Never Not

Never Not
Ch. 24 : Salah Paham Berkelanjutan



Pagi tanpa mentari telah menyambut, menenggelamkan malam yang menyisakan bekas gumpalan salju di beberapa titik tempat. Orang-orang berlalu lalang melakukan aktivitas seperti biasa dengan memakai pakaian tebal, seolah tidak merasakan dinginnya angin yang menusuk-nusuk kulit mereka.


Rai masih bergelung dalam selimut bagai seekor kepompong. Sudah menjadi kebiasaan buruk pria itu untuk bangun di atas jam sembilan pagi, kecuali jika memiliki agenda bersama Shohei. Namun, kali ini tidurnya harus terusik dengan aroma hangus yang menguar kuat, dan menusuk-nusuk indera penciumannya. Hidungnya terus mengendus walaupun mata masih terpejam. Ia mendadak terbelalak disertai dengan terbangun kaget karena mendengar bunyi ketukan pintu secara beruntun.


Rai berjalan bak siput menuju pintu. Ia masih membungkus selimut di tubuhnya sampai di kepala. Dengan mata yang masih menahan kantuk, ia pun membuka pintu.


"Ohayou gozaimasu!" sapa Yuriko penuh ceria.


Rai mengucek mata berkali-kali. "Kenapa kau bangunkan aku sepagi ini!" keluh Rai menyandarkan sebelah tangannya di tiang pintu.


Yuriko menunjukkan sekotak makanan sambil tersenyum semringah.


"Apa itu?" ucap Rai sambil menguap.


"Nasi chicken katsu!" jawab Yuriko bersemangat.


Mata Rai segar seketika. "Woah, arigatou gozaimasu!" ucapnya seraya hendak mengambil sekotak makanan yang dipegang Yuriko.


"Ett ... ini bukan untukmu! Ini untuk pak polisi yang ramah." Yuriko malah menyembunyikan bekal itu ke belakang.


"Lalu, kenapa kau beritahu padaku?!" Rai mendadak kesal.


"Itu karena aku ingin minta tolong padamu untuk antarkan bekal ini di kantornya pak polisi."


Rai menyeringai seraya bersedekap. "Tidak mau!"


"Tenang, tentu saja untukmu juga ada," bujuk Yuriko.


"Benarkah?" Rai kembali bersemangat.


Keduanya bersama-sama masuk ke dapur. Rai tercengang ketika melihat beberapa chicken katsu gosong yang berhamburan di atas piring.


"Apa ini?"


Yuriko menyengir bodoh. "Gomen, sebenarnya aku tidak ahli memasak yang digoreng-goreng. Aku gagal menggoreng chicken katsu berkali-kali. Setelah kucari tahu di internet, ternyata apinya tidak boleh besar. Untung saja percobaan terakhir sukses jadi itu yang akan kuberikan pada pak polisi."


"Lalu, apakah maksudmu, ini chicken katsu yang akan kau berikan padaku?" tanya Rai was-was sambil melirik beberapa chicken katsu gagal yang berwarna hitam pekat.


Yuriko mengangguk-angguk. "Aku merelakan uangku untuk membeli beberapa potong fillet ayam di supermarket pagi tadi. Sayang kalau makanan ini dibuang, 'kan? Jadi lebih baik kubagikan padamu,"


Mata Rai membesar seketika. "Kenapa tidak sekalian kau racuni saja aku?"


"Terima kasih atas masukannya. Lain kali akan kulakukan jika kau membuatku kesal," ucap Yuriko tanpa merasa berdosa.


"Kalau ini bukan chicken katsu namanya. Tapi ayam tepung hitam. Pasti rasanya pahit," cela Rai sembari berkacak sebelah pinggang.


"Hei, hei, sebaiknya kau berbaik sangka. Don't judge book by its cover!" tekan Yuriko, "Meskipun luarnya terlihat hangus, tapi belum tentu rasanya pahit. Kau bisa memakannya sambil melihatku, mungkin bisa mengakali rasanya." Yuriko menyodorkan piring yang berisi penuh potongan Chicken katsu yang gagal kepada Rai. Gadis itu tersenyum sambil mengedipkan mata berkali-kali.


Sikap manis Yuriko, membuat Rai yang kesal kini malah mengambil sepotong chicken katsu itu lalu memasukkannya ke dalam mulut. Namun, tak sampai sedetik ia langsung mengeluarkannya kembali sembari tersedak dan menjulurkan lidah berkali-kali.


"Ini benar-benar pahit, sepahit kehidupan di penjara," ketus Rai.


"Karena kau sudah mencicipi makanan itu, jangan lupa antar bekal ini pada pak polisi, ya!"


Rai tertegun sebentar. "Kau benar-benar menyukainya?"


"Ya, seperti itulah! Sejak tahu ayahku dulunya adalah mantan polisi, aku selalu terkagum-kagum melihat pria muda yang berseragam polisi. Kemudian membayangkan ayahku pernah berpakaian seperti itu. Anehnya, aku belum pernah melihatnya memakai seragam kepolisian, tapi begitu mengaguminya. Mungkin karena dia sangat ramah padaku."


"Dia memang ramah ke semua orang, bukan hanya padamu saja!" tampik Rai.


"Ah, aku makin suka kalau begitu! Itu artinya dia tak memandang status seseorang."


"Sudah seharusnya polisi bersikap seperti itu, kan?" Rai tampak tak terima karena Yuriko terus memuji Shohei. Ia melirik kembali kotak bekal yang akan diberikan pada Shohei. "Omong-omong, kau tidak membeli bahan makanan ini dengan uang hasil mencopet, 'kan?"


"Tentu saja tidak!" tandas Yuriko cepat, "lagi pula, aku mencopet karena ada kebutuhan terdesak yang tidak mencukupi dengan keuanganku."


"Jika memang kau butuh uang untuk sesuatu yang terdesak, lebih baik kau beri tahu padaku. Aku akan membantumu dari pada kau mencopet! Shohei tidak menyukai aksi kejahatan sekecil apa pun," ucap Rai sambil mengambil kotak bekal itu lalu keluar dari rumah Yuriko.


Entah kenapa dia selalu mengusahakan apa yang menjadi keinginan Yuriko. Seperti saat gadis itu meminta untuk diperkenalkan lebih dekat pada Shohei. Meskipun terlihat seperti memanfaatkan kedekatan antara dirinya dan Shohei, tetapi dia turut senang melihat gadis itu ceria.


Ryo yang memakai setelan jas kantor, baru saja tiba di luar gedung apartemen kakaknya. Semalaman penuh ia tidak bisa tidur karena memikirkan kakaknya. Untuk itu, ia ingin menanyakan langsung pada Rai siapa lelaki yang datang ke apartemen waktu itu dan ada hubungan apa di antara mereka. Sebab, ia masih tidak percaya kalau kakaknya yang terkenal pecinta wanita itu tiba-tiba menjadi homoseksual.


Ryo memilih bersembunyi ketika melihat Rai keluar dari gedung sepagi ini. Namun, yang membuat keningnya berkerut adalah barang yang sedang dibawa oleh Rai. Pasalnya, itu terlihat seperti kotak bekal. Sambil memasang kacamata hitam dan memegang koran, ia pun membuntuti kakaknya dengan berjalan mengendap-endap di belakang pria itu.


Ke mana Oniichan pergi? Apakah dia mau bekerja? Omong-omong, aku belum pernah melihat tempat kerjanya.


Ryo terus mengikuti Rai. Ketika kakaknya berbalik, ia buru-buru membuka koran untuk menutupi wajahnya seolah-olah sedang berjalan sambil membaca. Rai berdiri di depan halte sambil menunggu bus. Tak lama kemudian, bus datang dan dia masuk bersama penumpang lain. Ryo pun bergegas naik ke bus dan tetap memata-matai pria itu meskipun harus berdesakan dengan para penumpang lainnya.



"Ketua Yamazaki-san sudah datang!" kata salah satu polisi di situ.


Shohei langsung bergabung bersama mereka. Pandangannya tertuju pada tumpukan buku-buku yang membahas tentang permasalahan dalam kehidupan pernikahan. Ia mengambil buku tersebut, dan membacanya secara sekilas. Inspektur Heiji menepuk pundaknya dari belakang, sehingga membuatnya terkesiap.


"Apa ini milikmu?" tanya Shohei karena di atas buku itu terdapat ponsel milik inspektur Heiji.


"Ya, aku membelinya di toko buku untuk bahan renungan saja. Akhir-akhir ini aku dan istriku sering bertengkar. Masalah sepele pun jadi membesar. Kami tak punya waktu untuk pergi ke konselor pernikahan. Tapi jika terus dibiarkan mungkin tak akan menyelamatkan rumah tangga kami," ucap inspektur Heiji menghela napas.


"Apakah rumah tangga serumit itu?" tanya Shohei.


"Kau akan rasakan sendiri nanti!" jawab inspektur Heiji sembari tersenyum masam, "omong-omong, kudengar kau berkencan dengan putri dari menteri kehakiman, ya?" Heiji mengalihkan topik pembicaraan.


Shohei tersentak seketika. "Si-siapa bilang?" ucapnya sedikit gugup.


"Apa kau lupa julukan si tukang gosip jatuh pada siapa?" Detektif Shu sengaja menyindir inspektur Heiji yang selalu tahu segalanya di kantor itu.


"Beberapa bulan lalu, sekretaris pribadi Menteri Kehakiman mencari tahu segalanya tentangmu. Termasuk hubunganmu dengan beberapa wanita. Aku hanya menduga dia menanyakan itu karena ingin menjodohkan kau dengan putrinya," ucap inspektur Heiji terkekeh.


"Itu benar, Kami akan bertunangan dalam waktu dekat," ucap Shohei seraya mengambil semangkok udon yang diberikan padanya.


Ruangan itu tiba-tiba hening. Polisi-polisi yang tengah menikmati udon mendadak seperti manekin dengan mata yang tertuju padanya.


"Kalian kenapa?" Shohei mendadak jadi salah tingkah.


Polisi-polisi muda itu mendadak bersorak sambil mengucapkan selamat. Beberapa ada yang menghampirinya dan berjabat tangan langsung.


"Tapi untuk menikah mungkin akan menunggu beberapa tahun lagi. Usianya masih muda dan dia perlu mengembangkan karirnya," lanjut Shohei kembali.


"Memangnya kau dan dia selisih berapa tahun?" tanya inspektur Heiji.


Shohei tampak malu-malu menjawab. "Hmm ... sepuluh tahun."


"Woah ... jauh juga ya!" ucap inspektur Heiji diikuti keterkejutan beberapa polisi lainnya.


"Itu tak jadi masalah. Yamazaki-san tidak tampak seperti pria berusia tiga puluhan. Dia lebih terlihat muda dari pada kalian-kalian semua," tunjuk detektif Shu pada polisi-polisi muda.


"Kudengar putri Menteri Kehakiman sangat cantik! Dia sekelas dengan adikku di Universitas Keio," kata salah satu polisi wanita.


"Kalau begitu Yamazaki-san akan mengekor Megumi-san yang juga mendapatkan istri sepuluh tahun lebih muda darinya," sambung inspektur Heiji.


Sedang asyik menyantap hidangan udon hangat, tiba-tiba ponsel Shohei berbunyi.


Setelah menerima pesan dari Rai, Shohei bergegas keluar gedung dan berjalan beberapa meter dari kantor untuk menemui pria itu agar tak ada yang melihat mereka. Untungnya, hari ini ia sedang tak memakai seragam kepolisian.


Rai menyerahkan sekotak bekal buatan Yuriko pada pria berkacamata itu.


"Ini bekal untukmu dari Yuriko."


"Eh, kenapa dia memberikan padaku?"


"Emm ... kebetulan dia membuatnya cukup banyak. Jadi dia membagi-bagikannya padaku dan juga kau." Rai beralasan.


Shohei tersenyum tipis sembari memegang bekal itu. "Tolong sampaikan ucapan terima kasihku padanya. Ini pertama kalinya aku mendapatkan bekal lagi setelah tujuh tahun."


"Oh, ya? Memangnya kau tak pernah bawa bekal ke kantor?"


Shohei menggeleng.


"Biar kutebak, orang yang sering membawa bekal untukmu pasti mantan pacarmu tujuh tahun yang lalu, kan?"


Shohei tertawa kecil. "Hubungan kami tidak sampai sebulan. Setelah hubungan kami berakhir, dia masih terus mengirim bekal makanan untukku, tapi aku menolak menerimanya. Aku tak mau dia melakukannya hanya karena perasaan bersalah padaku," kenang Shohei tersenyum masam, "Ah, berhenti membicarakannya! Dia sudah menjadi istri orang," ucapnya sambil menepuk bahu Rai.


Rai malah menarik badan Shohei hingga posisi mereka terlihat seperti sedang berpelukan. "Sebaiknya kau jangan dulu kembali ke kantor sebelum aku benar-benar pergi. Aku merasa adikku sedang membuntutiku," bisiknya tepat di telinga Shohei.


Dugaan Rai tentu saja benar. Ternyata, Ryo melihat keduanya dari seberang jalan. Ia menyaksikan sendiri saat Rai memberikan kotak bekal itu pada Shohei, kemudian melihat mereka mengobrol dan tertawa bersama. Bahkan, kedua bola matanya tak bergeser sedikit pun kala melihat kakaknya memeluk Shohei.


"Pria itu bukannya yang datang ke apartemen Oniichan waktu itu?" Ryo mengucek matanya berkali-kali memastikan kalau dia tidak salah melihat. "Oh, Kami-sama (Dewa), Oniichan benar-benar telah mengganti seleranya! Aku benar-benar tak bisa percaya penglihatanku, dia bisa semanis itu ke lawan jenis?" gumamnya dengan napas tertahan. Ia memegang jantungnya yang serasa ingin melompat keluar.


.


.


.



kebetulan nemu foto Rai dan Shohei lagi bareng. 😂 🤣