
Pagi ini Tesya tampak sudah rapi dan menemani Kevin sarapan.
" Sayang hari ini periksa sama mama ga papa ya, di usahakan kalau mettingnya selesai mas langsung ke sana."
" Iya mas gapapa kok, yang penting kan ada temannya."
" Pagi,sapa mama Mia."
" Pagi ma sendiri saja papa mana?"
" Papa langsung ke kantor, ada metting sama direksi katanya."
" Sarapan dulu ma, aku ambilkan piring ya ujar Tesya."
" Ga usah sayang ,tadi sebelum kesini mama sudah sarapan kok. Loh kok belum berangkat Vin?"
" Bentar lagi ma, ma makasih ya sudah mau nemani Tesya periksa. Soalnya hari ini ada metting penting yang ga bisa di tinggal."
" Ga papa Vin, kebetulan hari ini mama juga ga sibuk . Lagipula mama juga pengen lihat calon cucu mama."
" Sayang mas berangkat dulu ya, ma Kevin berangkat. Titip Tesya ya ma, kalau ada apa apa langsung kasih kabar ya ma."
" Iya Vin, sudah sana berangkat. Biar mama nanti di antar Wawan."
Tesya harap harap cemas ketika berangkat menuju ke klinik, tangannya mulai dingin takut kalau ada berita yang tak enak untuk di dengarnya nanti.
" Kamu kenapa Sya?"
" Ga papa kok ma, hanya sedikit cemas saja. Soalnya dari kemarin mundur terus lahirannya."
" Sabar sayang, dulu eyang bilang kalau bayi itu punya saat tersendiri buat lahir. Kan kamu tahu sendiri eyang masih sering gunain weton weton gitu."
Untuk ke sekian kalinya Tesya duduk diantara pasien pasien lain yang sedang menunggu giliran. Dan sampai sekarang dia masih tak mengerti mengapa jadwal lahirannya mundur terus. Kini tiba giliran Tesya, dengan di dampingi sang mama ia masuk ke ruang periksa.
" Selamat datang nyonya Tesya bagaimana kabarnya hari ini,tanya dokter?"
" Baik dok, tapi sedikit cemas juga soalnya belum tanda tanda sampai saat ini."
" Saya periksa dulu ya, semoga ada kabar baik."
Tesya naik ke tempat tidur untuk di periksa, sambil memperhatikan layar yang ada di depannya. Sesekali melirik ke tempat duduk mamanya.
" Baik dok, mari mbak saya antar."
Tesya dan mamanya berjalan mengikuti suster tadi, selesai mengurus administrasi Tesya dan mamanya lanjut ke ruangan khusus untuk ibu yang akan melahirkan.
" Sayang,mama pulang sebentar ya mengambil perlengakapan. Kamu disini sendiri ga papa kan."
" Mama disini saja, bilang saja ke Wawan biar dia yang ambil. Tasnya ada di kamar bawah kok sudah aku siapin, jelas Tesya."
" Ya udah mama ke bawah dulu, kamu hati hati disini. Kalau ada apa apa cepat kabari mama."
Tesya bosan hanya tiduran saja, ia lantas berjalan jalan di depan ruangannya. Disana ia bertemu dengan tetangganya yang baru saja melahirkan.
" Loh mbak Tesya mau melahirkan ya?"
" Iya nih mbak, tadi kata dokter sudah bukaan satu."
" Wah bukaan satu masih bisa sesantai mbak, aku kemarin bukaan satu udah ga kuat ngapa ngapain."
Satu jam berlalu kini Tesya sudah masuk ke bukaan kedua, ia masih biasa saja bahkan masih gendong anak tetangganya tadi.
" Sya, kamu sudah kasih tahu Kevin belum?"
" Sudah ma, tapi belum di balas juga.Mungkin mas Kevin masih sibuk ma, nanti kalau udah pasti langsung kesini."
" Kamu pengen makan apa sayang biar mama belikan?"
" Ga pengen apa apa ma, beli minum saja."
Mamanya keluar untuk membeli minum, tak lama berselang Kevin datang dengan membawa beberapa kue.
" Gimana sayang,apa kata dokter?"
" Tadi sih kata dokter sudah mulai bukaan dua. Sebentar lagi pasti dokternya datang lagi buat periksa."
" Anak papa, yakin masih betah di dalam perut mama kata Kevin sambil mengusap perut istrinya."
" Selamat malam pak, maaf mau ganggu sebentar saya mau periksa perkemangannya."
" Iya suster silakan, kata Kevin."