I LOVE YOU BOSS

I LOVE YOU BOSS
140 # BAB 140



Setibanya di kota tempat tinggalnya Tesya binggung akan kemana selanjutnya. Mau pulang ke rumah nanti pasti berantem sama suami tapi ia binggung mau tinggal dimana. Akhirnya ia memilih untuk ke apartemen papanya.


Sambil menggendong Kayla, Tesya berjalan menuju apartement papanya. Hatinya kacau perasaannya kalut, ia duduk di balkon apartemennya sambil menenangkan diri air mata yang sempat tertahan kini tumpah.


" Kenapa kamu setega itu sama aku mas, kata yang berulang kali ia ucapkan. Ia masih tak habis pikir kenapa suaminya berbuat seperti itu. Tapi aku harus kuat kalau aku nyerah dan donw kasihan Kayla, dia masih butuh aku saat ini, katanya dalam hati."


Sementara itu selesai dengan urusannya Kevin langsung bergegas menuju bandara untuk pulang ia harus secepatnya menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.


Pukul 21.00 Kevin sampai di rumah, sama sekali tak ada yang menyambut kepulangannya.


" Bi, Tesya sama Kay kemana kok rumah sepi?"


" Mbak Tesya kan nyusul mas Kevin kemarin dan belum pulang, memang mas ga ketemu sama mbak Tesya disana?"


" Loh kok belum sampai padahal ia pulang dari tadi pagi bi."


" Memang ada apa mas kok pulangnya ga barengan saja?"


" Ada salah paham bi, terus Tesya marah pulang duluan di hubungi juga ga bisa, eh sekarang malah belum sampai di rumah, kata Kevin sambil menjatuhkan tubuhnya di atas sofa."


" Mas Kevin sudah hubungi mbak Intan, siapa tahu ada di sana, kalau ga mas cari di tempat tempat yang mungkin mbak Tesya datangi kalau lagi ada masalah."


" Bener juga bibi, kira kira di mana ya?"


Terlintas di pikiran Kevin untuk mencarinya di apartemen milik papanya, karena itu adalah tempat satu satunya yang mungkin Tesya datangi.


Kevin langsung bergegas menuju kesana siapa tahu istri dan anaknya ada di sana.


" Selama menikah baru kali ini berantem dan sekalinya berantem separah ini. Maafkan mas sayang, yang membuatmu marah dan pergi meninggalkan mas sendirian. Ternyata di cueki orang yang di sayang itu ga enak."


Kevin lari lari kecil untuk sampai ke apartemen papanya. Sambil berharap ia menemukan anak dan istrinya di sana.


Suara bel membuyarkan lamunan Tesya, ia lantas menyeka matanya yang masih berlinangan air mata.


" Siapa yang datang, padahal ga ada yang tahu kalau aku ada di sini."


" Sayang, teriak Kevin ketika pintunya terbuka dan melihat Tesya berdiri disana."


Sekuat tenaga Tesya mendorong pintu supaya suaminya tak bisa masuk, ia masih kesal dengan suaminya karena ia bermesaraan dengan wanita lain.


Tapi apalah daya sekuat apapun Tesya tetap ga bisa menandingi kekuatan suaminya. Setelah Kevin masuk dan berusaha memeluk tubuh istrinya.


Tapi Tesya menolaknya, ia pergi menghampiri putri kecilnya yang kebetulan sudah bangun.


" Sayang, aku bisa jelaskan semua. Jangan marah seperti itu, aku tahu kamu pasti mikir aku yang tidak tidakkan."


" Aku ga mau bahas sekarang karena ada Kayla, jawab Tesya."


Kevin beranjak dari tempat ia berdiri lalu memapah istri dan membawa kopernya untuk pulang. Sepanjang perjalanan tak ada suara yang keluar dari bibir Tesya, jangankan bicara wajahnya saja berpaling melihat pemandangan di sekeliling.


" Wanita kalau cemburu seram, ga lagi lagilah bikin Tesya ngamuk kaya gini. Gara gara mau bikin kejutan malah aku yang dapat kejutan, batin Kevin."


Pukul 23.00 Kevin dan Tesya tiba di rumah, lalu ia menurunkan barang bawaan istrinya dan langsung membawanya ke kamar.


" Dita nitip Kay sebentar ya saya mau beres beres, kata Tesya."


" Iya mbak, jawab Dita lalu mengajak Kayla ke kamar depan."


Di dalam kamar Tesya duduk di tepi ranjang, Kevin datang menghampiri dan duduk di depannya.


" Sya jangan marah seperti ini, mas bisa jalaskan semuanya . Mas sama papa di sana benar benar kerja, ga terlintas sedetikpun untuk macam macam."


" Kalau ga macam macam terus yang aku lihat tadi pagi apa? Beberapa hari sebelumnya aku juga lihat mas ada di toko perhiasan sama perempuan itu, masih mau mengelak juga."


" Sayang, toko perhiasan itu milik Laras tetapi mau dia jual karena dia sama suaminya mau pindah ke luar negeri dan mas sama papa tertarik buat membeli toko itu. Waktu kamu lihat mas di sana, mas sedang merancang ulang toko itu biar lebih menarik lagi. Sebetulnya Laras itu dulunya tetangga mas, rumahnya ada di belakang rumah papa. Tetapi pas masuk SMP dia sama keluarganya pindah karena papanya pindah tugas. Makanya mas bisa akrab sama dia."


" Oh..jawab Tesya."


" Jangan marah lagi ya sayang, kata Kevin sambil menggenggam tangan istrinya."


" Iya, jawabnya."


" Kalau di maafin kok masih cemberut, senyum donk sedikit saja, goda Kevin."


Tesya melebarkan senyumnya lalu beranjak dari tempat duduknya.


" Sudah puaskan, kata Tesya."


" Mau kemana,tanya Kevin?"


" Mau jemput Kay di kamar depan, kenapa?"


" Ga usah di jemput, kan Kay sudah tidur kasihan kalau harus di pindah pindah."


" Siapa yang mau pindah Kayla, orang aku juga mau tidur disana."


" Terus mas tidur sendiri gitu, kata Kevin kesal."


" Tidur saja sama guling, jawab Tesya."


" Hahaha lihat saja nanti, kata Kevin dalam hati."