
Di supermarket keduanya hanya berjalan jalan tanpa membeli apapun.
" Sayang yakin kamu ga mau beli apa apa?" tanya Kevin
" Yakin mas, habis semua kebutuhan juga masih lengkap."
" Ya beli apa gitu tas atau sepatu model terbaru biar mood kamu balik kaya tadi pagi," ujar Kevin.
" Aku sudah ga papa kok mas."
" Oke deh kalau gitu kita makan saja yuk, sekarang kamu pilih mau makan dimana aku turuti."
" Pengen makan ramen yang ga jauh dari kantor mas, ramen di situ rasanya juara tahu."
" Ya udah ayo."
Sepulang jalan mood Tesya sudah kembali lagi seperti sebelumnya.
" Sayang aku ke kantor lagi ya, ada yang harus mas kerjakan disana. Kalau ada ancaman lagi kamu bisa panggil salah satu bodyguart yang ada di depan," ujar Kevin.
" Hati hati ya mas."
Tesya pun langsung kembali ke ruangan kerjanya menemui teman satu timnya.
" Maaf ya semua, tadi aku tinggal soalnya ini kepala ga bisa di ajak kompromi," kata Tesya.
" Ga papa Sya, santai saja lagi. Oh iya barusan kita dapat email dari pihak pemesan kalau semua gambar yang sudah jadi harus segera di produksi," jelas Lia.
" Tapi kalian sudah kirim gambarnya belum ke kantor?"
" Sudah beberapa, tinggal nunggu kuota yang di pesan. Soalnya dari kemarin masih berubah ubah terus,"sambung Intan.
" Ya sudah yuk kita lanjut lagi kerjanya."
Kantor Kevin
" Gimana Da agenda ketemu sama pak Hary?"
" Pak Harynya di luar kota Vin pulangnya masih minggu depan."
" Ya udah pokoknya kamu bilang sama asisstannya, kalau pak Hary sudah pulang kita agendakan untuk ketemu,"ujar Kevin.
" Siap, kalau boleh tahu Fanny kirim apaan ke rumah?"
" Tadi ada foto kita bertiga, tapi bagian Tesya dan Kay di bakar terus ada suratnya juga. Isinya kalau cepat atau lambat Fanny akan menggantikan Tesya menjadi nyonya Kevin."
" Dasar betina, ada juga ya yang kaya gitu."
" Entahlah Da, aku juga binggung. Padahal ketemu juga baru berapa kali, itupun yang di bahas kerjaan. Lah ujungnya malah jadi kaya gini."
" Siapa suruh jadi laki berparas tampan, banyakkan perempuan yang tergila gila. Sudah sana kamu pergi ke Korea operasi plastik tapi di rubah jadi jelek," kata Arda.
" Enak aja lo, masa iya operasi minta jadi jelek. Ntar kalau aku jelek Tesya pindah ke lain hati gimana?"
" Ya itu deritamulah."
" Ah elu Da, ngasih saran yang bener kek."
" Ya habis aku juga binggung Vin mau gimana, udah ah aku mau ke ruang produksi kasih gambar baru."
Malam harinya selepas makan malam, Tesya dan Kevin duduk di balkon rumahhya sambil menikmati teh hangat.
" Mas, sebenarnya aku masih binggung sama Fanny."
" Mas sudah lama kenal sama Fanny?"
" Lama sih belum ya, aku ketemu sama Fanny itu awal aku suka sama kamu. Sepertinya Fanny salah paham sayang sama mas. Kamu ingat ga waktu itu aku pernah nulis memo terus aku tempel di layar komputer."
" Ingat mas, yang memo isinya puisi itukan?"
" Iya, sebelum aku tempel waktu itu aku baca dulu di depan ruangan kamu, tapi di sana ada Fanny setelah itu dia gimana gitu."
" Hemm makanya mas kalau baca puisi romantis itu jangan di tempat umum bisa bikin baper orang lain," ujar Tesya.
" Ah dianya saja yang ke GR an, orang aku sukanya sama kamu kok."
" Setelah ini apa yang mau mas lakukan?"
" Tadi siang aku sudah bilang sama Arda buat agendakan pertemuan aku sama pak Hary dan Fanny. Tapi pak Harynya masih di luar kota, pulangnya minggu depan. Nanti kalau mas sudah ketemu sama beliau mas mau cerita semua yang di lakukan Fanny sama kamu. Jadi kamu tenang saja ga usah panik, takutnya kalau kamu panik stres kaya tadi kasihan sama Kay."
" Iya mas."
" Pokoknya percaya sama mas, semua akan baik baik saja."
" Makasih mas."
Seminggu berlalu dan selama itu pula ancaman amcaman selalu di terima Tesya. Semua bukti ancaman sudah berpindah ke tangan Kevin dan kuasa hukumnya. Kejahatan Fanny kali ini sudah harus masuk ke hukum karena terlalu meresahkan keluarganya.
" Mas yakin mau ambil jalur hukum?"
" Iya sayang, karena Fanny itu sudah keterlaluan. Ketemu berdua saja ga pernah masa ia nuduh mas melecehkan dia. Semua itu ga masuk akal apalagi pakai foto editan kaya gitu. Perempuan kaya Fanny kalau ga di kasih efek jera ya bakal seperti itu terus kelakuannya."
" Jujur aku kasihan sama dia mas sebegitu terobsesinya dia sama kamu. Kamu sih mas punya wajah terlalu tampan makanya banyak perempuan yang suka. Aku saja yang dulu benci setengah mati sama mas sekarang juga cinta."
" Hem sampai segitunya muji suami."
" Ga muji mas tapi kenyataan, sebenarnya sebelum sama aku juga pasti banyak perempuan yang suka sama mas, tapi masnya saja yang cuek dan dingin kaya es di kutup makanya mereka takut buat mendekat. Pasti mereka juga lebih cantik dari aku,mengginggat mas juga tampan."
" Dingin dingin gitu kamu juga nempel sekarang."
" Iyalah, sekarang sudah ga bisa jauh jauh dari kamu mas," kata Tesya sambil tersenyum genit.
" Udah ga usah mulai, tadi katanya capek mau tidur saja ini malah godain suaminya. Untung kerjaanku masih banyak kalau ga sudah mas terkam kamu."
" Salah sendiri kerjaan di kantor di bawa ke rumah, di rumah itu waktunya buat anak istri mas Kevin."
Mendengar ocehan istrinya membuat Kevin gemas dan akhirnya ia mematikan laptopnya dan berjalan menuju ke ranjang.
" Siapa suruh bangunin harimau yang sedang tidur, jangan salahkan mas kalau malam ini kamu di terkam," bisik Kevin.
" Ampun mas, maaf ga lagi lagi dech. Sudah sana lanjut saja kerjanya," kata Tesya.
" Di rumah itu waktunya sama anak istri, kalau anaknya sudah tidur ya waktunya sama istri. Salah sendiri tadi di godain sekarang kamu harus tanggung jawab."
Tesya langsung menarik selimut menutupi tubuhnya. Tapi dengan secepat kilat juga Kevin menarik selimut itu lalu membuangnya dan terjadilah pertempuran malam itu.
" Bangun mas sudah siang, bukannya pagi ini kamu ada meeting ya."
" Aduh, mana kerjaan semalam belum kelar lagi kamu sih sukanya mancing mancing."
" Sudah sekarang sana mandi aku siapkan bajunya," ujar Tesya.
Setelah siap keduanya turun ke bawah, karena memang sudah siang Intan dan lainnya sudah berkumpul di bawah untuk mulai kerja. Tesya mengantar dulu suamimya ke depan sebelum ia berkumpul dengan timnya untuk kerja.