
Sore harinya, Shohei bersiap menjemput Seina. Mereka akan berkencan ke akuarium Sumida yang terletak di lantai lima dan enam menara Tokyo Skytree. Berdiri di depan cermin, pria itu menatap penampilan dirinya seraya merapikan rambut.
Ia mengambil ponsel, lalu memotret dirinya sendiri dan mengirim fotonya pada Rai lewat aplikasi Line.
Shohei
Apakah penampilanku sudah bagus?
^^^Rai^^^
^^^Rambutmu terlalu rapi, seperti bapak-bapak. Coba biarkan rambut depanmu terlihat sedikit berantakan secara alami.^^^
Membaca balasan pesan Rai, Shohei pun kembali berkaca. Ia mengacak-acak rambut depannya sesuai saran dari rekannya itu. Shohei kembali memotret wajahnya dengan raut tegang lalu mengirimkan lagi pada Rai.
Rai
Haha-haha ... ekspresi apa itu? Jangan bilang, seperti itu wajahmu saat bertemu pacarmu.
^^^Shohei^^^
^^^Tentu saja tidak!^^^
Shohei buru-buru menatap cermin. Ia mengubah mimik wajahnya dengan bermacam-macam ekspresi. Mulai dari senyum tipis, senyum lebar, hingga senyum yang memperlihatkan sederet gigi depan.
Rai
Selamat berkencan. Omong-omong, sudahkah kalian saling terbuka? Jika belum, lakukanlah hari ini! Haha-haha ....
^^^Shohei^^^
^^^Jangan khawatir. Kami telah saling terbuka dan jujur satu sama lain sejak memutuskan pacaran.^^^
Rai
Bukan terbuka seperti itu, Baka! Terbuka yang kumaksud adalah pakaian kalian. Sudahkah kalian melakukannya? Apalagi ini musim yang tepat untuk beromantis ria di atas ranjang.
Pesan yang ditulis Rai membuat Shohei melototkan mata sembari berdecak lidah.
Anak ini ... isi otaknya hanya tentang urusan ranjang!
Shohei menyimpan ponselnya dalam saku. Ia bergegas menjemput Seina di rumahnya. Begitu tiba di kediaman Tuan Matsumoto, gadis itu benar-benar membuatnya terpana. Ia kembali merasakan detak jantung yang tak normal.
Seina benar-benar mewakili definisi gadis cantik dan anggun. Memakai rok pendek yang dipadu dengan blouse dan coat panjang di bawah lutut, membuatnya tetap fashionable meski di musim dingin. Rambutnya yang panjang, diikat membentuk ekor kuda dan wajahnya dirias dengan makeup tipis minimalis.
Keduanya masuk ke mobil dan meluncur ke tempat tujuan kencan. Sesampainya di menara Tokyo Skytree, Seina malah terperanjat. Pasalnya, dari beberapa tempat wisata akuarium yang ada di Tokyo, Shohei malah memilih wisata akuarium yang terletak di dalam menara Tokyo Skytree.
Tentu saja tempat ini membuatnya mengingat sosok Black Shadow. Di mana pertemuan kedua mereka ada di menara ini. Tak hanya itu, pria misterius yang selalu menebar kelopak bunga camelia itu mengatakan bahwa Seina bisa menemuinya di menara ini setelah ia selesai mengungkap kasus.
"Kenapa ... kenapa harus tempat ini?" tanya Seina dengan wajah yang kaku.
"Maaf, aku tidak terlalu tahu tempat kencan yang bagus. Aku hanya sering ke gedung ini dan melihat beberapa pasangan menghabiskan weekend mereka," jawab Shohei, "apakah Seina-chan tak menyukainya?"
"Tidak apa-apa." Seina mencoba menepis bayangan Black Shadow yang mulai mengganggu pikirannya. Ia menggandeng mesra tangan Shohei lalu bersama-sama masuk.
Keduanya tampak seperti pasangan kekasih pada umumnya. Mata mereka dimanjakan ratusan spesies ikan di akuarium besar yang memenuhi seluruh dinding hingga langit-langit. Seperti berada di terowongan laut. Bahkan mereka dapat bersentuhan langsung dengan pinguin dan anjing laut.
"Selama menjadi polisi, aku telah menangani beberapa karakter manusia. kadang-kadang manusia sama seperti ikan-ikan di dalam akuarium," ucap Shohei sambil melihat aneka ragam jenis ikan.
"Eh?" Seina menatap heran pada Shohei.
"Ya, lihatlah ikan-ikan di akuarium ini! Mereka berbagai macam jenis dan sifat. Ada yang agresif, ramah, dan pendiam. Mereka juga memiliki cara yang berbeda-beda untuk berenang. Ada yang menggunakan sirip tangan ada yang menggunakan sirip punggungnya, dan ada juga yang berenang dengan cara terbalik. Seperti manusia yang memiliki cara masing-masing untuk bertahan hidup, ikan juga sering terlibat pertengkaran. Demi berebut makanan, pasangan hidup, dan menjadi penguasa habitatnya, tak jarang mereka saling serang," ucap Shohei sambil memerhatikan sekelompok ikan yang berenang tenang, kemudian berhamburan ketika seekor ikan besar datang memangsa. Shohei menoleh ke arah Seina lalu berkata, "Bukankah kita juga seperti itu? Manusia sering bertengkar untuk memperebutkan uang, kekuasaan, dan pasangan hidup. Sama seperti ikan yang berebut makanan, tak peduli berapa banyaknya dia akan terus melahap tanpa memedulikan ikan lainnya yang belum mendapatkan makanan, begitu juga sifat beberapa manusia yang kerap memelihara egois."
Ketika Shohei menuturkan kata-kata itu, Seina hanya mampu bergeming dengan pandangan yang tertancap di wajah pria itu. Ia seperti melihat sisi lain dari pria yang lebih tua sepuluh tahun darinya itu.
"Ayo ke Tembo Galaria. Kita bisa melihat pemandangan kota dari ketinggian 450 meter," ajak Shohei seraya menarik lembut tangan Seina.
Seina terkesiap dengan napas yang tertahan. Tentu masih melekat di ingatannya jika di tempat itulah Black Shadow menciumnya untuk kedua kalinya. Shohei berbalik pelan ketika Seina memutuskan tak bergerak.
"Aku tidak mau ke sana!" Seina menggeleng.
Mereka pun menonton pertunjukkan lumba-lumba yang memainkan bola. Di samping mereka, ada sepasang suami istri yang turut menonton bersama anaknya yang masih balita. Pasangan itu terlihat tampak bahagia dan sesekali mengabadikan momen liburan mereka dalam kamera ponsel.
Shohei memerhatikan Seina yang terus menatap keluarga kecil itu sambil tersenyum tipis. Shohei merogoh saku lalu mengambil ponsel bermaksud mengajak Seina melakukan foto bersama seperti sepasang suami istri itu. Namun, baru saja hendak mengatakannya, Seina lebih dulu melontarkan pertanyaan padanya.
"Shohei-kun, bolehkah aku bertanya?"
"Ya, silakan!" Shohei menyimpan kembali ponsel dan mengurungkan niatnya.
"Apa yang membuatmu mantap memutuskan bertunangan denganku?" tanya Seina pelan.
Shohei menatap sepasang mata Seina yang indah. "Aku ingin mengenalmu dengan benar. Jika nanti kita menikah, aku ingin selalu jatuh cinta padamu. Karena menikah adalah jatuh cinta berkali-kali dengan orang yang sama."
Seina tertegun mendengar jawaban Shohei. Sejujurnya, ia mulai merasa tertekan menjalin hubungan dengan kekasihnya itu. Bukan karena ia tak menyukai Shohei. Bukan! Hanya saja, ia seperti dihantui rasa bersalah. Ia merasa sedang menduakan pria itu karena telah berciuman dengan pria lain. Lebih parahnya lagi, pria yang telah merenggut ciumannya itu justru terus menguasai pikirannya.
Ya, tak terelakkan lagi jika Black Shadow menjadi pembicaraan di mana-mana. Bahkan di kampus Seina pun teman-temannya tak luput membicarakan pria misterius itu! Sehingga mau tak mau membuat Seina terus teringat sosok yang membuatnya penasaran itu. Bayang wajah pria itu terus bergerilya di ingatannya. Tentu saja bersamaan dengan hal yang terjadi antara mereka berdua.
Tak terasa, mereka telah menghabiskan waktu lima jam bersama. Shohei menghentikan mobilnya tepat di pintu gerbang rumah Seina. Keduanya sama-sama terdiam selama beberapa detik, hanya ada dua pasang mata yang saling melirik malu-malu.
"Arigatou gozaimasu," ucap Seina memecahkan keheningan di antara mereka.
"Apakah Seina-chan senang?"
"Hum." Seina mengangguk seraya mengulum senyum. "Sangat senang!"
"Syukurlah jika kau senang! Aku juga merasa—" Kalimat yang diucapkan Shohei terhenti begitu saja saat Seina mendekat dan mendaratkan kecupan singkat di pipi pria itu.
"Oyasumi (selamat malam)," ucap Seina yang langsung membuka pintu mobil dan berlari masuk ke halaman rumahnya.
Shohei membeku. Manik pria itu melebar sempurna. Ia memegang kembali pipinya yang mengeluarkan warna merah merona, seakan musim semi sedang berlangsung di hatinya saat itu juga.
Sejenak, ia teringat sesuatu kemudian bergegas mengambil ponsel untuk menelepon Rai.
"Moshi-moshi."
"Bagaimana kencan kalian?" tanya Rai begitu telepon tersambung.
"Sukses! Kami semakin saling mengenal, dan aku semakin mencintainya," tuturnya penuh semangat, aura kebahagiaan terpancar jelas di wajah pria itu. "Oh, iya, apa aku boleh minta tolong padamu?"
"Apa itu?"
"Tolong carikan kondominium¹ yang bagus di daerah Omotesando. Aku dan dia akan tinggal bersama selepas bertunangan. Aku ingin mencari hunian yang tak jauh dari rumah ayahnya agar dia bisa berkunjung kapan saja ke rumah orangtuanya."
"Oke, bagaimana dengan desain dan interiornya?"
"Soal itu kuserahkan padamu. Aku mengandalkan seleramu saja. Pilihkan yang bagus untuk kami."
"Mana boleh begitu. Tempat itu akan ditinggali kalian berdua. Emm ... kalau boleh tahu seperti apa kekasihmu itu? Agar aku bisa menyesuaikan isi rumah dengan kepribadiannya."
Shohei tampak berpikir sambil membayangkan wajah Seina. "Dia lembut, hangat, pengertian, dan juga feminin."
"Oke. Dengan begini, aku bisa meminta pada desainer interior untuk penataan rumah kalian."
"Arigatou gozaimasu, tolong carikan yang terbaik dan nyaman untuk ditinggali. Aku ingin membuat kejutan untuknya," ucap Shohei mengakhiri obrolan mereka di telepon.
Rai melempar ponselnya di atas ranjang, kemudian mengambil sebatang rokok dan pemantik api.
"Bertunangan, tinggal bersama, menikah, lalu memiliki anak. Sempurna sekali!" gumam pria itu dengan senyum masam yang terlukis di bibirnya.
.
.
.
catatan kaki 🦶🦶🦶
kondominium : seperti apartemen tapi punya hak kepemilikan gitu