
Sementara itu Arda yang mengantar Intan pulang hanya diam. Intan juga hanya memainkan ujung rambutnuya sambil menikmati indahnya pemandangan malam yang di hiasi cahaya lampu.
" Tan, kata pertama yang keluar dari mulut Arda "
"Iya ada apa pak,jawabnya."
" Kamu udah makan belum, kalau belum gimana kalau kita mampir makan dulu,tanya Arda."
" Belum pak, iya gapapa, jawab Intan dengan tersenyum."
Selesai makan keduanya langsung pulang karena sudah terlalu malam.
" Di antar ke rumah Lia apa ke rumah kamu. tanya Arda lagi."
" Ke rumah aku pak , takut kalau tidur di rumah Lia sendirian."
Keduanya langsung diam tak ada lagi kata yang keluar dari mulut mereka. Entah mengapa mereka tiba tiba merasa canggung, padahal kalau ada yang lain keduanya ngobrol biasa saja.
Depan Rumah Intan
" Makasih ya pak sudah mau ngantar pulang "
" Iya sama sama, eh iya Tan lusa aku mau ketemu sama orang tua kamu boleh, tanya Arda?"
" Ada apa pak kok mau ketemu orang tua Intan?"
" Ya , bilang saja sama orang tua kamu kalau lusa saya mau datang buat silaturahmi, jelas Arda."
" Iya nanti aku sampaikan, sekali lagi terima kasih pak."
Intan masuk ke dalam rumah dan Arda juga kembali melajukan mobilnya buat pulang.
Sementara di rumah, Tesya ga bisa tidur gara gara kekenyangan.
" Mas, jangan bobok dulu, temenin sebentar sampai aku tidur, rengek Tesya."
" Mas ngantuk sayang, besok pagi ada metting, jawab Kevin yang sama sekali tak membuka matanya."
" Mas jahat, Tesya mulai ngambek karena kemauannya ga di turuti."
" Udah sini bobok samping mas, kata Kevin sambil menepuk nepuk kasur di sampingnya."
Tanpa bicara Kevin langsung mengangkat tubuh Tesya dan menidurkannya di kasur. Kevin yang sudah ga kuat nahan kantuk kembali merebahkan tubuhnya sambil mengelus elus perut istrinya.
Tesya yang moodnya mulai berantakan karena hormon kehamilaanya membuat semua orang yang melakukan apa ga sama seperti yang ia mau pasti langsung sebal.
Seperti pagi ini ketika alarmnya berbunyi dan Kevin tak kunjung bangun. Segala cara sudah ia coba buat membanggunkannya tapi hasilnya nihil.
Tesya memilih untuk menyiapkan sarapan dari pada marah marah ga jelas. Tak berapa lama setelah Tesya selesai masak dan menata di atas meja Kevin turun menghamipirinya.
" Pagi sayang,sapanya."
" Pagi mas, mau sarapan dulu apa mau siap siap dulu?"
" Sarapan dulu saja."
Keduanya lantas pergi ke kantor setelah selesai siap siap.
Di kantor Intan tampak sudah datang di matanya tampak ada kantong hitam tanda ia kurang tidur.
" Pagi, sapa Tesya. Begadang bu selamam godanya."
" Iya Sya ga bisa tidur gara gara pak Arda."
" Hah emang pak Arda ngapain kok kamu sampai ga bisa tidur,seru Tesya yang kaget mendengar kata kata Intan."
" Masa semalam tiba tiba dia bilang mau ketemu sama orang tuaku,kan aku jadi panik."
" Cie cie..goda Tesya."
" Apaan sih Sya, aku itu takut tahu."
" Takut kenapa? bukannya itu yang selama ini kamu harapin."
"Iya sih Sya tapi kamu ga tahu kalau sampai pak Arda ketemu sama orang tuaku."
" Emang kenapa sih Tan?tanya Tesya penasaran?"
"Papaku orangnya kolot Sya,makanya aku takut kalau pak Arda sampai ketemu sama beliau."
" Yang sabar ya Tan, semoga nanti berjalan mulus dan papa kamu bisa terima pak Arda."
" Makasih ya Sya udah kasih semangat, kata Intan sambil memeluk sahabatnya itu."