
Tak terasa seminggu berlalu, keadaan telah kembali sedia kala. Shohei sudah beraktivitas seperti biasa. Ia mendapat sambutan meriah dari para bawahannya saat masuk kerja kembali.
"Ketua!" seru polisi-polisi muda mengerumuni Shohei.
Inspektur Heiji yang baru saja tiba di ruangan itu, lantas menghampiri Shohei dan mengajaknya menepi. "Bagaimana keadaanmu sekarang? Apa kau mengingat wajah penusuknya?"
Shohei menggeleng pelan. "Dia memakai penutup wajah. Kupikir itu cuma kejahatan biasa. Maaf telah membuat kalian khawatir," ucap Shohei menunduk. Ia harus berhati-hati membuat pernyataan tentang kasus penusukan dirinya. Sebab, ia ingin mencari tahu diam-diam siapa sosok yang memerintahkan penusukan tersebut.
"Ketua Yamazaki-san, ayo bergabung bersama kami. Semua ini untuk menyambut Anda," panggil Seto Tanaka yang sibuk memasak Yakiniku.
"Woah ... pas sekali aku sangat lapar!" Shohei langsung bergabung bersama mereka. Mendadak, ponselnya membunyikan pemberitahuan obrolan masuk yang berasal dari Rai.
^^^Rai.^^^
^^^Apakah kau jadi melihat kondominium hari ini? Perabotannya belum datang, mungkin sekitar lima hari lagi.^^^
Shohei.
Iya. Tidak apa-apa. Siang aku akan ke sana.
Ya, pukul satu siang waktu Tokyo Shohei pun menuju alamat yang diberikan Rai. Sesampainya di sana, ia bertemu Rai yang lebih dulu menunggunya. Mereka kemudian bersama-sama menuju lantai apartemen yang akan menjadi hunian baru Shohei dan kekasihnya nanti.
"Bagaimana?" tanya Rai saat mereka mulai memasuki kondominium yang cukup luas dengan gaya modern dan artistik.
"Kau sangat hebat! Tidak salah aku memercayakan ini padamu!" puji Shohei dengan mata yang berkeliling. Ia yakin Seina juga akan menyukai hunian mereka.
Rai memasukkan kedua tangannya dalam saku, lalu berkata, "Kalau ruangan ini telah terisi, mungkin lebih bagus lagi!"
"Aku tidak sabar menunjukkan tempat ini padanya!"
Shohei memalingkan wajah dan tersentak melihat lukisan cukup besar yang terpampang di sebelah kiri ruangan. Sontak, kakinya langsung melangkah mendekati lukisan tersebut.
Lukisan itu menampilkan figur seorang pria berjas putih yang memegang sekuntum bunga camelia. Di belakangnya, terdapat sosok hitam gelap seperti sebuah bayangan dari pria itu sendiri. Namun, yang dipegang bayangan tersebut hanya helaian kelopak bunganya saja. Di mana sebagian dari kelopak bunga itu jatuh tercecer.
"Apa kau ingat sejarah lukisan ini?" tanya Rai sambil tersenyum.
"Ini di puncak menara Tokyo Skytree. Awal perjanjian kerja sama kita dimulai," jawab Shohei tanpa melepas pandangannya dari lukisan.
"Kau yang di depan dan aku yang di belakang. Kau memegang bunga Camelia utuh, sementara aku hanya memegang helaian kelopak bunganya saja untuk ditebarkan," jelas Rai sambil tersenyum, "usai aku bebas, kau mengajakku kerja sama dan memintaku datang ke tempat itu jika aku menyetujuinya," kenangnya.
"Dan akhirnya kau benar-benar datang dan menyepakatinya."
"Tidak ada pilihan untuk menolak tawaran orang yang telah membantuku bebas." Rai menoleh ke arah Shohei sambil mencebikkan bibir.
"Kita sempat bingung untuk menamakan diri kita masing-masing," sambung Shohei sambil terkekeh.
"Dan kau menjelaskan padaku seperti apa tokoh yang kau inginkan selama ini ada di dalam dirimu."
"Lalu, kau mewujudkan impianku secara sempurna!" Shohei menjentikkan jari.
"Bukankah tidak apa-apa jika aku meletakkan lukisan ini di sini? Tak akan ada yang tahu makna dari lukisan ini selain kita berdua, bukan?"
"Hum." Shohei mengangguk sambil tersenyum. "Lukisan ini mungkin akan menjadi pengingat saat Mr. White dan Black Shadow telah menyelesaikan seluruh misi."
Rai meluruskan pandangannya sejajar ke arah lukisan. "Momen ini ... sangat bersejarah bagiku karena menjadi titik awal kehidupanku yang baru. Kau sering bilang padaku Black Shadow adalah pahlawan semua orang yang menginginkan kebenaran, tapi bagiku Mr. White adalah pahlawan Rai Matsui," ucap Rai ikut terkekeh.
"Jangan bilang begitu, aku jadi terharu!" canda Shohei sambil menuju lengan tangan Rai.
Rai memalingkan tubuhnya menghindari kepalan tinju Shohei. "Oh, iya, Yuriko mengajak kita makan siang bersama di kamarnya."
Shohei menatap arloji yang terpasang di pergelangan tangan kirinya. "Baiklah. Masih ada waktu!"
Dari kondominium, mereka beranjak ke apartemen yang dihuni oleh Rai dan Yuriko. Setibanya di kediaman Yuriko, mereka langsung disambut meriah oleh gadis itu. Ia bahkan meletuskan balon confetti tepat di kepala Shohei, untuk merayakan pulihnya pria itu. Ia juga menghidangkan menu nasi kare untuk dua pria itu.
"Wow, ternyata kau bisa membuat nasi kare?" Shohei tampak takjub melihat hidangan kare yang mengeluarkan uap panas dan aroma menggiurkan. Sangat klop dengan cuaca musim dingin.
"Sebenarnya ini pertama kali aku membuatnya. Dulu aku sangat suka kare buatan ibuku, jadi aku meminta resep padanya dan mencoba membuatnya sendiri. Mungkin tidak seenak buatan ibuku, tapi aku telah berusaha," tutur Yuriko tertunduk malu-malu sambil menyingkap helaian rambutnya ke belakang telinga.
Shohei dan Rai bersama-sama mencicipi kare tersebut.
"Bagaimana rasanya?" tanya Yuriko pada Shohei dengan wajah tegang.
"Umay! (Enak)" seru Shohei dengan mata yang menyipit.
"Yokatta!(Syukurlah)" Yuriko menengadahkan kepalanya sambil menghela napas.
"Menurutku biasa saja. Gomen, ya, lidahku ini standar lidah internasional. Hanya bisa mengucapkan kata 'umay' pada makanan yang memang benar-benar lezat," timpal Rai sambil mengunyah.
Yuriko langsung menarik semangkok nasi kare yang sedang disantap oleh Rai. Tentu saja itu membuat Rai menoleh ke arahnya dengan wajah yang menunjukkan komplain.
"Karena selera lidahmu internasional, maka makanan ini tidak cocok untukmu. Pergilah mencari pizza, burger, pasta atau apa pun yang sesuai dengan selera lidahmu!" ketus gadis itu dengan mata yang melotot tajam.
"Oh, iya, Yuriko-san, apa kau bisa membantuku bersih-bersih apartemen itu besok?" potong Shohei memutus percikan perang antara Rai dan Yuriko yang baru saja dimulai.
"Tentu saja!" jawab Yuriko cepat sambil menatap Shohei.
"Aku ikut, ya!" Rai menyambung.
Baru saja Shohei hendak menjawab, Yuriko lebih dulu menimpali. "Maaf, ya. Kita bukan sedang ingin berwisata. Lagi pula, kau juga kerja, kan? Untuk apa gabung bersama kami?"
Respon ketus Yuriko tentu saja membuat Rai menyeringai kesal. Sayangnya, ia benar-benar tak bisa ikut lantaran takut gadis itu curiga kalau sebenarnya dia tak memiliki pekerjaan tetap.
Tak terasa hari yang ditentukan pun tiba, Yuriko baru saja tiba di apartemen kelas atas di mana menjadi hunian baru Shohei dan tempatnya mengambil kerja part-time. Shohei langsung membuka pintu setelah ia memencet bel.
"Gomennasai, aku terlambat. Aku belum pernah datang ke kawasan ini. Jadi, sempat tersesat. Ternyata kawasan ini banyak rumah-rumah megah, ya?" ucap Yuriko yang sempat membungkuk.
Shohei tersenyum, lalu berkata, "Masuklah!"
Yuriko pun masuk. Kepalanya berkeliling ke sana-kemari menatap takjub melihat kondominium Shohei dengan desain mewah yang memiliki langit-langit tinggi dan lantai keramik yang indah.
"Maaf furniture-nya belum berdatangan," ucap Shohei.
"Lukisan pria yang memegang bunga camelia," ucap Shohei, "aku pengagum bunga camelia karena bunga ini melambangkan cinta, kesetiaan dan keabadian. Bunga ini juga memiliki manfaat sebagai penyembuh luka," ucap Shohei sambil memerhatikan lukisan tersebut.
"Shohei-san pasti memiliki hati yang lembut," cetus Yuriko dengan mata berbinar.
"Eh?"
"Aku pernah membaca sebuah studi yang mengatakan pria yang menyukai bunga tertentu, memiliki perasaan yang lembut."
Shohei tersenyum. "Baiklah, Yuriko-san. Ayo kita mulai! Apa yang lebih dulu kita lakukan, ya?" pikir Shohei seraya memerhatikan sekeliling.
"Karena belum ada yang bisa dibereskan, bagaimana kalau mengepel lantai. Kurasa ini lantainya berdebu meskipun bersih jika dilihat sekilas."
"Ide bagus!" Shohei memutar tubuhnya, tetapi tiba-tiba menepuk dahinya. "Astaga, aku belum membeli alat pel."
"Apa kau punya kain lap?"
"Akan kuperiksa di kitchen set!" Shohei bergegas ke dapur untuk mengubek setiap lemari. Kebetulan ia menemukan dua lap tebal berukuran sapu tangan. "Apa ini boleh?" tanyanya menoleh ke arah Yuriko.
"Lebih dari boleh."
"Bagaimana caramu melakukannya?" tanya Shohei mengernyit.
Yuriko terkekeh sambil berjongkok. "Ini adalah cara membersihkan lantai yang biasa kami lakukan di pedesaan. Bagiku cara seperti ini lebih efektif dibanding menggunakan alat apalagi sejenis robot pembersih. Kurasa Jepang mulai bergantung pada mesin sehingga mungkin suatu saat tenaga manusia tak diperlukan lagi," keluh yuriko.
"Siapa bilang tak diperlukan? Bahkan setiap alat canggih yang tercipta itu berasal dari buah pikir manusia. Apa kau pikir otak tak mengeluarkan tenaga untuk berpikir?" pungkas Shohei yang turut berjongkok dan menyingsingkan lengan kamejanya ke atas.
"Benar juga, ya?" Yuriko menyengir sesaat, kemudian matanya melebar saat Shohei melakukan hal yang sama seperti ia lakukan saat ini. "Apa yang kau lakukan? Jangan membantuku!" larangnya
"Apa kau lupa? Bukankah aku meminta tolong padamu untuk membantuku? Jadi, pekerjaan ini memang dilakukan bersama-sama."
"Eh!" Yuriko tertegun seketika, tetapi sesaat kemudian ia tersenyum.
Ya, ampun, pria ini sangat baik dan lembut sekali!
"Yuriko-san, tolong ajari aku!"
"Baik." Yuriko mengangguk.
Yuriko langsung memperagakan cara mengepel yang benar. Keduanya bersama-sama mengatur posisi telungkup dengan bertumpu pada lutut dan tangan. Mereka kemudian mulai mengepel menggunakan kain lap yang dicelup ke dalam pembersih lantai.
"Apakah ini sudah benar?" tanya Shohei yang mulai menyeka lantai dengan gerakan maju ke depan.
"Itu salah. Kau harus bergerak mundur seperti ini, bukan maju! Jika seperti itu, lututmu akan basah dan bisa tergelincir karena melewati lantai yang baru saja dipel," ujar Yuriko kembali mencontohkan cara yang benar.
Shohei langsung memeriksa celananya. Terlihat basah di bagian lutut. "Benar juga, ya?"
Shohei menirukan cara Yuriko. Entah mengapa, pekerjaan ini menjadi terasa mengasyikkan bagi keduanya. Mereka melakukan obrolan ringan sambil mengepel dengan arah yang berbeda. Tampaknya, apa pun yang Yuriko bicarakan pada Shohei selalu saling menyambung. Ini berbeda ketika ia mengobrol dengan Rai yang hanya didominasi dengan perdebatan.
Terus merangkak mundur, kedua orang itu tanpa sadar sama-sama telah berada di kolong mini bar. Bokong mereka saling menabrak hingga membuat mereka sama-sama tersentak. Saat keduanya berbalik bersamaan, kini gantian dahi mereka yang saling berbenturan.
"Aw!" Shohei dan Yuriko kompak memegang dahi mereka sambil meringis.
"Yuriko-san tidak apa-apa?" tanya Shohei yang melihat ekspresi kesakitan gadis itu.
"Tidak apa-apa. Shohei-san juga tidak apa-apa, kan?" tanya Yuriko khawatir sambil melirik dahi pria itu.
Shohei menggeleng. Mereka lantas cekikikan bersama-sama sambil menunduk dengan posisi yang masih sama seperti tadi. Saat pandangan mereka kembali bertemu dengan jarak sepersekian mili, tawa yang tercipta di wajah keduanya berangsur-angsur menghilang. Malah keduanya saling membisu kala ujung hidung mereka saling bersinggungan.
Hening.
Tak ada kata.
Hanya mata yang saling berpandangan.
Masih terus saling terdiam.
Cup!
Tiba-tiba, bibir mereka menempel sempurna tepat saat Yuriko memiringkan sedikit wajahnya. Satu detik, dua detik, tiga detik. Detik berikutnya, pupil mata Shohei melebar seketika. Tersadar, Shohei langsung menjauhkan wajahnya sambil berdiri.
BHUG!
Kepala Shohei terbentur meja karena ia lupa sedang berada dalam kolong meja mini bar.
"Akh, ittai! (Sakit)" keluhnya sambil memegang kepala.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Yuriko.
Shohei menggeleng cepat. Saat mata mereka kembali bertemu, wajah pria itu memerah seketika seperti kepiting rebus.
"Kepalamu terbentur sangat keras, biar kuperiksa!"
Baru saja Yuriko hendak memegang kepala Shohei, ia langsung kembali menunjukkan reaksi keterkejutan berlebihan sambil memundurkan badannya ke belakang. Hal itu membuatnya hampir jatuh terlentang. Untung saja Yuriko langsung menarik tangannya.
Melihat tangan mereka yang saling berpegangan, Shohei buru-buru melepaskan tangannya sambil berbalik ke belakang dan kembali berdiri.
BHUG!
Lagi-lagi, kepala Shohei terbentur meja saat ia mencoba berdiri.
"Ukh!" pekiknya untuk kedua kali sambil meringis.
Saking gugupnya, ia terus lupa jika masih berada dalam kolong meja mini bar.
.
.
.