
" Tapi ini rumah siapa mas, kok mas ajak aku kesini."
" Rumah kitalah masa rumah orang mas berani ajak kamu kesini."
" Rumah kita, sejak kapan mas? kok mas ga pernah cerita kalau punya rumah disini."
" Iya rumah ini mas kasih buat kamu sebagai hadiah karena sudah terima mas sepenuh hati menjadi suami kamu."
" Ah mas jangan berlebihan, aku sudah di pilih mas jadi istri aja sudah bersyukur banget. Sebelumnya maaf ya mas kalau aku belum bisa jadi istri yang baik buat kamu. Tapi aku janji mau belajar biar jadi istri dan ibu yang baik buat mas dan calon anak kita."
" Iya sayang kita sama sama belajar saling melengkapi satu sama lain."
" Tapi ngomong ngomong kok mas bisa dapat tempat yang bagus kaya gini gimana ceritanya?"
" Jadi gini, seminggu yang lalu teman mas datang ke kantor. Dia cerita kalau mama dan papanya minta ia balik ke Kalimantan buat urus perkebunan sawit milik papanya. Kalau harus bolak balik sini kalimantan capek katanya. Terus dia ajak mas kesini buat lihat lihat dan mas tertarik ya udah mas bayar."
" Terus nanti siapa yang bakal urus rumah ini mas?"
" Tenang saja sayang pas mas beli rumah ini sudah ada yang urus kok. Masuk yuk mas ajak keliling siapa tahu ada yang mau kamu rubah."
" Kayanya ga deh mas, aku suka kok sama suasananya. Walaupun kesannya ga mewah tapi bikin nyaman. Di cat ulang saja mas tapi jangan tatanan rumahnya jangan ada yang di ubah."
" Oke kalau gitu besok mas cari tukang. Sya kalau restonya mau di buat seperti apa?"
"Loh restonya punya mas juga,tanya Tesya sambil melototkan matanya karena ga percaya."
"Iya yang di jual itu resto sama rumahnya saja kebun tehnya ga."
" Kalau gitu mas minta bantuanya buat bikin konsep biar sesuai sama yang kamu harapin.Tapi mas ga mau kalau kamu sampai capek urusin semuanya. Mas sudah atur biar kamu tetap ada di rumah tapi bisa awasi semuanya."
" Pulang yuk mas, kasihan bi Mun kalau di rumah sendiri. Aku juga belum cek toko kue sama cattring buat persiapam acaranya bang Vano."
" Siap sayang, mau beli oleh oleh apa buat yang di rumah?"
" Terserah mas saja, udah yuk."
Tesya merasa jadi peremouan yang beruntung memiliki suami sepengertian Kevin. Pantas saja. banyak yang iri dengan posisinya sekarang. Ia hanya perlu banyak bersyukur dengan apa yang dimilikinya saat ini.
Sebelum sampai rumah Kevin terlebih dahulu mengantar Tesya ke tempat cattringnya. Disana ia melihat berapa persen persiapan untuk acara pernikahan abangnya. Setelah selesai ia mengajak suaminya langsung pulang ke rumah.
Walaupun hanya meninggalkan rumah dua hari ia sangat merindukan kasurnya yang empuk.
" Mas aku mau tidur dulu ya capek banget rasanya, pamit Tesya."
" Aku juga mau tidur sayang."
Keduanya terlelap sampai tak tahu waktu. Yang membangunkannya perut yang berbunyi karena rasa lapar.
" Mas bangun aku pengen makan nasi goreng buatan mas yang kaya waktu itu."
" Iya lima menit lagi, mas masih ngantuk."
" Sekarang mas udah laper banget nih, rengek Tesya."
" Iya iya, tapi mas mau mandi dulu. "
" Oke mas, jawab Tesya."