Never Not

Never Not
Ch. 102 : Kejujuran Rai



Sudah berjam-jam Yuriko duduk termangu di koridor apartemen Shohei, tepatnya di samping pintu masuk kediaman pria itu. Tidak adanya kabar dari Rai selama lima hari, ditambah lagi mengetahui Shohei juga tak kunjung pulang ke apartemennya pasca tayangan Black Shadow yang terakhir, membuat Yuriko mencemaskan mereka berdua.


"Ada apa dengan mereka? Kenapa mereka kompak tidak pulang? Apakah benar informasi yang tersebar itu? Apakah itu artinya Rai benar-benar jadi buronan? Bagaimana dengan Shohei sendiri?" Yuriko bertanya pada diri sendiri dengan wajah yang terlihat cemas. "Arght ... kenapa aku jadi mencemaskan orang lain!" Gadis itu mengacak-acak rambutnya seiring pikirannya menjadi kusut layaknya benang.


Karena sudah lama berada di sana, terpaksa ia memutuskan pulang ke apartemen Rai. Berharap saat kembali ke apartemen nanti, pria itu telah berada di sana. Yuriko berjalan hampa menapaki trotoar di sepanjang pertokoan. Secara refleks, kepalanya memutar ke kanan, melihat deretan cake mewah yang dipajang dalam etalase sebuah toko. Salah satu cake yang dipajang, tampak familiar baginya.


Ini cake yang pernah Rai belikan untukku ....


Saat menerawang ke dalam toko, ia baru menyadari itu adalah sebuah kafe yang pernah dikunjungi bersama kawan-kawan lalu secara kebetulan bertemu dengan Rai. Yuriko masuk ke dalam kafe, lalu menuju ke tempat pesanan.


"Aku ingin membeli cake ini." Yuriko menunjuk cake yang sama dengan Rai berikan padanya waktu itu.


Pelayan toko langsung mengambil potongan cake tersebut, lalu mengemasnya dalam box berwarna merah jambu yang sangat manis.


"Harganya 2.500 Yen. Pembayaran bisa tunai maupun melalui kartu."


Mata Yuriko terbelalak seketika. "2.500 Yen untuk satu potongan kecil? Mahal sekali!"


Batin gadis itu mendadak menjerit. Namun, karena telah terlanjur memesan dengan percaya diri, mau tak mau ia harus merogoh uangnya yang pas-pasan.


Malam kian larut, warna langit makin pekat. Yuriko baru saja turun dari stasiun kereta. Ia berjalan kaki menuju apartemen seperti biasa. Sepanjang langkah, pikirannya terus berkutat pada kasus kematian menteri kehakiman yang masih memanas di publik. Tak hanya itu, nama Mr. White sebagai sosok yang mengendalikan pria bertopeng itu selama ini, turut terkuak di media yang sontak membuat orang menebak-nebak siapa sosok misterius di belakang Black Shadow.


"Jika Rai adalah Black Shadow asli, maka seharusnya yang menjadi Mr. White adalah Yamazaki Shohei. Pasti alasan dia meliburkan aku sampai seminggu ada kaitannya dengan kejadian itu. Tapi ... menteri kehakiman adalah ayah dari calon tunangan Shohei. Jika Rai sebagai Black Shadow benar-benar membunuh menteri kehakiman, itu pasti atas perintah Shohei sebagai Mr. White. Lalu, bukankah itu artinya Shohei tega melenyapkan ayah dari calon tunangannya sendiri?" Yuriko bergumam kaku sambil berjalan pelan, jari-jarinya berayun seolah menafsirkan kata per kata yang keluar dari mulutnya. "Tidak mungkin! Pria sebaik Shohei tidak mungkin tega seperti itu meskipun mungkin benar ayah tunangannya melakukan korupsi." Ia menggeleng cepat, menyangkal dugaannya sendiri.


Memikirkan sekelumit persoalan mereka, membuat perut Yuriko mendadak bergemuruh karena lapar. Ia mengambil cake yang dibelinya tadi, lalu melahapnya dalam satu gigitan kecil.


"Oishi ...." Yuriko memejamkan mata saat potongan cake itu menggoyang lidahnya. Saking menikmatinya, ia sampai tak sadar ada mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi dari arah belakang dan hampir menyambarnya kalau saja seseorang tidak menariknya cepat. Yuriko terkesiap saat berada dalam dekapan seseorang. Tak hanya menariknya, lelaki itu juga memeluk dan menyandarkan kepala Yuriko di bahunya


"Yo, apakah kau punya banyak nyawa sehingga tidak takut ditabrak?"


Suara bariton itu membuat Yuriko terperanjat. Saat mendongak, wajah pria tampan yang memakai topi kasual dan jaket hitam dengan dalaman kaus putih langsung memenuhi netranya. Pria itu menarik sudut bibirnya ke atas sambil membuka topi.


"Rai!" sebut Yuriko dengan mata yang tak percaya.


Ya, benar pria yang menariknya masuk ke dalam pelukan itu adalah Rai meskipun pipinya terlihat lebih tirus dari sebelumnya. Namun, tak lama kemudian pandangannya tertuju pada dada Rai.


Seketika, mata Yuriko terbelalak beriringan dengan mulutnya yang terbuka lebar. "Oh, 2.500 Yen-ku! Kau menghancurkan 2.500 Yen milikku." Yuriko menatap tragis cake yang dibelinya dengan harga mahal, kini hancur dan menempel di baju Rai.


Ekspresi wajah Rai tiba-tiba menjadi jelek. "Ah, kau mengotori baju yang baru saja kubeli! Nodanya pasti akan sulit dihilangkan."


Rai mengambil sapu tangan dari saku celananya untuk membersihkan cake yang menempel. Sementara, Yuriko masih menunjukkan raut meringis kesal gara-gara cake-nya yang hancur saat baru sekali gigitan. Sejenak, mata mereka beradu dalam keheningan.


"Apa tidak ada kata-kata sambutan hangat untukku setelah aku tidak pulang selama lima hari?"


Yuriko langsung memeriksa seluruh tubuh Rai, menggoyangkan ke kiri dan kanan, lalu memutarnya seperti gasing.


"Apa kau baik-baik saja? Tidak ada yang terluka di tubuhmu, kan?" tanya Yuriko dengan nada khawatir sembari menatapnya dari atas ke bawah.


Rai langsung menarik lengan Yuriko, memaksa mendekat ke sisinya. "Hei, apa kau merindukanku?" tanyanya seraya melekatkan pandangan mereka.


Yuriko mengerutkan bibirnya, lalu melepaskan tangan Rai dari lengannya secara paksa. "Kenapa pulangnya terlalu cepat? Padahal aku berharap kau pulang lebih lama lagi!"


Ucapan gadis itu tentu membuat Rai mengerutkan bibirnya dengan mata yang membulat. Sementara, Yuriko berjalan cepat mendahului Rai. Sunggingan senyum tersemat di bibirnya yang ranum. Dia mengembuskan napas lega karena pria itu telah pulang dengan tingkah yang seperti biasa. Tidak ada yang aneh, maupun berubah.


Sebaliknya, Rai masih merenungi perkataan Shohei di telepon beberapa saat lalu. Ia mengatakan padanya bahwa Yuriko mungkin bisa diajak bergabung bersama mereka. Alasannya, Yuriko dekat dengan mereka dan gadis itu memiliki semangat yang tinggi dan keahlian bela diri yang mumpuni. Namun, bagaimana cara mengatakannya jika setiap yang keluar dari mulutnya tidak dipercaya gadis itu. Apalagi jika harus membongkar identitasnya sebagai Black Shadow.


Mereka kini tiba di apartemen. Rai segera menyimpan tas ranselnya. Namun, begitu hendak menutup lemari, tangannya menjadi kaku.


Yuriko menatap Rai yang membatu, lalu mencoba memulai obrolan. "Apakah pekerjaanmu selama beberapa hari ini sukses?" tanyanya seolah tak tahu-menahu.


Ada beberapa detik kebisuan terlewatkan begitu saja. Rai tetap mematung dengan pandangan kosong.


"Ano ... apa kau sudah mendengar kabar tentang menteri kehakiman? Bukankah dia ayah calon tunangan Shohei-san?"


Tersadar, Rai langsung mengangguk pelan tetapi memilih tak bersuara.


"Pasti Shohei sangat terpukul! Apakah dia baik-baik saja?" tanya Yuriko yang mulai mengulik apa yang terjadi. Jujur, ia tak kalah mencemaskan Shohei. Apalagi, pria itu juga tak kunjung membalas pesannya.


"Aku belum bertemu dengannya," jawab Rai seadanya.


"Lalu bagaimana dengan Black Shadow? Kudengar dia menjadi buronan nasional dan ternyata ada orang yang menjadi pengendalinya selama ini."


Rai yang tengah membuka kausnya, kembali bergeming. "Yu-chan ...."


Pria itu segera membanting tubuhnya di atas ranjang, lalu berkata, "Tidurlah!" Dia mengurungkan niatnya untuk memberitahu yang sebenarnya pada gadis itu. Entah kenapa, ia takut apa yang akan diungkapnya membuat Yuriko tak percaya atau lebih sialnya akan menjauh darinya. Mengingat sekarang dia adalah buronan polisi.


Saat Yuriko larut dalam lelap, Rai justru terlihat gelisah. Kepalanya bergerak ke kiri dan kanan, mulutnya meracau tak jelas meski tak bersuara. Keringat dingin mulai bermunculan di pori-pori wajahnya. Wajah tuan Matsumoto bersama genangan darah di lantai kembali memenuhi benaknya. Tak hanya itu, narasi berita yang memberitakan Black Shadow adalah buronan nasional terus menggaung di telinganya. Seperti sebuah mantra yang dilafalkan berulang-ulang. Sejak kejadian itu, dia mengalami gangguan tidur seperti ini.


"Haaaahhh ...." Rai berteriak dan terbangun secara spontan.


Hal itu membuat Yuriko turut terbangun. "Ada apa?" tanya Yuriko menatap wajah panik Rai yang berselimut keringat. Dada pria itu tampak naik turun, seiring napasnya terdengar tak beraturan.


Rai menggeleng pelan. Yuriko yang masih dilanda kantuk berat, lantas memilih kembali menyambung tidurnya. Semenit kemudian, sepasang matanya terbuka secara konstan saat Rai menyandarkan kepala di bahunya.


"Apa aku boleh meminjam bahumu sebentar?" tanya pria itu dengan lemah.


"Hum." Yuriko hanya mengangguk pelan.


"Arigatou," ucapnya kembali.


Keheningan merajai keduanya. Anehnya, tak ada satu pun dari mereka yang memejamkan mata.


"Apa kau ada masalah? Ini bukan seperti kau yang biasanya!" tanya Yuriko.


"Tidak," balas Rai sambil tetap bersandar di bahu Yuriko.


Yuriko tertawa hambar. "Ternyata aku salah paham. Kupikir kau menganggapku sebagai teman. Sepertinya kau hanya menganggapku orang lain, makanya kau tak mau menceritakan masalahmu," ucap Yuriko bernada sarkastik.


Rai tertegun sembari menoleh pelan ke arah Yuriko. "Aku takut kau tak memercayaiku."


"Awalnya memang seperti itu. Awalnya semua yang keluar dari mulutmu terdengar tak masuk akal, tapi kuputuskan akan terus memercayaimu. Sekalipun sulit untuk dipercaya. Jadi, tolong percaya juga padaku. Ceritakan apa yang kau alami selama lima hari ini."


Rai meneguk kasar ludahnya, lalu membasahi bibirnya yang kering. "Bukalah lemariku. Di sana ada ransel yang kubawa selama lima hari. Buka juga tas ransel itu dan lihat isinya."


Yuriko melirik Rai yang juga menatapnya sambil mengangguk. Gadis itu turun dari ranjang lalu membuka lemari sesuai instruksi dari Rai. Dengan ragu, ia membuka resleting tas yang pernah dilihatnya. Saat tas itu terbuka, benda pertama yang tertangkap oleh matanya adalah sebuah topeng dan pisau belati.


Rai duduk di tepi ranjang, lalu berkata dengan nada lambat, "Dulunya, aku seorang penipu yang selalu bergonta-ganti identitas. Setahun lalu aku di penjara karena tuduhan kepemilikan narkoba. Aku difitnah sahabat dan kekasihku sendiri. Lalu, ada seorang polisi tertarik menyelidiki kasusku. Dia adalah Shohei. Berkatnya, aku bebas dari jerat hukum. Tapi, dia kembali menemui ku dan menawarkan kerja sama. Dia ingin aku membantunya memberantas 10 koruptor yang merupakan pejabat dan politikus. Dia ingin aku menjadi seorang tokoh yang diimpikan banyak orang. Tokoh keadilan. Sebagai imbalan, dia menawarkan jaminan hidup dan juga membagi seperempat gajinya sampai misi itu selesai. Aku yang kesepian dan hancur setelah pengkhianatan yang dilakukan orang-orang terdekatku, merasa tak punya alasan untuk menolak permintaannya. Aku pun menerima tawarannya dan menjelma sebagai Black Shadow."


Yuriko membeku di tempat. Meski sudah mengetahui jika Rai adalah Black Shadow, tetap saja ia terkejut.


"Belati yang ada di dalam tas adalah barang bukti yang digunakan untuk membunuh tuan Matsumoto," sambung Rai.


Seketika, mata Yuriko terbuka lebar. "Jadi ... kau—"


"Tidak. Itu bukan aku. Entah kenapa, semua tidak sesuai prediksi kami. Siaran kami diretas, dan aku diduplikat seseorang. Pria itu memiliki tinggi badan yang sama denganku dan juga bentuk bibir yang persis diriku sehingga orang-orang tak mencurigai. Padahal ini misi terakhir kami, tapi ...." Rai tak melanjutkan perkataannya, ia malah mengusap wajahnya dengan kasar menunjukkan betapa frustrasi dirinya selama beberapa hari.


"Apa ini sebuah konspirasi?"


"Ya ... begitulah. Kau pasti sudah mendengar berita kalau aku menjadi buronan nasional." Rai menarik napas dalam-dalam lalu berkata, "Yu-chan, terus berada di sampingku mungkin akan berbahaya. Aku bisa tertangkap kapan saja dan kau pasti akan terseret karena kita tinggal bersama. Pergilah dari sini! Di samping tasku, ada uang yang baru saja Shohei berikan padaku. Ambillah itu, dan cari tempat bernaung yang layak untukmu. Pergilah menjauh dariku!"


"Jangan sembarang memerintah!" bentak Yuriko dengan suara bergelombang. Gadis itu masih terpaku di depan lemari dan tak berpindah posisi sama sekali.


Rai terdiam. Ia membuang pandangannya. Meski Shohei menyuruhnya untuk mengajak Yuriko bergabung, entah kenapa ia tak ingin melibatkan gadis itu dalam misi mereka.


"Selagi bukan kau pelakunya, pasti akan ada jalan untuk mengungkap kebenaran sesungguhnya." Kali ini suara Yuriko terdengar pelan, nyaris tak terdengar.


Yuriko langsung menutup lemari, kemudian kembali ke tempat tidur dan memilih berbaring dalam posisi miring membelakangi Rai. Sementara Rai hanya mampu menengadahkan kepalanya menatap langit-langit ruangan.


Denting waktu terus berjalan, berotasi mengitari setiap sudut jam yang berbentuk lingkaran. Sang fajar telah siap menutup malam yang melelahkan. Rai membuka kelopak matanya dengan berat ketika sayup-sayup terdengar suara kayu berayun dan beradu dengan angin. Pria itu menoleh ke samping dan mendapati Yuriko sudah tidak ada. ia terbangun kaget, sembari mengedarkan pandangannya di seluruh ruangan yang tanpa sekat itu.


Waktu baru menunjukkan pukul lima pagi. Pandangannya pun beralih pada jendela. Ia merasa suara kayu yang beradu dengan angin itu berasa dari halaman belakang apartemen mereka. Ia pun menyingsingkan gorden lalu mengintip ke bawah.


Dari lantai tiga tempatnya sekarang, ia bisa melihat Yuriko berada di bawah sana, memakai seragam bela diri lengkap dengan sabuk hitam yang melilit di pinggangnya. Rambutnya dikonde tinggi, dengan bandana bertulisan kanji yang melingkar di dahi. Gadis itu memegang tongkat kayu, sambil membuat gerakan bela diri yang berseni.


.


.


.


catatan author:


2.500 Yen sama dengan 300.000 Rupiah gais. itu harga perpotong cake.


ini puanjaang gais, jadi jangan lupa berikan komentar berfaedah yang sesuai dengan novelku. biar gua senang lanjutnya gais.