
..."Bagiku kasus berakhir, hanya jika kebenaran dari kasus itu terungkap."...
...~Shohei Yamazaki~...
...----------------...
"Aku memilih ...."
"Mr. White, jangan mau bernegosiasi dengannya! Jangan buat kesepakatan apa pun dengan orang itu!" teriak Black Shadow tiba-tiba lewat sambungan earpiece.
"Benar, Mr. White! Kau tidak sendiri, ada kami di sini yang siap membantumu!" sambung Kei.
"Jangan membuat keputusan yang gegabah!" imbuh Ryo.
"Kita semua tak akan membiarkan Kazuya Toda menang!" Yuriko menambahkan.
Mendengar semangat yang berkobar dari timnya, membuat Shohei semakin dilema. Bola matanya bergerak tak tentu arah seiring pikirannya berkecamuk. Untuk pertama kali ia merasa tak berdaya karena dihadapkan satu pilihan.
Kazuya Toda menatap jam tangannya lalu berkata, "Waktu terus bergerak maju. Jika kau tak segera mengambil keputusan, maka kau akan kehilangan kedua-duanya."
Di lantai tertinggi gedung plaza, Seina yang sedang disekap hanya bisa menanti jawaban Shohei dengan cemas. Tentu ia berharap pria itu memilih menyelamatkan dirinya.
Shohei menarik napas panjang, seraya menutup mata. "Aku memilih ... Black Shadow!" ucapnya diiringi mata yang terbuka seketika.
Pada saat ini, Seina terkesiap mendengar keputusan yang keluar dari mulut Shohei. Ekspresi gadis itu mendadak hilang, hanya mampu tertunduk lemah dengan tetesan bening yang keluar dari sudut matanya. Ketika disekap oleh orang-orang tak dikenal, ia merasa sangat takut. Namun, mendengar suara Shohei rasa takutnya menghilang karena ia optimis pria itu pasti akan menyelamatkan. Sayangnya, saat dihadapkan oleh dua pilihan, ternyata ia bukan menjadi pilihan pria itu.
Hal serupa turut dirasakan Black Shadow. Mendengar Mr. White lebih memilih ia dibanding perempuan yang dicintainya, hatinya seakan tertancap ribuan jarum. Ia jatuh berlutut sambil mengusap kasar wajahnya. Padahal, jika memilih Seina, karir Shohei akan aman bahkan langsung melejit. Tapi kenapa ... kenapa pria itu malah memilih dirinya?
"Apa kau serius? Kau lebih memilih Black Shadow dibanding calon istrimu?" tanya Kazuya Toda mencoba menggoyahkan pilihan Shohei.
"Ya." Shohei tersenyum sedih, lalu menatap gedung di seberang sana yang menjadi tempat penyekapan Seina. "Karena ... aku akan mati bersamanya," lanjutnya dengan suara serak.
Sebuah kalimat menyentuh yang keluar dari mulut Shohei, membuat Seina mengangkat kepalanya seketika. "Shohei ...." Suara seraknya bergumam diiringi senyum sedih yang turut melintasi bibirnya.
Pria bodoh itu tak pernah memperlakukan dirinya secara romantis, tak pernah mengeluarkan kalimat cinta yang membuat hatinya berbunga-bunga, bahkan selama berbulan-bulan mengenalnya yang ia tahu Shohei adalah tipe pria membosankan. Akan tetapi, jawaban yang baru saja diutarakan pria itu sungguh dalam, melebihi mengucapkan kalimat "aku mencintaimu" dalam seratus kali.
Dalam cinta, sesuatu yang paling indah adalah ketika kedua pasangan hidup bersama dalam kebahagiaan. Namun, bukankah mati bersama juga adalah bukti keindahan suatu hubungan?
Kazuya Toda tertawa lepas sambil menepuk tangan dengan pelan.
"Subarashi!" Wajah pria itu menghitam seketika. "Kau telah menyia-nyiakan kebaikanku!"
(Subarashi\=Luar biasa)
"Aku tidak akan memilih apa yang menjadi keinginanmu," balas Shohei dengan lantang.
Kazuya Toda mengangkat sepasang alisnya. "Kalau begitu apa boleh buat. Kuharap kau tidak sesali keputusanmu!"
Shohei bergegas keluar dari ruangan itu menuju gedung plaza. Ia masuk ke dalam lift, lalu menatap jam tangannya. Waktu yang tersisa hanya tinggal delapan belas menit. Ia lalu berlari kencang menyebrangi jalan yang dipadati manusia.
"Mr. White, aku juga akan mati bersamamu!" Suara Black Shadow tiba-tiba menggaung lewat saluran earpiece.
"Aku juga!" Kei, Yuriko dan Ryo kompak mengatakan hal serupa.
Langkah Shohei terhenti seketika. Mata tajamnya menatap jauh, melihat Rai yang berdiri gagah dengan kostum Black Shadownya.
"Baiklah! Kita akan ke lantai paling atas plaza. Tapi sebelumnya, kita harus mengungsikan orang-orang yang ada di sini!" perintah Shohei.
Tanpa membuang banyak waktu, mereka langsung bergerak serempak. Rai mengintruksikan Ryo agar tetap di area taman untuk menyelamatkan orang-orang. Sementara, ia dan Shohei akan ke gedung plaza bergabung dengan Kei dan Yuriko yang lebih dulu ada di sana.
Begitu masuk ke gedung plaza, Shohei segera ke pusat informasi, lalu menguasai mikrofon. "Perhatian untuk semua pengunjung, harap untuk segera mengosongkan tempat ini. Ada bom yang sebentar lagi akan meledak. Mohon selamatkan diri kalian masing-masing."
Pengumuman itu sontak membuat pengunjung plaza gempar seketika. Tak ayal, orang-orang langsung menghentikan aktivitas belanja mereka. Arena permainan anak, salon, kedai makan, dan gerai-gerai toko yang tadinya penuh menjadi kosong seketika. Bahkan para karyawan yang sedang melayani pelanggan kini berlarian untuk menyelamatkan diri masing-masing. Tangga eskalator dan lift penuh seketika. Suara teriakan ketakutan terdengar di setiap lantai.
Seluruh orang langsung berlarian menyelamatkan diri. Di kejauhan, seseorang sempat merekam kehebohan yang terjadi di tempat itu.
Dari pusat informasi, Shohei melangkah cepat menuju lantai tertinggi gedung itu. Begitu lift terbuka, ia bertemu dengan Rai yang lebih dulu berada di dalam sana. Keduanya kemudian keluar dari lift lalu bertemu dengan Yuriko dan Kei yang datang dari sisi kanan dan kiri koridor.
Dengan langkah tegas tanpa senyum, keempat orang itu menuju ruang sandera Seina sambil memasang topeng di wajah mereka masing-masing. Di depan sana, belasan pasukan Kazuya Toda siap menghadang mereka dengan guratan wajah yang sangar. Rai, Shohei, Kei dan Yuriko langsung menerobos pasukan terlatih itu tanpa rasa takut. Tak pelak, perkelahian pun terjadi di saat waktu yang tersisa tinggal sepuluh menit.
Shohei membanting siapapun yang mencoba menghadangnya. Ia benar-benar menunjukkan polisi yang tak hanya bisa menuntaskan kasus, tapi juga melumpuhkan musuh dengan tangan kosong. Rai memukul siapapun yang coba menyerangnya. Ia mendorong sepuluh troli yang tersusun rapi ke arah musuh dan sengaja menjatuhkan dua rak besi untuk membuat mereka terperangkap di sudut ruang.
Begitu pula dengan Kei dan Yuriko yang menggunakan keahlian bela diri mereka. Dengan mata yang seperti hewan buas, Kei tak henti-hentinya memukul dan menendang lawan. Yuriko dan musuh saling memegang pundak, untuk beradu ketahanan. Kaki gadis itu terus bergeser mundur ke belakang hingga punggungnya pun menabrak dinding. Untungnya, Rai datang dan memukul kepala dan punggung pria itu hingga membuatnya terkulai seketika. Tak selesai sampai situ, musuh datang tiba-tiba dari arah kiri dan hendak menyerang keduanya. Rai langsung mengangkat tubuh Yuriko, dan di waktu yang sama gadis itu melayangkan tendangan dua kaki sekaligus ke wajah musuh.
Dalam waktu sepuluh menit, mereka berhasil menumbangkan musuh. Shohei, Rai, Kei, dan Yuriko saling bertatapan, kemudian pandangan mereka tertuju pada pintu tertutup di depan sana. Mereka lalu masuk ke dalam ruangan yang disinyalir menjadi tempat penyekapan Seina. Sayangnya, masih ada pasukan Kazuya Toda yang berjaga di depan sana bahkan berbaris membentuk Piramida.
"Waktu yang tersisa tinggal lima menit. Apakah kalian juga mau ikut mati bersama kami?" tantang Rai.
Pria yang berdiri paling depan lantas menimang ucapan Rai sambil menatap jam tangannya. Ia menoleh ke belakang, mengarahkan anak buahnya untuk mundur dan segera meninggalkan ruangan itu.
Setelah kepergian orang-orang itu, Shohei berlari ke arah Seina untuk melepaskan bom yang melilit di tubuhnya.
"Black Shadow! Apa kau Black Shadow?" tanya Seina tiba-tiba.
Langkah Shohei terhenti begitu saja. Ia lalu menatap Rai, kemudian berjalan mundur menjauhi Seina secara perlahan. Rai maju mendekat, kemudian berjongkok di hadapan Seina.
"Ya, ini aku," balasnya pelan.
"Arigatou, arigatou," ucap Seina menunduk sambil menitikkan air mata, "arigatou, sudah banyak membantu kekasihku selama ini. Mengenai perasaan yang sempat kuutarakan padamu, kurasa aku salah menafsirnya."
Shohei yang berdiri di belakang Kei sambil tertunduk lesu, langsung menaikkan pandangannya. Kei menepuk pundak Shohei untuk menyemangatinya. Dengan instingnya sebagai seorang jurnalis tampaknya ia sudah bisa membaca apa yang terjadi antara Shohei, Seina dan Rai.
Rai menggeleng. "Justru aku yang berterima kasih kepada Shohei-kun. Jika bukan karena dia, aku hanyalah sejenis sampah," ucapnya sambil menarik napas, "dari hati yang paling dalam aku meminta maaf untuk semua tindakan lancang yang pernah kulakukan padamu.
Begitu kain yang menutupi mata Seina terbuka, pemandangan pertama yang masuk ke retinanya adalah sosok bertopeng yang sempat membuatnya tergila-gila. Namun, saat mengalihkan pandangannya, ia terkejut melihat sosok bertopeng lainnya. Salah satu dari sosok bertopeng itu mendekat dan membuka topengnya.
"Shohei-kun, aku ... aku ... benar-benar tidak pantas untukmu," ucap Seina sambil terisak.
"Jangan bicara hal yang bodoh!" tandas Shohei dengan suara bergetar.
Shohei, Rai dan Kei membuka lilitan tali dan juga bom yang menempel di tubuh kekasihnya. Bom itu lalu diambil oleh Yuriko. Waktu yang tertera di bom itu menunjukkan tinggal dua menit lagi.
"Waktunya tinggal dua menit. Bagaimana ini? Apakah di antara kita ada yang bisa menjinakkan bom?" tanya Yuriko sambil memegang bom.
"Lepaskan sekrup di sebelah penanda waktu. Setelah sekrupnya terbuka di sana ada beberapa kabel. Coba putuskan kabel berwarna hijau!" ujar Shohei.
"Baik." Yuriko mencoba melepaskan sekrup di belakang bom. Begitu sekrup itu terbuka, sepasang matanya malah melebar panik.
"Ada apa?" tanya Kei sambil berdiri.
"Tidak ada kabel. Hanya ada papan tombol. Sepertinya kita perlu mengetik kode," jawab Yuriko sambil menunjukkan papan tombol yang ada di dalam bom.
"Jangan diketik! Jika kita salah mengetik password-nya maka bom itu akan meledak!" teriak Shohei melarang.
.
.
.
halo readers, kak Yu mau mengucapkan terima kasih banyak untuk sebagian pembaca yang telah memberikan vote-nya secara tulus di novel ini, sehingga novel ini bisa masuk 10 besar voters tertinggi, tidak kalah dengan novel yg punya banyak pendukung. Terima kasih banyak pokoknya. selanjutnya untuk dukungan gift/hadiah, bisa dialihkan ke novel saya yang satunya (Dosa). Dan jika masih ada yg ingin memberi vote voucher ke novel ini, dipersilakan sesuai kerelaan tanpa paksaan seperti kemarin.
mohon maaf untuk update kali ini lebih lama dari biasa karena kerjaan di dunia nyata yang harus saya dahulukan. tetap setia menanti detik-detik perpisahan Rai, Shohei dan kawan-kawan....
Jangan lupa like dan komennya sebagai kontribusi kalian ke novel ini juga.