
Sorenya sepulang kantor Lia langsung menuju ke rumah Tesya. Sebelumnya ia terlebih dahulu membelikan somay pesanan bumil kesayangannya.
Sepanjang perjalanan ia sudah tak sabar ingin menceritan semua soal Intan. Entah mengapa akhir akhir ini sahabatnya itu berubah.
" Mbak Tesya, itu di depan ada mbak Lia, kata bi Mun."
" Iya bi, suruh langsung masuk saja."
" Tesya...teriak Lia ketika melihat sahabatnya sedang duduk di depan tv."
" Sini sini... kangen kata Tesya dengan merentangkan tagannya."
Keduanya berpelukan melepas rindu padahal baru beberapa hari saja tidak bertemu.
" Gimana kakinya Sya?"
" Udah baikkan kok Li, tinggal nunggu kering saja.Lagian lukanya ga parah kok Li, cuma agak lebar."
" Kaya gitu kok ga parah tow Sya, emang gimana ceritanya bisa jadi kaya gitu. Aku yakin pasti itu di sengaja."
" Sepertinya begitu Li,soalnya habis numpahin gelas orangnya langsung pergi. Mana pesananku Li, udah laper nih."
" Bentar aku ambilin piring."
Keduanya melanjutkan ngobrol sambil makan somay.Sesekali obrolannya diselingi dengan tawa. Tapi ketika membicarakan soal Intan ekspresi mereka langsung berubah.
" Gimana keadaan Intan sekarang Li. kok jarang kumpul sama kita sekarang?"
" Baik kok Sya, tiap hari juga ke kantor tapi sekarang banyak diam. Kalau ngomong apa,perlunya aja,padahal kamu tahu sendirikan dulu dia paling ramai di antara kita. Pas istirahat juga jarang bareng, ga tahu dia makan dimana. Bahkan ia juga ga pernah makan sama pak Arda."
" Terus kalau berangkat sama pulang masih sama pak Arda?"
" Ga Sya, Intan bawa mobil sendiri. Pokoknya sekarang anaknya suka menyendiri kok. Sekarang ke kantor jarang dandan pakai baju juga ga kaya biasanya pokoknya serba kebalik."
" Dulu banget dia pernah cerita sama aku kalau hubungannya sama pak Arda ga di restui sama kedua orang tuanya soalnya Intan sudah di jodohkan sama anak teman papanya."
" Apa jangan jangan karena itu dia selama ini pindah pindah kontrakkan. Kasihan ya Intan, untung orang tuaku ga kaya gitu."
" Iya Li, kita harus bersyukur soalnya orang tua kita ga kolot. Kapan kapan kita ajak keluar yuk siapa tahu dia mau cerita."
" Ide bagus, ngomong ngomong udah mau malam nih aku pulang ya Sya,pamit Lia."
" Hati hati ya Li, maaf ga bisa antar ke depan."
" Ga papa aku udah tahu jalannya kok ga mungkin kesasar juga. Kamu juga hati hati ya Sya."
Lia pergi meninggalkan Tesya yang masih setia sama sofanya. Tak lama kemudian datang Sita dan Vano.
" Baik kak, kakak berdua saja. Mama sama papa mana?"
" Iya nih berdua aja, papa sama mama lagi ada acara kondangan ke tetangga."
" Gimana sama kakinya Sya, terus kok kamu di sini sendiri Kevin mana, tanya Vano?"
" Tadi bilang sudah di jalan sih,habis metting di luar."
" Berati kamu belum tahu siapa dalang di balik luka di kaki kamu dong?"
" Loh emang kak Sita tahu siapa?"
" Tahu, tapi nanti biar Kevin saja yang cerita. Tadi mama sama papa bilang kalau Kevin kerja aku di suruh memani kamu di sini, jelas Sita."
" Bahkan papa mau aku sama Sita bangun rumah di samping rumah kamu, biar sewaktu waktu Kevin pergi ada yang jagain, sambung Vano."
" Wah mama sama papa berlebihan, kata Tesya malu."
" Tapi aku suka kok Sya tinggal di sini
walaupun tempatnya di tengah kota tapi udaranya masih sejuk tetangga di sini juga ramah ramah. Kata Kevin pak Udin sama keluarganya sekarang tinggal disini ya."
"Iya bang, kasihan soalnya mereka masih kontrak juga. Kalau tinggal disinikan mereka irit biaya, uangnya bisa buat kebutuhan yang lain."
" Eh ada bang Vano sama kak Sita, papa sama mama mana?"
"Baru pulang Vin, gimana kelanjutan kasus tadi, tanya Sita?"
" Sudah selesai kak, besok Tesya harus memberi kesaksian. Kalau kak Sita ga sibuk maukan nemani Tesya, pinta Kevin."
" Emang kenapa sih mas?"
" Yang nyiram air panas ke kakimu sudah ketemu ternyata dia itu temannya Rasti,jelas Kevin."
" Ternyata pelakunya mantannya mas, masih cinta mungkin sama mas, ledek Tesya."
" Udah ga usah bahas dia, aku mau mandi dulu ,pamit Kevin."