I LOVE YOU BOSS

I LOVE YOU BOSS
116 # BAB 116



 


" Mas, mama itu berlebihan deh masa beli perlengkapan sampai segitu banyaknya. Bukan mau nolak tapi kan mubazir mas orang kita juga sudah beli."


" Sebagian kita simpan dulu saja sayang, siapa tahu nanti kak Sita hamilkan bisa kita kasihkan."


" Iya mas, besok aku pilih pilih lagi. Ah sama sama calon cucu pertama kedua omanya sampai kalap belanja."


" Rejekinya si dedek sayang, jangan main handphone terus udah waktunya tidur, ujar Kevin."


 


Bulan terakhir menuju ke lahiran, tidur Tesya sudah tak senyenyak awal kehamilan. Sering bangun buat ke kamar mandi, kalau sudah ke bangun mau tidur lagipun susah.


" Kok ga tidur sayang ,tanya Kevin yang melihat cahaya dari sampingnya."


" Ga bisa tidur mas."


" Di coba sayang, masa iya kamu ga tidur, Kevin menyalakan handphonenya memutarkan musik klasik biar istrinya bisa tidur."


Kevin mendekatkan tubuhnya ke samping Tesya dan mengusap lembut perut istrinya.


" Mas tahu pasti kamu capek, sabar ya sayang sebentar lagi kita bakal bertemu dengan bayi mungil yang pastinya menggemaskan.Sebisa mungkin mas berusaha membantu kamu walaupun sibuk, kata Kevin dalam hati."


Tesya terlelap di pelukan suaminya, rasa nyaman yang di berikan Kevin membuat sensasi tersendiri buatnya.


Seperti biasa setelah subuh Tesya dan Kevin jalan jalan pagi, banyak yang bilang banyak jalan kaki mempermudahkan proses melahirkan. Makanya setelah kehamilannya masuk trimester terakhir Tesya tak pernah absen buat jalan jalan.


" Dari jalan jalan ya mbak, tanya seorang tetangga?"


" Iya bu, ibu mau kemana sepagi ini?"


 


" Mau jalan jalan juga mbak, usia segini kalau ga olahraga gimana gitu rasanya mbak. Tapi hari ini saya kesiangan mbak biasanya habis subuh sudah jalan."


 


" Kalau besok bareng bagaimana buk, biar ramai jalan bareng."


"Boleh mbak, saya lanjut jalan dulu ya, pamit ibu tadi."


 


Setelah suaminya berangkat kerja Tesya juga bersiap menuju ke toko kuenya.Belum sempat ia beranjak datang kakakanya yang mukanya masih cemberut seperti biasanya.


" Mau kemana Sya, jam segini sudah rapi saja."


" Mau ke toko kak, hari ini Dita ada ujian makanya aku yang jaga. Kok masih cemberut saja ada apa lagi kak?"


" Ah lagi pusing Sya, keluarga aku nuntut terus. Bukanya menghibur malah bikin stres, mereka pikir anak bisa di beli di mall kali ya sekalinya pengen langsung beli."


" Sabar kak, dari pada pusing pusing bikin kue aja yuk, aku mau buat resep baru nih."


" Ya sudah ayo."


" Senyum dululah kak, pokoknya kakak ga boleh stres. Kalau kakak stres tambah susah buat hamilnya.Kakak ga usah dengarin kata orang toh bang Vano juga ga nuntut kakak kan."


" Betul ya Sya, kenapa harus di pikirin sih. Toh bang Vano juga ga terlalu gimana gimana."


" Sumpah Sya, ngobrol sama kamu itu asik padahal selisih usia kita lumayan tapi nyambung saja kalau ngobrol. Bikin betah lama lama main sama kamu."


" Ah kakak bisa aja, semoga kita tetap kompak kaya gini ya kak. Kalau aku ada salah jangan sungkan buat negur."


Keduanya langsung berpelukan, seperti saudara yang tak ingin berpisah. Tesya yang menjadi anak pertama merasa bahagia bisa merasakan kasih sayang seorang kakak dari Sita. Sementara Sita yang anak tunggal seperti punya saudara.


Di dapur toko kue dengan piawai Tesya mencampurkan bahan bahan yang sudah ia racik sebelumnya. Kali ini ia membuat bolu tiwul,setelah hampir satu jam akhirnya selesai juga. Sita orang pertama yang mencicipinya.


" Waw enak Sya rasanya,seru Sita."


 


Tesya keluar dari dapur mencari beberapa karyawannya untuk mencicipi kue buatannya.


" Sini kumpul sebentar mbak ada resep baru di coba dulu kalau enak besok produksi, pinta Tesya."


" Wah enak mbak, kalau masih ada di bungkus saja mbak kita taruh di sini siapa tahu laku, kata salah satu karyawannya."


" Iya mbak sayang loh kalau ga di jual rasanya enak kok, kata yang lainnya."


 


Karena banyak yang suka akhirnya Tesya memutuskan untuk membuatnya lagi. Siapa tahu memang laku, hal hal seperti ini yang membuatnya rindu bekerja.


 


" Sya,kamu benar benar juara. Sama karyawan saja sudah kaya teman makanya pada betah kerja disini."


" Ah kakak, emang aku kaya gini sih. Mereka yang bantu aku sampai bisa seperti ini, bagaimanapun caranya aku harus menghargai mereka kak. Oh iya kakak mau makan apa biar sekalian aku pesannin?"


 


" Lohhh mereka dapat makan siang juga Sya,tanya Sita kaget."


" Iya kak, aku ambil dari cattring kok biasanya dua kali antar. Yang masuk pagi buat makan siang yang masuk siang buat makan malam."


" Hebat, aku makan sama kaya yang lain saja Sya, ujar Sita."


 


Siang ini mereka makan bersama tanpa ada batasan mana bos mana karyawan. Semua tampak asik menyantap makanannya.