
Pagi hari, Yuriko cepat-cepat keluar dari kamarnya hanya untuk menemui Rai. Sayangnya, hingga kini pintu kamar lelaki itu masih tergembok, menandakan jika dia tidak pulang semalaman. Ini aneh, tak biasanya Rai tidak terlihat seharian penuh hingga berganti hari.
Di rumah sakit, ketua perawat bersama seorang perawat magang membawa pasien menuju ruang VIP yang berada tepat di samping kamar rawat Shohei. Saat membuka kamar tersebut, mereka terperanjat melihat keadaan ruangan yang porak poranda. Selimut, tiang infus, tabung oksigen, bahkan laci nakas sudah tak berada di posisinya. Ruangan itu benar-benar seperti habis diterjang tsunami.
"Bagaimana ini? Bukankah kalian bilang kamarnya sudah disiapkan dari semalam?" komplain keluarga pasien melihat keadaan kamar tersebut.
Ketua perawat melirik ke arah perawat magang sambil melemparkan tatapan penuh pertanyaan, seolah meminta kejelasan dari ruangan yang berantakan tersebut.
"Mohon maafkan saya, semalam saat hendak membersihkan tempat ini, perawat senior pria mengatakan biar dia yang akan membersihkan tempat ini." Perawat magang itu membungkuk penuh sambil menunjukkan wajah bersalah dan ketakutan.
Pasien remaja yang duduk di kursi roda itu justru terfokus pada lantai kamar, di mana terdapat beberapa kelopak bunga camelia yang berserakan.
"Jangan-jangan ... tempat ini sebelumnya didatangi Black Shadow!" ucap pasien remaja itu.
Mereka semua terlonjak dengan pandangan terarah ke beberapa helai kelopak bunga camelia yang menjadi identitas peninggalan Black Shadow.
"Aku sangat senang jika kamar ini sebelumnya didatangi Black Shadow," ucap pasien remaja itu dengan ekspresi gembira.
Waktu kian maju bagaikan air yang mengalir. Pagi ke siang, siang menuju sore, sore berangkat ke malam. Yuriko terus mengecek kamar Rai setiap waktu. Hingga langit benar-benar gelap, pria itu tak menunjukkan batang hidungnya.
Jam telah menunjukkan pukul sepuluh malam waktu Tokyo. Orang-orang tengah menunggu siaran langsung Black Shadow yang dijanjikan malam ini. Beberapa kafe di Shinjuku bahkan menyediakan layar besar agar pengunjung dapat menonton bersama. Seperti yang dikatakan pria bertopeng itu semalam, ia akan mengumumkan hasil poling yang dibuatnya malam ini juga.
Satu jam berlalu, tetapi belum ada tanda-tanda siaran Black Shadow akan tayang di chanel dan aplikasi manapun. Orang-orang mulai bosan menunggu. Hal yang sama terjadi pada Yuriko dan teman-temannya yang sedang duduk di salah satu kafe yang menyediakan tontonan bersama. Ini pertama kali baginya begitu penasaran dengan siaran langsung pria bertopeng itu. Mungkin karena ada hubungannya dengan Shohei. Ya, dia tidak bisa mengetahui kabar polisi itu karena Rai belum juga pulang ke apartemen.
Jarum pendek hampir mengarah ke angka dua belas, tetapi Black Shadow belum juga menunjukkan pesonanya. Berbeda dengan Yuriko yang mulai bosan, Seina justru yakin dan percaya Black Shadow akan mengabulkan permintaannya untuk membongkar kasus yang tengah diselidiki kekasihnya, Shohei. Dia bahkan telah menunggu lelaki yang telah merenggut ciumannya itu di menara Skytree.
Di tempat lain, seorang pejabat negara baru saja selesai mengikuti rapat di gedung Kantei¹. Ia tersenyum sinis saat mendengar perbincangan beberapa pejabat yang mengatakan jika Black Shadow belum juga mengadakan siaran langsungnya malam ini. Ia lalu meminta pada asisten pribadinya untuk segera mengantarnya ke suatu tempat.
Di kantor Kepolisian Metropolitan, beberapa polisi dari devisi investigasi dan penyidik tampak lembur. Seto Tanaka membuka kembali CCTV yang menampilkan gadis hostest tengah berbelanja sebelum dia menghilang. Ya, kasus ini sedikit terabaikan kepolisian, bahkan media diminta untuk tidak memperbesar cerita sehingga dapat memperkeruh suasana.
Meski begitu, Seto merasa penasaran menguak misteri hilangnya gadis itu dan cuitan kakaknya yang mengatakan gadis itu memiliki hubungan dengan salah satu pejabat negara.
Ia memerhatikan saksama, saat gadis hostest itu membuka koper dengan pandangan mengarah ke CCTV secara sadar. Seto mengingat ulang ucapan Shohei tempo hari yang mengatakan gadis itu tampak ingin menyampaikan sesuatu lewat tatapannya itu. Ia kembali mengulang video tersebut, dan memperlambat tepat di bagian saat gadis itu menengadah ke arah kamera. Terlihat dalam video sedetik setelah gadis itu menatap kamera, ia langsung berpaling ke arah koper.
Seto buru-buru menghentikan video tersebut. Ia memperbesar gambar, terutama di bagian koper. Ternyata di dalam koper yang berisi tumpukan uang itu terselip sebuah boneka kecil. Seperti gantungan kunci.
Seto kembali mengingat pesan yang ditinggalkan Shohei di lokasi penusukan. Tulisan berdarah itu terdiri dari empat huruf alfabet yaitu "L L O D", yang apabila dibaca dengan cara terbalik maka menjadi "Doll". Doll sendiri adalah kata bahasa Inggris yang diartikan sebagai boneka.
"Aku mengerti maksud dari kata L L O D yang ditulis oleh ketua Yamazaki-san. Cobalah lihat ini!" teriak Seto Tanaka pada teman-teman penyidik.
Para polisi sontak berkumpul di meja Seto Tanaka. Pria berusia dua puluh tujuh tahun itu memutar kembali video salinan CCTV yang terdapat di minimarket tempat gadis hostest itu berbelanja.
"Lihat, ada sebuah boneka di sana. Huruf-huruf yang ditulis oleh ketua Yamazaki-san jika dibaca secara terbalik artinya adalah doll atau boneka. Dalam kesadaran yang menipis, cukup masuk akal jika dia memilih menulis kata yang singkat. Itu sebabnya, dia memakai kata dalam bahasa Inggris dibanding menulis menggunakan kanji maupun hiragana," tutur Seto Tanaka.
"Ya, masuk akal. Yamazaki-san tidak kidal, tetapi dia menulis menggunakan tangan kiri dan menggunakan tinta darah karena keadaannya yang terdesak serta perasaan gelisah yang mungkin dialaminya, ditambah lagi kesadaran yang menurun sehingga otaknya mengalami gangguan fungsi. Itulah yang memicu kata tersebut ditulis secara mirror writing²," sambung detektif Shu menambahkan penalaran Seto Tanaka.
"Ah, aku ingat. Saat pulang dari kantor Departemen Kepolisian Ikebukuro, ketua Yamazaki-san memintaku untuk memeriksa tempat-tempat yang dikunjungi nona hostest itu setelah dari supermarket."
"Lalu?" tanya detektif Shu penasaran.
"Dari catatan perjalanan yang tersimpan di akun media sosialnya, dia ke stasiun Ikeburuko lalu mengunjungi sebuah toko berlian di Ginza," ujar polisi tadi.
Seto Tanaka yang sedang membaca riwayat postingan akun sosial nona hostest tersebut lantas membersit. "Lihat foto ini, gadis ini memotret dirinya sendiri bersama boneka kecil itu."
Detektif Shu merampas transkip catatan riwayat postingan yang dipegang Seto. Ya, tanggal postingan tersebut sama dengan saat gadis itu berada di supermarket. Waktunya pun tiga jam berselang. Di dalam postingan foto selfie tersebut, gadis hostest itu menulis keterangan foto yang berbunyi "Aku menyukai mata boneka ini."
Mata detektif Shu sontak terbuka lebar. "Apakah kalian sepemikiran denganku?" tanyanya yang mulai mendapatkan titik terang kasus tersebut.
"Jangan-jangan ... ini adalah bagian dari pencucian uang?" tebak Seto Tanaka begitu mengingat kasus ini ada kaitannya dengan kasino.
"Jika seperti ini, berarti mungkin saja si gadis itu adalah saksi. Dan boneka tersebut bukti kejahatan oknum yang memperalat dirinya," kata inspektur Heiji seraya memangku dagunya.
"Sayangnya, Jepang tidak memiliki lembaga perlindungan saksi seperti di Amerika," imbuh detektif Shu.
"Lalu, siapa pelaku sesungguhnya di balik semua ini?" Inspektur Heiji berpikir keras.
Ketika mereka memusatkan diri dengan otak masing-masing, tiba-tiba seorang polisi berteriak memberi kabar yang mengejutkan.
Di sisi lain, pejabat negara tadi baru saja sampai di gedung tua yang mirip gudang lama dan terletak di belakang sebuah perusahaan. Ia berjalan bersama beberapa bodyguard-nya masuk ke tempat itu. Suasana gelap dengan pencahayaan seadanya dan bau debu yang mengolok-olok indra penciuman seakan menyapa mereka yang baru datang. Di tengah sana, ada dua orang yang duduk dengan tangan dan kaki terikat.
Sebelah kanan adalah seorang gadis muda, sebelah kiri adalah seorang pria berpakaian hitam-hitam. Seluruh kepala dan wajah pria itu sengaja ditutupi plastik hitam agar tak bisa melihat. Gadis muda tersebut tampak pasrah setelah disekap selama berhari-hari, sedangkan pria di sampingnya terlihat meronta-ronta ketika mendengar suara langkah kaki.
Pejabat pemerintahan itu lantas mendekat ke arah pria yang terikat. "Apakah kau Black Shadow yang dipuja-puja orang-orang bodoh di luar sana?" ucapnya sambil tergelak, "Kau pikir siapa kau berani mengungkap kejahatan yang telah kulakukan selama bertahun-tahun? Kau ingin tahu kebenaran di balik hilangnya gadis viral itu, kan? Lihatlah ... dia ada di sampingmu saat ini! Bahkan kau tidak bisa berbuat apa pun untuk membantunya bebas dari tempat ini," lanjutnya kembali tertawa terbahak-bahak.
Dia memerintahkan anak buahnya untuk mengambil sepotong kayu lalu memukulkan ke wajah pria yang tersekap di hadapannya itu.
"Apa yang bisa kau lakukan sekarang, hah?" ucapnya sambil terus memukulkan kayu ke beberapa bagian tubuh Black Shadow.
"Selama ini, aku terkenal sebagai politisi bersih. Aku menjabat sebagai anggota dewan, lalu menjadi menteri di kabinet pemerintahan saat ini atas usahaku sendiri. Di mata masyarakat mereka mengagumiku karena mampu membuka banyak lapangan kerja. Di mata kekaisaran pun aku dipuji karena menampung para tenaga kerja asing di perusahaanku. Mereka tak tahu alasanku mengambil tenaga kerja asing selama ini karena mereka dapat kugaji di bawah standar kelayakan upah yang ditetapkan pemerintah. Aku telah menampung hartaku selama menjadi politisi dan pengusaha, tetapi aku tidak sebodoh politisi yang tertangkap basah olehmu," ucapnya berterus terang sambil kembali memukul Black Shadow.
Seolah belum puas, ia menunjuk ke arah gadis yang juga disekapnya sambil berkata, "Gadis ini berusaha membocorkan praktik pencucian uang yang kulakukan selama ini, ditambah kakaknya juga membuat kehebohan publik dengan videonya yang viral itu. Apa aku salah jika menghukumnya? Rencananya dia akan kubunuh. Tapi sebelumnya, aku ingin menghabisimu terlebih dahulu," ucapnya dengan mata melotot dan ekspresi menakutkan layaknya seorang psikopat.
Gadis itu menggeleng-geleng ketakutan, menunjukkan wajah mengiba sambil meneteskan air mata.
"Bahkan sekalipun aku telah mengungkap segala kejahatan yang pernah kulakukan, kau tak bisa berbuat apa-apa karena sebentar lagi kau akan mati!"
Dengan tak sabar, pria tua itu lantas membuka plastik yang menutupi wajah pria yang disekapnya. Namun, ekspresi wajah pria itu berubah seketika. Matanya mendadak terbelalak saat wajah yang terpampang di hadapannya saat ini adalah anak buahnya sendiri, alias pria yang semalam saling berkonfrontasi dengan Black Shadow. Lebih mengejutkan lagi, mulut anak buahnya itu tampak disumbat dengan sebuah kamera kecil yang tengah hidup dan mengarah langsung padanya.
Melihat anak buahnya sendiri di depan mata, pria tua itu lantas tak bisa menahan kegeraman.
"Apa yang terjadi?!" teriaknya dengan suara murka menggelegar bagaikan letusan gunung berapi.
"Kasihan sekali, ya!" Suara seseorang tiba-tiba menggaung di ruangan gelap itu. "Kau mengaku lebih pintar daripada politisi yang telah tertangkap basah. Nyatanya kau sangat bodoh karena kena jebakan tipuanku," lanjutnya lagi.
Pria tua yang menjadi salah satu pejabat itu lantas menengok ke sana-kemari untuk menemukan sumber suara.
"Hei, aku di sini!" teriak pria tersebut.
Pria tua bersama anak buahnya kompak menoleh ke belakang, tepatnya ke lantai atas. Rupanya, Black Shadow tengah berjongkok santai dengan kamera handycam yang berada di tangannya.
Di jalanan, semua orang tampak heboh menyaksikan wajah salah satu pejabat tinggi negara yang kini memenuhi layar videotron.
"Itu benar Menteri Sosial, Kento Hayase!" teriak penonton yang tercengang setelah beberapa dari mereka sibuk menebak-nebak suara pengakuan pejabat negara yang tampil di siaran langsung Black Shadow.
.
.
.
jejak kaki 🦶🦶🦶
Kantei: gedung kantor pemerintahan perdana menteri Jepang.
mirror writing: menulis secara terbalik, baik dibalik dari kiri-ke Kanan atau dari atas ke bawah. keadaan ini bisa terjadi saat seseorang tengah gelisah atau kerja otak tak berfungsi, atau jika kamu kidal, dan kamu berusaha keras menulis menggunakan tangan kanan. ini juga sering terjadi pada anak-anak yang baru belajar menulis.
kenal pelukis ternama Leonardo da vinci dengan karya lukisan fenomenalnya Monalisa? nah Leonardo Da vinci ini seorang yang kidal, tapi selalu nulis secara terbalik gays, sampe sekarang belum ditahu apa penyebabnya dan masih menjadi bahan penelitian ilmuwan.
sampai sini, kalian suka ga cerita ini? sebentar lagi konflik utama bakal muncul gays, tetap stay ....