
Inspektur Heiji, Seto Tanaka, dan beberapa polisi lainnya bergegas menuju gedung universitas Keio untuk berjaga-jaga. Mereka menaiki mobil polisi, lalu membunyikan sirene agar pengendara lainnya langsung memberi jalan.
Seina tergesa-gesa menapaki anak tangga agar cepat mencapai puncak gedung. Begitu tiba di atas, ternyata pagar di tangga terakhir menuju rooftop telah tersegel. Sambil melihat ke atas tangga, ia berusaha menggoyang-goyangkan pagar tersebut agar bisa terbuka. Sayangnya, tindakan gadis berambut panjang itu hanya sia-sia.
"Buka pagarnya! Aku mohon hentikan tindakan bodohmu itu! Kau tidak boleh mendahului penegak hukum dengan menghakimi orang-orang yang belum tentu bersalah." Seina berteriak sekuat tenaga agar Black Shadow bisa mendengarnya. Percuma, tak ada tanggapan apa pun karena pria bertopeng itu memang tak mendengar suara teriakannya.
Masih berada di atap gedung, Black Shadow dan Fukamu Masae kini saling berhadapan disaksikan ratusan mahasiswa yang berdiri di bawah sana. Black Shadow menarik katrol dengan kencang, sengaja mendekatkan Fukamu Masae ke arahnya.
Pria bertopeng itu tersenyum di depan kamera sambil berkata, "Mina-san, aku dan orang ini akan bermain Truth and Dare. Aturan mainnya, aku akan melempar pertanyaan padanya, jika dia menjawab dengan jujur, maka dia akan selamat. Sebaliknya jika dia menjawab salah, maka itu artinya dia harus mengikuti tantanganku. Apa kalian bisa menebak tantangan yang akan kuberikan?" tanya Black Shadow seakan sedang berkomunikasi di depan penonton, "aku hanya ingin dia terjun dari gedung ini. Sederhana, bukan?"
Mata Fukamu Masae terbelalak tajam mendengar hal itu. "Dasar gila! Cepat lepaskan aku! Kau salah besar jika berurusan denganku! Lihat saja apa yang akan aku lakukan padamu setelah ini!" teriak Masae sambil berusaha melepaskan diri.
Black Shadow menggeleng-geleng pelan seraya berdecak lidah. "Mulutmu sudah seperti terompet. Sangat lebar, berisik dan membuat kupingku sakit!" Black Shadow membungkuk tepat di hadapan mahasiswa itu sambil tersenyum lebar, "Ya, sudah, bagaimana kalau kita mulai saja permainannya?"
Fukamu Masae yang sempat ketakutan, kini menunjukkan raut arogan. Ia yakin sebentar lagi bala bantuan dari ayahnya segera datang.
"Pertanyaan pertama, apakah benar kau melintas jalan utama Sumida tanggal 21 tepatnya di Sabtu malam?"
"Aku tidak punya kewajiban untuk menjawab pertanyaan konyolmu itu!" teriak Fukamu Masae.
Tak lama kemudian, kursi rodanya langsung bergerak mundur dengan cepat ke ujung atap. Sontak, ia pun berteriak ketakutan dan langsung mengaku.
"Ya, benar aku melewati jalan utama Sumida beberapa hari yang lalu," ujar Masae dengan suara bergelombang.
Orang-orang yang menonton hanya bisa mengernyit karena tak paham dengan tujuan Black Shadow menanyakan hal itu. Kei dan tim yang telah berada di lokasi, langsung mengarahkan kamera drone mereka ke udara untuk meliput aksi Black Shadow secara dekat. Kei sangat yakin, aksi Black Shadow kali ini pasti tak kalah mencengangkan dan akan kembali menggemparkan dunia berita seperti sebelum-sebelumnya.
Sementara, ayah Masae yang paham maksud pertanyaan yang Black Shadow lontarkan ke anaknya, langsung bereaksi panik dan ketakutan.
"Siapapun, tolong cepat hentikan siaran itu! Cepat suruh polisi menindak pemuda bertopeng itu! Dia telah membahayakan nyawa anakku!" teriaknya di ruang rapat Parlemen.
Black Shadow tersenyum licik mendengar jawaban Masae. Ia menarik kembali tali tersebut, agar kursi roda itu kembali mendekat ke arahnya.
"Pertanyaan kedua, apakah benar kau berkendara dalam keadaan mabuk, kemudian menabrak pengendara sepeda motor hingga tewas?"
"Hah?" Para mahasiswa dan dosen yang mendengar pertanyaan Black Shadow lantas terlonjak.
"Tidak! Aku tidak melakukan itu!" Masae berusaha menyangkal.
"Ah, kau tidak jujur! Itu artinya kau memilih tantangan." Black Shadow langsung melepas tali yang membuat kursi roda itu kembali mundur ke belakang.
"Atas dasar apa kau menuduhku!" teriak Masae di tengah rasa ketakutan yang menderanya.
Black Shadow menahan tali tersebut ketika kursi roda itu hanya tinggal berjarak satu meter dari pembatas atap.
"Ah, benar! Setidaknya aku harus punya satu bukti, ya?" Black Shadow menggaruk-garuk kepalanya. Sebelah tangannya ia gunakan untuk merogoh saku celana, kemudian menunjukkan sebuah pecahan kaca berbentuk segitiga di depan kamera. "ini adalah serpihan dari kaca lampu mobilmu. Hal yang tidak kau sadari saat kau menabrak pengendara mobil tersebut adalah tidak mengetahui jika kaca lampu depan mobilmu pecah dan tertinggal di lokasi kejadian," terang Black Shadow sambil tersenyum miring.
Tiba-tiba, siaran yang sedang berlangsung itu menunjukkan foto-foto sebuah mobil Toyota Supra berwarna putih yang sedang dalam perbaikan di sebuah dealer mobil. Kamera itu menunjukkan lubang berbentuk segitiga di bagian kaca lampu depan mobil milik Masae seperti yang dikatakan Black Shadow. Terdapat pula, rekaman pria itu yang meminta agar kaca depan mobilnya diperbaiki.
"Itu benar-benar mobil Masae!" ujar teman-temannya yang tampak heboh.
Mr. White yang mengendalikan siaran dari seberang gedung, hanya bisa menunjukkan segaris senyum sembari memundurkan ingatannya. Ya, serpihan kaca lampu mobil itu ia temukan ketika menaburkan bunga camelia di jejak darah korban. Sedangkan bukti rekaman Masae yang berada di dealer untuk meminta perbaikan mobilnya, Rai dapatkan saat sedang menyamar sebagai karyawan dealer tersebut.
Mereka memprediksi Masae pasti akan memperbaiki mobilnya ke dealer resmi. Sebab, mobil anak dari wakil senator itu tergolong mobil Jepang termahal sehingga tak bisa diperbaiki di bengkel biasa. Benar, empat hari pasca peristiwa kecelakaan tersebut, Masae datang ke dealer Toyota sehingga bisa memperkuat bukti yang akan ditunjukkan Black Shadow di hadapan publik.
Di sisi lain, Yuri masih berjalan santai menelusuri tangga-tangga gedung fakultas Sains dan Teknologi. Ya, bersantai di rooftop adalah kebiasaannya setelah menerima mata kuliah. Sementara, Mr. White yang ternyata berada di atap gedung yang sama dengannya, masih terus memantau aksi Black Shadow yang berada di seberang gedung. Matanya memicing tajam ketika indera pendengarannya samar-samar mendengar suara langkah kaki yang menuju ke atap gedung.
Ketika Yuri menaikkan kakinya ke atap gedung itu, udara musim dingin langsung membelai wajah dan rambutnya. Matanya berkeliling ke sekitar atap yang sepi dan tak ada siapapun. Ia berjalan lambat-lambat ke tepian atap tersebut. Tanpa tahu, ternyata Mr. White sedang berada di bawah sana. Ya, tepat saat gadis itu menginjakkan kaki di rooftop, Mr. White yang selalu siaga dengan kehadiran siapapun, langsung melompat ke bawah.
Para mahasiswi Sains dan Teknologi yang sedang menonton aksi Black Shadow lewat jendela kelas mereka, lantas terkesiap ketika sesosok pria tampan yang memakai syal merah, mendadak muncul dan bergelantungan di hadapan mereka.
"Maaf mengejutkan kalian, aku tersesat di gedung ini. Bisakah kalian membukakan jendela untukku?" pinta Mr. White dengan senyum menawan yang mengembang di bibirnya. Rambut depannya yang terkibas angin semakin menunjukkan ketampanan yang tak termakan usia.
Tanpa memalingkan pandangan, mahasiswi-mahasiswi itu langsung membukakan jendela untuknya. Mr. White pun segera meloncat masuk ke kelas.
"Arigatou gozaimasu," ucapnya sambil bergegas pergi secepat kilat yang menyambar.
Para mahasiswi itu hanya melongo bodoh sambil saling bertatapan. Mereka bertanya-tanya siapa pria tampan yang baru saja bergelantungan dan masuk ke kelas mereka itu.
Setelah keluar dari ruang kelas tadi, Mr. White bergegas masuk ke kelas yang sepi dan mendekat ke arah jendela untuk kembali memantau aksi Black Shadow. Matanya berkilat tajam begitu melihat mobil-mobil dari Kepolisian Metropolitan berdatangan.
Masae masih bersikukuh tak mengakui perbuatannya meskipun bukti sudah terpampang dan maut sedang mengancamnya. Ia terus membuat kalimat penyangkalan sembari berteriak minta tolong.
Black Shadow terus memainkan pegangan tali itu dengan santai. Ia menarik kursi roda itu ke arahnya, lalu melonggarkan talinya di waktu yang bersamaan.
Masae terbelalak tajam ketika kursi roda yang didudukinya makin mendekat ke penghujung rooftop. "Ja–jangan! Tolong tahan talinya!" teriaknya histeris.
"Bagaimana rasanya jika nyawamu dianggap sepele dan tak berarti?" tanya Black Shadow dengan nada suara serius.
Ayah Masae yang mendengar pengakuan puteranya lantas segera menelepon kementerian IT, agar mereka segera memblokir siaran Black Shadow. Bukan tanpa sebab ia melakukan itu, pengakuan Masae tentu akan membongkar kedoknya yang berusaha menyembunyikan kasus tersebut. Baru saja hendak menelepon, terdapat sebuah panggilan telepon dari nomor yang tak dikenal.
"Tuan Fukamu Hiromi, anak Anda terbukti melakukan pelanggaran berkendaraan. Dia berkendaraan dalam keadaan mabuk, balap-balapan di jalanan, dan menabrak pengendara motor hingga tewas. Saya yakin Anda mengetahuinya, bukan?" ucap seseorang yang bersuara Chipmunk dari saluran telepon.
"Siapa ini? Apa maksudmu? Jangan bicara sembarang!" Suara panik pria tua itu mengembus di telinga Mr. White.
"Anda mengetahui pelanggaran hukum yang dilakukan anak Anda. Tetapi, malah menggunakan kekuasaan Anda untuk mengelabui hukum. Tidakkah Anda berpikir tindakan itu sangat tidak terpuji?"
"Aku tidak tahu apa yang sedang kau bicarakan." Ayah Masae masih mencoba mengelak.
"Berhentilah pura-pura tidak tahu. Sudah sifat alami manusia untuk menyembunyikan hal yang tak mengenakkan, bukan?" Mr. White tersenyum halus sambil berjalan penuh kharisma ke koridor fakultas yang sepi.
"Apa yang kau inginkan? Aku tahu orang sepertimu pasti butuh uang, kan?"
"Anda salah! Saya ingin anak Anda mempertanggungjawabkan perbuatannya dan hanya butuh keadilan untuk keluarga korban. Sebagai orangtua, Anda tidak seharusnya menjadi tameng untuk kesalahan yang dilakukan anak Anda!"
Tak bisa berkelit lagi, wakil ketua senat itu hanya bisa berkata, "Tahu apa kau! Aku hanyalah orangtua yang berusaha membela dan melindungi anakku. Tidak ada orangtua yang rela anaknya di penjara. Aku yakin seluruh orangtua akan melakukan hal sama jika berada di posisiku, menggunakan kekuasaan untuk melindungi anak."
"Anak Anda telah dewasa, jadi biarkan dia mempertanggungjawabkan segala perbuatannya. Terus menutupi kesalahannya hanya akan membuatnya cepat lupa dengan kesalahan yang dia lakukan, dan cenderung mengulanginya lagi. Jika orangtua selalu membela dan berusaha menutupi segala kesalahan anaknya, lantas kapan dia akan belajar merenungi kesalahannya? Dampak besarnya akan terasa ke depan. Ketika telah menjadi karyawan, bos, pejabat, atau sederhananya menjadi kepala keluarga, dia tidak memiliki rasa tanggung jawab terhadap apa pun!"
"Jangan menceramahiku!" teriak wakil ketua Senat dengan geram.
Mr. White menghentikan siaran langsung. "Maaf jika membuat Anda kesal. Pengakuan Anda barusan telah didengar oleh seluruh publik yang menonton siaran langsung Black Shadow.
Wakil Ketua Senat ternanap seketika. "Ka–katakan, siapa kau sebenarnya?"
Mr. White kini telah keluar dari gedung fakultas Sains dan Teknologi. Ia berbalik pelan, seraya mendongakkan kepalanya ke arah puncak gedung fakultas Ilmu Politik tempat di mana ada Black Shadow dan Masae di atas sana.
"Aku Mr. White, sang pengendali Black Shadow."
Black Shadow menyudahi aksinya setelah mendapat perintah dari Mr. White. Ia mengikat tali kursi roda itu ke sebuah besi yang tertancap di lantai, dan membiarkan Masae tetap berada di ujung pembatas gedung.
"Tenanglah, sebentar lagi para polisi akan menolongmu," ujar Black Shadow yang melihat Masae menutup mata rapat-rapat karena ketakutan.
Ketika berbalik dan hendak pergi, pandangan Rai teralihkan ke seberang gedung. Ya, ia bisa melihat Yuriko tengah duduk santai di ujung pembatas gedung sembari mendengarkan musik.
Senyum semringah langsung membingkai wajah pria bertopeng itu. Ia refleks melambaikan tangannya seraya hendak berteriak memanggil gadis itu. Namun, sadar jika dia sedang memakai kostum Black Shadow, membuatnya menurunkan tangan dan bergegas pergi.
Shohei berjalan meninggalkan universitas itu setelah menyelesaikan misinya bersama Rai. Dia cukup puas dengan aksi kali ini. Namun, baru beberapa langkah, terdengar suara pria yang memanggilnya.
"Yamazaki-san."
Shohei berbalik pelan. Ia sedikit tersentak ketika melihat Kei sedang berjalan ke arahnya.
"Apa yang Anda lakukan di sini?" Apa ini ada hubungannya dengan Black Shadow," tanya Kei sembari menatap sekeliling tempat.
"Aku ... ingin menjemput kekasihku," jawab Shohei beralasan.
"Oh, Seina, ya? Kebetulan tadi aku bertemu kawan-kawannya. Kata mereka dia masuk ke gedung itu." Kei menunjuk gedung fakultas Ilmu Politik tempat Black Shadow melancarkan aksinya. "Bagaimana kalau kita cari bersama-sama? Aku juga ingin menemuinya," ajak pria berprofesi jurnalis itu.
Shohei mengangguk setuju dan ikut bersama Kei masuk ke dalam gedung itu.
Black Shadow menuruni anak tangga dengan terburu-buru. Ia harus segera pergi dari gedung itu sebelum berpapasan dengan polisi. Saat hendak melangkah menuju tangga berikutnya, Seina yang dari tadi menunggu langsung menghadang jalannya.
"Kau lagi!" Black Shadow mengembuskan napas seraya melengos. Entah kenapa ia selalu bertemu dengan gadis itu setelah menyelesaikan misi.
"Apa kau pikir yang kau lakukan itu pantas? Apa kau pikir yang kau lakukan itu heroik?" ucap Seina dengan tatapan penuh yang mengarah pada pria itu.
"Terlalu ikut campur urusan orang itu berbahaya untukmu!" ketus Black Shadow bersuara dingin. Ia melangkah tak acuh melewati Seina.
Seina berbalik dan langsung memegang lengan pria itu. "Aku belum selesai bicara denganmu!"
Di luar dugaan, Black Shadow menangkap tangan gadis itu lalu menarik paksa dirinya ke suatu tempat.
.
.
.
Isi dua chapter, ya