ruang kerjanya, kini gencar berburu informasi tentang Shohei. Dari data internet, nama Shohei menggaung di publik saat berhasil menembak the secret thief tujuh tahun silam. Meskipun Shohei merupakan anak dari mantan Kepala kepolisian nasional, tetapi dia tak pernah menggunakan status ayahnya untuk menaikkan karir kepolisian.
"Jika aku membeberkan sosok di balik Black Shadow di kanal youtube-ku, pasti berita ini langsung meledak di publik!" gumam Kei sembari menatap foto Yamazaki Shohei dalam balutan jas kepolisian di laptopnya.
Di waktu yang bersamaan, Shohei kembali melatih Rai ilmu pertahanan dalam bela diri judo¹. Kedua pria tampan itu berada di atas arena tatami² dengan memakai seragam gi³.
"Jika seseorang menghunuskan pisau ke arahmu, silangkan kedua tanganmu jepit pergelangan tangan orang itu lalu pelintir ke belakang dengan kuat hingga dia menjatuhkan pisaunya. Kemudian, tonjok hidungnya dan hantam tenggorokannya. Buat dia jatuh tersungkur dan tak berdaya," ujar Shohei seraya memperagakan langsung gerakan tersebut dengan gerakan pelan.
Selanjutnya, ia mengajari Rai cara mengunci dan membanting lawan dengan teknik bela diri judo.
"Ayo, banting aku! Lakukan seolah hawa pembunuh berkibar di tubuhmu!" perintah Shohei.
Rai mulai menyerang Shohei dengan teknik dasar sapuan lutut, tetapi langsung dibalas Shohei dengan menjegal tubuhnya dari belakang.
"Hei, mengalahlah sedikit! Bagaimana bisa kau kubanting kalau kau sendiri tetap berusaha bertahan," keluh Rai yang masih berusaha menyerang Shohei dari samping, depan, dan belakang.
"Apakah saat di hadapan musuh nanti kau akan mengatakan begitu? Meminta mereka untuk menyerah dan rela dipukuli olehmu?" Shohei membalas keluhan naif Rai dengan perkataan yang sinis.
Rai menggertakkan gigi dan rahang, berusaha sekuat tenaga untuk menjegal tubuh Shohei.
"Apa aku boleh bertanya satu hal padamu?" tanya Rai di tengah adu pertahanan antara mereka.
"Apa itu?
"Sebenarnya ini sudah lama ingin kutanyakan. Jika ada seseorang yang mengetahui kau adalah pengendali Black Shadow, lalu mengungkapnya di publik, apa yang akan terjadi denganmu?"
Shohei yang tengah mengancing pergerakan Rai dari arah belakang, mendadak tertegun seketika. Ia membuang napas sejenak, lalu berkata, "Aku ... pasti akan dikeluarkan dari kepolisian."
Kelengahan Shohei saat ini digunakan Rai untuk mengangkat tubuh pria itu ke atas, lalu membantingnya ke bawah.
Suara bantingan terdengar cukup keras bersamaan dengan lenguhan Shohei.
"Kau berhasil dengan cara curang!" ucap Shohei yang telah terbaring di atas tatami.
.
.
.
Jejak kaki 🦶🦶
Judo: olahraga bela diri yang menitik beratkan pada bantingan dan bukan pukulan maupun tendangan
Tatami: karpet khusus sebagai pelapis arena.
Gi: seragam judo
Jempolnya jangan lupa tancepin