
Seina terperangah hingga tak bersuara selama beberapa detik. Hal itu membuat Shohei mengira kalau ia menolak keinginannya. Pria itu mengalihkan pandangannya searah kaca depan mobil.
"Ah, aku tidak bermaksud ingin melakukan sesuatu yang macam-macam padamu saat tuan Matsumoto tidak ada. Aku hanya murni ingin menghabiskan satu hari penuh bersamamu." Shohei buru-buru menjelaskan agar Seina tak salah paham. "Mungkin aku akan lebih sibuk untuk depannya. Mungkin juga waktu kencan kita akan terpakai untuk kesibukanku. Tapi, aku janji itu tidak akan lama," lanjutnya seakan berharap pengertian dari Seina.
Seina tertawa kecil seketika. "Tidak apa-apa."
"Apanya yang tidak apa-apa? Bermalam di sini? Atau ... untuk kesibukanku ke depan?" tanya Shohei yang seakan tak sabaran menerima jawaban.
"Untuk semuanya," jawab Seina sambil menahan senyum.
Shohei bernapas lega seketika. "Paling tidak, setelah kita bertunangan dan tinggal bersama aku akan lebih banyak waktu denganmu."
Senyum Seina yang sempat mengembang, berangsur-angsur menghilang.
Bertunangan dan tinggal bersama? Apakah aku benar-benar siap melakukannya?
"Kenapa? Apa ada sesuatu yang mengganjal hatimu?" tanya Shohei memerhatikan mimik wajah Seina.
Jika Shohei memiliki keahlian menafsir mimik wajah seseorang, maka Seina mempunyai keahlian dalam menyembunyikan perasaannya yang sebenarnya. Dia bisa berpura-pura memerankan peran kekasih yang pengertian dan tak banyak menuntut. Meski sebenarnya dirinya tidak sekuat itu.
Seina menggeleng kecil. "Aku baru ingat, besok hari Senin. Bukankah kau harus berangkat pagi ke kantor? Kau tidur di sini tanpa membawa pakaian kerja untuk besok."
"Jangan khawatir! Apartemenku dekat dari rumahmu."
Mata Seina membulat seketika. "Eh? Apartemen? Kau tinggal—"
"Akh!" Shohei menyandarkan kepala seraya menepuk dahi. "Aku seharusnya tetap merahasiakan ini darimu," ucapnya kesal pada diri sendiri.
Kelopak mata Seina mengerjap berulang, dan dahinya berkerut karena makin tak mengerti.
"Sebenarnya ... aku telah membeli kondominium untuk kita tinggali nanti. Aku sengaja mencari lokasi yang tak jauh dari rumahmu agar kau bisa mengunjungi ayahmu kapan saja."
"Benarkah?" Seina terkesiap sembari menatap lekat pria di sampingnya itu.
Shohei mengangguk pelan.
"Kenapa kau tidak mengatakan padaku?" tanya Seina.
"Karena sebenarnya ... aku ingin memberikan kejutan padamu. Aku ingin menghadiahkan itu padamu saat kau selesai ujian. Tapi sepertinya rencanaku telah gagal." Shohei menyengir bodoh sambil menggaruk-garuk kepala.
Seina memandang Shohei dengan mata yang berbinar. Ia tak menyangka, kekasihnya yang selalu tampak kaku dan tak romantis ini, telah berupaya mempersiapkan kejutan untuknya.
"Kau tidak gagal! Rencanamu sama sekali tidak gagal karena aku benar-benar terkejut," ucap Seina menahan haru.
Kini giliran Shohei yang bergeming dan hanya mampu menatap manik indah kekasihnya.
"Arigatou gozaimasu. Aku ingin lihat apartemen yang kau hadiahkan untukku. Bagaimana kalau besok pagi aku ikut ke apartemenmu? Kebetulan aku akan masuk kampus pagi, aku bisa ikut, kan?"
Masih menatap kekasihnya dengan penuh cinta, Shohei pun mengangguk. "Semoga kau menyukai hunian kita nanti."
Sepasang kekasih itu lalu turun dari mobil dan masuk bersama di kediaman yang megah. Mereka langsung disambut oleh kepala pelayan keluarga Matsumoto.
"Suzuki-san, tolong siapkan pakaian tidur baru dan bantal untuk kekasihku. Dia akan menginap di sini malam ini," pinta Seina pada kepala pelayan.
"Baik, Nona." Kepala pelayan menunduk lalu segera melaksanakan tugasnya.
Seina dan Shohei menaiki tangga melengkung di mana terdapat karpet merah yang terbentang. Ini bukanlah kali pertama Shohei ke sini dan para pelayan juga telah mengenalnya sebagai calon menantu di rumah itu. Kamar Seina berada di lantai atas dan bersebelahan dengan ruang baca sekaligus ruang kerja tuan Matsumoto. Shohei bisa mengetahuinya, dari pengaman berupa alat deteksi sidik jari yang tertera di depan pintu ruang itu.
Menatap punggung Seina yang berada di depannya, hati kecil pria itu malah bersuara.
Aku tidak boleh melibatkan perasaanku dalam mengungkap suatu kebenaran. Jadi, tak bertemu dengannya sementara waktu adalah pilihan yang tepat sampai aku bisa mengetahui sosok dari target kesepuluh dan Black Shadow mampu menyelesaikan misi tersebut.
Sebaliknya, Seina kembali mengingat perkataan Shohei di mobil tadi. Dengan segala persiapan yang telah pria itu lakukan, bukankah ia semakin tak memiliki alasan untuk meninggalkannya?
Ini bukan sebuah pilihan, tetapi memang suatu ketetapan. Dari awal, aku sudah ditetapkan untuk bertunangan dengannya. Meski dalam perjalanan, aku malah jatuh hati pada pria lain, tapi aku tak diperkenankan untuk memilih antara dirinya dan pria itu.
Mata Seina mendadak berkaca-kaca. Ia menggigit bibirnya untuk mencegah buliran air itu jatuh dari pelupuknya. Ya, dia masih menyimpan perasaannya pada Black Shadow. Bahkan, ia terus mencari tahu berita apa pun yang terkait dengan pria bertopeng itu. Seolah-olah sihir pria itu terlalu kuat sehingga ia tak mampu untuk melepaskan diri dari bayang-bayangnya.
Begitu masuk di kamar, Seina pamit mandi dan langsung melangkah ke kamar mandi. Kesempatan itu tak disia-siakan Shohei. Ia bergegas keluar kamar menuju ruang kerja tuan Matsumoto yang tertutup. Secara tiba-tiba Shohei berjongkok lalu melemparkan sebuah bolpoin melalui kolong pintu tersebut. Bolpoin miliknya yang selalu ada dalam mobil itu, merangkap sebagai alat penyadap.
Bolpoin itu terlempar jauh dan masuk dalam kolong rak buku yang tak jauh dari meja kerja. Hal ini tentu untuk memudahkannya mengetahui informasi target kesepuluh dan sejauh mana keterlibatan calon mertuanya sendiri. Meski kecil kemungkinan untuk mendapatkan info itu, mengingat tuan Matsumoto sendiri lebih suka menghabiskan waktu di kantornya.
Shohei kembali ke kamar Seina. Ketika gadis itu telah keluar dengan hanya memakai handuk, pipi Shohei mendadak seperti kepiting rebus. Dia mematung beberapa saat dengan mata yang tak berkedip.
Satu detik.
Dua detik.
Tiga detik.
Saat Seina juga menatapnya, Shohei tersadar dan langsung berbalik. "Aku ingin mandi juga!"
Shohei melangkah bergeser ke samping sambil membelakangi gadis itu. Begitu pintu kamar mandi tertutup, ia langsung mengembuskan napas. Namun, saat pandangannya menunduk ke bawah, mata pria itu sontak membesar kala melihat organ vitaalnya yang bereaksi secara alami.
"Ini ... pasti karena udara malam terlalu dingin," gumam Shohei sambil melihat benda miliknya yang telah mengeras dan tampak tegak dari balik celananya. Namun detik berikutnya dia kembali membayangkan adegan saat Seina keluar dari kamar mandi dengan berbalutkan handuk hingga tampak seksi di matanya.
"Tidak! Tidak! Aku sudah berjanji tidak akan melakukan macam-macam. Lagi pula ini di rumah orangtuanya bukan di hotel, tidak etis melakukan hal-hal seperti itu, bukan?" gumamnya sambil menampar-nampar pipi.
Tiga puluh menit kemudian, Shohei dan Seina telah berbaring di atas ranjang dalam satu selimut. Pria itu tidur membelakangi kekasihnya yang terlentang. Hening. Tak ada suara. Seolah mereka telah tenggelam dalam lelap. Kenyataannya keduanya sama-sama belum memejamkan mata.
Bukannya menggunakan kesempatan untuk bermesraan atau mengobrol santai, Shohei malah larut dalam pemikirannya sendiri.
Aaakh, aku ingin sekali menghadap ke arah Seina. Tapi, bagaimana kalau tidurku tidak terkontrol. Seperti mulutku terbuka lebar lalu dengkuranku berisik. Seina pasti akan menjadi risi.
"Shohei-kun, apa kau masih siaga?"
"Ke–kenapa kau belum tidur?" tanyanya dengan nada yang sedikit gagap.
"Shohei-kun juga belum tidur," balas Seina.
"Aku ingin memastikan kau tidur lebih dulu."
"Tapi aku belum mau tidur."
"Apa kau masih takut? Kau terbayang dengan hantu-hantu tadi?" Shohei berbalik secara refleks. Kini posisinya menghadap penuh ke arah Seina.
Seina menggeleng pelan. "Aku bahkan hampir lupa dengan wujud hantu-hantu tadi," jawabnya tergelitik.
"Syukurlah!"
Kini, keduanya sama-sama terlentang sembari menatap langit-langit ke kamar. Mereka kembali memelihara keheningan. Tangan Shohei mencoba bergerak untuk menggapai punggung tangan Seina. Sejujurnya, ia tengah berusaha menahan naluri sebagai seorang pria dewasa. Sebab, ia benar-benar ingin menghargai Seina sebagai wanita bukan sebagai objek napsu semata.
"Shohei-kun!" Seina berhasil memecahkan keheningan yang merayapi mereka.
Shohei kembali menarik tangannya yang hampir menyentuh tangan Seina.
"Apakah selama kita menjalin hubungan, kau pernah tertarik dengan gadis lain?" tanya Seina tiba-tiba.
"Mana mungkin! Sejak mengenalmu ... pandanganku hanya tertuju padamu," tepis Shohei tanpa keraguan. Kali ini, ia tak ragu menggenggam tangan Seina dari balik selimut. "Tenanglah! Kesibukanku hanya untuk urusan pekerjaan dan pekerjaanku hanya berhubungan dengan para kriminal. Jangan mengkhawatirkan apa pun!"
Kata-kata itu terdengar begitu tenang.
Seina mengangguk pelan. Kepalanya sengaja bergeser dan memilih berbantalkan lengan pria itu.
Kau salah. Aku justru mengkhawatirkan jika kau akan terluka suatu saat nanti, karena hatiku belum bisa sepenuhnya padamu.
Seina menutup matanya berusaha untuk tertidur dalam dekapan pria itu. Shohei menatap lekat wajah Seina yang jelita. Tangannya terulur ragu, membelai rambut kekasihnya dengan lembut.
Untuk sementara waktu, seperti ini pun sudah lebih dari cukup.
Tak terasa sang pagi telah datang menutup malam. Butir-butir putih yang beku sisa salju semalam, tampak menghampar di jalanan. Rai yang masih bergelut dalam selimut, harus terbangun paksa saat suara dering ponsel terus bergema.
"Moshi-moshi."
"Rai, aku akan mengajak Seina ke apartemenku. Kurasa sudah waktunya mengajak ke sana. Aku juga ingin tahu pendapatnya. Semoga dia menyukai hunian pilihanmu."
"Kapan kau akan mengajaknya ke sana?" tanya Rai dengan suara yang menahan kantuk.
"Sekarang. Kami sedang bersiap-siap."
"A–apa?" Mata Rai yang masih terkulai mendadak terbelalak.
Suara kaget Rai menusuk gendang telinga Shohei. "Ada apa?"
"Apa kau meliburkan Yuri?"
"Ah, Yuriko-san. Aku lupa menghubunginya. Tapi sepertinya dia sudah ada di sana."
Rai langsung menutup telepon. Ia malah bergegas turun dari ranjang dan keluar dari apartemennya hanya untuk memastikan apakah Yuriko telah pergi. Melihat pintu gadis itu yang telah terkunci, ia pun kembali masuk ke kamarnya dan mengambil ponsel untuk menelepon.
Rai mengusap kasar wajahnya ketika hanya terdengar suara operator. Tak tinggal diam, ia segera mencuci muka, menggosok gigi, lalu mengganti pakaiannya dan memasang jaket tebal. Semua ia lakukan dalam waktu singkat. Ia langsung berlari menuju halte dan mengejar bus yang baru saja datang.
Di sisi lain, Yuriko tiba di apartemen Shohei. Melihat apartemen yang kosong sudah biasa baginya, karena memang selama beberapa Minggu ini Shohei selalu berangkat kerja pagi-pagi sekali. Saat menuju meja makan, ia tertegun melihat aneka makanan yang dimasaknya semalam tak tersentuh sama sekali. Bahkan, di antara menu tersebut ada yang sudah tampak basi. Padahal, ia berharap bisa mengetahui respon pria itu setelah menyantap masakannya semalam.
"Apakah pak polisi tidak pulang semalam?" tanyanya heran sambil melihat sekeliling tempat. Ia membuka kamar mandi dan melihat keadaan lantai yang kering. Biasanya, jika dia tiba di apartemen pada waktu yang sama seperti ini, maka lantai kamar mandi akan basah karena baru saja dipakai oleh Shohei.
"Ah, dia pasti lembur, kan? Dia ketua penyidik, pasti ada waktu-waktu tertentu yang membuatnya tidak bisa pulang karena banyak yang harus dia lakukan di sana!" Yuriko menyimpulkan sendiri sambil mengayun-ayunkan kedua tangannya.
Tak lama kemudian, pintu apartemen terbuka. Yuriko langsung melebarkan senyum saat melihat kedatangan Shohei. Ia bergegas menghampiri pria itu seraya menyapanya.
"Okaeri." (Selamat datang kembali)
"Tadaima. Yuriko-san sudah datang rupanya."
"Apa Shohei-san tidak pulang semalam?" tanya Yuriko. Namun, pandangannya teralihkan pada seorang gadis cantik berpenampilan feminin nan modis yang baru saja masuk.
Sebaliknya, Seina turut terkejut melihat gadis muda sebaya dirinya ada di apartemen kekasihnya sepagi ini.
Shohei menoleh ke belakang dan langsung menarik tangan Seina dengan lembut. "Ah, dia asisten penjaga rumah yang baru saja kuceritakan padamu."
"Oh, yang kau bilang tetangganya Matsui-san?" sambung Seina yang baru saja teringat.
Shohei mengangguk. Pandangannya beralih pada Yuriko. "Yuriko-san, kenalkan, ini calon tunanganku. Semalam aku memang tidak pulang karena menginap di rumahnya."
Yuriko terlonjak seketika dengan wajah yang kaku. "Tu–tunangan?"
.
.
.
.
Jangan lupa like + komen. kalau ada tipo atau kalimat rancu, komen aja per paragraf, nanti saya revisi kalo dah istirahat.